Home / Pemuda / Suara Rohis-OSIS / Yuk Pembinaan…!

Yuk Pembinaan…!

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (flickr.com/array064)

Intensif  “Pembinaan” Solusi Mengatasi Segala Masalah

dakwatuna.comAdanya kekhawatiran terhadap penyimpangan-penyimpangan agama yang terjadi di lingkungan kini, seperti lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat, telah menimbulkan kepanikan tersendiri dari beberapa kalangan tersendiri yang terlibat di dalamnya. Ini terlihat maraknya kasus-kasus yang mencuat di permukaan. Satu sorotan yang terjadi pada dunia pendidikan khususnya dunia sekolah adalah maraknya penyimpangan-penyimpangan moral dalam kalangan siswa saat ini. Fenomena seperti pergaulan bebas antara pria dan wanita sudah menjadi fenomena biasa yang sering kali terlihat. Tidak hanya itu, kasus lain seperti tawuran, mabuk-mabukan, menghisap rokok bahkan sampai narkotika sudah menjadi tradisi dalam dunia pelajar. Begitu banyak sekali sebetulnya kasus-kasus yang terjadi dalam dunia pelajar yang menimbulkan rasa kecemasan di antara kita semua. Ini menjadi miris karena pelajar adalah agent of change masa depan untuk bangsa ini. Yang diharapkan ke depan nantinya dari pelajar ini adalah menjadi pemimpin-pemimpin bangsa yang mampu membawa bangsa ini menuju perubahan yang lebih baik. Tidak hanya itu, harapan bangsa ke depan pun ada pada pelajar saat ini.

Selain kasus-kasus tersebut, belakangan ini maraknya doktrinisasi paham-paham agama yang menyimpang terhadap pelajar. Sehingga makin banyak pelajar yang terperosok kepada hal-hal yang tidak diinginkan ini. Pelajar SMA khususnya, dimana masa saat inilah sasaran empuk para pencari mangsa untuk merekrut sebanyak banyaknya untuk memasuki aliran mereka. Yang notobennya aliran ini sudah masuk dalam ekstrem kiri atau lebih tepatnya sesat. Hal ini sejalan dengan melemahnya aktivitas-aktivitas keagamaan yang terjadi dalam hal diri remaja ini. Kenapa demikian? Keadaanlah yang membuat mereka demikian. Lingkungan tempat tinggal yang tidak mendukung dari mulai lingkungan keluarga, lingkungan sekolah ataupun yang lainnya.

Ini menjadi aneh ketika situasi yang ada tak sesuai dengan harapan yang diinginkan. Lihat saja, berapa banyak sekolah yang berharap anak didiknya tidak terjebak dalam hal-hal yang diinginkan, seperti yang disebutkan di atas? Sesuatu hal yang pasti tak ada satu sekolah pun yang menginginkan hal itu terjadi. Bahkan justru adanya kepanikan yang berlebih dari beberapa pihak sekolah terhadap masalah ini. Banyak sekolah yang selalu berharap di antaranya doktrinisasi ajaran agama yang sesat tidak masuk dalam lingkungan sekolahnya. Sehingga dibingungkan dengan pencegahan-pencegahan dalam mengatasinya. Beberapa sekolah sibuk membuat pagar pembatas akan aliran tersebut. Sehingga aliran tersebut tidak dapat memasuki sekolah tersebut.

Penulis berpikir terhadap permasalahan yang ada seharusnya bisa diminimalisir dengan aksi-aksi nyata tidak hanya sekadar menjadi harapan-harapan yang tidak pernah direalisasikan. Sekali lagi penulis ingin menekankan pada sebuah solusi yang dirasa melalui solusi ini bisa mengatasi setidaknya masalah-masalah yang disebutkan tadi. Kalau hanya disibukkan dengan pencegahan yang sifatnya sesaat, penulis beranggapan ini tidak akan menuntaskan permasalah yang ada secara keseluruhan! Tindak lanjut dari masalah ini adalah bagaimana sekolah-sekolah menggencarkan program-program keagamaan yang sudah ada seperti halnya program pembinaan yang berkelanjutan “mentoring”. Hal seperti ini sangatlah penting untuk diintensifkan sebagai sarana yang menunjang proses perbaikan akhlak remaja sehingga di dapat kepribadian muslim pada diri siswa-siswi. Sejatinya kalau hanya mengandalkan KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) Agama, hal seperti ini kuranglah menunjang terhadap pembentukan kepribadian islami. Ketika kita semua memahami pelajaran agama yang di dapat hanya 2 jam dalam satu minggu?

Penulis mengajak kepada sekolah-sekolah untuk bisa mengintensifkan program pembinaan “mentoring” di sekolahnya. Begitu pun kepada aktivis yang peduli terhadap sekolahnya untuk bisa totalitas terhadap program pembinaan “mentoring”. Sekali lagi ini adalah mimpi kita bersama maka dari itu mari sama-sama kita wujudkan perubahan dan tuntaskan segala bentuk permasalahan. Allahu Akbar.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 8,60 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ramadhan Aziz
Sebagai seorang mahasiswa di Perguruan Tinggi Swasta di Jakarta, yang mencoba untuk senantiasa bisa memperbaiki diri dengan terjun dalam dunia dakwah. Mencoba aktif di berbagai organisasi. Seperti KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) komisariat Madani, FLP Jakarta (Forum Lingkar Pena), Mencoba untuk konsern pula di ADS (Aktivitas Dakwah Sekolah) dengan mengisi agenda mentoring per pekan di sekolah yang ada di kabupaten Bogor. Dengan moto Melangkah dan Berkarya.
  • Abdurrahman Abdullatif

    membina dan terus membina

Lihat Juga

Ilustrasi. (Dedi Hadiarto)

Mengantar ke Sekolah dan PLS untuk Apa?