Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Rintangan Dakwah (bagian ke-2)

Rintangan Dakwah (bagian ke-2)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Allah menjadikan manusia sebagai makhluk yang memiliki banyak keistimewaan dibanding makhluk Allah yang lainnya. Manusia dibekali akal dan pikiran yang membuatnya istimewa. Manusia dituntut untuk berpikir atas segala sesuatu yang terjadi di dunia ini. Dan dari situlah manusia akan menemukan pilihan hidup yang akan dipilihnya. Di sinilah medan jihad dan lapangan perjuangan. Dan di situlah kita melatih diri, menerima ujian antara condong ke dunia dengan akhirat dan mencapai rahmat Allah.

Semua manusia di dunia tidak akan lepas dari ujian/cobaan. Lalu, bukan bertanya kenapa cobaan itu menimpa kita, namun apakah kita bisa menyikapinya dengan bijak dan mampu mengambil hikmah yang terkandung di dalamnya. Dan setiap orang punya persepsi yang berbeda-beda tergantung tingkat keimanannya. Semoga kita termasuk orang yang selalu Istiqamah dijalanNya.

Ada dua hal yang terjadi di dunia ini. Mereka adalah hal yang menyenangkan dan hal yang tidak menyenangkan kita. Namun, jika kita mempunyai keimanan yang tinggi kita pasti akan berpikir bahwa dibalik kejadian yang tidak menyenangkan pasti ada hal yang menyenangkan bagi kita walau itu belum terjadi tapi keimanannya lah yang menuntun kita sampai ke situ. Begitu juga sebaliknya, dibalik hal yang menyenangkan pasti ada hal yang tidak menyenangkan. Contohnya adalah ketika kita sakit – hal yang tidak menyenangkan bukan- namun dibalik ini ada kejadian yang menyenangkan bahwa dosa-dosa kita akan terhapus. Dan kejadian yang lainnya.

Rintangan yang akan menghadang para aktivis dakwah di tahap ini antara lain:

1. Jabatan dan Pekerjaan

Seorang pemuda Islam atau mahasiswa yang selalu berkecimpung di bidang dakwah sebenarnya masih ringan akan cobaan, karena belum dibebani tanggungan keluarga dan masih mudah untuk melangkah di jalan dakwah tanpa ada ikatan dan gangguan. Tetapi setelah Ia telah dari sekolah/perguruan tinggi dan akhirnya terikat dengan suatu pekerjaan atau mulai menjabat suatu jabatan, mulainya ia merasakan adanya ikatan dan kewajiban yang harus dipenuhi pada jabatannya. Dan akhirnya pikiran itu mendorong untuk membatasi kegiatan dakwahnya dan mengurangi jihadnya, memperlambat kegiatan dan langkahnya dijalan dakwah. Dan bahkan ada juga yang menghilang entah ke mana dan tidak mau meneruskan idealisme dulu ketika masih menjadi aktivis. Namun, jika ia memiliki iman yang teguh, aqidah yang mantap dan tekad yang kokoh, pastilah ia mampu melewati rintangan di level ini. Kekuatan imanlah yang mendorong ia tetap dan bertahan dijalan dakwah dengan penuh keyakinan bahwa Allah swt menjamin segala rezeki dan menanggungnya. Oleh karena itu, wasilah (alat/jabatan) tidak diboleh diubah menjadi rintangan dan menghalangi untuk mencapai tujuan. 

2. Istri dan Anak

Setelah dijelaskan bagaimana jabatan menjadi rintangan, muncullah pula rintangannya selanjutnya yaitu perkawinan dengan segala persoalan yang berhubungan dengannya. Di level ini mulailah para da’i merasa tanggungan hidup semakin berat, pikiran terpecah antara memikirkan dakwah, istri dan anak. Dan inilah yang selalu mengganggu jalan dakwah dimana kepala rumah tangga risau dan galau memikirkan berbagai masalah kepentingan keluarga. Maka dari itu benarlah firman Allah swt:

“Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At Taghabun 14)

Adapun orang-orang yang beriman dengan iman yang benar dan telah berjanji untuk senantiasa berada di Jalan Dakwah, maka sesungguhnya ia pasti akan beriltizam dengan sunnah Rasulullah, lalu ia berikhtiar untuk memilih istri yang shalihah, yang akan senantiasa menolongnya melaksanakan tugasnya di dalam urusan dakwah. Dengan demikian cita-cita untuk membangun peradaban yang Islami akan tercapai walau membutuhkan waktu yang relatif lama, tapi itu pasti. (mau?)

“Dan orangorang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS Al Furqan 74)

Oleh karena itu, dia akan selalu bersama dengan istrinya dan anak-anaknya berada di atas jalan dakwah. Mari kita membangun Daulah Islamiyah di muka bumi dengan memperbaiki diri dan menikah dengan seseorang yang mendukung dakwah Islam.

Dan di setiap waktu dan zaman ada tantangan sendiri-sendiri…

Wallahu alam...

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Rizmoon Zulkarnaen
Mahasiswa UGM

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Lembaga Dakwah Membina Hubungan dengan Pers