Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Aku Menemukan Tarbiyah (Bagian ke-2)

Aku Menemukan Tarbiyah (Bagian ke-2)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

Dengan tarbiyah aku berubah

dakwatuna.com Ku lewati hamparan waktu yang tak berujung dengan berbagai senyuman manis dan senyuman pahit. Namun, yang terpenting adalah aku mampu melewati hamparan ini dengan tanpa penyesalan. Seolah mendapatkan angin segar dalam kehidupan baru. Dia menyapa tanpa henti, aku pun mencoba untuk menyapanya kembali. Tapi sebuah dinding besar ternyata sudah menghalangi tatapanku untuk menyapanya. Ya sudah mungkin ini yang terbaik, kata – kata ini selalu membuatku tersenyum manis dan tetap semangat untuk melewati lika – liku jalan kehidupan yang masih panjang.

“Jalan ini penuh dengan onar dan duri”, ucap lirik sebuah nasyid perjuangan yang aku punya. Memang itu benar. Dan hampir semua kalangan di dunia ini meyakini itu. Lalu, pertanyaan yang muncul berikutnya bukan menanyakan kenapa harus ada onar dan duri, tapi what should we do? Kita harus tetap berusaha untuk melewati itu atau lebih baik kita mengitari saja jalan itu…siapa tau kita menemukan jalan tercepat untuk mencapai tempat di ujung jalan tersebut.

Hidup itu pilihan. Pilihan di antara banyak pilihan antara cepat atau lama, baik atau buruk, kanan atau kiri, bergerak atau diam, dan pilihan kehidupan yang lainnya. Dan semuanya kembali pada diri kita. Mana yang akan kita pilih?

Hidup itu mengalir. Mengalir layaknya air yang mengalir dari hulu ke hilir dan akhirnya bermuara di laut dengan segala ketenangannya. Yah, hidup itu mengalir. Kita harus mengikuti arus aliran itu. Mengikuti bukan melawan arus. Mengikuti dan berpindah. Jika ternyata hidup itu mengendap dan sama sekali tenang, maka hidup kita tidak mengalir. Yang ada hanyalah endapan dan lumut karena tidak mengalir. Ikuti saja aliran itu. Tetapi sebelum itu kuatkanlah iman, kuatkanlah rasa persaudaraanmu dan kuatkanlah agamamu. Karena itu akan menjadi benteng untuk menghadapi aliran kehidupan yang deras. Dan bersabarlah jika masih belum bisa menghadapi arus yang deras, tapi aku yakin kita semua pasti bisa mengikuti arus yang deras tersebut dan sampai di muara dan akhirnya bersatu dengan aliran-aliran air dari berbagai cabang sungai. Mereka menyatu. Laut menerima dengan lapang tanpa ada persyaratan. Sungai – sungai membawa sampah, kotoran, dan sebagainya. Tapi laut tetap menerima mereka dan bahkan laut menyatukan mereka, tanpa pandang bulu.

Hidup itu tumbuh. Tumbuh seperti menjadi pohon yang semakin besar dan tinggi. Semakin tinggi pohon semakin tinggi pula angin yang akan menerjangnya. Begitu pula dengan hidup. Semakin bertambah dewasa semakin tinggi pula cobaan yang menghampiri. Dewasa bukan tua. Tua juga bukan berarti tua. Dewasa adalah pilihan. Tua adalah keniscayaan.

Dan separuh dari kepribadian kita yang hidup dan terbentuk adalah akibat dari sistem sosial yang ada dan menyeliputi keseharian kita. Pilihlah tempat, lingkungan dan sistem yang baik untuk mendukung kepribadian melejit terbang tinggi.

#episode 2

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Rizmoon Zulkarnaen
Mahasiswa UGM

Lihat Juga

Rindu Sang Murabbi (spesial)

Rindu Sang Murabbi: Film Biopic Dokumenter 1 Dasawarsa Berpulangnya Syaikh Tarbiyah, Ustadz Rahmat Abdullah (1953-2005)