Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Sanjung Dulu, Baru Kasih Solusi

Sanjung Dulu, Baru Kasih Solusi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Suatu ketika Fulanah berkata kepada ibunya, “Bu, besok Sabtu aku mau camping bersama dengan teman-teman sekolah di villa puncak. Tolong Aku dibelikan pampers satu ya untuk dipakai sewaktu tidur agar tidak basah celananya jika ngompol?”

Setengah terkejut Sang Ibu mendengar permintaan anak kedua nya, sembari menjawab, “Betul neh mau ikut camping? Tidak malu kalau nanti ngompol dan ketahuan sama teman-temannya?”

“Ya iyalah! Kan pakai pampers” jawab Fulanah mantap.

“Oke deh ntar dibelikan pampers nya.” Balas sang Ibu.

Perlu diketahui bahwa Fulanah walaupun sudah kelas 3 SD tapi masih mempunyai kebiasaan mengompol di saat tidur. Entah karena penyakit atau karena turunan Sehingga ini menjadi momok yang menakutkan bagi si anak ketika ada acara yang mengharuskan ia tidur sendiri di luar rumah atau tidak bersama keluarga. Akibatnya ia selalu menolak atau tidak ikut jika ada acara-acara semacam camping atau sejenisnya.

Maka, ketika ia berkata kepada ibu nya bahwa akan ikut camping sekolahan, ibunya menjadi setengah tidak percaya. Bagaimana bisa ia mengatakan akan ikut kamping dengan semangat dan tidak sedikit pun terlihat di wajahnya rasa takut atau khawatir. Apa rahasianya? Selidik punya selidik, sang ibu pun teringat dengan dialog nya bersama anaknya pada suatu hari.

‘”Nak, pada umumnya setiap anak yang cerdas akan selalu membawa hal-hal yang spesial atau boleh di bilang aneh. Seperti kamu Fulanah, karena anak yang cerdas tentu ada kebiasaan yang aneh yaitu suka ngompol walaupun sudah besar” begitu nasihat Ibunya. Kemudian dibandingkan dengan anak-anak yang biasa-biasa saja, ternyata mereka tidak memiliki kebiasaan yang aneh. Ternyata, Fulanah pun memahami kata-kata tersebut, sehingga walaupun masih suka mengompol tetapi terselip perasaan bangga, menjadi anak yang cerdas dan memahami bahwa itu menjadi syarat anak cerdas.

Apakah kemudian Fulanah tidak mengompol lagi setelah diberi nasihat Ibu nya? Tidak juga. Masih sering ngompol. Tetapi ada satu hal yang patut dilihat pada munculnya ‘keberanian’ untuk tampil dalam camping bersama teman-temannya, tanpa takut mengompol. Karena mengompol masih bisa di atasi dengan memakai pampers, begitu pemikirannya.

Ada hal yang dapat diambil pelajaran dari kisah nyata seperti dituturkan di atas, yaitu munculnya semangat dan keberanian dari anak walaupun dalam kondisi ‘kekurangan’.

Ternyata dalam Al-Qur’an ada kisah yang menurut saya mirip dengan kisah di atas. Kisah tentang Nabi Musa AS ketika berhadapan dengan Fir’aun la’natullah dan pasukan penyihir nya. Ketika para penyihir melemparkan tali dan tongkat mereka dan kemudian berubah menjadi ular- ular yang banyak dan siap menyerang Nabi Musa AS. Hal tersebut membuat Musa takut. Maka Allah SWT menenangkan nya dengan mengatakan:

Kami berkata: “janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang).” Dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat. “Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang.” (QS. Thaha: 68-69)

Allah SWT menenangkan dan memberikan motivasi kepada Nabi Musa AS melalui firman Nya tersebut agar tidak takut kepada ular- ular sihir tersebut dan memberikan keyakinan kepada Musa bahwa dia lah yang akan menjadi pemenang. Kemudian diberikan jurus untuk mengalahkan musuh nya yaitu dengan melemparkan tongkat yang ada di tangan nya yang kemudian menjelma menjadi ular yang sangat besar serta menelan habis ular- ular sihir pasukan Fir’aun tersebut.

Ada dua hal yang perlu dilakukan ketika berhadapan dengan orang, entah anak, keluarga, teman atau lainnya, jika mereka sedang dalam keadaan lemah. Lemah di sini bisa berupa ketakutan, minder, (tidak percaya diri), kesalahan, atau sejenisnya. Pertama, berikan nasihat dengan ungkapkan kata-kata positif seperti motivasi, penyemangat, keyakinan, atau sejenisnya. Jangan justru sebaliknya, dengan kata- kata negatif yang justru akan membuat lebih tidak percaya diri (PD) atau takut. Sudah tahu punya sifat takut, tapi malah di takut-takuti, ya tentu akan lebih takut jadi nya. Tujuan pemberikan kata-kata positif ini adalah dalam rangka mengembalikan kondisi nya yang sedang turun/drop dari kewajaran. Akan lebih baik jika kata- kata positif tersebut dapat menjadikan ia merasa lebih dari sebenarnya (tapi bukan sombong lho). Seseorang yang PD tentu akan lebih bijaksana dan tidak terburu-buru dalam mengatur strategi atau akan dapat mengendalikan perasaan dan jiwa nya sehingga tindakannya tidak ngawur. Atau disanjung dulu gitu bahasa gampangnya.

Kedua, setelah kondisi kejiwaan stabil, normal dan PD nya sudah tumbuh, langkah selanjutnya adalah dengan memberikan solusi atau jalan keluar atas masalah yang di hadapi. Jika langkah kedua ini tidak dilakukan akan menjadi sia-sia. Solusi terhadap masalah ini lah yang akan menyelesaikan dengan sempurna. Dengan kata-kata motivasi dan pemberian solusi maka kondisi yang negatif tersebut akan menjadi normal lagi dan bahkan menyelesaikan masalah yang dihadapi.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (11 votes, average: 9,82 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Lihat Juga

Haramnya LGBT (inet)

Fenomena LGBT di Dunia Kampus dan Solusinya