Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Evaluasi Militansi

Evaluasi Militansi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com “Kemenangan dakwah mustahil akan diraih, bila perjuangan masih setengah-setengah dan tidak gigih…”

Sungguh tidak layak alasan “sibuk” dan “lelah” diperdengarkan oleh para aktivis sebagai dalih atas sedikitnya yang bisa mereka lakukan untuk kebaikan dakwah. Sibuk?! Sudah selayaknya dakwah menjadi bagian kesibukan! Karena gelar aktivis dakwah menuntut ada loyalitas terhadap dakwah. Gelar aktivis dakwah menuntut adanya aktivitas-aktivitas dakwah yang mendominasi di setiap waktu dan kesempatan yang ada.

Lelah?! Justru dakwah adalah sebuah kesempatan untuk beristirahat dan meluangkan waktu dari pekerjaan duniawi yang seringkali melalaikan kita dari kewajiban utama untuk mempersiapkan “masa depan”. Dakwah adalah kesempatan untuk kembali memulihkan tenaga dan pikiran yang terkuras selama bekerja untuk kepentingan dunia. Tidakkah batin kita terasa tenteram ketika mendengarkan kajian-kajian keislaman? Tidakkah pikiran kita menjadi tenang ketika membaca firman-Nya dan merenungi makna? Tidakkah raga kita terasa bugar ketika selesai dari melaksanakan shalat dengan penuh keikhlasan dan kekhusyukan? Itulah dakwah! Dakwah tidak terbatas hanya pada aktivitas ceramah. Karena amal ma’ruf nahi mungkar juga dapat dilakukan melalui perbuatan, dan justru inilah dakwah yang paling efektif dan paling utama!

“Masih terlalu jauh mengkaji kemenangan umat, apabila pada diri sendiri saja dakwah masih belum “selamat”…

Tidak ada salahnya memikirkan “nasib” umat. Namun tetap saja yang lebih utama adalah terlebih dahulu membenahi diri sendiri sebelum berangkat untuk memperbaiki umat. Dan – jikalau bisa – akan lebih baik lagi jika perbaikan itu dapat dilakukan secara berbarengan.

Masalahnya baru muncul apabila umat “dikelola” oleh para aktivis yang mengabaikan kebaikan pada dirinya. Kebaikan ataupun keutamaan yang tidak membekas pada pribadi aktivis akan menjadikan umat apatis terhadap kemaslahatan dakwah. Kemuliaan dan keteladanan yang tidak tercermin dari pribadi da’i akan menjadikan umat skeptis terhadap faedah ibadah.  Memang, keburukan sama sekali tidak menghalangi seseorang untuk dapat memperbaiki orang lain. Tapi menyepelekan kebaikan pada diri sendiri adalah keburukan yang paling buruk yang akan menjadi penghambat dalam ikhtiar menyongsong kemenangan dakwah! Kewajiban para aktivis dalam mengoreksi diri inilah yang seringkali dilalaikan. Dan sikap melalaikan inilah yang menjadi penghambat dakwah. Ya… itulah kenyataannya, para aktivis (yang lalai) itu sendiri yang menghambat pergerakan dakwah…

“Bukanlah masalah-masalah besar yang kemudian melahirkan kesulitan, tapi sikap mengecilkan hal-hal kecil-lah yang melemahkan perjuangan… 

Kita berbicara tentang kewajiban dan tanggung jawab, bukan besar atau kecilnya beban dan pekerjaan. Karena seringkali amanah hanya dilihat dari “ukuran” saja, dan mengabaikan “nilai” yang terkandung di dalamnya; apakah itu merupakan sebuah kewajiban atau tidak.  Contoh yang sering ditemui dalam keseharian aktivitas dakwah adalah membalas sms konfirmasi untuk kehadiran syura’. Hal kecil dan “sepele” memang, tapi itu adalah kewajiban! Entah kenapa – dengan entengnya – hal tersebut acap kali dikecilkan.

Jadi bagaimana mungkin agenda dakwah untuk kejayaan Islam yang besar akan terlaksana jikalau kewajiban-kewajiban yang kecil saja selalu diabaikan?!

***

Sahabat… apakah memang separah itu kondisi (dakwah) kita? Apakah memang seperti itu realita kondisi aktivis dakwah; Menghindari dakwah dengan alasan “sibuk” dan “lelah”, melupakan diri, dan menyepelekan amanah? Sahabat… apakah memang kita tidak punya banyak waktu untuk -sedikit saja- berpartisipasi dan memperbaiki? Ataukah kita yang enggan meluangkan waktu untuk pekerjaan (dakwah) mulia ini? Renungilah, waktu kita terus terbuang untuk hal yang sia-sia, padahal kondisi dakwah kita masih belum ada apa-apanya, sedangkan kesempatan kita untuk bekerja terus saja berkurang seiring dengan bertambahnya usia…

Sahabat… Barangkali -memang- kita yang kurang atau bahkan sama sekali tidak peduli dengan dakwah ini. Mari evaluasi militansi dan introspeksi diri… Sudah sejauh mana diri ini berkontribusi?!

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (9 votes, average: 7,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Zahid Rabbani
Mahasiswa Universitas Sumatera Utara, Jur. Kehutanan. Saat ini aktif di pengurusan Kaderisasi Fak.Pertanian USU dan menjabat sebagai ketua Dept. Kaderisasi KAMMI Komisariat Nusantara USU.

Lihat Juga

Ilustrasi. (fatman.fi)

Dakwah Kampus, Gambaran Besar dan Arahnya ke Depan