Home / Pemuda / Cerpen / Nembak!

Nembak!

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com“Assalamu’alaikum. Afwan, benarkah ini nomor ukh Reisha?” suara di seberang sana dengan khas yang tegas, tertangkap di telingaku.

“Wa’alaikumsalam, iya, ini… Ishan? Ada yang bisa Ana bantu?” jawabku penuh tanya heran.

“Na’am, benar ukh. Ini Ishan. Ana tidak menganggu kan? Afwan.”

“Tidak, tafadhol. Ada apa?” suaraku coba menegaskan.

“Mm… langsung saja ukh. Afwan, ee… Ana boleh mengajukan ta’aruf dengan anti, ukhti?” suara tegas itu dengan perlahan memberanikan diri, tepat pada inti pembicaraan nampaknya.

“…..” kagetku bukan main, hampir lepas rasanya hp Samsung yang kutempelkan di telinga kiriku. Seraya kemudian menangkupkan telapak tangan kanan tepat di bagian jantungku, dan berujar amat pelan ‘masya Allah…’.

“…ukh, afwan. Jika sekiranya Ana lancang. Tapi, mohon kejelasan dari anti menanggapi hajat Ana ini.” Kembali suara di seberang itu memecah keheningan, sementara degup ini semakin kencang kurasa.

“…a-afwan, tidakkah Antum mengkomunikasikan terlebih dahulu dengan murabbi Antum?”tanyaku, meneliti.

“Mm… sesudah ada tanggapan dari anti, akan Ana sampaikan ke beliau.”

“Masya Allah akh…  ” kataku lepas.

“Kenapa? Adakah yang salah, ukh? Atau, Ana harus memberi jeda waktu untuk anti jawab, agar benar-benar memikirkan tentang maksud Ana ini?”

“…” diam kembali, aku mengkondisikan hati.

“Ukh Reisha? Afwan.”

“Ee… hh… semestinya, Antum mengkomunikasikan terlebih dahulu dengan murabbi Antum. Karena memilih seseorang untuk dijadikan pendamping hidup itu tidak main-main, akh. Hendaknya ada musyawarah agar tidak salah langkah… afwan.” Tegasku.

“… Iya ukh, afwan Ana lancang. Lantas, bagaimana menurut Antum terkait hajat Ana ini?” lagi, suara tegas itu berani melempar tanya.

“….”

“Ukh?”

“Mmh… afwan akh, Ana tidak bisa”, kutundukkan kepalaku

“Kenapa? Ana salah ya, ukh?” tanyanya, polos kudengar.

“Ana,… Ana ndak menafikkan keluhuran akhlak Antum, dari yang Ana dengar di luar sana tentang Antum, insya Allah. Justru Ana yakin, ada akhwat yang jauh lebih baik yang kelak lebih pantas bersanding dengan Antum.”

“… Alasan anti, tidak jelas ukh. Afwan. Jika memang anti tidak meragukan Ana, begitu pula Ana kepada anti, Ana mantap. Insya Allah anti-lah akhwat yang terbaik itu… maka Ana memberanikan diri, afwan.”

“…”

“Ukh?”

“…karena, … Ana sudah dikhitbah…”

“Allahu Akbar…” dzikirnya pelan terdengar dari seberang sana.

“…” hening.

“…ya ukhti, Barakallah. Semoga anti bahagia bersamanya.”

“… amin ya Rabb, jangan berputus asa dari rahmat Allah. Ana yakin, ada akhwat yang terbaik yang menunggu Antum.”

“Na’am ukh, Insya Allah. Amin. Syukran dan … afwan. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam warohmatullah…”

Klik!

Lemas kuterduduk di sudut kamar,  “Antum terlambat, akh…” lirihku…air mata akhirnya tumpah jua,..

“Allah sedang mengujiku rupanya…”selaku, pelan dalam tangis,.

“Rabbi, aku yakin Ayash-lah ikhwan yang terbaik itu, bukan Ishan!” Kembali kucoba menenangkan hati. Nafsuku untuk makan malam setelah shalat Isya tadi hilang. Kemudian bergegas kembali wudhu, dan mengambil obat hatiku. Lembaran Qur’an itu ku lahap, sesekali kuhapus kembali air yang mengalir di pipi.

Kucoba muhasabah diri setelah lembaran-lembaran suci itu kubaca.

Dulu, ada kesan memang kurasa. Ya, nama Ishan pernah berkelabat dalam hatiku, kagum, dulu, ya dulu. Namun, kala itu langsung kubersihkan hati. Malu pada Nya.

Entah mengapa dulu sempat kuberpikir, sosok ikhwan seperti Ishan itulah dambaan imam-ku kelak. Heum… mungkin karena dulu ia adalah mahasiswa nomor satu di kampus, ah… wahai diri, betapa duniawi sekali!

Seorang khalifah dalam rumah tanggaku kelak tidak harus punya pengalaman memimpin ribuan mahasiswa di kampus. Kataku menepis kala itu dengan senyum semangat.

Betapa tak kaget diri ini, ternyata Ishan memiliki keinginan untuk bersanding hidup denganku. Tidak masuk akal. Dari mana ia kenal aku? Dan, siapalah aku?

Hanya Mahasiswi yang tidak begitu suka dengan kegiatan kampus berbau politik seperti yang dia geluti, tidak bisa ber cap-cip-cus mengkritisi pejabat pemerintah yang kerap ia dan teman-teman dalam organisasinya itu nikmati. Siapa aku?

Ach, mungkinkah karena aku seorang yang aktif di lembaga dakwah? Yang bergelut dengan urusan keislaman? Berjibaku dengan dunia keakhwatan pula? Sehingga aku terkesan… keibuan??

Memang pernah aku sebentar berkomunikasi dengannya, dulu. Kurang lebih, enam bulan yang lalu. Tepat ketika ketua organisasi-ku memberi mandat menjadikan aku sebagai koordinator akhwat dalam agenda Bakti Sosial Ramadhan, untuk kemudian bekerja sama dengan  lembaga mahasiswa yang Ishan pimpin. Tapi di adegan mana yang aku bersamanya??

Apakah ketika aku diminta akh Amin (partner kerjaku dalam agenda itu) menelepon nya pertama kali untuk sekedar bertanya,

“Saya bisa minta nomor HP yang aktifnya Menteri dalam Negeri?”, pun ia hanya jawab simple,

“Oh, begini, HP Danu hilang, coba hubungi staf ahli-nya saja, nomornya…. ”.

Sudah, tak ada komunikasi lagi.  Hanya kenangan nomor hp Ishan saja yang masih ada dalam barisan daftar contact di Samsung-ku. Cukup, itu saja.

Jika memang itu penyebabnya, sungguh sekarang ingin rasanya kumarah dengan akh Amin, kenapa beliau kala itu begitu sibuk!

Ahh, adakah diri ini yang menggoda? Astaghfirullah…

***

“Assalamu’alaikum, mbak Reisha… kok sendirian?” ujar Suni sambil bercipika-cipiki denganku, setelahnya ambil posisi duduk di depanku. Staf Kemuslimahan yang paling ceria dalam team ku di organisasi, Alhamdulillah kini ia sudah berjilbab.

“Wa’alaikumsalam, iya nih.  Nunggu temen-temen pimpinan akhwat, sore ini mau iftor pimpinan.” Jawabku sambil melempar senyum padanya.

“Aku temenin ya mbak? Biar gak ilang… berabe –kan kalau ketua kemuslimahan diculik. Ahhaha…” godanya.

“Heuh, ngawur!” kemudian kucubit pipi kirinya yang tembem seperti kue bakpaw, kesukaannya.

“Aduuuh… sakit tau mbak.” Sambil meringis dan mengelus-elus pipinya dengan tangan kiri.

“Iya deeeh… afwan. Makanya, jangan nakal yah! Heum…” nasihatku sambil mengelus kepalanya, bak seorang ibu pada anaknya.

“Mm… mbak, gimana kemaren?” lanjutnya kemudian.

“Gimana apanya? Kemaren? Apaan?” sahutku memborong kata tanya.

“Heuh… pura-pura. Itu loh… kalo’ kata istilah jahiliahnya… peristiwa ‘penembakan’… hehe…” segera ia sangga dagunya dengan kedua tangan, menatapku dengan senyum penasaran. Sementara kuputar kembali memoriku di episode kemarin, apa yang dimaksud oleh ’bocah’ ini, kemudian berusaha memaknai kata ‘peristiwa penembakan’.

“Mbak bener-bener gak paham, Suni… kalau ngomong yang jelas ah!”

“Euummmck… iya, iya, itu… mmm, kak Ishan, gimana?”

“Masya Allah…” sontakku, berubah wajah penuh tanya kembali, dari mana ‘bocah’ ini tau? Batinku.

“Kenapa mbak? Mbak kaget ya, kok aku bisa tau. Hehe…”

“Suni, mbak serius, ada apa ini? Suni kok bisa tau kak Ishan?”

“Lha, mbak kok gak gaul sih?! Aku kan adeknyaaaa….”

“Serius?!!”

“Yaiyalaah, masa’ yaiyadhoong… duarius deh! Gak mirip ya mbak? Kami emang beda, aku cantik, kak Ishan ganteng. Hehe”

“Suni, mbak Reisha gak suka seperti ini. Ada apa sebenarnya? Kak Ishan dan Suni… kemudian peristiwa penembakan yang Suni maksud.” Kulempar ekspresi serius padanya.

“Mbak, aku takut ach. Ekspresi mbak kaya’ gitu. Marah ya…”

“Jawab saja pertanyaan mbak, Suni… ”

“Mmm… sebenarnya sudah beberapa lama ini, aku diem-diem jadi spy kid, menyelidiki mbak Reisha… Atas perintah kak Ishan…  aku cuma niat nolong kak Ishan aja mbak! Tapi sekarang pekerjaanku dah beres kok”. Ia menatapku dengan wajah penuh rasa bersalah.

“Kenapa musti mbak? Dan apa saja yang sudah adek laporkan ke kak Ishan tentang mbak?”     tegasku bertanya kembali.

“Sabar mbak… sabar…”

“Eeeuuhhh, Suni benar-benar buat mbak gregetan. Buru cerita!”

“Iya mbak iya, ampuun… mm… kak Ishan itu sedang mencari isteri yang solehah, terus aku merekomendasikan mbak. Udah deh… terus aku disuruh untuk melaporkan apa adanya yang aku tahu dari mbak ke kak Ishan, dan konklusinya kemaren kak Ishan katanya… ‘nembak’ mbak. Ya kan?”

Nada dering sms-ku tiba-tiba berbunyi… menjeda percakapan kami.

Assalamu’alaikum. Ukh, besok siang bunda mau ke asrama anti, mau kasi gaun pengantin katanya. Oya, sekalian Ana titipkan 700 lembar undangan pernikahan kita, ke bunda. Anti sibuk gak besok?”

sender:  +628xxx  Akh Ayash

“Mbak… aku minta maaf kalau aku ternyata salah…” ujar Suni melanjutkan, mengambil perhatianku yang terpaku pada layar hp hitam putih itu, namun membuat rona di relung hati. Kukondisikan hati kembali.

Kuhela nafas. “Heum… sudahlah. Sekarang sudah selesai.”

“Sudah selesai? Jadi keputusannya apa mbak? Mbak bisa jadi mbak ipar aku yah? Yah?” tanyanya penasaran seraya melemparkan senyum.

“Tanya saja sama kakakmu!”

“Mbaaa… kak Ishan dari kemaren gak mau ngomong kalau Suni tanya… mbak jawab donk, biar aku gak galau.” Tanganku ia goyang-goyangkan.

“Pssstt… berisik, kalau gitu ditunggu aja sampai kakakmu bicara.”

“Mbaaaaaaa….” Rengeknya manja.

“Udah ach, mbak mau pergi, tuh temen-temen pimpinan dah pada dateng. Dadagh…  Assalamu’alaikum…” kucubit kembali pipinya, kali ini lebih kuat.

Terdengar jeritan suaranya, sementara aku lari menuju sekelompok akhwat berjilbab syar’i itu, kubiarkan Suni mengaduh kesakitan sendirian di sana.

***

Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan..; Itulah keberanian.
Atau

Ia mempersilakan..; Yang ini pengorbanan.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (56 votes, average: 8,86 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sang Melankolis - Sanguinis yang ingin mendekap ridha Nya dalam tulisan dakwah.
  • Insya Allah ini juga jadi bahan pelajaran untuk “ikhwan”. Ketika ada niat menghkhibah seorang akhwat, maka sebaiknya melalui adab yang telah ditentukan. Sampaikanlah terlebih dahulu pada Murobbi, kemudian murobbi yang membantu untuk menyampaikannya, tidak secara langsung menyampaikan pada yang bersangkutan, walaupun memang sudah ada niat untuk mengkhitbah. selain hal itu tidak sesuai adab yang ada, takutnya terjadi seperti cerita dalam cerpen ini….Wallahu’alam…

  • gimana cara ngirim tulisan ke dakwatuna.com?
     

  • dan harapannya ikhwan pun bisa menjaga etika melamar. kl melamar pekerjaan saja yang duaniawi dan paking berapa tahun saja pake ketemu janjian rapi pake proposal, masak mau melamar pasangan hidup yang dunia dan akhirat pake telfon? hargai akhwat juga lah

    tp kl dr pembawaan cerita, saya suka

  • menyentuh banget

  • semoga para ikhwan dapat mengambil pelajaran dari cerita diatas..
    ceritanya menyentuh sekali,sangat mengena bagi saya..

  • baca cerita ini….jadi nangis
    sedikit 11/12 dengan kisah ana, bedanya ketika ana telah mengkhitbah calon ana yang sekarang dan tinggal menunggu hari tuk walimah, tiba2 ada akhwat yang mengajak tuk taaruf, maupun “masa lalu” yang meminta tuk di khitbah.
    memang benar, setiap niat baik pasti banyak godaannya, ketika kita telah yakin dengan pasangan kita yang sekarang pasti ada pihak lain yang ingin menjadi pasangan kita juga. hanya mampu meminta kepada Allah tuk makin memantapkan hati ini 

  • keren. sudah lama gak baca cerita seperti ini.
    semoga kita bijak dalam mengambil hikmah yang ada.

  • andai aja ada lanjutannya :D

  • Subhanallah ana jadi merinding sampe pengen nangis baca cerita ini…. :(  :(

  • salah satu ujian juga kpd para akhwat ktika org yg pernah terkelabat dlam hati terxta merespons, tpy ketika qta sudah da yg memiliki. ujian untuk lebih memantapkan hati. wallahu a’lam

  • ini cerita berdasarkan fakta kah? beneran terjadi gitu?

    • Abdurrahman Abdullatif

      Cerita yang semisal ataupun mirip – mirip disekitar kita itu tdk sedikit.
      Allah tau yang terbaik untuk makhlukNya

    • fakta dan banyak contohnya yg agak mirip-mirip

  • like this… bz jdi bekal ilmu d wktu ny nnti ^^

  • Kalau nembak Akhwat yg masih satu RW sama lingkungan Rumah kita gimana ya xD

  • ata el hilal

    Kita tidak pernah tahu jodoh kita hingga mitsaqon ghalidzan itu terikrarkan. Jadi, jangan main tebak-tebakan. Berbahaya :)

  • abull

    Sepakat akh,….Masalah ini sebagai pembelajaran untuk melangkah kejenjang pernikahan. yang mana perlu mematuhi adap adap dalam menyampaikan keinginan pernikahan kepada seorang Akhwat. tentu dengan perantara Murabbi merupakan nilai yang sangat beradap. kalau pun akhirnya di tolak tentu sang murabbi akan lansung memberikan solusi yang tepat cepat agar hati ini tidak dalam setatus kebimbangan yang berlebihan. setidaknya nilai yang kita cari bisa akan bisa diusahakan sama (Kereteria yang kita inginkan).
    akupun pernah mengalaminya akh……

  • Yang sudah mau nikah saja gagal juga banyak ..

  • untung ane udah nikah…..

Lihat Juga

26.1

(Video) Ini Kondisi Kedubes Turki di Rusia Setelah Diserang Demonstran