Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Bukan Buruh Biasa

Bukan Buruh Biasa

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com“Apa yang paling sering kau ingatkan pada anakmu?”

Itu pertanyaan kesekian yang Lukman ajukan pada Yahya. Keduanya adalah sahabatku, sesama jamaah mushalla. Seputar anak menjadi topik obrolan kami malam itu, hingga tiba waktu Isya. Dan aku bersyukur ada di antara keduanya, karena dari obrolan mereka kesadaranku kembali terbuka.

“Shalat dan belajar,” jawab Yahya.

Tentang shalat aku tak ingin bertanya lagi, aku sendiri mengalami. Meski sudah memasuki usia baligh, ternyata tidak serta merta menumbuhkan kesadaran putriku untuk selalu menjalankan shalat tepat waktu. Dengan berbagai alasan, seringkali ia menunda-nunda (jangan-jangan kita pun juga. Astaghfirullah! ). Dan sebagai orang tua, kita tak boleh bosan untuk mengingatkannya. Kewajiban memang sudah melekat padanya, tapi mengingatkan adalah kewajiban kita selaku orang tuanya.

Mengenai belajar yang Yahya katakan, pertanyaanku terwakili oleh Lukman. “Bukankah anakmu sudah selesai ujian, haruskah dia terus belajar?”

Dan seperti yang sudah kubayangkan, Yahya memberikan jawaban yang mampu menggugah kesadaran. “Di sekolah formal, belajar memang ada batasnya, sekian tahun atau setelah menyelesaikan sekian SKS. Tapi di kehidupan, belajar tidak ada batasan, baik usia maupun jenis kelaminnya. Bukankah demikian?”

Aku dan Lukman mengangguk. Sepakat dan sependapat.

“Putriku memang sudah selesai mengikuti ujian, tinggal menunggu pengumuman kelulusan. Mudah-mudahan hasilnya nanti memuaskan.”

Serempak kami mengaminkan.

“Meski tak seperti menjelang ujian, namun aku selalu mengingatkan agar ia tak berhenti belajar. Tidak harus terpaku pada buku-buku paket yang ia dapatkan dari sekolah, tapi belajar bisa dari sumber-sumber lainnya. Aku juga mengingatkan, meski ia seorang perempuan, jangan pernah berfikir bahwa sekolah tak penting baginya. Kalaupun akhirnya setelah berkeluarga seorang perempuan disibukkan dengan berbagai urusan rumah tangga, jangan sedih dan jangan pula menganggap rendah karena di situlah medan juangnya sebagai perempuan. Dan menjadi seorang ibu rumah tangga pun harus berilmu agar keluarga dan rumah tangganya dapat diurus dengan baik.” Yahya menjelaskan.

“Pernah satu hari putriku bertanya, bolehkah ia bercita-cita menjadi ini dan itu? Dengan mantap kujawab, ya! Kuingatkan padanya untuk tidak ragu, bercita-citalah setinggi mungkin, namun jangan lupakan kodrat dan juga kewajibanmu,” Yahya menambahkan.

Benar yang Yahya katakan, menuntut ilmu bukanlah sekedar hak, tapi kewajiban bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan, selama nyawa masih melekat di badan. Ini tidak berlebihan dan bukan tanpa alasan. Rasulullah pernah bersabda bahwa untuk menggapai dunia, akhirat dan juga keduanya kita harus menguasai ilmunya.

Sekolah formal adalah salah satu tempat untuk menuntut ilmu, tapi tentu saja bukan satu-satunya. Di luar itu, kapan pun, di manapun dan pada siapapun kita bisa ‘bersekolah’, belajar pada kehidupan, membaca pelajaran yang tak selalu berupa tulisan, pada kejadian dan tanda serta kebesaran Allah yang tersebar di sekeliling kita.

Masih dalam suasana peringatan hari buruh internasional yang jatuh setiap tanggal 1 Mei, dan juga hari pendidikan nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Mei, mari kita bekali anak-anak kita dengan pendidikan yang terbaik. Utamakan yang mereka butuhkan, bukan yang mereka inginkan. Pilah dan pilihkan sekolah yang mempunyai kurikulum pendidikan dunia dan akhirat dalam porsi yang semestinya.

Hapus pemikiran yang mengatakan untuk apa sekolah tinggi-tinggi kalau akhirnya hanya menjadi seorang buruh. Perlu diingat, menjadi buruh bukanlah sesuatu yang hina. Menjadi buruh bisa membuat seseorang menjadi mulia, baik di mata Allah maupun di mata manusia, asalkan tahu ilmunya.

Jadilah buruh yang berilmu. Jadilah buruh yang luar biasa, jangan jadi buruh yang biasa-biasa saja. Bekerjalah sekaligus beribadah. Jangan hanya bekerja untuk mendapatkan penghasilan tapi niatkan sebagai bentuk ikhtiar dalam menjemput rezeki yang telah Allah siapkan. Ketika dijalani dengan sabar, ikhlas dan mengharap ridha Allah semata, maka seorang buruh bisa lebih mulia dibanding sang ‘majikan’ yang menjalankan usaha hanya untuk kepuasan nafsu duniawinya.

Selamat hari buruh intenasional (1 Mei) dan hari pendidikan nasional (2 Mei). Mari, kita berupaya untuk menjadi buruh yang berilmu.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Abi Sabila
Seorang pembaca yang sedang belajar menulis.

Lihat Juga

IMF (hindutav.com)

IMF Merayu, Media Pura-pura Lugu dan Buruh pun Tertipu