Home / Pemuda / Cerpen / Jilbab Putih untuk Mbak Vini

Jilbab Putih untuk Mbak Vini

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (kawanimut)

dakwatuna.com“Mbak Vini kok pakai jilbabnya berlapis-lapis?” tanya adikku, Fitri, suatu hari saat aku sedang bersiap diri untuk berangkat ke kampus. “Tapi cantik kan?” jawabku sambil tersenyum saat mendengar pertanyaan polos dari adikku. “Mbakmu kedinginan jadi pakai jilbabnya dilapis-lapis”, celetuk ibu yang mendengar obrolan kami. Lagi-lagi hanya senyum yang tersungging dari kedua sudut bibirku menanggapi apa yang adik dan ibuku ucapkan. Masih butuh usaha dan waktu yang lama untuk memberikan pemahaman kepada keluargaku perihal keputusanku tiga bulan yang lalu untuk memakai jilbab syar’i sesuai tuntunan Al-Qur’an yang kupahami.

“Mbak nggak kepanasan? Rambut mbak kan panjang, apa nggak gerah mbak?” rentetan pertanyaan masih terus dilontarkan Fitri padaku, sepertinya adikku ini masih penasaran dengan perubahan penampilanku.”Gini deh, nanti malam kamu tidur di kamar mbak ya biar nanti mbak ceritakan alasan mbak pakai jilbab seperti ini. Oke” janjiku. “Oke”, jawab adikku girang. aku pun berpamitan untuk berangkat ke kampus. Hari ini, aku berharap semoga aktivitas yang kujalani senantiasa dalam lindungan dan ridhaNya.

Di kampusku pemandangan perempuan-perempuan yang memakai jilbab lebar, besar dan tebal sudah merupakan hal yang biasa. Dan aku pun tak ragu saat mengambil keputusan untuk mengubah penampilanku menjadi muslimah yang lebih baik. Alhamdulillah di kampus banyak saudari-saudariku yang selalu mendukung dan menguatkan diriku untuk tetap istiqamah terhadap keputusan yang sudah kupilih.

Pukul sembilan, aku ada kuliah. Waktu masih menunjukkan pukul delapan lewat empat puluh menit saat aku tiba di kelas. Masih ada waktu dua puluh menit lagi, tetapi Pak Mukhlisin, dosenku, sudah tiba di kelas lebih awal. Beliau adalah salah satu dosen yang patut aku banggakan. Selain pintar, beliau juga sangat santai dan bersahabat saat memberikan penjelasan kuliah kepada mahasiswa. Semua mahasiswa sangat bersemangat saat mengikuti kuliah beliau. Pak Mukhlisin juga sangat disiplin, beliau tidak suka jika ada mahasiswa yang datang kuliah terlambat. Tetapi hari ini raut wajah Pak Mukhlisin terlihat lain seperti hari biasa, mungkin karena mahasiswa yang hadir hari ini hanya berjumlah tujuh orang. Sementara jumlah mahasiswa yang seharusnya hadir ada dua puluh empat orang. Seperti biasa, mahasiswa yang lain terlambat masuk kuliah dengan berbagai alasan mereka. Di akhir kuliah beliau berpesan kepada kami agar bisa mendidik diri untuk disiplin dan menerapkan sikap disiplin dalam menjalankan setiap aktivitas.

Pernah suatu hari aku ada kuliah pukul sembilan, tapi sudah pukul delapan lewat sepuluh menit aku belum selesai bersiap diri. Waktu itu aku baru memulai memakai jilbab berlapis dan aku merasa sangat kesulitan karena belum terbiasa memakai jilbab besar dan berlapis, butuh waktu yang lama bagiku untuk memakai jilbab seperti itu. Menit-menit berlalu dan aku baru berangkat ke kampus pukul delapan lewat tiga puluh lima menit. Perjalanan dari rumah ke kampusku membutuhkan waktu setengah jam jika tidak terhalang macet. Aku baru sampai di kampus pukul sembilan lewat lima belas menit. Dan sudah bisa dibayangkan, aku terlambat. Aku bertemu Pak Mukhlisin di koridor kelas, melihat aku berjalan terburu-buru beliau menyapaku dan bertanya “Kamu ada kuliah jam ini?”, “Iya, Pak” jawabku gugup sambil sesekali melihat jam yang melingkar di tangan kiriku. “Kamu terlambat?”, tanya beliau lagi, sepertinya beliau tahu. Aku semakin gugup dan hanya kata, iya pak, yang lagi-lagi terucap dari bibirku. “Sebagai seorang muslim kita harus senantiasa disiplin dalam menjalankan aktivitas. Islam mengajarkan kita tepat waktu, maka biasakanlah diri untuk tepat waktu hadir di kelas. Sebagai mahasiswa yang baik, pergunakanlah waktu dengan baik dan untuk hal-hal yang baik”. Lama terdiam, batinku tersentak mendengar nasihat singkat beliau. Nasihat beliau semakin menyadarkan diriku yang sering melalaikan waktu. Ya Rabbi, dhaifnya hambaMu ini. Nasihat Pak Mukhlisin telah terpatri dalam memoriku dan menjadi motivasi bagiku untuk senantiasa memperbaiki diri dan menggunakan waktu dengan baik.

Pukul sebelas kuliah selesai, aku harus ke mushalla untuk menemui Kak Mitha, akhwat di Fakultas tempat aku menimba ilmu, ingin membicarakan perihal acara keakhwatan hari jumat pekan ini. Kak Mitha adalah orang yang pertama menginspirasiku untuk mengenakan jilbab syar’i ini. Aku sangat bersyukur, Allah mempertemukan aku dengan saudari-saudari yang luar biasa dalam menjalankan syari’at Islam dan tidak goyah dengan kondisi masyarakat yang semakin kacau karena jauh dari nilai-nilai Islam.

*****

Fitri sudah di kamarku saat aku tiba di rumah, sepertinya dia mau menagih janjiku tadi pagi, tak lama aku langsung di serbu dengan pertanyaan-pertanyaan dari adikku ini, “Mbak kok jam segini baru sampai di rumah? Mbak ngapain aja di kampus? Mbak udah makan?” tanya Fitri antusias. “Maaf sayang, tadi mbak ada agenda lain di kampus jadi pulangnya agak sore” jawabku. “Okey never mind, yang penting mbak mau cerita ke Fitri soal penampilan baru mbak ini” cara bicara adikku tak bisa membuatku berhenti tersenyum.

Malam ini aku dan Fitri akan tidur bersama, sebelum mata terpejam aku akan banyak bercerita tentang penampilan baruku yang membuatnya penasaran. Detik demi detik kami lewati dengan bercerita dan berbagi pengalaman. Fitri sudah duduk di kelas sebelas di salah satu sekolah menengah atas negeri yang ada di kotaku, dan selama dia bersekolah dia hanya memakai jilbab saat ada mata pelajaran agama Islam, selain itu jilbab putihnya akan tersimpan apik di lemari pakaian di kamarnya. Keluargaku juga tidak pernah memaksa kami untuk memakai jilbab. “Biar lebih yakin, fitri buka deh Al-Qur’an terjemahan mbak nih, di Surah An-Nur ayat 31. Baca deh artinya. Dengan sigap Fitri langsung mengambil Al-Qur’an terjemahan yang ada di tanganku dan perlahan membuka lembar demi lembar mushaf kecil itu. “Katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak darinya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka…..” Fitri membaca kalimat dalam mushaf terjemahanku dan sesekali mengerutkan dahinya. “Fitri belum paham maksud kalimat ini mbak” katanya polos. Dengan sabar aku menjelaskan maksud ayat tersebut sesuai dengan ilmu yang kupahami yang kudapatkan saat mengikuti kajian-kajian Islam di kampusku. Alhamdulillah penjelasanku bisa dimengerti Fitri. “Berarti salah ya mbak kalau ada yang bilang memakai jilbab itu hanya tradisi masyarakat Arab saja?”, “Iya pasti salah banget Fit, karena memakai jilbab merupakan kewajiban setiap wanita muslim dan dalilnya juga sudah sangat jelas di dalam Al-Qur’an” jawabku mantap. Aku senang sekali Fitri sudah mulai paham arti penting berjilbab dan aku semakin bahagia saat Fitri bilang ingin mengenakan jilbab jika sekolah. Semoga ini bisa menjadi awal fardhiyahku kepada Fitri adikku. Untuk kesekian kalinya ucap syukurku kepada Rabbi Izzati atas nikmat tiada batas yang Dia berikan untukku. Aku memeluk Fitri hangat dan aku mengizinkan Fitri untuk memakai jilbab yang ku punya. “Mbak…” ucap adikku manja. Aku melepaskan pelukkanku dan menatap wajah adikku teduh, “Kenapa fit?”, “Hhmm… tapi Fitri malu mbak” cemasnya. Aku menatap mata adikku untuk meyakinkannya “Insya Allah, Allah akan memberikan kemudahan bagi kita untuk melakukan kebaikan. Kalau mau jadi muslimah yang baik, kita harus memulai dengan melakukan sesuatu yang baik juga. Oke. Semangat ya adinda sayang”. “Oke mbak, Fitri nggak boleh takut dan malu untuk pakai jilbab. Seperti kata Aa Gym mbak, melakukan kebaikan harus di mulai dari diri sendiri, di mulai dari hal yang kecil dan……..” Fitri memutus perkataannya. “Dan apa Fit?” tanyaku penasaran. “Di mulai besok pagi” lanjutnya yang diikuti tawa-tawa kecil kami.

*****

Fitri sangat bersemangat pagi ini untuk berangkat ke sekolah, dengan penampilan baru tentunya. Saat kami sarapan bersama, ayahku tersenyum melihat penampilan Fitri pagi ini. “Makin manis anak perempuan ayah” goda ayahku sambil menatap Fitri. “Iya dong yah, kan mau kompakan sama Mbak Vini” jawab adikku. “Mbak, sudah rapi belum jilbab Fitri?” tanyanya ragu. “Sudah rapi kok, sudah cantik” jawabku. “Kamu kalau mau pakai jilbab biasa-biasa aja, jangan seperti mbakmu ini, boros ibu lihat. Semua serba dilapis, pakai jilbab dilapis, pakai baju juga gitu. Terus ibu juga nggak mau mendengar hal yang aneh-aneh tentang anak perempuan ibu jika sudah berjilbab. Berjilbab lebar dan besar tapi sikapnya aneh di mata orang lain. Nggak mau bergaul dengan tetangga terus tertutup. Pokoknya ibu nggak mau Fitri sampai terhambat prestasi di sekolah karena sudah berpenampilan begini”. Rangkaian kalimat itu terucap dari bibir ibuku, sekilas ku pandang, terlihat ada seberkas kecemasan yang tergambar dari raut wajahnya yang kian menua. Wajar jika ibu berfikir seperti itu karena ibu khawatir hal buruk menimpa anak perempuannya. Aku dan Fitri saling menatap. “Insya Allah Fitri nggak akan membuat ayah dan ibu kecewa. Banyak kok bu, teman-teman dan kakak kelas Fitri yang berjilbab di sekolah dan mereka pintar, prestasinya juga baik. Mereka juga sangat ramah dan guru-guru sayang sama mereka. Guru-guru selalu mencontohkan mereka sebagai siswa teladan di sekolah” kata Fitri meyakinkan ibu. “Vini dan Fitri memutuskan untuk berjilbab karena kami ingin berusaha untuk menjaga diri bu. Dan Insya Allah kalau kita menjaga diri, Allah juga akan menjaga kita” tandasku untuk lebih meyakinkan ibu agar tidak khawatir. Dan obrolan kami pagi ini diakhiri dengan sikap ibu yang mengizinkan dan menerima keputusan kami.

*****

Sudah hampir lima bulan Fitri memakai jilbab dan semakin banyak kegiatan positif yang diikuti adikku setelah memutuskan untuk berjilbab. Fitri jadi senang mengikuti keputrian yang diadakan Rohis di sekolah. Fitri juga aktif sebagai remaja masjid, di masjid dekat tempat tinggal kami. Aku juga sering mengajak Fitri mengikuti acara yang diadakan oleh lembaga dakwah kampus di kampusku, Fitri sangat senang dan bersemangat menerima ajakanku.

Hari ini aku akan menghadiri acara diskusi ilmiah di kampus. Aku sudah berjanji sebelumnya kepada Nisa, sahabatku, kami akan memakai baju dan jilbab yang warnanya sama, karena kami berdua menyukai warna putih sebagai warna favorit kami. Saat membuka lemari pakaian untuk mengambil jilbab kesukaanku ternyata jilbab itu tidak ada di dalam lemari. Aku menemui ibu untuk bertanya, mungkin ibu tahu, pikirku. “Ibu ada lihat jilbab putih Vini?” tanyaku pada ibu yang sedang mencuci pakaian. “Ini di dalam mesin cuci” jawab ibuku singkat. “Lho kok bisa di mesin cuci?” tanyaku penasaran. “Bukannya kemarin Vini setrika terus Vini simpan di lemari” lanjutku. “Iya ibu tahu, tapi kemarin siang dipakai adikmu ke sekolah. Di sekolah Fitri ada acara Tabligh Akbar dan mereka diwajibkan memakai pakaian serba putih. Fitri mau izin meminjam jilbab putih kamu ini, tapi kemarin malam kamu pulang Fitri sudah tidur dan dia lupa bilang ke kamu katanya, esok paginya kamu sudah berangkat ke kampus lebih awal dan kalian tidak ketemu” jelas ibuku. “Tapi kan Fitri bisa telepon Vini bu?”. “HP kamu nggak aktif saat ditelepon” lanjut ibuku sambil berlalu. Dan yang membuatku semakin kecewa ternyata ada bercak noda yang tidak bisa hilang dari jilbab putih kesayanganku. Kata ibu, selepas pulang sekolah Fitri dan teman-temannya memakan buah nangka yang mereka dapatkan dari pohon nangka di belakang sekolah, jilbab yang Fitri pakai terkena getah dari buah nangka yang ia makan.

Tiba-tiba ada sedikit rasa marah pada Fitri. Rencana awalku dengan Nisa untuk memakai jilbab yang berwarna sama tidak sesuai dengan harapan. Saat sampai di kampus Nisa hanya diam menyambut kedatanganku. Sebelum Nisa banyak bertanya aku menjelaskan perihal rencana awal kami yang tidak bisa kutepati. Akhirnya Nisa mau memahami alasanku.

Saat tiba di rumah aku langsung menemui Fitri dan mengungkapkan rasa kecewaku padanya. Adikku tertunduk diam dan hanya kata maaf yang berkali-kali terucap darinya. Dan Fitri berjanji padaku untuk meminta izin terlebih dahulu jika ingin memakai barang-barang milikku.

*****

Hari ini aku tidak ada agenda di kampus dan aku memutuskan untuk di rumah saja hari ini, banyak hal yang bisa kukerjakan. Membantu ibu di dapur dan merapikan kondisi kamarku. Saat ingin merapikan lemari pakaianku, aku melihat ada kotak kecil berbungkus kertas kado warna pink yang cantik. Aku bertanya dalam hati siapa gerangan yang meletakkan kado ini di lemariku. Aku sadar bulan ini bukanlah bulan kelahiranku dan aku tidak sedang berulang tahun hari ini. Akhirnya aku memberanikan diri untuk membuka kotak berbungkus kertas kado warna pink itu. Subhanallah ternyata isinya jilbab putih. Ada selembar kertas yang diselipkan di dalamnya, perlahan ku buka dan mulai ku baca.

‘Assalamu’alaikum… Jilbab Putih Untuk Mbak Vini. Mbak Vini, jilbab putih itu Fitri beli untuk mbak Vini. Fitri harap mbak suka dan mau menerimanya. Fitri minta maaf ya mbak karena sudah membuat mbak Vini marah dan merusak jilbab kesayangan mbak. Fitri janji nggak akan mengulangi kesalahan itu lagi. Mbak jangan khawatir, jilbab ini Fitri beli dari uang tabungan Fitri sendiri, jadi Fitri nggak membuat ibu repot karena kesalahan Fitri. Fitri juga berterima kasih sama mbak Vini yang sudah mengajarkan Fitri untuk berjilbab. Fitri senang sampai sekarang masih tetap berjilbab. Fitri sayang mbak Vini’

Tak terasa bulir-bulir bening mengalir dari sudut-sudut mataku. Ada sesuatu yang menyesakkan hatiku, aku malu dan merasa bersalah pada adikku. Ya Rabbi, Engkau tegur hamba dengan peristiwa indah ini. Bukankah aku telah mengatakan Fitri boleh memakai jilbab yang kumiliki saat ia memutuskan untuk berjilbab tetapi aku malah mengingkari apa yang sudah aku katakan. Tak seharusnya aku bersikap seperti ini pada Fitri. Ya Allah semoga Engkau mau membukakan pintu ampunan atas kekhilafan hambaMu ini dan aku berharap Fitri mau memaafkan sikapku. Tidak mau membuang waktu lama aku langsung mengambil handphone di atas lemari pakaianku dan mengirim pesan singkat pada Fitri.

‘Assalamu’alaikum. Fitri jazakillah ya dik atas kado istimewanya, mbak suka dengan jilbab putih pemberian Fitri. Maafin mbak ya dik, mbak juga sayang Fitri’. Dan Fitri membalas pesan singkatku dengan gambar senyuman yang lucu.

*****

Merefresh kembali memoriku dua tahun yang lalu…
Persembahan cinta untuk dua orang adikku: Safitri AS dan Lita Tridayanti AS
Hepi berjilbab untuk adik-adik kakak ^_^

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (34 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Evie Suriani AS
Alumni FMIPA USU stambuk 2008 jurusan D3 Kimia Industri. Saat ini aktif sebagai pengajar.
  • Menarik kayaknya, InsyaAllah kubaca nanti setelah semua tugasku selesai. :)

Lihat Juga

Gerakan Menutup Aurat (GEMAR) 2016. (ist)

Gerakan Menutup Aurat, Jilbab Bukan Pilihan Melainkan Kewajiban