Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Negeri yang Tercelup Kemuliaan Islam

Negeri yang Tercelup Kemuliaan Islam

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi - Peta Mesir (inet)

dakwatuna.com Apa yang menjadikan Mesir begitu mulia? Tidakkah manusia memperhatikan bahwasanya negeri yang gersang itu mendapatkan banyak kemuliaan dari Allah SWT. Banyak para Nabi yang terlahir di daerah tersebut. Bahkan para ulama dan panglima perang muslim seperti Imam Asy-Syafi’i dan Shalahuddin Al-Ayyubi pun pernah bermukim di Mesir. Tokoh pembaharu abad XIX umat Islam, Imam Asy-Syahid Hasan Al-Banna dengan pergerakan Ikhwanul Muslimin yang beliau dirikan juga dimulai dari Mesir. Karena itulah masyarakat Mesir takkan pernah rela fitrah mereka yang telah tercelup oleh shibghatullah hilang ditelan kehinaan zaman. Itulah alasan-alasan yang memperkuat dakwah Islam bergulir deras di padang gurun Mesir. Dan itu juga menjadi alasan penulis untuk kembali menggoreskan pena yang tajam ini untuk memberikan karya bagi khalayak.

Berbicara tentang negeri Mesir takkan pernah terlepas dari peradaban dan kebudayaan mereka yang mencengangkan sejak beribu-ribu tahun sebelum masehi. Tersebutlah bangunan-bangunan besar layaknya makam yang telah diketahui banyak orang di seluruh dunia. Tepat sekali. Itulah Piramida Giza, The Great Sphinx, dan banyak lagi seni dan arsitektur Mesir Kuno yang sampai sekarang masih dapat terlihat. Para ahli arkeologi pun sampai saat ini masih menelusuri jejak-jejak peradaban Mesir yang maju tersebut. Pertanyaan yang masih terngiang di kepala mereka adalah bagaimana masyarakat Mesir dahulu membangun bangunan semegah Piramida pada ribuan tahun sebelum masehi. Apakah kehidupan di bumi ini layaknya sebuah siklus yang terus saling berganti peradaban? Itulah yang menjadi pertanyaan besar bagi sebagian besar kalangan konspirator yang ada di dunia. Tapi, penulis tidak akan melakukan pembahasan tentang Mesir dalam cakupan tersebut.

Mari memulai dari sejarah singkat negeri ini dari peradaban Mesir kuno. Dan pembahasan akan mengerucut kepada peradaban Islam yang mewarnai Mesir. Khususnya dalam konteks pergerakan masyarakat muslim Mesir yang masih terlihat hingga saat ini. Semoga Allah memperkenankan agar dakwah Islam terus bergulir di tanah Mesir hingga menjadi pusat penyebaran Islam dengan negara-negara Timur Tengah lainnya dan seluruh dunia pun meyakini bahwa perjuangan umat Islam dalam menyebarkan agama Allah takkan sia-sia belaka. Maka, lihatlah belasan tahun mendatang! Dunia akan tunduk pada eksistensi Islam dalam memimpin peradaban dunia.

Telah diketahui bahwa Piramida Giza dan bangunan-bangunan identik lainnya dibangun pada zaman peradaban Mesir kuno. Dan pada zaman ini pun diperkirakan Fir’aun dan Nabi Musa as. hidup dan saling berlomba memberikan pengaruh di dalam masyarakat Mesir kala itu. Allah telah berfirman di Al-Qur’an yang menyebutkan bahwa jasad Fir’aun yang tenggelam di Laut Merah dibiarkan utuh agar menjadi pelajaran bagi manusia. Itu pun menunjukkan bahwa hanya fitrah suci yang akan menang.

Kemudian di awal-awal tahun masehi datanglah bangsa Yunani, Roma, dan Byzantium yang melakukan ekspansi di wilayah Mesir. Saint Mark the Evangelist pada abad pertama masehi membawa agama nasrani ke dalam masyarakat Mesir. Inilah yang menjadi cikal bakal Kristen Koptik yang berkembang di Mesir. Sampai saat ini populasinya tak lebih dari 5% penduduk Mesir.

Ketika Nabi Muhammad saw. bersama para sahabatnya berhasil menaklukkan Persia dan Byzantium, maka tampillah sahabat Amru bin Al-Ash menuju Mesir untuk menaklukkan Byzantium yang menjajah. Seiring berjalannya waktu ke waktu, muncullah banyak para ulama di Mesir. Seperti halnya Imam Asy-Syafi’i. Maka jadilah mayoritas masyarakat Mesir menganut Islam Sunni. Selain itu Shalahuddin Al-Ayyubi pun tampil dalam kesultanan Mamluk yang berhasil kembali menaklukkan Palestina dari tentara-tentara Salib Eropa.

Seiring pergantian kekuasaan di dalam kubu umat Islam, akhirnya Mesir dikendalikan oleh kekuasaan Turki Utsmani. Dalam perjalanannya, banyak terjadi perselisihan antara masyarakat dan pemerintah hingga terjadi revolusi pertama kali yang pernah dialami Mesir pada tahun 1952. Sebelumnya, Mesir setelah kekuasaan Turki Utsmani, dijajah oleh Inggris sampai memerdekakan diri pada tanggal 18 Juni 1953. Hingga pada tahun 2011 lalu Mesir mengalami pergolakan revolusi untuk yang kedua kalinya. Presiden Muhammad Husni Mubarrak dipaksa mundur setelah memiliki kekuasaan hampir 30 tahun lamanya.

Membahas tentang peradaban dan pergerakan Islam di Mesir tentunya sedapat mungkin bisa menjelaskan bagaimana ia merasuki hati masyarakat Mesir dengan fitrah suci Islam. Seperti yang sudah dijelaskan di atas bahwasanya sejak Islam masuk ke tanah Mesir, masyarakatnya mulai berubah menjadi manusia rabbani yang menjunjung tinggi asas-asas keislaman dalam segala aspek kehidupan. Mereka mulai meyakini bahwa hanya Islam yang hanya bisa mengantarkan pemeluknya kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Terbukti dengan jelas dan mudah ketika kembali menengok ke belakang saat revolusi yang dilancarkan masyarakat kepada pemerintah militer setahun yang lalu.

Pada hakikatnya masyarakat Mesir saat ini sangat menginginkan Islam kembali berjaya seperti zaman awal-awal Islam memasuki Mesir. Tidak ada kesengsaraan, kebathilan, kehinaan dan bentuk kejahatan lain saat Islam memimpin masyarakat Mesir. Mereka hanya menginginkan Islam kembali berjaya sehingga kehidupan mereka dapat terjalani dengan bahagia untuk menyongsong kekekalan akhirat kelak.

Namun, ada satu pemikiran yang mereka selalu jaga. Paradigma pemikiran mereka terlampau luas untuk bisa diikuti oleh semua ras manusia yang ada di dunia. Mereka satu. Mereka bersatu. Satu pemikiran yang selalu meyakini dan tidak akan pernah hilang tanpa bekas dari kepala mereka adalah bahwa Islam adalah Rahmatan Lil ‘Aalamiin. Rahmat bagi semesta alam. Mereka tidak menginginkan Islam kembali berjaya dengan kekerasan. Tapi, mereka menjunjung sistem demokrasi dengan baik yang telah berjalan hampir di seluruh negara di dunia. Mereka turut berpartisipasi dan berkontribusi untuk mendukung pemimpin mereka dalam memenangkan setiap pemilihan yang ada. Walaupun baru kemarin bakal calon pemimpin mereka dicoret oleh dewan pemilihan umum untuk maju dalam pemilihan presiden secara inklusif.

Ada satu hal yang selalu mereka yakini bersama. Dan karena hal itulah Allah SWT memberikan motivasi yang kuat dan jalan yang mudah untuk menyongsong keinginan mereka. Mereka meyakini Allah SWT akan menolong mereka dalam memenangkan Islam di bumi Mesir. Dan celutun api awal sudah mulai terlihat. Itu menjadi bom waktu yang terus mengalir dalam pergolakan dunia Arab. Walaupun seperti itu, ketetapan hati mereka takkan pernah berubah dengan adanya intervensi dari kalangan barat. Mereka yakin bahwa kekuasaan suatu kaum akan digantikan oleh kaum yang lain sebagai pelajaran bagi manusia.

Terakhir penulis ingin menyampaikan sepatah kalimat bagi khalayak sekalian. Yakinilah dalam hati bahwa setiap pergiliran kekuasaan yang ada di ranah tanah bumi ini pasti Allah SWT memberikan hikmah-hikmah yang dapat dipelajari kembali. Agar setiap kesalahan yang pernah terjadi tidak akan pernah terulang untuk yang kedua kalinya. Lalu, tanamkan selalu dalam hati diri bahwa tsiqah-nya hati kepada Allah SWT dan Islam, akan selalu memberikan ketenangan sikap dan kesempatan yang luas. Dengan keberadaan orang-orang seperti itu penulis sangat meyakini bahwa Islam akan maju dalam beberapa dekade ke depan. Lihatlah masyarakat Mesir sebagai contoh nyata bagi kalian hai pemuda-pemuda Islam! Janganlah engkau sekali-kali melayangkan pernyataan bahwa Islam dan Al-Qur’an yang ia bawa tidak cocok dengan perkembangan zaman. Bahkan sebaliknya. Sudah sejak beratus-ratus tahun lalu Allah memberikan petunjuk di dalam Al-Qur’an sebagai pedoman untuk menjalani hidup. Tidak ada kata kadaluwarsa bagi Al-Qur’an. Maka dari itu jadikanlah syi’ar-syi’ar Islam yang sudah tertanam dalam Al-Qur’an sebagai landasan utama dalam memanfaatkan segala thagut yang ada di dunia. Karena kalian bisa menikmati semua thagut itu dengan Al-Qur’an. Tidak dengan kekerasan dan ekstremitas apapun. Dan hidup ini pun menjadi indah dan membahagiakan.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (9 votes, average: 7,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ahmad Wali Radhi
Lahir di Medan, 8 Maret 1996. Saat ini tinggal di Kota Bandung.Pernah menempuh pendidikan di Yayasan Ummul Quro Bogor, Ma'had Husnul Khotimah Kuningan dan Insan Cendekia Serpong. Memiliki minat dalam sains dan energi serta selalu berusaha mengungkapkan kebenaran ilmiah dengan cahaya ilmu yang berada di Al-Qur'an. Berbagai perlombaan dan prestasi telah diraih olehnya dan Insha Allah dapat menorehkan prestasi yang lebih membanggakan. Dalam hidup berusaha untuk dapat menjadi yang terbaik dintara yang lain dalam ketaqwaan kepada Allah. Semoga Allah memudahkan sekaligus meridhoi apa-apa yang dilakukan olehnya dan ia pun ridho atas apa yang Allah SWT tentukan untuknya.Saat ini sedang berusaha menggeluti dunia tulis menulis dengan baik dan selalu menjadi mujahid yang haus akan ilmu dan hikmah. Penulis merupakan salah satu mahasiswa dan aktivis dakwah kampus di Institut Teknologi Bandung??? ???? ?? ????? ??? ? ???? ??
  • Mohd Izraai

    Assalamualaikum ,w.b.t.. Saya ingin membetulkan artikel diatas. Salahuddin Ayyubi bukan dari Kerajaan Mamluk.

    1. Salahuddin Al-Ayyubi adalah pahlawan Islam keturunan Kurdish. Beliau dididik dan dibesarkan di Iistana Sultan Turki ( Imaduddin Zanki), hingga menjadi panglima dari kerajaan Islam Turki. Beliau akhirnya berjaya mengalahkan tentera Salib dalam Perang Salib ketiga dan membebaskan Palestin dengan bantuan rakyat Mesir dan Syria (terutamanya) , juga seluruh dunia Islam .(Perang ini dikenali sebagai Perang Hittin)
    Sewaktu melawan tentera Salib , Salahuddin menghadapi kesulitan kerana terpaksa berdepan dengan Syeikh Jabal (pemimpin Syiah di Syria dan Lubnan). Perang tiga penjuru berlaku antara Islam , Salib dan Syiah. Sering terjadi tentera salib bekerjasam dengan Syiah menentang Salahuddin
    Dunia Islam ketika itu tidak bersatu. Mesir diperintah oleh Kerajaan Fatimiah (berpegang kepada aliran Syiah Ismailiah . Raja terakhirnya mengaku sebagai tuhan) . Salahuddin dari Damsyik , Syria telah menggulingkan raja ini dan mengganatikan kerajaan syiah menjadi kerajaan sunnah. Dari Mesirlah ia mendapar dukungan yang kuat hingga berjaya mengalakhan tentera Salib.

    2. Mahmud Qutuz adalah anak saudara kepada raja Afganistan (Khawarizm Syah – yang berjihad melawan tentera Monggol, Ketika itu umat Islam dan seluruh dunia tunduk serta takut dengan serangan Monggo).
    Diwaktu kanak-kanak, Mahmud telah duculik oleh penjahat gunung dan dijual sebagai hamba abdi. Ia akhirnya sampai di Syria dan ditarbiyah oleh Izzuddin Ibni Abdissalam (yang terkenal sebagai Sultanul-‘Ulamak).
    Akhirnya mahmud telah berjaya menjadi raja di Mesir dalam Kesultanan Mamluk. Mahmud dengan bantuan rakyat Mesir telah berjaya mengalahkan tentera salib dalam Perang salib ke 6,7,8,dan 9 (Perang salib yang terakhir di Al-Mansurah , Mesir) .

    Dunia Islam ketika itu sedang diserang oleh tentera salib dan tentera Monggol secara serentak. Baghdad telah jatuh ke tangan tentera Monggol dengan pengkhianatan orang-orang Syiah .Ibnul Al-Alqami yang sempat menjadi menteri Kerajaan Abasiah bersama Nasiruddin At-Tusi seorang ahli ilmuan (kedua-duanya penganut syiah). Mereka telah bersekongkol dengan tentera Monggol untuk mengkhianati ummat Islam. Baghdad telah dibakar selama 40 hari , kutub-khanah telah dibakar, kitab-kitab sunnah telah dicampakkan kedalam sungai ,orang-orang sunnah telah dibunuh, tengkorak-tengkorak seperti bukit. Umat islam dalam ketakutan.Orang-orang syiah mendapat kedudukan baik dikalangan tentera Monggol. Mahmud telah menyerukan jihad. Dengan bantuan rakyat Mesir telah berjaya mengalahkan tentera Monggol yang dipimpin oleh Hulagu Khan. Peperangan ini dikenali sebagai perang ‘Ainul-Jalud

    3. perhatikanlah kehebatan bangsa-bangsa tersebut; Turki, Afghanistan, Mesir dan Syria.Mereka telah berjaya menjadi benteng pertahanan umat Islam sepanjang zaman. Perhatikanlah juga musuh-musuh dan pengkhianat Islam sepanjang Zaman dari kalangan Salibi dan Syiah.

Lihat Juga

Menhan penjajah Israel, Avigdor Lieberman (aljazeera.net)

Menhan Israel Pastikan Mesir Sekutu Penting di Timur Tengah