Home / Berita / Opini / Merajut Ilmu dan Peradaban Indonesia

Merajut Ilmu dan Peradaban Indonesia

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.comIndonesia merupakan sebuah bangsa besar dan sangat unik dengan berbagai hal yang melingkupinya, mulai dari nuansa pembauran religiusitas dan kultur yang saling mempengaruhi antara satu dengan yang lain, hingga kondisi sosial-politik Indonesia yang diharapkan menjadi jembatan antara peradaban Timur dengan peradaban Barat, antara Islam dengan demokrasi.

Kondisi demografis Indonesia sangat beragam, baik diferensiasi kelompok dalam hal agama, etnis, ataupun budaya. Namun tak dapat dipungkiri dari berbagai perbedaan itu, populasi Indonesia sangat kental dengan nuansa keislaman. Mengapa demikian? Salah satu indikatornya tentu saja dikarenakan negeri ini ditempati lebih dari 200 juta umat Muslim. Negeri dengan populasi penganut Islam terbesar di dunia. Mau tak mau, perwajahan umat Islam di masa kini juga dipengaruhi oleh kondisi bangsa Indonesia.

Menariknya dalam kajian mengenai keislaman di Indonesia, kontribusi umat Islam sejauh ini cenderung terbatas pada hal-hal yang sifatnya materi dan praktis. Bukan belum berkontribusi, namun kontribusi umat Islam untuk hal-hal yang fundamental kerap menemukan banyak hambatan. Terhambatnya gerak kontribusi ini yang kemudian hari juga tak sedikit memberikan sumbangan pada mandeknya perbaikan-perbaikan dan kemajuan bangsa Indonesia secara umum.

“Makna” ilmu hari ini

Kondisi Indonesia terkini memang tidak mencerminkan kebesaran sebuah bangsa yang begitu memiliki banyak potensi dan ekspektasi dalam memberikan sumbangsih pada perubahan progresif peradaban manusia. Kondisi terkini Indonesia begitu miris. Sebuah bangsa yang dianggap jembatan antara dua peradaban besar justru berada pada kondisi yang menyedihkan secara agregat.

Dari 177 negara yang di survei mengenai Indeks Prestasi Manusia, Indonesia belum pernah memasuki deretan 50 besar. Pada tahun 2009 saja Indonesia masih berada pada urutan ke 109, bahkan sebelumnya pernah di urutan 112. Pada tahun 2004, Indonesia berada pada ranking terakhir dari 49 negara yang survei mengenai tingkat daya saing.

Semua permasalahan ini menurut Thabrany (2009) dikarenakan beberapa hal yang sangat fundamental mengenai pembangunan sumber daya manusia (SDM) Indonesia, baik secara pengelolaan yang kemudian akan berdampak pada kualitas dari sebuah generasi yang muncul.

Hal yang sangat fundamental itu salah satunya adalah mengenai perwajahan dunia pendidikan di Indonesia. Buruknya outcomes dari sistem pendidikan saat ini sudah menjadi rahasia umum, bahwa meskipun kaum intelektual, yang telah melewati proses panjang dalam pendidikannya, banyak bermunculan, mereka belum mampu menyumbangkan sebuah perubahan berarti bagi Indonesia itu sendiri. Bahkan hari-hari terakhir tengah diperbincangkan begitu besarnya jurang perbedaan antara jumlah doktor dengan jumlah jurnal ilmiah yang begitu sedikit di rilis karena rendahnya kultur menulis.

Buruknya pendidikan di Indonesia pastinya juga berkorelasi dengan kondisi umat Muslim yang hidup di negeri ini. Umat Muslim sebagai entitas terbesar sebagai subyek dan obyek dalam pendidikan dan pembangunan Indonesia, patut dicermati peran yang dimainkannya.

Hal yang paling mendasar dalam hal ini adalah bagaimana umat Muslim memahami ilmu. Ilmu merupakan muatan yang terdapat dalam sebuah proses pendidikan, maka perannya dalam membentuk kualitas pendidikan sangat krusial. Terdapat beberapa permasalahan yang menghinggapi umat Muslim terkait dengan pembahasan ilmu, yang pertama adalah mengenai definisi dan orientasi. Definisi ilmu sendiri sebenarnya sangat beragam.

Menurut Poeradisastra (1981) Ilmu adalah pengetahuan yang telah disistematiskan, yaitu susunan teratur mengenai suatu bidang tertentu yang jelas batas-batasnya mengenai sasaran, cara kerja, dan tujuannya serta diikat oleh suatu kesamaan cara kerja yang disebut metodologi dan merupakan suatu disiplin ilmiah. Definisi ilmu oleh masyarakat Indonesia secara umum memang tak jauh berbeda dengan apa yang dipaparkan di atas. Namun yang disayangkan dari pendefinisian itu kemudian muncul berbagai permasalahan. Di antaranya adalah dikotomi mengenai ilmu dengan agama.

Pendikotomian ini kemudian membuat umat Muslim (secara sebagian) justru gagal memahami ilmu secara komprehensif karena terlebih dulu apriori terhadap pendalaman ilmu. Dikotomi Islam-ilmu ini juga berakibat pada munculnya pemikiran dan aplikasi kehidupan yang perlu disekulerkan dari nilai-nilai Islam, karena menganggap nilai-nilai Islam tak bisa disertakan selain dalam membangun relasi dengan Allah dan juga tak relevan dengan ilmu.

Belum lagi munculnya diskursus mengenai ilmu yang kini berkembang memang tak bisa dipungkiri sangat dipengaruhi kehidupan Barat yang dipenuhi orientasi materi. Maka tak jarang Ilmu hanya digunakan sebagai tools untuk meningkatkan status sosial saja. Inilah yang kemudian mengakibatkan berkembangnya kondisi masyarakat dalam menggunakan majelis ilmu yang biasanya diselenggarakan lembaga-lembaga pendidikan, hanya untuk mencari pekerjaan guna memperoleh hasil yang sifatnya materi semata. Padahal Allah SWT lewat QS al Mujadilah ayat 11 telah menjanjikan bahwa orang-orang dengan ilmu dan iman akan memperoleh derajat yang lebih tinggi daripada orang-orang yang hanya beriman saja. Namun hal ini tentu saja tanpa perlu merubah orientasi dalam menuntut ilmu.

Peradaban Indonesia

Pada akhirnya ilmu yang dikembangkan merupakan bukti lompatan kebudayaan manusia. Kesalahan pemahaman dan disorientasi ilmu ini yang kemudian membuat peradaban yang berkembang tidak maksimal, atau berkembang dengan “pesat” namun justru tak sesuai dengan harapan, terutama di daerah-daerah Muslim yang notabene berada dalam wilayah teritori negara dunia ketiga.

Sebuah peradaban yang dicitakan dalam Islam menurut Ibnu Khaldun ditandai dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Namun menurut Sayyid Quthb peradaban tidak hanya dibangun berdasar ilmu pengetahuan namun juga keimanan, ketakwaan. Arnold Toynbee juga menyatakan bahwa kekuatan spiritual adalah kekuatan yang memungkinkan seseorang melahirkan manifestasi lahiriah (outward manifestation) yang kemudian disebut sebagai peradaban itu (Zarkasyi dkk: 2010). Ini juga bisa dibuktikan bahwa peradaban-peradaban besar seperti India, Yunani, Mesir selalu diiringi dengan perkembangan spiritualitas pada lokasi-lokasi tersebut.

Begitu pun kini dengan Indonesia. Indonesia sebagai sebuah bangsa yang berkembang di abad ke 20, masih mengembangkan konsep bangsanya hingga saat ini. Peradaban bangsa Indonesia di masa lampau memang terbentuk dengan konsep kehinduan atau kebudhaan yang kental. Kini kondisi Indonesia tak bisa dilepaskan dari keberadaan umat Muslim sebagai mayoritas secara kuantitas. Maka sumbangsih umat Muslim dalam shaping akan konsep peradaban yang berkualitas sangat dibutuhkan. Diawali dengan hal yang sangat krusial dan mendasar yaitu pendefinisian dan pengorientasian ilmu, yang merupakan substansi pendidikan dan menjadi alat dalam membentuk sebuah peradaban besar. Peradaban yang diharapkan mampu “mendamaikan” antara Islam dan demokrasi, antara Timur dan Barat. Wallahu ’alam.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Andhika Beriansyah
Mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Univ. Indonesia angkatan 2010; anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UI 2011; staf ahli stratedi Departeman Kajian Strategi (Kastrat) Nuansa Islam Mahasiswa (Salam) UI.

Lihat Juga

Supporter Indonesia membuat Aksi Atraktif dengan membentuk Koreo Bendera Palestina saat Laga Timnas dengan Malaysia, Selasa (

(Video) Penampakan Koreografi Bendera Palestina dan Indonesia di Laga Indonesia vs Malaysia