Home / Pemuda / Cerpen / Diingat Karena Kebaikannya

Diingat Karena Kebaikannya

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Kami belum mulai beraktivitas ketika Pak Usman, karyawan bagian umum, datang membawa setumpuk undangan.

“Undangan dari siapa, Pak?” aku bertanya pada Pak Usman yang berjalan ke arahku.

“Dari Pak Mukhlis. Insya Allah minggu depan beliau akan menikahkan putri pertamanya” jawab Pak Usman sambil menyodorkan satu undangan padaku. Dia mengangguk saat kuucapkan terima kasih.

Aku mengenal lebih dari satu orang bernama Mukhlis, tapi setelah membaca alamat yang tertera di undangan, aku langsung tahu Pak Mukhlis mana yang mengundangku. Berbeda dengan dua orang rekan kerja yang duduk di seberang mejaku. Meski Pak Usman sudah membantu menjelaskan, mereka tetap tak bisa mengingat sosok Pak Mukhlis yang memang sudah resign beberapa tahun yang lalu ini.

“Kamu tahu Pak Mukhlis?” tanya salah satu dari mereka padaku.

Aku mengangguk.

“Pak Mukhlis yang mana ya?” cecar yang lainnya. Mereka makin penasaran karena ternyata aku mengenalnya sedang mereka sama sekali tak bisa mengingatnya.

Aku tak langsung menjawab. Jika tadi Pak Usman telah menjelaskan segala yang berkaitan dengan Pak Mukhlis, mulai dari asal usulnya, di bagian dimana dulu beliau bekerja hingga ciri-ciri fisik serta kebiasaan beliau yang datang dan pulang dengan berjalan kaki, namun semua itu tak mampu mengembalikan ingatan kedua rekanku akan sosok Pak Mukhlis, maka percuma saja jika aku mengulanginya lagi. Akhirnya aku menemukan satu penjelasan yang belum Pak Usman sampaikan. Kukatakan bahwa Pak Mukhlis yang memberi undangan ini adalah Pak Mukhlis yang dulu setiap hari membersihkan mushalla, sesaat sebelum jam istirahat.

Seolah kuhadirkan langsung sosok Pak Mukhlis di hadapan mereka, kedua rekan kerjaku ini langsung kompak ber-o.. panjang.

“Jadi yang memberikan undangan ini adalah Pak Mukhlis yang dulu rajin menyapu dan mengepel mushalla?”

Untuk kedua kalinya aku mengangguk. Sebenarnya tugas utama Pak Mukhlis adalah memotong rumput yang tumbuh subur di tanah kosong sekitar bangunan perusahaan. Namun di sela-sela istirahatnya yang lebih fleksibel dibanding karyawan lainnya, beliau selalu menyempatkan diri untuk membersihkan mushalla, sesaat sebelum jam istirahat tiba. Berkat bantuannya, mushalla yang dibangun dengan tembok setinggi dada orang dewasa ini selalu dalam kondisi bersih dan rapi sehingga karyawan yang hanya memiliki waktu istirahat selama tiga puluh menit, itupun termasuk untuk makan siang, bisa shalat Zhuhur dengan lebih nyaman dan khusyuk.

Dan yang lebih diingat oleh banyak orang adalah karena Pak Mukhlis melakukan tugas tak resminya ini dengan ikhlas, tak mengharap imbalan apapun. Pernah satu kali pengurus mushalla memberikan sebuah bingkisan berupa sembako, namun dengan santun beliau berusaha menolaknya. Setelah diyakinkan berkali-kali bahwa bingkisan tersebut bukanlah upah atas kerja yang telah beliau lakukan, hanya sekedar ungkapan terima kasih yang sudah disetujui seluruh pengurus mushalla, akhirnya Pak Mukhlis bersedia menerima dengan satu catatan, ini yang pertama sekaligus yang terakhir. Ia melakukan semua itu, mengorbankan sedikit waktu istirahatnya untuk membersihkan mushalla bukan karena menginginkan imbalan, tapi berharap bisa Allah terima sebagai tambahan amal kebaikannya. Subhanallah.

Begitulah Pak Mukhlis. Ia lebih dikenal bukan karena pekerjaannya, asal usul ataupun ciri-ciri fisiknya tetapi karena kebaikan yang dilakukannya, keikhlasan yang dimilikinya. Dua rekan kerjaku contohnya. Mereka tak langsung ingat ketika disebutkan ciri-ciri fisik, asal usul serta pekerjaan Pak Mukhlis di perusahaan ini. Tapi begitu kusebutkan kebiasaannya membersihkan mushalla, mereka langsung bisa mengingatnya. Secara pribadi, aku cukup mengenal beliau, bahkan akulah yang beliau titipi amanah untuk menyampaikan kepada pengurus mushalla agar tidak memberikan apapun atas apa yang telah ia lakukan untuk mushalla.

Dan ketika dua rekanku mulai larut dalam aktivitas masing-masing, tak lagi bertanya-tanya tentang Pak Mukhlis, satu pertanyaan justru mengusik hatiku. Dibanding Pak Mukhlis, siapakah aku ini? Kelak, jika aku tak lagi bekerja di perusahaan ini, atau bahkan saat aku tak ada lagi di dunia ini, apa yang akan orang ingat tentangku? Aku hanyalah karyawan biasa, tak memiliki jabatan, tidak juga memiliki prestasi yang membanggakan. Adakah orang akan langsung ingat ketika disebutkan asal-usulku, ciri-ciri fisikku? Jika Pak Mukhlis diingat karena kebaikan dan keikhlasannya, adakah aku juga akan diingat karena ada kebaikan yang pernah kukerjakan? Atau justru sebaliknya, orang akan mengingat tentangku karena keburukan yang terlanjur kulakukan? Astaghfirullah! Semoga bukan karena itu. Sekecil apapun, sesederhana apapun, semoga ada kebaikan yang bermanfaat yang pernah kukerjakan sehingga tak ada yang orang ingat dariku kecuali kebaikan. Dan kalaupun terlanjur pernah kulakukan kesalahan dan ataupun keburukan, karena aku juga manusia, semoga bisa dimaklumi, dan juga dimaafkan. Amin, Ya Allah Ya Rabbal ‘Alamin.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (11 votes, average: 9,82 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Abi Sabila
Seorang pembaca yang sedang belajar menulis.

Lihat Juga

Ilustrasi (klinik fotografi Kompas)

Puasa dan Perbaikan Akhlak Bangsa