11:25 - Selasa, 23 Desember 2014
Kusnadi El-Ghezwa

Membangun Moralitas Bangsa

Rubrik: Artikel Lepas | Oleh: Kusnadi El-Ghezwa - 14/05/12 | 09:30 | 23 Jumada al-Thanni 1433 H

Ilustrasi (inet)

Definisi Moral

dakwatuna.com - Kata moral sering diidentikkan dengan budi pekerti, adab, etika, tata krama dan sebagainya. Dalam bahasa Arab sering disebut dengan kata al-akhlaq atau al-adab. Al-Akhlaq merupakan bentuk jamak dari kata “al-khuluq”, artinya budi pekerti atau moralitas. Kata yang disebutkan hanya dua kali dalam al-Quran pertama dalam al-Syu’ara 137 yang berbunyi:

إِنْ هَذَا إِلَّا خُلُقُ الْأَوَّلِينَ

Yang artinya: (agama kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu

dan yang kedua dalam surat al-Qalam 4;

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

Yang artinya: Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung

pada mulanya kata khuluq ini diproyeksikan sebagai sandingan kata “al-khalq” yaitu ciptaan. Sungguhpun berasal dari akar kata yang sama (kh-l-q), kedua istilah tersebut memiliki arti yang bertolak belakang. Al-Khuluq merupakan karakteristik ketuhanan yang bersifat immateri dan permanen. Sedangkan al-khalq sebagai partner keberadaan manusia yang bersifat materi, bisa dilihat dan sementara. Keduanya tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Meniadakan salah satunya berarti akan memudarkan jati diri manusia. Karena itu, manusia sejati (insan al-kamil) adalah pengungkapan ahsan taqwim, format ciptaan Tuhan yang terbaik, baru bisa terwujud jika antara al-khuluq memiliki irama dan ritme yang selaras dengan al-khalq.

Hancurnya Moralitas Bangsa

Kita semua mengerti dan paham bahwa moralitas merupakan pranata yang paling utama dalam menata masyarakat dan bangsa. Berbagai centeng-preneng kasus yang terjadi di negeri ini, mulai dari problema sosial, ekonomi, kultural, budaya maupun agama ternyata tak bisa dipahami secara teknis-mekanis belaka. Sudah berapa banyak seminar diadakan sudah seberapa sering pelatihan dilaksanakan, dan sudah tak berbilang khutbah-khutbah diperdengarkan. Seolah semuanya seperti angin lalu. Tak ada imbas dan manfaatnya. Karena sesungguhnya seruan itu dianggap formalitas belaka. Inilah tanda-tanda kehancuran moralitas bangsa kita. Semua orang saling menilai dan mencurigai, hampir tidak ada orang yang bisa dianggap baik, bahkan orang tua dikritik, ulama dicaci, pemerintah didemo apalagi teman sebaya, hampir tak ada harga. Lantas siapa yang hendak di dengar. Bukankah Allah swt berfirman dalam surat al-‘Ashr,

وَالْعَصْرِ  إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ  إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Demi waktu, Sesungguhnya manusia dalam keadaan merugi, Kecuali orang-orang yang beriman dan berbuat kebaikan, dan saling menasihati untuk kebenaran, dan saling menasihati untuk kesabaran.

Jika nasihat-nasihat tak dianggap, Apa gerangan yang terjadi? Bukankah ini menunjukkan kemerosotan akhlaq yang paling mengerikan?

Kita semua tahu bahwa selain diberi hati nurani yang senantiasa menegakkan ciri ketuhanan (al-khuluq), dalam diri kita juga terdapat hawa nafsu yang cenderung tergiur oleh materi yang nisbi dan instan. Setiap saat terjadi tarik menarik antara keduanya. Jika kemenangan di pihak nafsu, manusia akan turun derajat dan moralnya. Sedangkan jika hati nurani mampu mengungguli nafsu, orang tersebut akan naik derajatnya, moralnya terpuji dan melebihi makhluk Tuhan lainnya.

Manusia yang terakhir inilah yang layak menjadi wakil Tuhan di muka bumi (khalifatullah fi al-ardhi) untuk mengelola alam semesta. Sebaliknya, apabila dunia seisinya ini diurus oleh tangan-tangan manusia yang bermoral rendah, yang tak mampu menyeimbangkan antara format al-khuluq dan al-khalq, pastilah-cepat atau lambat-kehancuran dan kebinasaan akan menimpa dunia. Kisah Qabil, Namrud, Fir’aun, Qarun, kafir Quraisy,  dan sebagainya adalah sebagian tamsil manusia yang menyalahi karakter Ilahiyah dalam mengimplementasikan diri sebagai wakil Tuhan di bumi.

Esensi  Moral

Moralitas merupakan sesuatu yang dilakukan bukan diucapkan, tindakan bukan tulisan, pelaksanaan bukan kekuasaan, pengamalan bukan hafalan, kenyataan bukan penataran, esensi bukan teori, realitas bukan identitas, dan seterusnya. Eksistensinya tidak bisa dibuat-buat, dipalsukan maupun sekedar simbolik. Canggihnya teori, banyaknya ajaran, tingginya kedudukan dan jabatan, indahnya paras wajah, melimpahnya harta bukanlah jaminan akan baiknya moral seseorang. Tidak mustahil, orang yang miskin justru lebih bermoral ketimbang mereka yang berduit, rakyat jelata lebih bermoral ketimbang pejabat.

Moralitas yang luhur merupakan karakteristik ketuhanan yang melekat pada diri manusia dan bersifat universal, kekal dan esensial. Allah swt. akan memilih di antara hamba-hamba-Nya yang taat untuk menampakkan karakteristik tersebut. Perbedaan ras, golongan, suku bangsa, bahasa, negara bahkan agama tidak menjadi penghalang bagi realisasi moralitas mulia. Eksistensinya  bersifat lintas etnis, lintas agama, budaya dan bahasa.

Tidaklah musykil, seseorang yang secara formal mengaku sebagai penganut agama tertentu, hafal kitab sucinya, paham norma-normanya, tapi prakteknya justru bertolak belakang. Malah orang yang tak mengaku beragama secara formal, justru lebih bermoral. Na’udzubillahi min dzalik.

Alangkah baiknya jika kita bisa saling mengingatkan, bahwa dunia ini hanyalah sementara. Akhirat menanti kita selamanya. Hendaknya kita perkuat posisi hati nurani kita dengan berpegang kepada ajaran Islam. Jika secara pribadi kita lemah memahami Islam, marilah kita dengarkan pengajian para ustadz dan kyai. Siapapun mereka, dari manapun organisasinya, jikalau memang yang diucapkan bermanfaat bagi diri kita, alangkah baiknya kita ambil suri tauladannya. Tidak perlu kita memagari diri dengan mencoba melihat detail siapa yang berbicara bukankah dia adalah mantan ketua partai A. Atau dulu kan dia direktur Perusahaan B. Siapapun yang berbicara jika isi dan kandungan informasinya berguna hendaklah kita hormati dan pelajari. Seperti kata pepatah Arab Undzur maqal wa la tandhur man qal.  Perhatikan isinya, jangan lihat siapa yang berbicara.

Sebagai penutup tulisan ini  marilah kita sama-sama merenung, sudah tepatkah sikap kita selama ini sebagai seorang muslim yang berada di tengah-tengah negara yang semakin menunjukkan kemerosotan etika ini. Yakinkah bahwa kita tidak ikut menurunkan moralitas bangsa ini. Benarkah kita sudah berusaha menjadi bagian yang tersadarkan? Marilah kita mulai dari diri sendiri. Dari hal yang paling terkecil, kita kurangi berprasangka buruk terhadap orang lain. Apalagi sesama muslim.

Kusnadi El-Ghezwa

Tentang Kusnadi El-Ghezwa

Mahasiswa S1 Universitas Ta’limul ‘Alim, Tanger, Maroko. [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Hendra

Topik:

Keyword: , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (3 orang menilai, rata-rata: 10,00 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
Iklan negatif? Laporkan!
116 queries in 2,150 seconds.