Home / Pemuda / Cerpen / Aki Penjual Telur Ayam

Aki Penjual Telur Ayam

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Waktu aku tinggal di Jabaru IV, Pasir Kuda, ada aki-aki penjual ayam kampung. Kami biasa memanggilnya Aki, karena umurnya sudah sangat tua. Perkiraanku umur Aki kira-kira tujuh puluh atau delapan puluh tahun. Sudah tua sekali. Kalau berjalan Aki sangat lambat. Langkahnya setengah langkah-setengah langkah dengan tempo yang sedikit cepat. (Maaf) Langkahnya mirip mainan robot-robotan. Aki berjalan sambil berpegangan di pagar-pagar rumah yang dilaluinya. Wajahnya sudah berkeriput dan rambutnya sudah putih semua.

“Endhog ayam …. Ayam endhog ….” teriak Aki menjajakan dagangannya. Suaranya juga pelan tidak terlalu keras.

Baju dan pakaian Aki sudah lusuh. Aki juga hanya beralaskan sandal jepit yang lusuh dan tampak tua juga.

Meskipun sudah tua, Aki tidak mau menggantungkan hidupnya pada orang lain. Dia mencari uang sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kata orang Aki tinggal di Bojong Jengkol, kampung di belakang Jabaru. Dia memiliki beberapa anak, tetapi Aki tidak mau menyusahkan anak-anaknya.

Meskipun sudah tua, Aki tidak seperti orang jompo dan pikun. Aki masih bisa mengurus dirinya sendiri. Bicaranya lancar meskipun kadang-kadang tidak jelas. Penglihatannya masih cukup jelas. Hanya saja pendengarannya sudah agak berkurang. Kami harus berbicara sedikit berteriak dan dekat dengan telinganya agar Aki tahu apa yang kami katakan.

Aki juga tidak mau dikasihani. Kalau aku mau memberinya uang, Aki akan bilang:

“Aki berjualan. Aki tidak meminta-minta.” katanya sambil menolak pemberian itu.

Terenyuh aku mendengarnya. Sedih, kasihan, kagum, dan bangga bercampur jadi satu dalam hatiku. Rasanya air mata mau keluar dari kedua mataku.

Lalu biasanya aku akan membeli beberapa telur ayam Aki. Telur ayam dijual dengan harga Rp. 1000 per butir. Aki juga cerita kalau telur itu dia ambil dari orang-orang di kampungnya, jadi bukan telur ayamnya sendiri.

Aki juga biasa membeli combro di warung Bu Nur di perempatan Jabaru. Bu Nur cerita, Aki tidak mau kalau diberi combro.

“Aki, ambil saja tidak usah dibayar.” kata Bu Nur sambil membungkus beberapa butir combro.

“Tidak. Aki mau beli. Aki tidak minta-minta.” kata aki sambil membayar harga combro.

Biasanya Bu Nur menjualnya dengan harga diskon. Beli satu dapat dua.

Aku kagum sama Aki. Meskipun sudah tua dan hidup pas-pasan, Aki tidak mau meminta-minta. Aki masih berjualan. Kadang-kadang kalau tidak berjualan telur ayam, Aki menjual sapu lidi. Hasilnya mungkin tidak seberapa, tapi cukup untuk memenuhi kebutuhannya.

Aku lihat juga banyak orang yang masih kuat, sehat, tetapi meminta-minta. Banyak aku jumpai di perempatan lampu merah. Mereka pura-pura sakit agar dikasihani orang. Banyak juga yang keliling rumah-rumah pura-pura sakit, memakai baju compang-camping, meminta-minta.

Ada juga anak-anak muda yang hanya nongkrong di pinggir-pinggir jalan. Tidak mau kerja. Pilih-pilih kerja. Maunya kerja enak di kantoran. Gengsi kalau harus berjualan keliling-keliling kampung.

Berkacalah pada Aki, Aki penjual Ayam kampung. Contohlah Dia, dengan segala kekurangan dan kelemahannya Aki tetap berjualan mencari rizki Allah.

Terakhir aku melihat Aki waktu Aki keluar dari puskesmas Ciomas. Sambil batuk-batuk dia dipapah seorang laki-laki. Mungkin salah satu anaknya. Aku lihat Aki berjalan terus menuju Bojong Jengkol. Dia tidak naik angkot atau bemo atau ojek. Jarak Bojong Jengkol cukup jauh, kira-kira setengah kilometer lebih. Dari kejauhan aku kasihan melihatnya, mungkin Aki tidak punya uang untuk naik ojek.

Lama sekali aku tidak lihat Aki lagi. Kata teman-teman di Jabaru. Aki sudah tidak pernah berjualan lagi.

Ke mana Aki? Bagaimana keadaannya sekarang? Mengapa tidak berjualan? Apa Aki sakit parah sehingga tidak bisa berjualan lagi? Atau …… (Ah tidak… aku tidak mau meneruskan dugaan-dugaanku lagi).

Semalam aku ta’lim di Masjid Al Huda. Salah satu pesertanya Akang (Mad Isa). Akang ini sopir angkot 05 jurusan Ciomas. Dia membawa angkot dari Bojong Jengkol. Aku Tanya pada Akang, di mana Aki penjual telur itu sekarang.

“O…. Aki itu…. Dia sudah meninggal beberapa bulan yang lalu.” Jawab Akang.

“Innalillahi wa inna illaihi rojiun.” kataku lirih. Semoga Aki diampuni Allah, dan diberi rahmat di alam kuburnya.

Bayangan Aki penjual telur muncul di pikiranku. Cara jalannya, cara bicaranya muncul jelas di pikiranku.

Aki, kalau sudah tua nanti aku kepingin sepertimu. Tidak menyusahkan orang, usaha sendiri, mengurus diri sendiri, tidak pikun, tidak jadi jompo, dan tidak meminta-minta.

Ya … Allah kabulkanlah do’aku ini.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (33 votes, average: 8,79 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

  • asman66

    subhanallah..sangat menyentuh dan memotivasi jiwa untuk tidak tergantung pada orang lain

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Tempe dan Telur Bagi Bayi