Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Kita Untuk Siapa?

Kita Untuk Siapa?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.comKita sebagai pribadi Muslim, sepatutnya kita bertanya kepada diri kita “untuk apa kita diciptakan?”. Pertanyaan ini mungkin ada sebagian dari kita bisa untuk menjawabnya dan mungkin juga dari sebagian kita tak mampu untuk menjawab pertanyaan ini bahkan tidak terlintas sedikit pun di benak hal seperti ini.

Allah menciptakan seluruh makhluknya pasti ada hikmahnya tidak akan sia-sia. Makhluk yang Allah ciptakan di jagat alam raya ini pasti memiliki faedah dan hikmahnya. Di antara makhluk Allah itu di antaranya adalah kita, Manusia.

Ya manusia, manusia diciptakan oleh Allah di muka bumi tidak sebatas penghias ataupun pelengkap jagat raya akan tetapi Allah menciptakan manusia agar menjadi khalifah (pengelola) di bumi, langit serta segala isinya ini. Tugas manusia di jagat raya ini adalah khalifah dalam artian mengelola, membangun dan melestarikan.

Ketika Allah menciptakan manusia, maka Allah menciptakan seluruh faktor penunjang dalam rangka melestarikan makhluk yang bernama manusia. Bumi, langit, lautan, bulan, matahari, siang, malam, dan lain sebagainya tidak lain Allah ciptakan untuk kepentingan manusia yang memiliki identitas sebagai khalifah.

Ini merupakan sebagai bukti ke-Maha Rahman-an Allah kepada makhluknya yang bernama manusia. Hal ini sebagaimana Allah tergaskan dalam Al-Qur’an:

“Allahlah yang menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian dia mengeluarkan demi air hujan itu buah-buahan menjadi rizki untukmu, dan Dia telat menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendakNya, dan Dia telah menundukkan pula bagimu sungai-sungai. Dan Dia telah menundukkan bagimu pula matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya) dan telah menundukkan bagimu malam dan siang.” (QS. Ibrahim: 32-33)

Ayat di atas patut kita renungkan bahwasanya langit, bumi serta isinya dianugerahkan untuk kepentingan kita semua. Mereka (sesuatu yang ada di langit dan di langit) diciptakan semuanya untuk patuh, tunduk, dan dipersembahkan untuk melestarikan makhluk yang bernama manusia. Allah menciptakan hewan, tumbuhan, ikan, burung, barang tambang, minyak, emas dan lainnya hanya untuk berkhidmat (mengabdi) untuk kepentingan kita sebagai Khalifah. Begitu besar nikmat yang Allah ciptakan bagi manusia. Maka layak Allah mengatakan dalam Al-Qur’an:

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu dapat menghitungnya.” (QS. Ibrahim: 34)

Ketika kita merenungkan bahwa kita adalah makhluk yang bernama manusia, maka kita akan mendapatkan sebuah kesimpulan bahwasanya manusia adalah sesuatu bagian terkecil dari alam semesta ini. Di samping ukurannya yang kecil kalau dibandingkan dengan makhluk Allah yang lain seperti gajah, bulan, matahari dan lainnya. Kita perhatikan bahwasanya awal penciptaan dari nenek moyang pertama kita Nabi Adam AS diciptakan hanya dari tanah. Makanya wajar pada dasarnya manusia dari segi materi terdiri dari elemen satuan yang sangat kecil, tidak ada nilainya dan hanya terbuat dari tanah.

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Maulana Syekh Yusuf Qaradhawi dalam bukunya pada dasarnya makhluk yang bernama “manusia” itu menjadi begitu berharga bahkan sangat berharga sampai-sampai malaikat melaksanakan sujud kepadanya karena pada diri manusia terdapat “lathiffah rabbaniyah” (kelembutan Tuhan) atau ruh tiupan Tuhan yang terpancar di dalamnya. Hal ini sesuai dengan ayat Allah dalam kitab-Nya:

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah”. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.” (QS. Shaad: 71-72)

Dari ayat di atas kita dapat menyimpulkan bahwasanya manusia menjadi berharga, mulia dan memiliki tempat yang terhormat dibanding makhluk Allah lainnya karena manusia mendapat ruh yang ditiupkan Allah kepadanya. Potensi ruh yang ditiupkan inilah manusia dijadikan oleh Allah sebagai khalifah di muka bumi ini. Ketika Allah mengabarkan kepada Malaikat-Nya bahwasanya akan diciptakan manusia untuk menjadi khalifah di muka bumi, maka malaikat komplain (tidak terima) dengan kabar itu karena sebagaimana Malaikat ketahui manusia diciptakan dari tanah, yang tabi’at tanah itu selalu melakukan kerusakan dan suka menumpahkan darah.

Selanjutnya timbul pertanyaan: “Untuk siapa kita mengabdi?”. Sebelumnya penulis sudah menjelaskan bahwasanya makhluk Allah yang diciptakan di muka bumi semuanya untuk mengabdi kepada manusia.

Jawabannya, bahwa kita diciptakan untuk mengabdi kepada sang Khaliq (pencipta) Allah Azza Wajalla.

Beruntunglah bagi mereka yang mengelola alam semesta dengan ikhlas dan mengharap ridha Allah bukan ridha manusia semata.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (10 votes, average: 9,80 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Hendar Ali, Lc.
Saya adalah mahasiswa pasca sarjana di universitas Al-Azhar Cairo, saya masuk di universitas tersebut pada tahun 2007. Tahun 2007 itu tahun pertama kali saya menginjakan kaki di negri kinanah, Mesir. Saya menempuh S-1 selama 4 tahun, alhamdulillah saya mampu menyelesaikan kuliah saya dengan tepat waktu. Tepat pada tahun 2011, saya selesai S-1 di universitas tersebut dan setelah itu saya langsung mendaftarkan diri saya ke jenjang pendidikan selanjutnya di universitas yang sama. Pada 2012 ini saya genap 5 tahun meninggalkan keluarga dan kampung halaman tercinta di Sukabumi Jawa Barat. Dengan niat mengharap ridho Allah meninggalkan kampung halaman serta keluarga untuk menuntut ilmu di negri para Nabi ini dengan harapan saya setelahnya kembali ke tanah air, minimal bisa memberikan sedikit solusi dalam permasalahan yang menimpa umat dan bangsa yang kita cintai, amin...

Lihat Juga

Ilustrasi. (7-themes.com)

Futur, Maafkan Kami yang Sekarang Yaa Allah