Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Kader “Keder”

Kader “Keder”

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.comTulisan di bawah ini hanya fiktif belaka. Tidak bermaksud mendiskreditkan satu, dua atau banyak orang. Atau bahkan apa yang akan saya tulis adalah kesalahan-kesalahan masa lampau yang mengerikan. Namun sarat hikmah. Atau Anda pernah mengalaminya? Entahlah, Ini hanya hasil imajinasi “nakal” saya yang menggila. Ruang jiwa yang kerap terbang membumbung. Mengeja setiap jengkal nikmat yang sangat memikat. Nikmat dari Sang pemilik “hakikat” dunia akhirat. “Dunia privasi” yang seringkali mengangkasa pada masa yang kadang tak berharap jasa. Saya hanya ingin menulis. Ya, menulis walau hanya satu detik. Menulis walau hanya satu kata. Menulis meski hanya satu makna. Menulis meski dengan terbata-bata.

Kader “keder” mungkin (kata mungkin, mempunyai sifat keragu-raguan bagi si pengucap) sedikit nyleneh di beberapa daun telinga manusia. Inspirasi judul tulisan ini saya dapatkan ketika mengikuti sebuah daurah beberapa waktu ke belakang. Ustadz nya keren “kebijaksanaan orang tua namun berjiwa muda” kocak deh pokoknya. Entah pada materi apa? Yang pasti saya menyimpulkan dari apa yang disampaikan dengan KADER “KEDER”.

Ya kader “keder”. Saat iman terkerangkeng kefuturan. Saat jiwa terkungkung virus “dunia”. Saat takwa terperkosa akhlak biadab. Saat intelektual tertelanjangi keangkuhan ruh yang ringkih. Saat azzam teraniaya kepicikan syaitan. Saat ghirah terseret budaya jahiliyah. Saat amal dihantui kejahatan riya. Saat ilmu tergulung derasnya ghazwul fikri. Saat tantangan dakwah terkurung glamournya gaun propaganda yang kerap menjengkelkan. Hhaah, saat-saat yang tepat pasti kelak memecat keparat-keparat yang tak membawa manfaat lagi sesat dengan nikmat yang hanya sesaat. Kita hanya bisa bermunajat dan berkhalwat dengan “pemilik” jagat.

Kader “keder”, kerap terjadi dengan beberapa sketsa. Kader “keder” bermula dari hal-hal terkecil yang kadang tak terkontrol. Misalnya penyakit futurtinular. Futur dimana kondisi kader berada pada titik yang mengkhawatirkan. Yaitu ketika cahaya ghirah turun drastis. Suhu tubuhnya meningkat, kepala mulai pusing disertai mual. Tak sanggup mengobati diri sendiri. Akhirnya memanggil sahabat terdekat untuk mengompres dan membelikan obat. Setelah sembuh, karena si sahabat tak memperhatikan tata cara mengobati yang sakit. Ujung-ujungnya ia ketularan. Mirip dengan diagnose pertama.

Begitulah saya mencoba analogikan bagaimana futurtinular sangat berbahaya. Ia berawal dari kader “keder” yang sakit iman. Lalu ia curhat kepada sahabat terbaiknya. Tapi apa kemudian yang terjadi? Karena tak mempunyai pengetahuan tentang pengobatan sakit iman. Ia pun tertulari futur. Fenomena ini kerap terjadi di kalangan penggiat dakwah.

Kader “keder” yang terkena virus futurtinular mempunyai ciri sering berkelit, cerdas banyak alasan. Ketika ada jarkom untuk mentoring/halaqah ia hare-hare sajeboro-boro bernafsu untuk datang, membalas smsnya pun ogah-ogahan. Lama tak berbalas Sang Murabbi/mentor yang bersih hatinya duduk menatap langit-langit. Diambilnya handphone tut tut tut di pencetnya beberapa tombol. Satu kali, kagak diangkat. Dua kali, masih juga tak ada jawaban. Ketiga kali, empat kali dan seterusnya hingga entah sudah berapa ratus kali ia mencoba. Tapi setelah hampir menyerah diangkatlah panggilannya oleh sang mutarabbi/mentor.

Hhhah, Alhamdulillah wajahnya sang mentor sumringah bahagia tak terhingga bagai mendapat rizki yang tak terduga. “Dek sehat? Bisa mentoring hari anu jam seanu?”. “Hmm alhamdulillah sehat, maaf mba/mas ada kuliah” jawab sang mentee tersayang. “O gitu kalo hari anu jam se anu?”, Tanya mentor penuh harap. “Maaf gak bisa juga, ada rapat organisasi. Tar aja ya mba/mas saya kasih tahu lagi jadwal kosong saya”. “Hm, ia. Mohon diluangkan waktunya ya shalih/shalihah”. Tut tut tut hp mati. Uda gitu mentee yang satu ini Tanya-tanya ke teman sekelompoknya. “Eh, Antum mau datang mentoring ndak?”, endusnya. “Insya Allah”, jawab temannya. “Eh, ana mah ndak akan datang. Nggak enak badan”, jawabnya lagi. Teman: “hmm gitu, ya semoga cepat sembuh”. “Antum bener mau berangkat, mending pekan depan atuh bareng sama ana”, rayunya. “Hmm (mikiir), ia deh”. Sabaaaar ya mentor it’s the real futurtinular.

Tidak mudah memang memahamkan sebuah prinsip yang agung. Selalu ada harga yang harus dibayar mahal oleh setiap da’i dalam memperjuangkan nilai-nilai dakwahnya. Tapi ya itulah keniscayaan. Kadang tak mesti sesuai kehendak logika. Ia hanya mampu diterima oleh ruang yang tak teraba. Padahal ketika kita jernih dan ikhlas dalam “belajar”. Niscaya kita akan terbebas dari belenggu-belenggu kemalasan yang menggelayut. Karena pada dasarnya pembinaan/belajar adalah suatu kebutuhan bagi setiap insane. Hal ini berawal dari sifat manusia yang papa. Lebih dari itu pun perlu kita ketahui bahwa ilmu dengan beberapa ketentuan mampu meningkatkan derajat kita di hadapan Allah swt. “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu ‘berilah kelapangan di dalam majelis-majelis’ maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan ‘berdirilah kamu’ Maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah maha teliti apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Mujadalah: 11)

Kader “keder” itu. Kaya tapi. Haduh harusnya saya ngementor, tapii lagi males ah. Hmm, mestinya saya syuro persiapan acara hari ini, tapii nggak terlalu penting ah ada saya ato nggak juga. Mending saya lanjutin tidur selepas subuh deh. Lumayan, daripada capek-capek syura pagi-pagi jam 6. Wah sekarang jadwal halaqah saya, tapii. Percuma ah dating halaqah juga, pasti bahas yang itu lagi-itu lagi. Lagian saya kan uda lebih hebat dari mentor saya. Ngaji uda fasih, pengetahuan mumpuni. Oh iya, saya baru inget. Hari ini kan jadwal saya jaga stand agenda. Tapii, tanggung ah uda telat mending nggak sekalian. Pasti di sana uda banyak yang jaga.

Kader “keder” cenat-cenut. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kinerja dan komunikasi kader dakwah. Pra berkembangnya teknologi dengan lahirnya handphone, internet dsb. Apakah ketika ada sesuatu yang harus disampaikan Cuma-Cuma melalui surat atau memo? Atau seperti apa, entahlah. Yang pasti dewasa ini pergolakan globalisasi merajai setiap gerak manusia termasuk kader dakwah. Ketika muncul hp sedikit banyak menurut saya penjagaan interaksi mengalami degradasi. Facebook pun menggila. Komen ikhwan-akhwat sudah tidak mudah lagi terdetek masih sehat atau tidak. Disparitas cyberspace dengan dunia nyata sudah tertabrak budaya. Kader-kader militan dalam dunia nyata tidak dipungkiri mudah tergelincirkan hanya dengan satu jejaring social. Nggak percaya? Silakan cek sendiri. Kemarin saya iseng-iseng coba web tentang ini. Hasilnya mencengangkan! Pantas saja jika dikatakan bahwa dakwah ini akan hancur oleh pengusung dakwah itu sendiri. It’s the real fact (salah gak?)

Bahasan ini memang sedikit menggelitik. Karena seringkali adanya ketergelinciran antara ghirah yang menggebu dengan kelalaian iman. Sudah banyak memang yang terjadi. Ketika hubungan yang seharusnya diikat dengan balutan nan syar’i ternodai benih noda yang menghancurkan segalanya. Tidak jarang juga kita dapati virus cenat-cenut mengantarkan kader dakwah pada satu kata yang menjadi satu “tawaran sementara” yang menggiurkan bagi siapapun sebagai manusia biasa Pacaran. Atau bahkan sampai berlabuh pada jenjang pernikahan. Moment satu itu SUCI. Relakah jika di tengah bergolaknya semangat dakwah, saudara perjuangan kita terhijabi oleh virus cenat-cenut?

Sudah sejauh mana kita bersama menjaga saudara/i kita? Saling mengingatkan. Apakah kita sudah secara ikhlas mengingatkan saudara/I kita ketika mereka melakukan kesalahan (tidak hanya masalah cenat-cenut)? Atau hanya ambisi dan emosi semata. Tidak jarang juga dari kita lebih suka membahas/ membicarakan si terdakwa dengan saudara/saudari kita yang lain daripada mengingatkannya. “Teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain. Kecuali orang-orang yang bertaqwa” (QS az-Zukhruf: 67)

Karena ruh yang tak terjamah masih bisa terasa oleh kulit wajah. Sebagai orang komunikasi saya seringkali mengamati kader yang merasa kurang nyaman dengan sikap seseorang memilih sindiran sebagai senjata untuk mengingatkan. Kedipan mata, tatapan wajah, goyangan tangan bahkan mampu berbicara mewakili apa yang sedang dipikirkan tentang kita. Aneh tapi ya itulah realita. Padahal tanpa sindiran saya yakin si terdakwa akan legowo menerima nasihat terbaik dari saudara/inya. Syaratnya satu; Ikhlas. “Tidaklah sempurna iman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya (sesama muslim) sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri” (HR Bukhari Muslim)

Maka ketika kita mencintai saudara kita seperti kita mencintai diri kiri sendiri. Sanggupkah kita memusuhi diri kita sendiri karena kesalahan-kesalahan yang dilakukan? Relakah kita menyiksa diri kita atas kekhilafan diri? Semua kembali pada muara yang satu: IMAN. Semua akan baik-baik saja jika ia sehat dan terawatt. Tetapi jika tidak maka mudah sekali baginya merasa “ketidaknyamanan” dalam hubungan berukhuwah. Jadi teringat pesan Salim A Fillah

Kubaca firman persaudaraan, “sungguh tiap mukmin bersaudara” aku makin tahu, persaudaraan tak perlu diperjuangkan karena saat ikatan melemah, saat keakraban kita merapuh, saat salam terasa menyakitkan, saat kebersamaan serasa siksaan, saat pemberian bagai bara api, dan saat kebaikan justru melukaiAku tahu, yang rombeng bukanlah ukhuwah kita hanya iman-iman kita yang sedang sakit, atau menjerit mungkin dua-duanya, mungkin kau saja. Tentu terlebih sering, imankulah yang compang-camping.

Semoga kita selalu dalam garis perbaikan diri dalam dekapan Illahi. Mohon maaf atas kata yang sia-sia. Mandat yang tak bermanfaat. Berharap kemudian Kader “keder” bertransformasi menjadi lintasan cahaya kebangkitan dakwah. Tidaklah kita akan terpuruk terlampau lama dalam desingan cobaan. Karena lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan. Wallahau’alam. Astaghfirullah^^.

Salam inspirasi.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (17 votes, average: 9,35 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Aktif di Lembaga Dakwah Mahasiswa UIN SGD Bandung dan KAMMI UIN SGD Bandung, Lembaga Pers Mahasiswa, kuliah Jurusan Jurnalistik 2009, aktif menulis juga di koran nasional Media Indonesia, anak ketiga dari tiga bersaudara, asal Ciamis Jawa Barat.
  • tamiastie

    futur dalam dakwah itu hal biasa, namun bagaimana kita bisa segera berdiri mesji payah, berjalan meski tertatih itulah tantangannya.. kita tahu, keimanan meningkat seiring dengan ketaatan dan menurun dengan kemaksiatan. hendaknya kader yang ‘keder’ haruslah berusaha untuk mencari pengobatan ketika gejala futur mulai nampak. jangan tunggu saudara memberikan pertolongan. kader itu nggak manja :) #NoteToMySelf

  • Iya, sangat benar bahwa KADER itu tidak MANJA tapi kader juga seorang manusia biasa sehingga terkadang butuh diingatkan….^_^ bukankah kewajiban setiap manusia adalah mengingatkan saudaranya yang lain??? tapi, semua memang kembali ke individu masing2…

  • ya begitulah mba….sisi lain tarbiyah skrg jg mengalami kemunduran sistem. jd ya kdg hrs trbiyah dzatiyah.

  • Dimas Hasbi Habibi

    heem,,..
    sudah terkikis dengan zaman, komunikasi ikhwan akhwat ibarat cowok dan cewek saat SMA..
    sampai sampai kita tahu karakter dari akhwat itu sendiri melalui komen di facebook

  • Dimas Hasbi Habibi

    heem,,..
    sudah terkikis dengan zaman, komunikasi ikhwan akhwat ibarat cowok dan cewek saat SMA..
    sampai sampai kita tahu karakter dari akhwat itu sendiri melalui komen di facebook

Lihat Juga

Para pendukung Perdana Menteri Turki dan pemimpin Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) - the rulling party -, Recep Tayyip Erdogan, menghadiri 'rapat umum' di Istanbul pada tanggal 5 September 2010. Turki mengadakan referendum pada tanggal 12 September sebagai satu langkah perubahan konstitusi membatasi kekuasaan militer dan peradilan. (Getty Images)

Belajar Menang dari AKP Turki, Mustahil?