Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Kembali Kepada Al-Qur’an

Kembali Kepada Al-Qur’an

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi - Beberapa orang tengah asyik membaca Al-Qur'an di sebuah metro (kereta bawah tanah) Kairo, Mesir. (inet)

dakwatuna.com – Di banyak tempat, di beberapa kota, di beberapa negara, mungkin sering kita temui para pemuda muslim yang sangat semangat mempelajari agama Islam ini. Mereka mendatangi ustadz-ustadz, atau mungkin mengundang ustadz-ustadz ke tempat mereka untuk bisa mempelajari agama ini. Satu minggu, dua minggu, satu bulan, dua bulan, satu tahun, dua tahun, secara terus menerus pengajian tersebut berjalan. Hasilnya tentu saja ada. Tapi hasilnya tentu saja tidak sempurna, karena kita memang makhluk yang tidak sempurna.

Salah satu contoh ketidaksempurnaan yang ada adalah, setelah bertahun-tahun ikut suatu pengajian, lantas hafal banyak hadits, terutama sekali hadits tentang perpecahan umat, juga hadits tentang bid’ah. Dua hadits ini, seolah-olah menjadi hadits wajib yang tidak boleh dilupakan sama sekali. Selain itu, juga hafal hadits-hadits tentang tata cara beribadah secara sangat detil sekali, juga hafal tentang hadits-hadits mengenai haramnya musik, haramnya isbal, haramnya politik, haramnya gambar dan lain sebagainya.

Sampai di sini, sebenarnya baik. Lantas, masalahnya di mana? Masalahnya, terletak pada pertanyaan berikut:

“Setelah ikut pengajian bertahun-tahun, apakah mereka sudah bisa memahami surat Al-Lail, Adh-Dhuhaa, Al-‘Aadiyaat, Asy-Syams dan surat lainnya, ataukah belum?”

Kalau sudah paham, berarti tidak ada masalah. Tapi kalau belum paham, berarti mungkin ada satu hal yang salah dalam kajian-kajian yang diikuti selama ini.

Cara dakwah Rasulullah

Kenabian Rasulullah itu dimulai dengan ayat Al-Qur’an, dan diakhiri juga dengan ayat Al-Qur’an. Dan setelah diangkat menjadi nabi dan rasul, yang Rasulullah lakukan adalah menyampaikan ayat-ayat Allah yang diwahyukan kepada beliau. Hadits-hadits, adalah penjelasan-penjelasan yang Rasulullah sampaikan ketika beliau menyampaikan ayat-ayat Al-Qur’an kepada para sahabatnya.

Jadi, inti dakwah Rasulullah adalah menyampaikan Al-Qur’an, dan mengajak orang untuk kembali kepada Al-Qur’an. Kalaupun ada hadits-hadits yang beliau sampaikan, maka itu adalah pelengkap dalam dakwah beliau. Bahkan, Rasulullah juga pernah melarang penulisan hadits-hadits karena beliau khawatir kalau hadits-hadits nantinya tercampur dengan Al-Qur’an. Jadi, sekali lagi, inti dakwah Rasulullah adalah Al-Qur’an, dan hadits-hadits adalah pelengkap.

Lalu, sekarang bagaimana dengan kita? Bagaimana seharusnya kita mempelajari agama Islam ini? Jawabannya, tentu saja dengan cara berguru pada ustadz-ustadz yang kita yakini ilmunya.

Akan tetapi, mari kita pastikan bahwa prioritasnya adalah belajar Al-Qur’an dulu, dan mari kita pastikan bahwa hadits-hadits ataupun perkataan-perkataan ulama adalah sebatas pelengkap dalam kajian tersebut. Jangan sampai kita malah sibuk mengambil hadits-hadits atau dari perkataan-perkataan ulama sebagai tema utama, lalu kita malah mengabaikan Al-Qur’an. Karena cara ini tidak dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya, dan karena cara seperti ini juga bisa mengakibatkan kita akhirnya ribut membahas hal-hal yang sebenarnya tidak dianggap penting oleh Al-Qur’an, tapi dipandang penting oleh (hanya) sebagian ulama saja. Misalnya tema tentang bid’ah di atas. Adakah ayat-ayat Al-Qur’an yang jelas-jelas membahas tema bid’ah ini? Jawabannya adalah tidak ada. Berarti Al-Qur’an tidak memandang hal ini sebagai hal yang penting. Lantas kenapa kita harus sibuk membahas hal tersebut?

Dulu, para sahabat Rasulullah belajar Islam dengan cara mempelajari lima sampai sepuluh ayat Al-Qur’an, mereka membacanya, menghafalnya, memahaminya, lalu mengamalkannya, dan mereka tidak mau mempelajari ayat-ayat berikutnya kalau mereka belum bisa mengamalkan lima sampai sepuluh ayat tersebut.

Seperti inilah cara para sahabat belajar Islam, dan seperti ini pula-lah cara Rasulullah mengajarkan Islam pada para sahabatnya.

Dan dengan cara begitu, insya Allah akan muncul satu generasi yang akan memprioritaskan hal-hal yang memang diprioritaskan oleh Al-Qur’an, dan tidak akan menyibukkan diri membahas hal-hal yang memang tidak dianggap penting oleh Al-Qur’an, dan akan menempatkan hadits-hadits sebagai pelengkap pemahaman mereka.

Jangan sampai kita menjadi generasi yang mengabaikan Al-Qur’an, dan malah menyibukkan diri dengan hal-hal yang sebenarnya sama sekali tidak pernah dibahas oleh Al-Qur’an.

Maka, kalau kita adalah orang-orang yang sudah terlanjur menyibukkan diri dengan hal-hal di luar Al-Qur’an, atau sudah bertahun-tahun ikut pengajian tapi sama sekali tidak tahu apa isi surat-surat di Juz 30 misalnya, maka marilah kita perbaiki arah kita.

Atau kalau kita menjumpai teman-teman kita sebagai orang-orang yang sibuk membahas hal-hal di luar Al-Qur’an, maka mari kita beri nasihat untuk kembali kepada Al-Qur’an, tentunya dengan cara nasihat yang baik.

Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zhalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul”. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si-fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Qur’an ketika Al Qur’an itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia. Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur’an itu sesuatu yang tidak diacuhkan”. Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong.” (QS. Al-Furqaan, surat 25, ayat 27-31)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (9 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Isa Ismet Khumaedi
Born in Cirebon, moved to Bandung, Tokyo, Kawasaki, Hitachinaka then Matsumoto, now live in Cikarang-Bekasi. Understand Javanese, Sundanese and Arabic Qur'an, speak in Indonesian, English and Japanese. Learn Islam from beloved parents in NU family, join kajian salafy for few years, learn many things from Egyptian Ikhwanul Muslimin ustadz, do many things with Tarbiyah friends, and enjoying friendship with many people from Jamaah Tabligh and others. Graduated from Institut Teknologi Bandung and Tokyo Institute of Technology, join short research program at Matsushita Research Institute Tokyo, work at Hitachi Automotive System Japan as Embedded Software Engineer for automotive radar cruise control system, moved to Seiko Epson Corporation Japan as Senior Embedded Software Engineer for epson printer, now working as Manager at PT Indonesia Epson Industry, Cikarang.
  • subhanallah..

  • sungguh ilmu dalam quran sangat banyak, penting untuk diketahui dan diingatkan selalu, di samping temanya yg luas.

  • stupid christian

    dimana sunnah??
    bid’ah tidak dibahas, isbal tidak dibahas, musik dibolehkan???
    lalu dimana kedudukan al-qur’an dan as-sunnah dimata kalian?

    inilah sebab orang bicara tidak diatas ilmu tapi hawa nafsu sampai ulama pun diremehkan, subhanallah

    • stupid christian

      jangan hanya karna kepentingan politik anda mengabaikan yang seharusnya di da’wahkan, kalau seluruh manusia berpikiran seperti penulis tentu telah hilang sunnah ini

      • saya termasuk yang setuju dengan penulis. memang benar bahwa kita perlu belajar dari ulama dan fatwa2. itu betul. tapi, saya melihat seringkali mereka sibuk membaca buku2 fiqh tanpa membaca al qur’annya itu sendiri. terkadang, kita juga perlu membaca al qur’an, terjemahnya, beserta tafsirnya.

  • Zumardy Azzam

    Kang Isa maaf saya koreksi tulisannya sebab ada beberapa kalimat yang menurut saya tidak tepat, ini perlu diluruskan untuk menjaga pemikiran yang salah seperti kita ketahui ada gelintir orang yang berprinsip ” AL Qur`an YES al Hadist NO!

    1.Belajar al Qur`an tidak bisa dipisahkan dari al Hadist (mutlak!)
    sebab sudah di sabdakan rosululloh jika kita mau selamat berpeganglah kepada keduanya yaitu Kitabulloh wa sunata Rosulihi. 2. Bagaimana kita bisa mengamalkan al Qur`an kalau cara sholat tidak tahu, cara haji tidak tahu.Fungsi al Hadist antaranya adalah sebagai penjelas dari ayat Qur`an contoh, kang Isa tahu ayat ttg Sholat Aqimusholata wa Aatuzzakaata.. dst
    bagaimana kita tahu sholat itu bagaimana, rokaatnya berapa, bacaannya apa kalau tanpa diperjelas oleh al Hadist. 3. Kang isa mengatakan taksatupun al Qur`an yang membahas tentang Bid`ah dalam ayatnya, yaiyalah jelas tidak! pada waktu itu rosululloh masih hidup. beliaulah sumber hadist itu. segala permasalahan waktu itu bisa langsung ditanyakan kepada beliau dan langsung beres! 4. saran saya janganlah terburu2 mengambil kesimpulan
    kang isa tahu konsekuensi jika ada seorang muttabi` mengikuti faham kang isa, sebagai penulis semestinya hasil tulisannya akan dibaca banyak orang, seimbanglah dalam berargument dan biarkan pembaca yang menilai jangan digiring secara tak sadar untuk membenci sesuatu atau mengajak mereka supaya sepemikiran dengan dengan sang penulis. Sekian dari saya maaf ini hanya sebagai tausyiah saja sesama muslim dan saya ucapkan selamat berda`wah.

Lihat Juga

Ilustrasi. (mamhtroso.com)

Al-Fatihah, Kunci Pembuka