Home / Pemuda / Cerpen / Hadiah Surga

Hadiah Surga

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com“Pulang nduk….”

Kata-kata ibu tadi pagi sebelum menutup teleponnya itu menandakan aku benar-benar harus pulang, tidak bisa ditawar lagi. Kulirik sederet kerjaan di kampus yang harus aku selesaikan pekan ini. Tugas kuliah, tugas organisasi, melambai-lambai ingin segera diselesaikan. Kurebahkan tubuhku di atas lantai. Aku sedang berada di lantai empat di asrama pondok yang aku huni hampir dua tahun ini. Ini juga keinginan orang tuaku, berada di pondok ini, di pondok yang mungkin sangat berbeda dengan idealismeku. Tapi ini sarat yang mereka berikan jika aku tetap ingin bertahan memiliki status menjadi seorang mahasiswa.

“Masuk ke pondok itu, atau lebih baik kau pulang. Berada di pondok dekat rumah. Ini sudah tradisi keluarga kita, semua masuk ke pondok, cah ayu.”

Tiga hari ini ibuku membujukku untuk pulang. Alasan ada kuliah atau tugas, tidak akan membuat ibu mundur memintaku untuk pulang. Bapak dan ibu ingin membicarakan sesuatu padaku. Apalagi? Entahlah, ibu tidak memberikan clue apapun kepadaku. Hanya memintaku untuk pulang, itu saja. Mungkin terlihat sederhana, hanya diminta pulang. Mungkin mereka rindu padaku? Mungkin mereka ingin pergi berwisata denganku? Ah, sepertinya tidak seperti itu. Ini pasti bukan hanya masalah rindu atau berwisata.

Baiklah. Ku ambil ponsel Samsung duos yang tergeletak tak jauh dari kakiku. Ku cari sebuah nomor yang harus ku hubungi jika aku harus meninggalkan organisasi dalam waktu cukup lama. Ya, ketua organisasiku.

“Kak, saya harus pulang. Tidak bisa ditawar lagi.” Kataku lirih. Berat juga mengatakan ini, mengingat posisiku yang lumayan penting di organisasi, dan banyak tugas yang harus aku selesaikan. Inilah anehnya, kadang aku merasa tugas organisasi lebih aku pentingkan dari pada tugas kuliah.

“Lalu bagaimana dengan deadline yang telah kita buat? Bukankah dua hari lagi kita akan melaksanakan Tabligh Akbar? Kau tahu betapa sibuknya panitia acara ini kan?” Orang yang berada di seberang sana berkata tak kalah berat. Aku diam, diam karena memang tidak bisa menjawab apapun. Semua yang dikatakannya bukankah benar? Tapi aku harus tetap pulang. Aku tidak menjawab apapun, hingga mungkin dia mengerti keresahanku.

“Baiklah. Pulanglah jika memang harus pulang.” Begitu katanya, lirih sebelum menutup teleponnya.

Baiklah pak, bu, aku pulang…

Kini aku berada di ruang tamu rumahku. Tidak seperti biasanya, ruang ini ramai. Tidak hanya ada bapak dan ibuku. Tetapi ada nenekku, beberapa orang yang aku tidak tahu siapa mereka, dan seorang pemuda yang duduk dengan senyum selalu terkembang di bibirnya. Mataku benar-benar tak bisa lepas dari memandangnya. Ada berjuta rasa yang berkecamuk di hatiku, entah bisa dijelaskan dengan apa. Semalam orang tuaku telah mengatakan kenapa aku harus pulang buru-buru, kenapa tidak bisa ditawar lagi.

Ya, ini semua terkait perjodohan, yang sudah menjadi tradisi keluargaku. Perjodohan di keluargaku tidak sederhana. Dibalik semua itu ada cerita rumit yang mungkin tidak mudah untuk ditangkap oleh orang lain, untuk dimengerti dan dipahami orang lain, apalagi teman-teman di kampusku. Ah…

Tapi inilah aku, yang lahir dari sebuah tradisi perjodohan dan lingkungan pondok pesantren yang masih menganut sistem semacam kerajaan.  Percaya atau tidak, pondok-pondok pesantren yang memiliki tipe sama dengan yang dimiliki keluargaku, mempunyai tradisi pewarisan pengelolaan pondok kepada anak-anaknya. Jika keturunan keluarga besar tersebut adalah laki-laki, maka ia memiliki kebebasan untuk menikah dengan siapa saja yang ia suka. Tapi jika keturunannya perempuan, maka tradisinya adalah dijodohkan dengan keturunan dari pemilik pondok lain yang laki-laki. Entahlah aku tidak mengerti, mungkin semacam mempertahankan “darah pesantren” atau apalah. Tapi yang aku tahu, kini aku terlahir sebagai seorang perempuan. Lalu harus apalagi?

Orang tuaku sebenarnya sedikit memberiku kebebasan memilih, tapi nenekku yang masih sangat menjunjung tradisi itu.

“Mau dikelola siapa, kalau kamu tidak mau mengelolanya nduk? Tenang saja, suami kamu nanti kan keturunan pesantren, pastilah dia orang baik-baik” itu kata-kata nenekku ketika aku masih mempertanyakan kenapa harus aku yang dijodohkan.

“Kamu itu kan terpelajar, sudah jadi mahasiswa. Pasti nanti akan mengelola pondok dengan lebih baik” lanjutnya.

“Tapi nek, aku sudah semester enam. Tunggu dua semester lagi hingga aku menyelesaikan kuliahku…” aku mencoba menawar. Nenek hanya diam menatapku, dan ini tandanya sudah tidak bisa ditawar. Aku meminta pembelaan bapak dan ibuku, tapi mereka pun tak berkata apa-apa.

Pagi-pagi ini, sebelum rombongan tamu-tamu ini datang, aku masih tidak bisa berdamai dengan apa yang terjadi. Aku masih duduk-duduk malas di atas tempat tidurku. Ibuku yang masuk ke kamarku, duduk di sampingku sambil membelai rambutku.

“Bu…” aku menangis seperti anak kecil, menggelayut manja di pundaknya. Mencoba menetralkan rasa yang semakin berkecamuk.

“Sudahlah nduk… Ini semua sudah di takdirkan,”

“Tapi aku masih ingin kuliah bu…” aku masih sesenggukan di bahu ibu.

“Memangnya siapa yang menyuruhmu berhenti kuliah? Selesaikanlah kuliahmu, meski harus dengan menjadi seorang istri.” Kata ibuku penuh kasih. Tapi ini tetap tidak mengurangi kegundahanku. Bayangan menjadi seorang istri yang pagi-pagi harus mulai menanak nasi, menyiapkan sarapan, mencuci piring, dan sebagainya. Belum lagi praktikum-praktikumku yang selalu mulai jam tujuh pagi. Malampun pasti sangat melelahkan, setelah aku pulang dari kuliah dan agenda organisasiku yang biasanya hingga menjelang Isya, aku harus menyiapkan makan malam, dan rentetan kegiatan yang biasa dilakukan seorang wanita setelah menjadi istri.

“Bukankah jika sudah berjodoh tidak akan lari ke mana? Jika memang kau dan dia tidak berjodoh, meskipun semua orang memaksakannya tetap saja kalian tidak akan bertemu. Bukan begitu?” Ibuku membelai kepalaku, mendekapku semakin erat. Aku sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Kuat-kuat kuhapuskan sebuah doa yang sedari tadi terus bergulir di hatiku,

“Ya Allah, semoga ini bukan jodohku”

Ah betapa bodohnya sedari tadi aku terus menuruti  perasaan untuk melantunkan doa kotor seperti itu. Bukankah jika sudah jodoh, kita tidak punya pilihan lain? Inilah stok laki-laki terbaik yang Allah pilihkan untukku.

Tapi kekuatan itu luruh lagi saat aku harus bertemu dengan orang yang dijodohkan denganku itu. Ya, laki-laki yang sedari tadi tak bisa aku melepas pandang darinya. Aku mencoba membangun kekuatan yang tadi pagi sudah aku susun. Tapi susah, tapi susah….

Pernikahan kami akan berlangsung sepekan lagi. Ibuku memintaku mengundang teman-temanku untuk datang, agar nanti tak ada fitnah di kampus jika mereka melihatku pergi berdua dengan seorang laki-laki.

Satu-satu kubagikan undangan kepada teman-teman di kampusku. Sontak mereka heboh mendapat undangan pernikahanku. Aku yang seorang aktivis, yang suka ikut aksi, yang sering bersama mereka dalam sebuah kepanitiaan, akan menikah? Secepat ini?

“Apa kau akan meninggalkan amanahmu di organisasi?”

Itu pertanyaan yang sudah aku duga keluar dari mulut ketuaku, dan memang benar-benar keluar dari mulutnya.

“Tidak, percayalah kak…”

Aku mencoba selalu tersenyum di depan teman-teman. Memperlihatkan bahwa pernikahanku ini pernikahan yang sangat menyenangkan dan aku dambakan dari dulu. Meski sebenarnya, kadang aku masih nakal dengan menawar apakah masih mungkin jika dia bukan jodohku? Ah, bagaimana mungkin aku menikah dengan orang yang aku tidak pernah terbayang menikah dengan orang seperti dia. Hatiku semakin berkecamuk.

Aku benar-benar ingin pergi dan meninggalkan pernikahan ini, kalau bukan karena orang tuaku. Ya, aku tidak mungkin membuat mereka tersakiti dengan ulah konyolku yang tiba-tiba kabur setelah semua undangan di sebar kan? Baiklah, aku akan belajar untuk menerima ini. Baiklah…

Hari ini akhirnya datang juga, hari dimana aku harus melepas masa lajangku. Aku sudah bertekad akan selalu tersenyum dan hanya akan memperlihatkan raut muka bahagiaku, apapun yang terjadi. Menjelang ijab qobul, teman-temanku dari kampus berbondong-bondong datang. Bingkisan-bingkisan besar untuk kado pernikahanku dibawa oleh mereka beramai-ramai. Wajah mereka yang sangat heboh saat menerima undangan, dan mungkin saat perjalanan tadi, berubah menjadi tatapan-tatapan penuh kata. Mereka memang diam tak bicara, tapi aku tahu apa yang mereka rasakan. Suasana seperti ini sudah aku bayangkan sejak jauh-jauh hari aku memberikan undangan kepada mereka. Tapi aku sudah berjanji untuk tetap terlihat bahagia. Kupersilakan mereka duduk,  untuk mendengarkan ijab qobul yang akan di bacakan calon suamiku.

Ya, laki-laki yang tidak bisa melihat itu, laki-laki yang selalu tersenyum meski ia buta itu, ia adalah calon suamiku. Seorang pemuda yang buta sejak kecil, anak dari teman bapak. Dialah yang akan menjadi pendampingku nanti.

Tatapan-tatapan iba para tamu dan teman-temanku dengan kondisi suamiku, mencoba aku tepiskan. Aku menggenggam tangan ibuku dengan erat. Melewati detik-detik pembacaan ijab qabul seorang pemuda buta yang meminang seorang mahasiswa dan seorang aktivis di kampusnya.

Tak sedikit dari teman-temanku dan beberapa ibu-ibu yang menangis mendengarnya melantunkan ijab qabul itu. Suasana hening dan begitu sakral. Tapi tidak denganku. Aku tak bisa mengeluarkan satu tetes pun air mata. Pikiranku tak di situ, pergi entah ke mana.

“Baiklah anakku, sekarang ia sah menjadi suamimu…” bisik ibuku pelan.

Lalu, semuanya terasa berjalan begitu cepat. Prosesi salam-salaman dan rangkaiannya telah lewat beberapa jam yang lalu. Tamu-tamu telah pergi, rumah kembali sepi.

Aku duduk berdua di kamarku dengan suamiku. Ia sedang membaca al-Qur’an dengan al-Qur’an brailenya, setelah tadi kami mulai berbicara, basa-basi.

Lekat ku tatap ia, ku telusuri setiap lekuk mukanya. Ya Allah, hadirkan rasa cinta padaku. Gambaran rumah tangga yang menyenangkan yang aku lihat dari teman-teman aktivisku yang menikah muda, sudah aku kubur baik-baik. Tidak ada pergi ke kampus bersama, tidak ada merancang agenda untuk keberlangsungan dakwah kampus yang selama ini aku geluti. Tidak ada. Kami berdua begitu berbeda, hingga aku tak bisa menemukan satu jalan pun untuk mencintainya.

Entah kenapa hatiku tiba-tiba pilu, aku menangis sesenggukan. Ya Allah, kenapa aku tidak sadar dari awal. Bukankah sesungguhnya Allah telah menghadiahi aku tiket ke surga jika aku ikhlas? Bukankah laki-laki di depanku adalah laki-laki yang shalih, meskipun ia bukan aktivis seperti orang-orang di kampusku? Bukankah ia justru tidak pernah melihat kemaksiatan? Bukankah ini tandanya ia dijaga kesucian imannya oleh Allah? Masya Allah, nikmat Allah yang mana lagi yang aku dustakan?

Aku masih sesenggukan, dan sepertinya suamiku mendengarnya. Pelan ia hentikan membaca al-Qur’an.

“Kenapa wahai istriku? Apakah engkau bersedih?”

Cepat aku usap air mataku, meski ia tak melihatnya. Ku dekatkan posisi dudukku dengan posisinya. Kuletakkan kepalaku di pundaknya yang nyaman.

“Tidak sayang, tidak ada apa-apa…”

Kugenggam tangan suamiku, erat.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (29 votes, average: 9,34 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Seorang mahasiswa UGM dan aktivis yang sedang belajar menulis.

Lihat Juga

ilustrasi (jilbabcantig.blogspot.com)

Murabbiyah, Ta’arufkan Akhwat yang Siap Menikah