19:57 - Jumat, 19 Desember 2014

PIP PKS Johor Selenggarakan Diskusi tentang Meningkatkan Kualitas Pendidikan Indonesia

Rubrik: Silaturahim | Kontributor: Qonitatillah, MSc. - 06/05/12 | 10:32 | 15 Jumada al-Thanni 1433 H

Ketua PIP PKS Johor, Ir. Budi Yanto Husodo, MSc. memaparkan latar belakang dan tujuan diselenggarakannya FGD untuk memberikan sumbangan pemikiran bagi persoalan bangsa. (Qonitatillah)

Focus Group Discussion (FGD), Sumbangan Pemikiran Masyarakat Indonesia di Luar Negeri

dakwatuna.com - Keberadaan warga negara Indonesia di luar negeri, terutama mahasiswa dan dosen merupakan potensi yang luar biasa. Sangat disayangkan apabila potensi ini kemudian tidak dimanfaatkan dengan maksimal. Salah satunya adalah dengan memberikan sumbangan pemikiran untuk kemajuan bangsa.

Pusat Informasi dan Pelayanan-Partai Keadilan Sejahtera (PIP PKS) Johor pada Sabtu, 5 Mei 2012 menyelenggarakan diskusi dengan tema Meningkatkan Kualitas Pendidikan Indonesia dan Perbandingannya dengan Malaysia di kompleks IKRAM Johor. Ketua PIP PKS Johor, Ir. Budi Yanto Husodo, MSc. dalam sambutannya menyampaikan bahwa PKS siap bekerja sama dengan semua elemen bangsa dalam memajukan dan membangun negara. Dengan semangat berkontribusi untuk bangsa dan negara inilah digagas lahirnya sebuah forum yang disebut Focus Group Discussion (FGD) untuk melahirkan gagasan dan pemikiran untuk menyelesaikan masalah-masalah kebangsaan. Secara khusus, di Universiti Teknologi Malaysia terdapat 400 orang Indonesia yang menjadi mahasiswa pasca sarjana dan 40 orang Indonesia bekerja sebagai dosen, merupakan aset yang sangat berharga dan mubazir jika tidak dimanfaatkan. Hadirnya FGD diharapkan mampu mewadahi keberadaan mereka untuk memberikan sumbangan pemikiran bagi masalah-masalah kebangsaan.

Diskusi ini menghadirkan dua orang pakar pendidikan dari dua negara. Pembicara pertama, Prof. Dr. Noor Azlan Ahmad Zanzali merupakan guru besar pendidikan dari Fakultas Pendidikan Universiti Teknologi Malaysia. Beliau memaparkan perkembangan kebijakan pendidikan Malaysia dari zaman ke zaman. Perkembangan pendidikan di Malaysia di awal kemerdekaannya menekankan pada kemahiran dan keterampilan. Pada tahun 1960 sehingga 1980 arah pendidikan Malaysia bergeser pada pemahaman dan kemudian beranjak kepada penekanan pada aspek nilai-nilai dari tahun 1980 sehingga sekarang.

Pembicara kedua adalah Dr. Bambang Sumintomo yang juga dosen di Fakultas Pendidikan UTM. Pria asal Bandung ini memaparkan kajian historis pendidikan Indonesia dan berbagai kebijakan pendidikan di Indonesia. Dalam pandangan beliau, ada beberapa hal yang Indonesia harus belajar dari Malaysia. Salah satunya adalah standar kelulusan pelajar tingkat dasar atau menengah. Di Malaysia, kelulusan siswa ditentukan oleh sebuah institusi yang independen di luar kementerian pendidikan. Sistem pendidikan Malaysia dikelola secara terpusat meskipun negara ini menganut sistem negara federal. Kebijakannya jelas dan tidak berubah-ubah. Anggaran pendidikan dialokasikan khusus di luar gaji guru sehingga pada pelaksanaannya orang tua murid tidak dibebani lagi dengan pungutan-pungutan. Yang menarik juga adalah bahwa di Malaysia terdapat sekolah agama dan kelas fardhu ain yang dikelola oleh pemerintah. Hal ini berbeda dengan di Indonesia dimana pengelolaan sekolah-sekolah yang menanamkan nilai-nilai luhur dan moral dikelola oleh masyarakat.

Yang tidak kalah menariknya adalah bahasan mengenai Sekolah Berstandar Nasional (SBI). Menurut Dr. Bambang Sumintomo, yang disebut SBI adalah sekolah yang pelaksanaan proses belajar mengajarnya menggunakan perangkat laptop dan LCD serta menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Lucunya, pada praktek di lapangan banyak guru pengajar ini tidak memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang baik sehingga banyak kesalahan bahasa terjadi. Menurut beliau, seharusnya Indonesia belajar dari Malaysia yang sudah meninggalkan cara ini karena dinilai tidak memberikan manfaat yang berarti. Hal ini dibenarkan oleh Prof. Dr. Noor Azlan. Menurut beliau, bagaimana mungkin pelajar bisa memahami sesuatu yang dia tidak disampaikan dalam bahasa ibu. Penggunaan bahasa asing memerlukan dua kali proses dalam penyerapan ilmu. Pertama, memahami maksud dari kalimat yang disampaikan dan kedua, kandungan dari yang disampaikan. Itulah sebabnya Malaysia sekarang ini tidak lagi menerapkan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar di sekolah. Pendapat ini dikuatkan dengan data menurunnya hasil TIMMS Malaysia dari angka 510 pada tahun 2003 menjadi 471 pada tahun 2009. Perlu diketahui, penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar di sekolah dimulai pada tahun 2003 sehingga jelas terlihat bahwa ia justru membuat pelajar semakin tidak memahami kandungan pelajaran yang disampaikan.

Sesi diskusi yang dipandu oleh Dr. Arien Heryansyah sebagai moderator sangat seru dan hidup. Peserta yang didominasi mahasiswa dan dosen Universiti Teknologi Malaysia ini banyak menelurkan ide baru dan segar. Termasuk di antaranya adalah soal pendidikan berkarakter. (ist)

Redaktur: Hendra

Topik:

Keyword: , , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (3 orang menilai, rata-rata: 9,67 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
Iklan negatif? Laporkan!
57 queries in 2,093 seconds.