Jarkoni

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Tahu apa arti judul di atas? Jarkoni merupakan salah satu istilah dalam bahasa Jawa. Jarkoni kepanjangan dari bisa ngajar tapi ora nglakoni. Artinya, orang yang sok mengajari sesuatu kepada orang lain tanpa ia melakukannya.

Allah dengan tegas dan keras membenci perilaku ini. Tertera jelas dalam sebuah ayat yang termaktub dalam Quran Surat Ash Shaff ayat ketiga yang berarti, “Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.”

Da’i yang merupakan profesi kita sebelum menjadi apapun memang menuntut sebuah tindakan berupa berbicara dalam rangka menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Rentan bagi seorang da’i untuk condong ke arah Jarkoni ini. Mengapa? Karena memang lebih mudah bagi kita manusia untuk sekedar berbicara. Lain hal jika kita merealisasikan apa yang kita sampaikan. Dibutuhkan perjuangan yang tidak kecil untuk mengaplikasikan setiap yang kita ujarkan ke orang lain.

Alangkah indahnya teladan yang kita miliki, Rasulullah SAW. Beliau SAW adalah sebaik-baik contoh bagi da’i sepanjang masa. Sebelum berkata untuk kaumnya, terlebih dahulu beliau terapkan segala hukum syariat pada diri dan keluarga terdekatnya.

Sebagai contoh, sesaat setelah perjanjian Hudaibiyah. Rasulullah diperintahkan Allah untuk mengajak umatnya menyembelih kurban dan bercukur. Namun, lantaran kecewa dengan diadakannya perjanjian Hudaibiyah yang dirasa merugikan, para sahabat tidak serta merta menyambut seruan Rasul. Rasul sangat marah dan masuk ke dalam kemah beliau. Di sana beliau menemui istri beliau dan mendapat sebuah saran luar biasa.

Walhasil, Rasul pun keluar dari tenda dan segera melakukan dan mengawali sendiri apa yang Allah perintahkan. Beliau menyembelih kurban dan bercukur. Tanpa berkata-kata. Setelah melihat langsung Rasul beraksi, barulah sahabat mengikuti beliau.

Di sana kita melihat kekuatan nyata sebuah aksi. Dan memang, kekuatan teladan sanggup mengalahkan kekuatan berkata-kata. Teladankan perbuatan baik secara konsisten, niscaya ia menjadi kekuatan dakwah terampuh kita.

“Hai orang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?”

Semoga kita bukan termasuk golongan orang yang Jarkoni. Wallahu a’lam bish showab.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 8,29 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mahasiswa semester 1 di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Saat ini aktif di KAMMI dan menjadi kepala departemen Pemberdayaan Perempuan KAMMI Komisariat Madani.

Lihat Juga

Cover buku "30 Testimoni Pengamal Dhuha".

30 Testimoni Pengamal Dhuha