Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Menulis adalah Bekerja Untuk Keabadian

Menulis adalah Bekerja Untuk Keabadian

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Sejujurnya, menulis adalah suatu yang menyenangkan bagi saya, dengan menulis saya bisa mencurahkan semua yang ada dalam benak saya. Tapi, ketika saya membagikan tulisan saya ke public ada perasaan campur aduk dalam hatiku. Apakah tulisan saya bisa diterima dan dinikmati oleh public atau sebaliknya.

Jika menelanjangi lebih dalam sebetulnya menulis itu sendiri merupakan sifat kerja. Ketika seseorang menulis berarti orang tersebut sedang melakukan kegiatan kerja. Menurut sebagian orang menulis adalah pekerjaan mudah tetapi banyak juga yang mengatakan menulis adalah pekerjaan yang sulit, apalagi bagi orang yang tidak terbiasa menulis. Dari kedua asumsi di atas aku termasuk kategori orang yang mengatakan pekerjaan menulis adalah hal yang sulit dan membuat kepala mumet, ada benarnya juga itu semua disebabkan karena belum terbiasa dalam hal tulis menulis.

Bagi saya pribadi menulis belum bisa saya jadikan sebuah kebiasaan atau aktivitas yang menjadi rutinitas saya. Namun ketika mengingat Kata-kata dari Pramoedya Ananta Toer, sungguh sangat menginspirasi saya untuk terus menulis. Yaitu “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah….Menulis adalah bekerja untuk keabadian”.

Dengan menulis, memaksa kita untuk mengeksploitasi diri. Kenapa? Karena kita harus berfikir lebih keras dari biasanya agar bisa menuangkan ide-ide yang ada di otak. Dengan menulis, kita dipaksa untuk bisa mengetahui banyak hal. Seperti, ketika kita akan menulis dengan topik tentang “peradaban dunia”, mau tidak mau kita harus mencari dan membaca literatur yang berhubungan dengan peradaban dunia.

Untuk saat ini saya memang belum bisa melihat hasil dari tulisan yang sudah saya buat, tetapi sudah cukup menyenangkan ketika tulisan yang saya buat mendapatkan komentar dari publik. Komentar-komentar inilah yang menjadi penyemangat saya untuk akhirnya saya menulis kembali meski tulisan saya belum mampu menghipnotis pembacanya agar mau mengikuti apa yang ada dalam pikiran saya.

Tujuan saya menulis adalah semata-mata untuk memerangi dan melawan kemalasan serta mengajak diri saya sendiri agar konsisten untuk terus menulis entah apapun itu. Apa lagi di zaman sekarang ini, setiap orang bebas menuliskan apa yang mereka inginkan. Karena dengan menulis maka kita akan menjadi orang yang pandai dan bermanfaat bagi orang lain yang membaca tulisan-tulisan yang kita buat.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 9,75 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Kusnadi El-Ghezwa
Mahasiswa S1 Universitas Talimul Alim,Tanger, Maroko.
  • Rachmad Hadjarati

    Menulis itu awal dari semuanya :)

Lihat Juga

Ilustrasi. (sepedamigunani.tumblr.com)

The Amazing of Amang Cilok, Lebih Dari Sekadar “Cilok”