19:28 - Kamis, 02 Oktober 2014

Mendidik Karakter dengan Karakter

Rubrik: Resensi Buku | Oleh: Sofistika Carevy Ediwindra - 04/05/12 | 11:30 | 13 Jumada al-Thanni 1433 H

Judul Buku : Mendidik Karakter dengan Karakter
Penulis : Ida S Widayanti
Penerbit : Arga Tilanta, Jakarta
Cetakan : Februari 2012
Tebal : xxvii + 161 halaman

Cover buku "Mendidi Karakter dengan Karakter".

dakwatuna.com – Mendidik Karakter dengan Karakter berisi kumpulan karya bernuansa hikmah tentang keluarga. Kisah-kisah ini merupakan pembukuan dari kisah yang terdapat pada rubrik Jendela Keluarga majalah Suara Hidayatullah. Rubrik yang diasuh Ida S. Widayanti ini memuat kisah keseharian keluarga. Sekitar 95% kisah di buku Mendidik Karakter dengan Karakter sudah pernah saya baca langsung dari majalahnya.

Sederhana, unik, dan menyentil. Demikianlah sense yang saya rasakan saat membaca setiap penggalan kisahnya. Ida S. Widayanti menyajikan pembelajaran krusial pendidikan anak dalam keluarga dengan cara menarik melalui kisah keseharian. Anak, seperti yang tertulis di halaman 39, belajar dari apapun yang ia lihat, dengar, raba, cium, dan rasakan. Maka menciptakan lingkungan terbaik bagi anak adalah keharusan tak terelakkan bagi kita.

Mewujudkan negara yang ideal bukanlah suatu hal yang mustahil. Setelah membaca buku ini, pembaca akan semakin tersadar. Memperbaiki dan menggapai negara yang adil dan menentramkan adalah proyek jangka panjang. Dibutuhkan sangat banyak aspek pendukung bangunan negara yang kokoh. Anak dan keluarga, adalah dua hal utama dari pengokohan bangunan tersebut.

Anak, merupakan basis individu mendasar bagi sebuah peradaban manusia. Membangun anak berkarakter menjadi sebuah syarat bagi terbentuknya peradaban tersebut. Mendidik karakter dengan karakter menampilkan kehebatan anak yang sering kita (orang dewasa) lupakan. Anak memiliki ruang luas dalam dirinya untuk menyerap beragam ilmu dari kehidupan di sekitarnya.

Allah SWT mengaruniai pada diri anak kemampuan menyerap dan meniru yang luar biasa. Meski belum sampai pada tataran pemikiran analisis, proses pembelajaran paling efektif sepanjang sejarah kehidupan manusia adalah pada masa anak-anak. Segala yang terjadi pada masa anak-anak sangat berpengaruh bagi pribadi manusia tersebut di masa dewasa.

Mendidik karakter dengan karakter mensyaratkan pula pendidik berkarakter, berfungsi sebagai pihak paling berpengaruh yang memotori pembangunan karakter anak. Mana mungkin tercipta akselerasi pendidikan karakter anak manakala manusia di sekelilingnya tidak turut aktif dalam setiap prosesnya.

Dari anak, banyak sekali hal menakjubkan yang mampu kita pelajari. Kejujuran, kecerdasan, kelugasan, keberanian, kasih sayang, semangat pantang menyerah dan cinta menjadi aspek fitrah yang pasti dimiliki oleh setiap anak. Sedangkan jika ada anak yang tumbuh dengan tanpa hal-hal tersebut maka yang perlu dipertanyakan yakni lingkungan di mana sang anak berada.

Buku Mendidik Karakter dengan Karakter yang kali pertama cetak pada Februari 2012 ini layak menjadi referensi bagi setiap keluarga muslim Indonesia. Meski sudah banyak buku-buku parenting yang terbit di negeri ini, buku ini menyajikan segala ilmunya dengan cara yang taktis dan praktis. Dengan membaca dan meresapi setiap kisahnya, pembaca dibawa pada sebuah cermin besar yang merefleksikan diri pada perilaku dalam keseharian bersama anak.

Seperti dalam salah satu kisah di buku ini berjudul Perlu Orang Sekampung, mendidik seorang anak butuh keterlibatan seluruh pihak dalam lingkungan anak. Kesuksesan mendidik anak membutuhkan peran orang tua, saudara kandung, guru, teman bermain, tetangga, keluarga besar, bahkan pembantu.

Akhirnya, anak dan keluarga adalah garda terdepan penentu kesuksesan sebuah peradaban. Mendidik karakter anak dengan karakter adalah jawaban bagi tujuan tersebut.

Tentang Sofistika Carevy Ediwindra

Mahasiswa semester 1 di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Saat ini aktif di KAMMI dan menjadi kepala departemen Pemberdayaan Perempuan KAMMI Komisariat Madani. [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Hendra

Topik:

Keyword: , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (5 orang menilai, rata-rata: 10,00 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • teti sitorus

    wah subhanallah…beli bukunya di toko mana ya ??

  • Dedi Setiadi

    iya, gimana caranya dapetin itu buku? insyaAllah bermanfaat banget

  • http://www.facebook.com/people/Nurhadi-Muh/100001514944319 Nurhadi Muh

    ada pemikiran dari sebagaian Mujadid Fardiyyah … krn Lakum Dinnukum waliyadiin … kayaknya TIDAK PERLU TERPANCING PANCING DEBAT LAGI DEBATLAGI MAH MUNDUR . SKRNG TO THE POINT MARI IKUTI WAHYU ALOOH SWT SECARA MURNI HAKIKI , JANGAN AKAL-AKALAN …. JEBAK-JEBAKKAN , PANCING-PANCINGAN . SAMI’NA WA ATHO’NA SUKRON . LAKUM DINUKUM WALIYADIN MONGGOOO … SELAMAT JALAN . TIDAK PERLU LAGI TARIK MENARIK … kalau sekedar mengontroll salah ucap … wajar-wajar wae. MENDEDEBATKAN WAHYUUU MAH MUNDUR KITA ??

Iklan negatif? Laporkan!
64 queries in 2,238 seconds.