Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / “Ku Baiat Kau Jadi Saudara Angkat”

“Ku Baiat Kau Jadi Saudara Angkat”

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Mengapa tulisan ini diberi judul seperti di atas? Karena penulis melihat fenomena ‘adik angkat’ (dengan lawan jenis) sedang menjamur di kalangan muda-mudi saat ini. Khususnya mereka yang masih lajang. Atas nama saudara/i angkat, mereka seakan membolehkan hal-hal yang sebenarnya tidak diperbolehkan. Atas nama saudara/i angkat, mereka menjebol batas-batas yang telah ditetapkan syari’at. Dan yang menarik, ternyata fenomena ini tidak hanya menimpa kawula muda ‘biasa’. Akan tetapi juga telah menimpa sebagian kawula muda pengemban amanah dakwah. Ya, para aktivis itu. Mungkin ini sebagai bukti bahwa aktivis dakwah juga manusia, bukan malaikat. Tapi tetap saja tidak bisa dibenarkan.

Sesungguhnya hukum asal pertemuan seorang muslim dengan muslimah serta berbicara dengannya adalah terlarang kecuali untuk sebuah keperluan yang sangat penting. Dan kepentingan ini diukur sesuai dengan kadar kepentingannya. Zhahir nash-nash syariat telah menunjukkan hukum ini. Mungkin ada yang berargumen; “Lho, saya kan ga pernah ketemuan sama si dia, paling cuma via HP, Facebook, Twitter, atau via email saja kok!”

Salah satu hasil Bahtsul Masail Diniyyah atau pembahasan masalah keagamaan oleh Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri (FMP3) se-Jawa Timur di Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadiat Lirboyo Kediri 20-21 Mei 2009, menyatakan bahwa kontak via HP (telepon, SMS, 3G, Chatting, Twitter, Facebook, dan lain-lain) dapat menimbulkan syahwat atau fitnah, walaupun tidak dapat dikategorikan khalwat namun hukumnya haram.

Karena hubungan dekat dengan lawan jenis yang bukan mahramnya itu terlarang, maka setan sangat berambisi untuk menghiasi hubungan ini dengan istilah-istilah yang menipu. Misalnya atas nama hubungan persaudaraan fillah, adik fillah, teman tarbiyah, dan lain-lain. Bahkan sampai mengatasnamakan dakwah! Dakwah fardhiyah. Haduh, seakan perbuatan mulia, padahal?? Begitulah cara setan untuk menghiasi kebathilan dan mengeluarkan sebagai gambaran yang haqq. Adapun hubungan antara ikhwan dan akhwat aktivis dakwah adalah seperti saudara. Cukup sampai di sana. Kalaupun terjadi gangguan hati yang merupakan sunnatullah akibat adanya interaksi. Tidak boleh melebihi taraf SIMPATI antar aktivis. (SIMPATI: simpan dalam hati). Tidak layak diungkapkan, apalagi diangkat sebagai saudari angkat. Jika berniat menikahinya, bagi yang ikhwan ungkapkanlah dengan khitbah. Bagi yang akhwat, mintalah dikhitbah.

Maka wajib bagi yang sedang diuji dengan hubungan semacam ini untuk bersegera taubat kepada Allah SWT. Janganlah tertipu dan terpedaya dengan hujah-hujah sebagian orang dengan dalih bertujuan baik. Karena ini hanyalah tipu daya setan. Di dalam shahihain dari hadits Usamah bin Zaid bahwa nabi saw bersabda:

“Tidaklah aku tinggalkan sebuah fitnah setelahku yang lebih berbahaya terhadap kaum laki-laki melebihi fitnah wanita.” (HR. Bukhari Muslim)

Dan dalam shahih Muslim, dari hadits Abu Sa’id al-Khudri bahwa nabi saw bersabda:

“Sesungguhnya dunia ini manis lagi hijau. Dan sesungguhnya Allah menjadikan kalian saling mengganti (mewarisi) di dalamnya, maka Dia melihat bagaimana kalian beramal. Maka takutlah kalian terhadap dunia dan takutlah kalian terhadap kaum wanita, karena fitnah Bani Israil pertama kalinya adalah pada wanita.” (HR. Muslim 13/286)

Dan bagi kaum wanita, betapa elok jika rasa malu selalu dijaga. Ketika ada laki-laki yang mulai ‘mengetuk pintu’ tanpa ada tujuan yang jelas. Tidak perlu kau ‘membukakan pintu’ baginya. Karena jika kau mempersilakannya, itu berarti kau telah rela ‘kecolongan’, merelakan iman dan kesucian digerogoti secara perlahan. Wal’iyaadzubillah.

Ini semua tidak lain untuk menjaga kita agar tetap dalam keridhaan-Nya, agar kita dapat bersama-sama menjaga kesucian diri, kesucian dakwah, dari kekhilafan kita yang mungkin tanpa sadar kita lakukan, dan agar kemenangan dakwah yang kita nanti-nanti tidak tertunda lagi. Sebab, kekhilafan yang kita lakukan bisa jadi akan menunda datangnya kemenangan dari Allah SWT.

Wallahua’lam.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (19 votes, average: 9,53 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Oktarizal Rais
Alumni Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam, Solo. Mahasiswa Mahad Aly An-Nuaimy, Jakarta.
  • Trima Kasih, ngenabanget.com
    “Kalaupun terjadi gangguan hati yang merupakan sunnatullah akibat adanya interaksi. Tidak boleh melebihi taraf SIMPATI antar aktivis. (SIMPATI: simpan dalam hati). Tidak layak diungkapkan, apalagi diangkat sebagai saudari angkat. Jika berniat menikahinya, bagi yang ikhwan ungkapkanlah dengan khitbah. Bagi yang akhwat, mintalah dikhitbah.”

Lihat Juga

Ilustrasi. (amnahakim.com)

Pria yang Bisa Dijadikan Sebagai Menantu

Organization