Home / Pemuda / Cerpen / Buah Kesabaran

Buah Kesabaran

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Secara tak sengaja Angkasa melihat Embun sedang jalan berdua dengan seorang pria yang seumuran dengannya di sebuah pusat perbelanjaan. Beberapa kali ia mengucek matanya hanya untuk meyakinkan bahwa ia tidak salah lihat. Tampak oleh matanya Embun begitu sumringah berjalan beriring dengan pria itu. Benar, Angkasa tidak salah lihat. Itu benar Embun, saudara sepupunya yang cukup dekat dengannya. Sayangnya, Embun tidak menyadari kehadiran Angkasa yang saat itu tengah mengamatinya.

Angkasa tidak mengenal siapa pria di samping Embun. Selama ini Angkasa kenal betul siapa saja yang menjadi teman Embun. Mulai dari teman kerja, teman mengaji hingga teman rumahnya. Karena memang rumah Angkasa dan Embun bersebelahan.

Angkasa tidak langsung menyapa Embun seketika itu juga. Ia tidak mau langsung membuat Embun malu jika ia melabraknya langsung. Angkasa berusaha tetap berfikir positif.

***

Sepulangnya Angkasa dari pusat perbelanjaan, ia terus saja memikirkan apa yang baru saja dilihatnya. Ia seolah tak percaya. Sebelum pulang ke rumahnya, Angkasa sengaja mampir ke rumah Pakde Ahmad, ayah Embun.

“Assalamu’alaikum Pakde.” Sapa Angkasa.

Pakde Ahmad yang kala itu sedang serius menyelesaikan pekerjaannya sebagai tukang servis elektronik, menoleh. “Wa’alaikumussalaam. Eh kamu Sa. Ayo masuk. Bude-mu sedang membuat pisang goreng kesukaanmu.”

“Iya Pakde terima kasih.” Kata Angkasa sambil berjalan masuk ke dalam rumah Embun.

Didapatinya Bude Fatma sedang sibuk menggoreng di dapur mungilnya.

“Hmmm… Baunya enak sekali nih Bude. Bikin perut Asa mendadak lapar.” Asa mendekati Budenya dan langsung mengambil posisi sejajar di sebelahnya.

“Asa, tau saja kamu Bude sedang membuat makanan kesukaanmu. Tuh, ada yang sudah matang di meja. Kamu ambil saja ya.”

Asa mendekati meja dan mengambil sepotong pisang goreng yang benar-benar menggugah selera dan memakannya dengan lahap.

“Oh iya Bude, Embun kok tidak kelihatan. Dia ke mana?” Tanya Angkasa sambil mengunyah pisang gorengnya.

“Embun dari tadi siang pergi. Katanya mau cari buku.”

“Sama siapa Bude?”

“Bude tidak tahu Sa. Soalnya dari rumah Embun pergi sendiri dan dia tidak bilang juga kalau mau pergi sama siapa.”

Angkasa langsung terdiam. Dengan siapa Embun tadi.

***

Usia Angkasa dan Embun hanya berbeda dua tahun. Sejak kecil mereka bermain bersama. Ayah Embun adalah kakak dari ibu Angkasa. Dari SD hingga SMU sekolah mereka sama. Angkasa ingat zaman SMU adalah masa Embun berhijrah. Waktu itu, Embun kelas 1 SMU dan Angkasa sudah menginjak kelas 3. Angkasa ingat betapa nakalnya Embun saat SMP, dia sudah kenal yang namanya laki-laki. Embun memang memiliki paras yang manis dan perangainya yang mudah bergaul. Jadi tidak heran jika banyak yang tertarik dengannya. Masalahnya Embun masih teramat kecil, pikirannya masih belum jernih. Orang tuanya sering mengingatkan hati-hati bergaul dengan laki-laki, Embun menurut. Tapi jika ada teman lelakinya yang mengajak pergi, ia tidak akan menolak. Itu dilakukannya tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya.

Biasanya, akulah yang sering memergoki Embun berduaan dengan teman lelakinya. Embun seringkali memohon untuk tidak melaporkannya kepada orang tuanya. Embun takut jika ayahnya tahu, maka penyakit jantungnya akan kambuh.

Yang Angkasa heran, Embun tidak pernah sungguh-sungguh memperhatikan penyakit ayahnya. Berkali-kali Angkasa memergoki dan berkali-kali Angkasa selalu menasihati. Tapi Embun hanya bilang iya, iya tidak akan diulangi. Dan besoknya. Angkasa kembali melihat Embun berkelakuan sama.

“Apakah Embun kembali seperti dahulu?” Angkasa menerawang.

“Aah… semoga saja tidak.” Angkasa kemudian mencoba menetralkan pikirannya.

Memasuki SMU, Embun perlahan berubah. Mungkin karena pergaulannya kini telah berubah. Angkasa mengusulkan kepada ayah Embun untuk memasukkan Embun di sekolah yang sama dengannya, agar bisa menjaga Embun-alasannya.

Angkasa juga yang memperkenalkan Embun kepada kegiatan Rohis dan kepada kawan-kawan perempuan Angkasa yang mayoritas berjilbab dan berakhlaq baik, insya Allah. Alhamdulillah, Embun bukanlah anak yang keras kepala, sehingga ia sangat terbuka dengan segala masukan yang baik. Meskipun jiwanya masih sedikit labil. Paling tidak itu menjadi langkah awal yang baik untuk menjaga Embun tetap berada di jalur yang benar.

Ternyata pergaulan yang baik sangat berpengaruh untuk Embun. Kini, Embun telah memakai jilbab. Bukan hanya sekedar penutup kepala, tetapi jilbab yang benar-benar memenuhi syari’at. Pergaulan dengan lawan jenis pun, sudah mengurangi penurunan yang sangat drastis dibanding dulu. Benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat dibanding ketika Embun SMP.

“Embun, sekarang kamu sudah jarang banget jalan sama teman lelakimu?” Tanya Angkasa iseng.

“Hehehe. Iya donk Mas. Aku sekarang mau jadi wanita shalihah, wanita yang mahal yang tidak mudah tersentuh oleh lawan jenis. Biar Allah sayang sama aku dan nanti ketika aku menikah, aku bisa mendapatkan lelaki yang shalih Mas. Jadi aku mau jaga jarak.” Jawab Embun

“Pintar kamu sekarang. Tidak percuma Mas ajak kamu gabung sama Rohis.”

“Terima kasih Mas. Sekarang aku jadi lebih paham mengenai pergaulan antar lawan jenis. Doakan aku Mas, supaya tetap istiqamah.”

“Insya Allah dek.”

***

Menjelang pukul sembilan dilihatnya Embun baru pulang. Ia ingin langsung bertanya mengenai apa yang dilihatnya tadi siang.

“Baru pulang Bun, dari mana?” Embun yang saat itu akan makan, terkejut.

“Mas Asa, kapan pulang?” Wajah Embun seketika mengembangkan senyum terlebarnya. Memang semenjak lulus sekolah, Asa memutuskan kuliah di kota lain. Dan berlanjut hingga ia bekerja.

“Kemarin malam. Tapi kamu sudah tidur saat Mas pulang dan tadi pagi-pagi sekali Mas ada janji dengan teman. Makanya kita baru ketemu sekarang.”

“Oh, iya. Pertanyaan Mas belum kamu jawab. Kamu dari mana kok jam segini baru pulang?”

“Mas ini. Dari dulu tidak berubah. Selalu saja khawatir kalau aku pulang malam. Padahal baru jam sembilan. Tadi aku dari toko buku Mas. Ada yang dicari.”

“Ooh gitu. Sama siapa dek?” Angkasa penasaran dengan jawaban Embun.

“Sama siapa ya?” Embun malah membalasnya dengan candaan.

“Kamu kok ditanya bukannya dijawab, malah begitu Bun?”

“Lagian Mas juga. Datang-datang bukannya tanya kabar Embun bagaimana. Pekerjaan Embun bagaimana. Embun juga belum tanya keadaan Mas bagaimana. Eeh malah Embun seperti diinterogasi seperti ini.”

“Iya maaf Bun. Langsung aja ya.” Air muka Angkasa terlihat serius.

“Ada apa Mas? Kok tiba-tiba serius?” Embun penasaran.

“Begini, tadi siang Mas melihat kamu di pusat perbelanjaan. Tapi Mas lihat kamu tidak sendiri. Kamu berdua dengan lelaki. Dan Mas tidak tahu dia siapa.”

Embun tersenyum.

“Apa ada sesuatu yang Mas belum ketahui dari kamu Bun?”

“Iya Mas ada.”

“Maksudnya?”

“Mas janji ya jangan cerita ke siapa pun termasuk keluarga jauh kita.”

“Hmm… Insya Allah dek.”

“Sebenarnya yang Mas lihat tadi siang itu suamiku. Maaf jika Mas tidak mengetahui pernikahan kami, karena Embun tidak mau merepotkan Mas yang saat ini sedang dalam pendidikan di kantor. Apalagi jaraknya juga lumayan kalau Mas harus pulang.”

“Memang sengaja aku merahasiakan pernikahanku. Karena suamiku sedang dalam masa percobaan di kantornya dan tidak memperbolehkan karyawannya untuk menikah dahulu dalam rentang waktu enam bulan. Baru dua minggu kami menikah dan waktu itu hanya dihadiri keluarga dekat saja Mas.”

“Alhamdulillah, ternyata aku berpikir benar untuk tidak berprasangka buruk dulu.” Angkasa mengelus dada, merasakan kelegaan yang sangat. Meskipun sebenarnya, ia telah dilangkahi menikah oleh adik sepupunya.

“Jadi kalian belum tinggal bersama?”

“Belum Mas.”

Tergambar kebahagiaan di wajah Embun. Sesuatu yang dia nantikan, kini telah ia jalani.

***

Angkasa masih teringat ketika dua tahun lalu ia pulang. Saat itu usia Embun 23 tahun. Usia dimana perempuan sedang ingin dicintai dan mencintai. Dan Embun mengalami hal yang sama.

“Mas, aku siap nikah. Bisa minta bantu mencarikan?” Tanya Embun kala itu.

“Kamu sudah minta sama Guru Mengajimu?” Angkasa balik bertanya.

“Sudah Mas, tapi belum ada tanggapan. Lagipula beliau terbuka kok. Jika memang dari Mas ada calon, nanti aku akan cerita ke Guruku.”

“Saat ini Mas belum ada calon untukmu, karena teman dekat Mas belum ada yang menyampaikan keinginan untuk menikah dalam waktu dekat.”

“Ya udah Mas tidak apa. Mungkin nanti Mas bisa kabari aku jika ada yang sudah siap.”

***

Embun. Adik sepupuku yang kusayang. Aku dan Embun sama-sama anak tunggal dan secara otomatis kami menjadi dekat. Meskipun kami berada di kota berbeda tetapi komunikasi antara kami tetap lancar. Meskipun tentang masalah pernikahannya, dia tidak mengabariku. Tapi aku sangat mengetahui mengenai proses pencarian Embun akan imam yang kelak menjadi pemimpinnya. Namun dengan lelaki yang kini menjadi suaminya kini, Embun belum pernah bercerita.

Proses pencariannya tidak bisa dibilang mudah. Beberapa kali mencoba berta’aruf tapi belum satu pun yang berhasil dilakukannya. Ketika ada info mengenai lelaki yang siap menikah dan lelaki itu diceritakan mengenai Embun secara garis besar, tiba-tiba saja pihak lelaki enggan meneruskan dengan alasan yang tidak jelas. Aku pun tidak tahu, dengan suaminya kini dia telah menjalani proses ta’aruf berapa kali.

Embun selalu berusaha berfikir positif. Walau yang aku tahu, keinginan dia untuk menyempurnakan setengah agamanya begitu kuat. Tapi dia yakin, akan indah pada waktunya dan setiap manusia pasti ada jodohnya. Juga seseorang yang baik pasti akan mendapatkan yang baik pula. Begitulah cara Embun berusaha menguatkan diri.

Meski Embun harus melihat satu persatu teman dekatnya mengirim undangan pernikahannya atau saat mendengar teman sebayanya telah melahirkan anak pertamanya atau ketika ada kumpul-kumpul bersama teman-temannya dan dia lihat ada temannya yang membawa pasangannya. Sebagai wanita normal, jelas ia ingin merasakan juga. Dia juga pernah sedih akan hal itu. Akulah yang selalu menjadi tempat curhat Embun setelah Allah tentunya.

Yang aku salut dari Embun adalah keinginannya untuk tetap mempertahankan kesabarannya untuk terus menunggu hari pernikahannya tanpa disertai oleh proses pacaran sebelumnya. Ia tidak ingin Allah tidak ridha akannya. Dengan wajah yang manis, bisa saja ia memancing teman lelakinya untuk menyukainya dan mendekatinya. Tetapi itu tidak dilakukan Embun. Justru sebelum ku tahu ia menikah, Embun lebih menjaga jarak dengan teman-teman lelakinya dan mengurangi interaksi dengan lawan jenis. Ia tidak ingin kesalahan masa lalunya untuk berpacaran terulang. Cukup masa lalu menjadi pelajaran berharga. Ia berusaha untuk menjaga hatinya untuk tidak lagi tergelincir kepada yang bukan haknya.

Dan jika kini ia menikah. Adalah pasti buah dari kesabarannya selama ini yang kutahu tidak mudah bagi seorang wanita menahan perasaannya. Doaku yang terbaik untukmu dek. Semoga kamu bisa mengemudikan rumah tanggamu hanya dalam naungan ridhaNya. Aamiin.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (14 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ya ALLAH, hidupkanlah aku sebagai orang yang tawadhu', wafatkanlah aku sebagai orang yang tawadhu' dan kumpulkan aku dalam kelompok orang-orang yang tawadhu'

Lihat Juga

Gurun (inet)

Belajar Kesabaran dari Kisah Nabi Nuh