Home / Pemuda / Cerpen / Calon Pengantinku

Calon Pengantinku

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (blogspot/lovelytobeamuslimah)

Semangat

dakwatuna.com Hari itu adalah hari yang begitu berat untuk di lupakan dalam sejarah hidupku. Menghadapi terpaan badai besar yang belum pernah terpikirkan olehku. Menerima sebuah kenyataan pahit yang sulit untuk aku rasakan. Namun aku harus tetap tegar dan tabah dalam menghadapi cobaan tersebut, karena dengan ujian menandakan bahwa Tuhan ingin menaikkan derajat hambaNya. Untuk mengetahui sejauh mana kadar kesabaran dan ketabahan hambaNya di dalam menghadapi cobaan serta ujianNya.

Setidaknya itulah pepatah yang bisa aku simpan dalam memory otakku sebagai penyemangat jiwaku yang telah hancur. Aku yakin dibalik semua itu tersimpan hikmah dan pelajaran yang berharga buatku. Itulah kehidupan kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi pada hari esok dan selanjutnya.

Pagi yang cerah, secerah hatiku menyambut pagi, dedaunan dan rerumputan dengan indahnya bergoyang tanpa ada penghalang, suara kicauan burung yang bercengkerama menambah semaraknya pagi, kilauan cahaya mentari pagi yang bersinar semakin menambah pesona keindahan pagi. Sesekali terdengar suara embun jatuh dari dahan pohon. Udara pagi nan segar menambah kesejukan desaku, desa yang jauh dari kota, yang jauh dari kericuhan, yang jauh dari keramaian, jauh dari segala semaraknya kota dan yang lebih penting jauh dari para koruptor. Inilah desaku, penuh dengan alam yang masih sangat alami.

’’ Hari yang indah tuk mulai merajut mimpi’’ gumamku semangat.

Yah…semangat! Kata itulah yang pertama kali ku ucapkan setiap kali aku bangun dari tidurku. Satu kata yang cukup simpel, yang mampu memotivasiku dalam setiap hal, bagiku semangat mempunyai makna yang sangat berpengaruh dalam hidupku. Seperti rapalan mantra yang ketika diucapkan bisa membuat kita lebih sakti, lebih kuat lagi, tapi tergantung sama orang yang mengucapkannya atau merapalkannya. Harus benar-benar diucapkan dari dalam hati, kita kadang cuma mengucapkannya karena disuruh, atau diajak orang lain untuk “semangat” dan tidak berefek sama sekali.

Sering aku mengalami itu, mengucapkan semangat, tapi tetap saja lemas. Kini aku baru tahu ternyata di dalam rapalan mantra kata semangat itu tersimpan rahasia yang begitu besar dan luar biasa dalam hidupku.

Sekelam apapun masalahku, seberat apapun beban hidupku, aku tak akan mungkin bisa berlari darinya, agar aku bisa menghindar darinya, ataupun bersembunyi agar aku tak bertemu dengannya. Inilah kehidupan, semuanya akan indah pada waktunya bila kita bisa menemui masalah dengan dada yang lapang, menghadapinya dengan senyum seterang mentari pagi, mempersilakannya masuk dalam bersihnya rumah hati dan mengkilapnya lantai nurani, serta mampu mengajaknya untuk menikmati hangatnya teh kesabaran di tambah sedikit pengaman keteguhan.

Penatap Langit

Setiap hari aku menghabiskan waktu di bawah mentari pagi, dan menjadi Penatap Langit sejati, berharap ada malaikat datang menghampiriku dan mengajak aku pergi dari beban berat ini. Dunia memang belum kiamat. Tapi duniaku sebatas 4 x 6 meter saja. 4 ke samping 6 ke depan dan 6 ke belakang. Aku kehilangan seorang lelaki yang aku cintai, semua peluang-peluang, dan kebebasan melangkah. Mataku hanya bisa melihat dari jauh tanpa merasakan udara tanah yang membaur di sela-sela keramaian.

Aku takkan terlalu khawatir, karena aku masih punya rasa optimis yang begitu besar kepadaNya dan akan ku curahkan kepada calon pengantinku nanti. Aku ingin mempercepat hari ini. Aku ingin segera memeluk calon pengantinku. Walau aku sedih tapi aku sangat butuh dirinya di sampingku. Perasaanku mulai kacau, ada banyak bayang-bayang yang mengganggu pikiranku. Kata-kata mengapa…? Berputar-putar di dalam otakku yang mulai lemah, bimbang, getir, malu, tak percaya diri dan semua rasa yang abstrak menghinggapi seluruh kerongkongan hatiku. Berapa kali aku berdoa kepadaNya berharap bisa kembali membentuk hatiku ini sehingga menjadi satu kembali dan mendapatkan keyakinan itu. Tetapi kapan? Entahlah.

Bandara Mohammad V

Flash back

Suasana angin cukup dingin di akhir bulan November tapi tak mengurungkan niat kami untuk bersilaturahim dengan keluarga di kampung sekaligus memperkenalkan calon suamiku yang baru saja menyelesaikan masternya bersamaku di Universitas Darul Hadits al-Hassaniyah Rabat, Maroko. Ia adalah keturunan dari keluarga terpandang di kotanya, keluarganya di kenal baik oleh public, di samping ayahnya seorang dosen dan pengajar di sekolah menengah ia juga seorang dermawan yang suka membagikan hartanya kepada fakir miskin dan dhu’afa.

Rabu 13 Januari, tepatnya pukul 12.30 GMT kami tiba di bandara Mohammed V, Casablanca. Tiga jam kemudian pesawat Qatar dengan nomor penerbangan K37466 datang menjemput kami meninggalkan bandara Mohammed V meluncur ke bandara Soekarno-Hatta, Jakarta.  Perjalanan panjang yang melelahkan hingga memakan waktu 19 jam seolah bukan hal yang melelahkan bagiku. Yang ada di dalam benakku hanyalah rasa rindu dan kangen ingin bertemu dengan keluargaku, ingin menunjukkan kesuksesan dan keberhasilanku kepada ayah dan ibuku yang telah menanggung semua kebutuhan hidupku selama belajar di Maroko, negeri seribu benteng selama 6 tahun lamanya. Waktu yang cukup lama bagiku namun sangat cepat menurut teman-temanku karena dalam kurun waktu 6 tahun aku berhasil menggondol gelar Lc dan Master di sebuah universitas ternama di Maroko.

Kesuksesanku tidak berhenti di situ saja, di samping aku menggondol Lc dan master aku juga telah berhasil menggondol hati seorang pemuda Arab yang baik dan taat pada agama dan orang tua. Ia adalah anak sulung dari pasangan H. Muhammad Abdul latif dengan Hj. Siti Maryam yang terkenal dengan kedermawanannya. Pemuda dari kalangan orang elit yang berambut ikal berbadan putih dan tinggi itu adalah Muhammad Idris. Ia sudah resmi melamarku untuk di jadikan calon pendamping hidupnya membina rumah tangga sebagaimana yang telah di ajarkan oleh Rasul-Nya. Aku tak bisa membayangkan seperti apa nantinya jika sudah bertemu dan berkumpul dengan semua keluargaku dan teman-temanku. Yang jelas setiap hembusan nafasku mengeluarkan aroma kebahagiaan yang terus berbunga-bunga.

Qada dan QadharNya

“Kak Nisaaa…” teriak gadis kecil sambil melambai-lambaikan tangannya kearahku, ia adalah Tiara, adikku yang masih belajar di sekolah menengah Jombang. Terlihat seorang lelaki tua berkopiah hitam dan seorang perempuan berjilbab biru tua ikut melambaikan tangannya kearahku sambil memperlihatkan senyum manisnya, ia adalah ayah dan ibuku.

“Assalamu’alaikum ibu…” ucapku sambil memeluk erat tubuhnya yang mulai mengecil dan mengkirut.

“Wa’alaikumsalam nak…” jawab ibu dengan menitikkan air mata haru dan bahagia karena gadis yang selama ini hidup di negeri Arab telah kembali.

“Gimana kabarnya yah?” tanyaku pada ayahku yang dari tadi memandangi wajahku dan wajah Idris calon suamiku.

“Alhamdulillah ayah dan ibu juga adekmu baik-baik saja”

Idris yang dari tadi bengong karena tidak tahu apa yang sedang kami bicarakan langsung di persilakan ayah untuk masuk ke dalam mobil Honda jazz berwarna silver yang baru saja di beli dua bulan yang lalu. Idris pun segera masuk ke dalam mobil tersebut dan duduk di depan dekat ayahku yang siap mengendarai mobil tersebut… Sementara aku, Tiara dan Ibu duduk berjejer di belakang.

“Yah hati-hati ya” Ucap Ibu mengingatkan ayah untuk berjalan hati-hati karena cuaca hujan yang mengguyur minggu siang itu. Di tengah perjalanan kami menuju Jombang kami berhenti di sebuah kios emas yang menjual beraneka model dan ukuran cincin yang berbeda. Entah ada apa gerangan tiba-tiba setelah membeli cincin kawin dan semua kebutuhan lain yang akan di gunakan untuk pernikahan kami berdua, saya merasakan firasat tidak enak yang akan menimpa kami, malampun semakin larut.  Namun, aku mencoba mengusirnya dengan canda tawa bersama keluarga yang semakin menghangatkan suasana perjalanan malam itu. Dunia seolah memuntahkan warna-warni pelangi dengan sejuta pesona keindahannya, betapa bahagianya keluargaku, terlebih aku dan mas Idris yang akan menyempurnakan separuh agamanya dengan mengikuti sunah Rasul-Nya menuju ke pelaminan.

Tiga hari adalah waktu yang sangat panjang bagiku dan mas Idris untuk segera menghadap penghulu dan duduk berdampingan penuh dengan kemesraan di kursi pelaminan. Tapi di balik semua itu Tuhan memiliki rencana lain yang tak disangka dan tak diduga, kita hanyalah makhluk yang tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, kita hanya menjalani semua yang tertulis dari qadha dan qadar dari sang Khaliq, tanpa bisa merubahnya, ataupun menahannya.

“Allahu akbar……” pekikku panik, dan kami pun terpental keluar dari mobil ketika mobil yang kami tumpangi menghantam lubang jalanan yang tak terlihat karena genangan air dan sebuah mobil Kijang biru dengan kecepatan yang sangat tinggi tidak bisa mengerem menabrak mobil kami dari belakang dan saya melihat mas Idris kepalanya terjepit pintu mobil, wajahnya berlumuran darah dan tidak bisa bergerak sama sekali, begitu juga dengan ayah, yang terdengar hanyalah suara rintihan kecil mengerang-erang minta tolong dan saat itu aku pun tak sadarkan diri lagi. Itulah saat terakhir yang aku ingat dari kebersamaan kami bersama keluarga dan mas Idris calon suamiku yang telah melamarku dari orang tuaku dan kami merencanakan pernikahan dalam waktu dekat ini.

“Dimana saya?? Dimana mas Idris??” tanyaku setelah aku siuman dari pingsan lamaku.

“Syukur nak kamu sudah siuman…” ucap ibuku dengan suara sendu yang terbaring di sampingku.

“Ya bu tapi di mana mas Idris?” aku berusaha bangkit dari tempatku menemui mas Idris namun aku tak mampu karena kakiku semuanya dipenuhi dengan balutan kain putih.

“Dua jam yang lalu dokter memberi kabar kalau Idris mengalami pendarahan di kepalanya dan tubuhnya tergenjet pintu ketika kejadian itu hingga akhirnya tidak bisa terselamatkan” ujar ibu sambil mencoba menenangkanku dengan mata yang berkaca-kaca menahan air matanya

“Tidak… tidaakk… tidakkk…” aku pun menangis tak berdaya.

Mas ku tersayang

Mas Idris seorang bertubuh Atletis dengan rambut ikalnya, dengan senyum yang jenaka dan menyejukkan telah berpulang ke Sisi Allah. Mas Idris, calon pengantinku, kemudian dimandikan, dipakaikan baju cantik putih, ditaburi wewangian kapur barus dan dipersiapkan tempat pelaminannya berupa Keranda Hijau dan mas Idris bersanding sendirian di sana. Begitu gagahnya mas Idrisku menuju kepergiannya ke sisi Allah SWT. Dengan dipapah teman-temanku, mereka mendampingiku dalam pemakaman mas Idris. Sepasang tangan menyentuh siku, membimbing ku berdiri. Tak percaya aku melihat, wajah putih bersihnya  di hadapan saya adalah mas Idris “Innalillahi Wainnaillaihi Rojiun” mas Idris ku telah rapih di  bungkus kain kafan, diiringi dengan pengajian dan tetes air mata dari para saudara yang  berdatangan dan ucapan belasungkawa dari para kerabat dan tetangga.

“Aku Turut Berduka cita Nis” ucap Rini sahabat karibku, Rini memelukku tanda bela sungkawa

“Terima kasih ya…” ucapku menahan rasa sedih yang teramat sangat.

Mas Idris ku telah berpulang di saat baju pengantin telah dipersiapkan, seserahan sudah dibungkuskan, dan cincin kawin telah dibeli, semuanya terenggut oleh takdir yang tak pernah ku duga.

Jenazah tampan dari mas Idris ku telah siap di bawa ke liang kubur, aku semakin tak kuasa menahan perih di dada yang semakin menghimpitku, walau dengan keadaan terluka di sekujur tubuh karena kecelakaan kemarin, aku bersikeras untuk mengantar jenazah mas Idris ke pemakaman siang itu.

Ba’da Zhuhur, Jenazah mas Idris diangkut oleh mobil jenazah ke pemakaman. Aku mencoba dalam ikhlas melepasmu pergi, wahai yang terkasih. Aku masih yakin, kaulah jalan untukku, menuju Dia Yang Maha Indah.

Ketika Jasad mas Idris di masukan ke dalam liang aku pun menangis histeris. “Sabar Nis, kuatkan hati, jangan diberatkan langkah mas mu dalam menuju perjalanan pulangnya, kirimkan doa agar dia bahagia di sana” ucap Rini ketika menahanku dalam keadaan lemas dan tak berdaya, dan hati ini mencoba untuk menerima kepergian mas ku tersayang.

Aku ingin ikut menari

Semua teman dan keluarga dekat mendukung keputusanku lewat kata-kata Sabar, sebenarnya aku sudah muak dengan kata itu. Tetapi, mau tak mau aku hanya diam, toh, hanya mereka yang aku miliki sekarang. Mereka tak kan mengerti dan takkan bisa mengerti kekacauan hatiku. Manusia bisa peduli ketika manusia itu merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan. Omong kosong jika mereka peduli karena rasa iba, buktinya mereka hanya memuaskan egonya saja. Mereka tak pernah dapat apa-apa kecuali Nol besar di dalam hatinya. Dan aku masih bergelut dengan kata-kata Sabar.

Itu masih belum apa-apa, satu orang bodoh menyebut diriku sedikit beruntung, padahal dia tak mengerti kata beruntung itu sendiri seperti apa. Bagaimana mungkin seseorang disebut beruntung jika hanya satu tingkat di atas orang lain. Tanyakan pada dunia, memangnya ada manusia yang ingin roda kehidupannya di bawah?  Setiap manusia tidak ada yang ingin senasib dengan diriku atau lebih buruk dari aku. Kalau memang demikian dimana letaknya kata-kata beruntung itu!!! Itu adalah bukti nyata kalau manusia hanya ingin memuaskan egonya saja.

Dengan otaknya yang sedikit, pandai betul dia merajut kata-kata agar terdengar menggugah hati yang mendengarnya. Ya, tak ada bedanya dengan diriku yang juga sama bodohnya dengan mereka, tetapi setidaknya argumenku bisa diterima oleh orang yang sama seperti diriku, bukan orang seperti dirinya. Tidak ada yang benar di dunia ini semuanya relatif.

Muak dan kadang ingin mengakhiri hidup dengan menggantung diri atau menenggak racun serangga. Rasa itu begitu kuat hingga menggerogoti separuh otakku, tetapi semua itu tak ku lakukan karena aku masih punya rasa bersalah kepada Tuhan. Tuhan sendiri aku tak tahu ada dimana. Delapan bulan lebih aku bergelut mencari malaikat namun tak nampak sedikit pun batang hidungnya atau pun bentuk petunjuk yang memadai. Aku mulai lelah, lelah sekali, rasanya dipermainkan oleh takdir. Takdir sendiri datang memelukku menyerupai virus ganas yang menggerogoti tulang belakangku, sampai-sampai dokter mengangkat kedua tangannya dan mengatakan, “Tidak ada obatnya..!!”

Virus itu menyebabkan aku lumpuh dan hanya menyisakan seperempat tenaga untuk menopang kakiku dengan bantuan calon pengantinku pastinya. Apa kuasa manusia atas hendakNya. Ketika Tuhan menyapa tak ada manusia yang bisa menolak kuasaNya. Sedikit demi sedikit aku mulai belajar menyatukan puing-puing hatiku. Dibantu dengan semangat ibuku yang memang telah pudar, aku terus merajut kembali mimpi-mimpiku. Memang tak mudah, beberapa kali aku gagal sampai sekarang pun masih tetap gagal. Alasannya klasik, aku tak bisa mengontrol amarahku. Sempat utuh sepertiga dari hatiku namun hancur lagi ketika dua mata manusia melihatku seperti melihat badut atau topeng monyet yang sedang menari-nari di pinggir jalan. Aku benar-benar tak terima hal itu. Dengan nada yang meluap-luap seribu sumpah serapah meluncur dari mulut ku yang memang telah kotor.

“Hay memangnya kalian tak pernah melihat orang cacat apa!!!” Mataku melotot keluar, aku mempercepat langkahku, nafasku naik turun tak beraturan, emosi menguasai jiwaku dan kembali aku mengurung diri dibalik tembok kamarku. Tangis bercampur amarah, rasa kecewa yang mencabik-cabik, gelora kebencian merasuk jiwa. Tak ada yang tahu itu, hanya aku dan rasa sakitku. Aku kecewa kepada semua yang ada di dunia, terutama kepada Tuhan. Aku merasa Tuhan telah berbuat tidak adil dan mempermainkan perasaanku, bagaimana tidak? Seorang lelaki yang taat kepada Agama, orang tua dan sayang kepada sesamanya telah di hancurkan kebahagiaannya di saat Ia ingin melakukan sunah RasulNya. Lalu aku tuliskan kata-kata untuk diriku sendiri. “Ketika hujan menari lagi, aku ingin ikut menari bersamanya melepaskan kegundahan hatiku dengan menari bersama tetes air dari langit.”

Hujan pun turun dan terus menari, seolah-olah mengejekku dari dalam kamar. Sepi, sendiri, tak bisa berbuat banyak, menambah luka di hati ini.

“Apa salahku sehingga aku tak bisa ikut menari bersamanya?!!”

Calon pengantinku

Aku lelah, capek, sedih dan rindu. Rindu bagaimana rasanya saat tetes air hujan memelukku sampai aku basah kuyup. Aku ingat kemarin aku tak pernah takut membelah hujan! Tak pernah menolak ketika ia mengajakku menari. Tetapi sekarang, hujan tak peduli lagi kepadaku. Dia hanya bisa mengejekku dari dalam kamar tanpa peduli perasaanku yang begitu kesal menyaksikannya menari. Hujan masih saja terus menari, suara gemuruh genting dan tanah menjadi musik tersendiri baginya. Hujan membuat hatiku bimbang, bimbang dan rindu setiap kali hujan datang.

“Mungkinkah aku bisa kembali menikmati tariannya…??” Mataku berkaca-kaca, kali ini semuanya gelap dan lemas seperti pasrah terhadap maut, ku lemparkan pandanganku ke sudut pojok kamarku. Ada sesuatu yang mengintaiku di sana. Lama ku pandangi dia layaknya aku belum pernah jumpa dia. Calon pengantinku yang kini telah resmi menjadi pengantinku berdiri di pojok sana dan tersenyum kepadaku dengan sejuta spektrum layar pelangi. Kini tak ada lagi kata tanya, selayaknya sepasang pengantin yang tak perlu ada kata dusta. Aku jujur kepadanya dia pun begitu terbuka kepadaku. Dia pun tak pernah lelah mengantarku, menemaniku, menghiburku, menjagaku dan mempersilakanku untuk selalu duduk di pangkuannya.

Kuhapus air mata yang tersisa, perlahan kupaksakan tersenyum dan akhirnya terbiasa. Lama mataku memandang pengantinku, seperdelapan dari hatiku kini terbentuk sendiri. Ku pejamkan mata dan menarik nafas panjang, ku lepaskan semua beban yang mengikat, ku lepaskan semua rasa yang menjerat. Udara di sekitarku seakan menyatu dengan tubuhku. Rasanya ringan sekali, damai sekali, seperti ingin tidur saja. Lama-lama sunyi senyap, merasa sendiri tinggal di dunia ini. Tak terasa mataku terpejam 4 jam lamanya, bayangan mas Idrisku tersayang tiba-tiba hadir dalam mimpiku seolah ada sesuatu yang harus Ia sampaikan sebelum aku bercumbu mesra dengan calon pengantin baruku.

“Nisaku tersayang, maafkan masmu yang ceroboh ini, yang telah menyepelekan dan mengabaikan pesan seorang ibu, ibu yang telah melahirkanku, merawatku, membesarkanku dan menjagaku dengan setulus hati. Sebelum keberangkatan kita meluncur ke Indonesia sebetulnya Ibuku telah berpesan kepadaku agar perjalanan kita di temani oleh pihak ketiga sebagai bentuk ketaatan kita terhadap agama serta untuk mencegah dari hal-hal yang tidak di inginkan. Ibu sudah menghubungi pamanku Abdur Razaq agar berkenan menemani perjalanan kami. 5 jam mas menunggu kedatangan pamanku namun Ia tak kunjung datang, nomor hpnya juga tidak bisa di hubungi sementara waktu penerbangan pesawat tinggal 1 jam lagi. Di tengah kegelisahanku hpku berdering mendapatkan sms singkat dari pamanku.

“Assalamualaikum… Idris paman minta maaf tidak bisa menemani perjalananmu karena ada rapat mendadak di kantor, gimana kalau di undur besok aja? ” dengan spontan mas langsung membalasnya.

“Waalaikum salam…maafkan Idris tidak bisa menunggu besok karena tiket pesawatnya sudah dipesan dan waktu untuk bersilaturahim dengan keluarganya Nisa juga mepet. Salam buat Ibu, aku yakin semuanya kan baik-baik saja’’

Karena waktu yang mendesak dan keadaan yang tidak memungkinkan lagi untuk menunggu sampai besok mas memberanikan diri untuk meneruskan perjalanan dan meyakinkan Nisa bahwa semuanya akan baik-baik saja tanpa meminta pertimbangan  terlebih dahulu kepada Ibuku, sekali lagi mas minta maaf karena telah lancang kepadamu, kepada ibuku, kepada keluargaku dan juga keluargamu, hingga membuat Nisa seperti ini. Janganlah kau salahkan takdir Tuhan ataupun merasa bahwa Tuhan tidak adil tapi salahkanlah aku yang telah membuatmu menderita”.

Seketika itu bayangannya menghilang mengingatkanku 8 bulan lebih yang lalu sebelum terjadinya kecelakaan. Aku pun terperanjat dari tidurku namun mas Idris sudah pergi jauh meninggalkanku. Ku buka kembali mataku lebar-lebar memandangi pengantinku yang setia menemaniku di pojok sudut kamarku. Kini aku sadar kalau penyebab semua itu adalah karena kecerobohan masku. Aku sangat menyesal telah berprasangka buruk kepada Tuhanku dan menaruh rasa benci kepada semua orang yang telah menghinaku.’’

Tuhan maafkanlah hambaMu yang berlumur noda dan dosa karena telah menganggapMu keliru.’’ Tahukah kau siapa calon pengantin baruku yang selalu menemaniku? Pengantinku ini adalah sebuah kursi roda yang berfungsi untuk membawaku ke mana aku berjalan. Walaupun benda mati tapi bagiku dia adalah malaikat penyambung langkahku. Seketika itu terdengar alunan surat Ar Rahmaan di lantunkan oleh seseorang kala menjelang subuh.

Fa-abiayyi alaa ‘Irabbi kuma tukadzdiban (Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?) diulang berkali-kali. Kalimat-kalimat itu seolah merembes perlahan ke relung hatiku yang sempat mengeras. Semakin diulang, semakin masuk. Aku bangkit dan Menatap Langit lalu sedikit bergumam kepada Sang Alam Semesta.

“Terima kasih Tuhan Atas apa yang kau berikan kepadaku. Walau berat untuk menerima, tetapi aku tau ada jalan yang indah yang kau janjikan untukku.” Hanya itu yang ada di hatiku sekarang. Aku tersenyum dan akhirnya tertawa sendiri. Ada perasaan yang menggelitik di dalam otakku. Seperti sudah lama sekali tak tertawa seperti ini.

“Bodohnya aku……, bodohnya aku…!”.  Aku kembali tertawa.

Apa yang terbaik bagi kita belum tentu baik di mata Tuhan. Dan sebaliknya yang terbaik di mata Tuhan belum tentu menjadi pilihan kita. Pria jadi wanita, wanita jadi pria, takdir yang tak di kehendaki, dan banyak lagi contoh nyata yang bisa kita lihat dengan mata telanjang. Perlu ada keberanian untuk menembus batas nadir itu. Seperti halnya aku, tak pernah berpikir hidup dengan keadaan begini.”

— Selesai.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (16 votes, average: 9,31 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Kusnadi El-Ghezwa
Mahasiswa S1 Universitas Talimul Alim,Tanger, Maroko.

Lihat Juga

Ilustrasi. (Rudi Trianto)

Saking Cintanya Kepada Nabi, Inilah Mahar yang Diminta Calon Mertua di Yordania