Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Peka “Menyeka”

Peka “Menyeka”

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (kawanimut)

dakwatuna.com Mengerti keadaan orang lain tanpa menuntut dimengerti oleh orang lain merupakan barang langka dewasa ini. Itulah esensi sesungguhnya dari sebuah “kepedulian”. Tapi itulah realita di depan kita, tak bisa hanya dan terus pura-pura buta dengan menutup mata. Harus ada solusi yang diberikan untuk meminimalisir terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Mencegah lebih baik dari pada mengobati. Mungkin ungkapan tersebut mampu mewakili apa yang harus kita lakukan untuk segera menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada.

Dakwah merupakan siklus yang terpola. Sejauh “mengenalnya” saya kerap masih bertanya pantaskah saya berada pada jalan yang indah ini? Seiring berjalannya waktu saya juga sedikit “mencuri” sensasi dari jalan ini. Ternyata, dakwah bukanlah jalan yang mulus. Dakwah bukanlah jalan yang bertaburan bunga. Dakwah bukanlah jalan glamour dengan lapisan karpet merah. Dakwah bukanlah… bukanlah… tapi dakwah adalah… adalah… indah! (Terlalu serius? okelah)

Hmm, (kembali ke permasalahan). Permasalahan yang terjadi dalam jalan dakwah bisa muncul dari berbagai aspek; internal (kader, rekrutmen, ri’ayah), eksternal (harakah lain misalnya, birokrat…) deesbe.

Kita kerucutkan saja yuk. Ketika diskusi personal, internal, eksternal bahkan nasional (saat sarasehan di UGM) permasalahan-permasalahan LDK ternyata tidak jauh berbeda (bahasa yang rada kerennya mungkin universal). Lagi-lagi tentang kader yang muntaber (mundur tanpa berita).

Hal ini tentu menjadi perhatian khusus bagi kita. Bagaimana kemudian formula-formula yang harus diramu agar mampu memberi solusi terbaik. Satu hal yang harus kita pahami bersama bahwa kemunduran seorang kader dakwah adalah bagian dari sunnatullah. Tapi apakah kemudian hal itu menjadi apologize bagi kita untuk tidak ikut andil member solusi? Tidak ikhwah fillah!

Kader bukan hanya “mainan” kaderisasi, termasuk di dalamnya ri’ayah, keaktifan deelel. Kita juga punya kewajiban dalam hal tersebut, tentu dengan porsi yang “sesuai kadarnya”.

Bagi kita yang diamanahi sebagai mentor sudah barang tentu bertanggung jawab terhadap para menteenya. Kemudian antuna yang diamanahi sebagai Kabid dan kabir juga bertanggung jawab terhadap stafnya.

Sejauh ini memang belum terjalin komunikasi yang baik antara elemen-elemen tersebut. Kepahaman untuk saling menjaga pun belum menelusup ke dalam setiap relung jiwa para kader (menampar diri sendiri, astaghfirullah). Misal: staf kagak aktif, tuh kabid/kabir masih biasa-biasa saja. Maklum, lagi-lagi maklum.

Apakah hubungan kabid, kabir dengan stafnya hanya berkutat tentang amanah saja? Syura, koordinasi, konsolidasi dsb hanya itu? Pernahkah/sudahkah ada pendampingan khusus terhadap staff-staff tercinta kita?

Pernahkah kita menyempatkan sms, telepon atau sekedar bertanya: akhi sudah makan? Sehat? Gimana tilawahnya? (Ikhwan). Ukhti sudah makan? Sehat? Gimana tilawahnya? (akhwat). Jika belum apa yang membuat kita ragu untuk melakukannya? Karena pada dasarnya aktivis dakwah pun seorang manusia biasa yang terkadang salah dan khilaf. Menurut Abraham Maslow manusia mempunyai beberapa kebutuhan yang harus di penuhi. Tidak hanya kebutuhan fisiologis tapi juga kebutuhan akan perhatian, kasih sayang, pengakuan. Ini yang mungkin sering luput dari nalar kita.

Banyak kemudian kader-kader yang mundur dengan berbagai alasan. Futurtinular, sindrom cenat-cenut, am (amah) nesia, muntaber akut. Beberapa penyakit tersebut hanya bisa teratasi dengan kedekatan kita denganNya. Tapi kemudian Allah tidak serta merta mengingatkan kita (walaupun tidak semua) bisa juga lewat “perantara”. Di sanalah mungkin Allah mengirim kita untuk memberikan solusi bagi saudara-saudara kita yang sedang menghadapi berbagai kemelut kehidupan (dramatugis).

Maka tips untuk meminimalisir terjadinya kemunduran-kemunduran kader masing-masing dari kita harus PEKA “MENYEKA”. Saudara/i kita sangat mengharap lambaian lembut telinga kita untuk mendengar keluh kesahnya (asal jangan Ngeluh terus-terusan, nggak baik juga. Kayak bukan kader tarbiyah ajah^^ Kader Tarbiyah PANTANG MENGELUH “jargon santri Daarut Tauhiid”). Mereka menunggu uluran semangat kita untuk menopang segala kepayahannya. Menyeka dengan tulus buliran bening yang menetes di pipi saudari kita merupakan salah satu jalan untuk mengajaknya “pulang”. Bismillah, siapkan diri PEKA “MENYEKA”, menjadi pendengar yang baik, saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran (QS. Al-Ashr: 3). Wallahualam bish shawab. Kebenaran dari Allah semata. Kesalahan timbul dari kebodohan saya yang lemah dan papa. Astaghfirullah aladziim.

Salam inspirasi.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 9,40 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Aktif di Lembaga Dakwah Mahasiswa UIN SGD Bandung dan KAMMI UIN SGD Bandung, Lembaga Pers Mahasiswa, kuliah Jurusan Jurnalistik 2009, aktif menulis juga di koran nasional Media Indonesia, anak ketiga dari tiga bersaudara, asal Ciamis Jawa Barat.

Lihat Juga

ilustrasi (inet)

Tentang Kader dan Wajihah Kita