Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Please Murabbi, Pahami Kami!

Please Murabbi, Pahami Kami!

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.comKatakan saja kami futur jika apa yang kami sampaikan ini dianggap melenceng dan tidak sesuai dengan paham dakwah jama’ah selama ini. Sebut juga kami gila jika tulisan ini dianggap lancang atau kurang ajar lantaran telah menyinggung beberapa pihak yang mungkin sebagian para pembacanya merasa dibicarakan di tulisan ini. Untuk itu, kami mohon maaf dari awal jika ada kata-kata yang kurang berkenan. Karena… karena… Aaarrgh! Kami sudah tidak tahan dengan semua ini!!!

Sebetulnya kami tidak marah, hanya menyayangkan saja. Karena bagaimanapun, kami yang notabene aktivis dakwah yang punya banyak amanah (bukannya sombong, pen) ini, memerlukan penguatan untuk tetap dapat kuat menapaki jalan kebenaran ini. Kami bukannya robot tak berhati yang setiap hari dituntut untuk memperhatikan umat, mengurusi segudang kegiatan dakwah, memikirkan perbaikan orang banyak, tanpa perlu perhatian. Untuk itu kami memerlukan penguatan! Dan adanya halaqah itulah yang kami harapkan dapat menjadi penguatan kami selama ini! Namun bagaimana itu bisa terjadi, jika kondisi halaqah kami sekarang tak lebih kegiatan pekanan yang isinya setor wajah dan formalitas belaka. Kering! Tak ada greget-gregetnya. Evaluasi tak ada; Motivasi untuk meningkatkan hafalan juga kurang ditekankan, atau malah tidak berjalan; Murabbi dan teman-teman juga sering kali datang terlambat, dan itu biasa! Pelatihan amal tidak diterapkan; Penugasan juga jarang-jarang. Setiap pekan begitu-begitu terus! Datang-duduk-dengarkan-pulang.

Apa hanya itu halaqah yang kami cari? Tidak! Kami inginkan halaqah yang benar-benar memberikan ketenangan dan kenyamanan di hati kami. Namun apa yang kami dapatkan? Rutinitas monoton yang membosankan, terlalu banyak ketawa dan bercanda (apalagi yang kader-kader genit ngomongnya cuma soal nikah melulu, pen), kontrol dan perhatian Murabbi yang kurang, hingga kondisi terlalu stagnan selama ini membuat kami berpikir kembali, apakah ini yang disebut halaqah?

Kami jadi ingat tentang sejarah yang membawa kami pada tarbiyah. Di mana saat itu, kala masa sekolah, sebelum mentoring di mulai, mentor kami menanyakan kabar kami. Kalau di antara kami ada yang sakit, dirinya cekatan mengusulkan untuk segera membesuk. Kalau ada yang pacaran, rona wajahnya berubah pias, seolah begitu menyayangkan langkah kami yang keliru tersebut. Lepas dari itu, tegur sapa yang menyenangkan tak pernah lepas dari pribadinya, hingga kami berpikir, apakah dirinya tidak lelah selalu menyungging senyum untuk kami? Terlebih ketika berdoa, memperkenalkan doa rabithah, dirinya begitu khusyuk, membuat hati kami merasa teduh dan larut karenanya.

Bahkan kami pun begitu senang dibuatnya, hanya karena mentor kami kerap membawa makanan kecil dan minuman untuk kami santap. Ah, tahu saja dia kalau kami selalu lapar sepulang sekolah. Hehe. Terlebih, kalau di antara kami ada yang ulang tahun, dirinya paling bisa ambil hati kami dengan kejutan-kejutan hadiah yang ia bawa. Hehe, lucu sekali kalau ingat itu. Apalagi sekarang kami tahu, bahwa makanan, minuman, dan hadiah yang ia berikan ternyata adalah taktiknya untuk mengambil hati kami, agar semata kami tetap betah ikut mentoring. Ya, boleh jadi itu taktik. Tapi tentang ketulusan dan kejujurannya, hati kami dapat merasakan itu.

Maka itulah yang kami butuhkan sekaligus rindukan pada halaqah kali ini, yakni kenyamanan dan ketenangan yang kami rasakan. Orang-orang bilang halaqah itu lebih tinggi levelnya dari mentoring. Tapi kenapa yang levelnya lebih tinggi ini malah berkurang soal keterikatan hatinya? Kami khawatir, jika ini diteruskan, banyak di antara dari kami yang kecewa dan akhirnya memutuskan untuk berhenti tarbiyah.

Kami merindukan halaqah yang memberi kesejukan. Betapa kami mengharapkan segala rasa ‘panas’ dan lelah yang menempel di tubuh kami akibat segudang aktivitas dakwah kami selama ini, dapat segera luruh dengan teduhnya nuansa halaqah yang kami dambakan, sehingga selepas kami halaqah kami membawa spirit baru untuk berjuang kembali. Bukankah dulu kami diajarkan bahwa halaqah adalah charger yang membuat ‘baterai’ keimanan kami terisi kembali? Tapi apa nyatanya sekarang? Bukannya dibuat tenang, tapi malah pusing melihat kondisi halaqah yang semrawut. Boro-boro curhat tentang masalah pribadi atau persoalan dakwah ke Murabbi, hadir dan tanya kabar para Mutarabbi saja jarang. Bahkan, bilang terima kasih setelah diberikan hadiah saja enggan! Tidak percaya? Ya, sekiranya itulah yang pernah kami rasakan. Miris, bukan?

Kami heran, apa jadinya Murabbi yang tidak tahu minat dan bakat para binaannya? Jangankan itu, kesibukan dan sifat-sifat menonjol para binaannya saja tidak tahu! Kalau seperti ini, bagaimana gerak dakwah akan bagus? Tak perlu bicarakan kemenangan dakwah yang besar kalau ngurusi halaqah saja tidak becus! Apakah benar ini refleksi jika halaqah tidak dibangun dengan sepenuh hati, alhasil kami pun menerimanya dengan hati yang separuh? Entahlah…

Malu kami kalau ingat sudah tua begini, tapi juz 30 saja belum hafal. Kami sadar, itu memang harus dengan kemauan pribadi dan azzam yang kuat. Tapi kami pun butuh disemangati dan dibimbing ketika kami lemah. Kami perlu diarahkan ketika kami lupa. Kami butuh di-iqab ketika kami salah. Kami juga perlu diapresiasi (meski bukan materi, pen) ketika dianggap baik. Menjadi aktivis dakwah bukan berarti menjadikan kami tidak butuh perhatian itu semua. Kami pun malu kalau punya kebiasaan terlambat sekarang ini. Tapi bagaimana lagi, Murabbi yang seharusnya mencontohkan pun kerap datang terlambat tanpa alasan yang tepat.

Di satu sisi, amanah kami sebagai kader dakwah mengharuskan kami lebih ekstra memperhatikan orang-orang di sekitar kami, baik itu sesama kader, maupun yang bukan kader, untuk kami dakwahi. Tapi di lain sisi, kami pun perlu didakwahi. Hati kami menangis, kala mengetahui kelemahan kami sebagai manusia biasa ini yang juga perlu diperhatikan, diberikan sentuhan lembut, dan juga dimengerti segala kelemahannya. Kami bukan robot yang hanya dirusuh mengerti tanpa pernah dimengerti! Kalau semua ingin dipahami, lalu siapa yang memahami kami? Hey, kami ini juga manusia! Perlakukan kami sebagai manusia. Bukankah esensi dakwah dan tarbiyah adalah memanusiakan manusia? Maka perhatikan kami. Penuhi hak-hak kami. Minimal, hak halaqah kami sebagai Mutarabbi. Hak untuk didengarkan, diperhatikan, dikontrol, diarahkan, dan termasuk hak untuk mendapatkan teladan yang baik dari mereka para Murabbi!

Sebut saja kami melankolis atau terlalu cengeng dengan mengatakan ini. Toh, kami yakin mereka yang mengejek kami seperti itu juga tak terlepas dari kebutuhan untuk mendapatkan ketenangan dan kenyamanan ini. Mengapa kami katakan begitu? Karena itulah yang kita butuhkan sebagai manusia, khususnya seorang kader dakwah, yakni ketenangan dan kenyamanan dalam halaqah!

Sedikit bukti, orang-orang menikah bukanlah untuk dapat keturunan dan kekayaan. Kalaupun dapat, itu hanya bonus saja! Sudah pasti yang pertama dicari adalah ketenangan dan kenyamanan. Apa yang terjadi jika mereka tidak mendapatkannya? Sudah pasti keluarga akan banyak cek-cok dan berakhir tragis. Sekolah pun demikian, yang pertama dicari saat menentukan sekolah bukanlah mata pelajarannya, tetapi sekolah mana yang membuat kita nyaman dan senang. Karena kalau tidak nyaman dan senang, jangankan ilmu bisa terserap, niat untuk masuk sekolah saja bisa musnah! Seperti itu pula halaqah, bukan materi yang kami cari, tapi perhatian para Murabbi. Tak peduli bagaimana kapasitasnya, yang penting perhatian dan komitmennya untuk membina saja  sudah cukup. Itulah yang membuat kami merasa betah. Karena itu yang kami butuhkan.

Bukti lain. Kali ini, mari kita berpikir ekstrem. Pernahkah kita memikirkan secara mendalam relevansi eksistensi halaqah selama ini? Mungkin kita menjawab dari segi keilmuan, dari tidak tahu menjadi tahu. Karena Islam ini membutuhkan kepemahaman dalam pelaksanaannya. Lantas, kalau sudah tahu ilmunya dan ibarat kata sudah jadi orang baik-baik dan faqih agama, apakah perlu kita halaqah lagi? Sebagian lagi mungkin menjawab bahwa halaqah tidak hanya bermaksud mencetak orang-orang saleh, tetapi juga yang dapat menyolehkan orang lain (berdakwah, pen). Oke, sekarang begini, kalau kita sudah saleh, ibadah sudah tekun, ilmu agama sudah ‘ngelotok’, dan aktif juga di berbagai kegiatan dakwah, apakah masih perlu kita halaqah? Coba renungkan selama ini, dan gali jawaban yang begitu kongkret, sehingga alasan kita halaqah menjadi kuat dan substantif! Kami yakin, segala kegersangan atau curhatan para aktivis dakwah tentang proses tarbiyahnya tidak akan jauh dari keluh kesah mereka tentang ketenangan dan kenyamanan! Pola pikir mereka dibentuk sedemikian rupa untuk pandai berdakwah, tubuh mereka ditempa untuk kuat beramal, tapi sangat disayangkan jika mereka kurang disentuh hatinya dengan cinta dan kasih sayang.

Spirit halaqah bukanlah terletak di baramij-nya (susunan acara), melainkan dari nuansa ruhiyah yang jarang kita rasakan selama ini. Ruhiyah itulah yang membuat kita nyaman dan tenang. Kenyamanan dan ketenangan inilah yang kita perlukan. Sekali lagi, kenyamanan dan ketenangan! Mari simak penggalan hadits arba’in yang ke-36 ini: “Tidaklah suatu kaum berkumpul di suatu rumah Allah (masjid); membaca kitab Allah, dan mempelajarinya bersama-sama, melainkan akan turun kepada mereka ketenteraman, rahmat Allah akan menyelimuti mereka, dan Allah akan memuji mereka di depan (para malaikat) yang berada di sisi-Nya.” [HR. Muslim]

Lihatlah, bukankah hadits ini begitu akrab dengan situasi halaqah? Maka ketika tidak ada ketenteraman, ketenangan, dan kenyamanan dalam halaqah, maka boleh jadi selama ini ada yang salah dengan proses halaqah kita, dan itu perlu segera diperbaiki! Mungkin sekiranya inilah yang menjadi koreksi kita, bahwa apabila seluruh pelaku tarbiyah (halaqah, pen) memahami makna tarbiyah dengan baik dan menjalankan hak dan kewajibannya masing-masing, niscaya proses dan output tarbiyah itu akan baik sebagaimana mestinya. Begitu pula dengan Murabbi, kalaulah mereka menjalankan peran dan fungsi mereka sebagai guru, orangtua, pemimpin, dan sahabat dengan baik, niscaya impian dan target capaian halaqah akan tertunaikan dengan baik. Bahkan kami yakin, para binaan mereka akan sangat bersedih jika ternyata harus ditransfer ke Murabbi lain!

Ah, semoga yang kami rasakan ini hanya potret minoritas belaka. Kami menyampaikan ini guna sebagai muhasabah saat kami membina, juga mereka yang saat ini sebagai pembina (Murabbi, pen). Semoga tercipta perbaikan dan kebaikan. Kami sangat menantikan saat di mana para Mutarabbi dengan senang menjalankan kewajibannya karena mendapatkan haknya, sementara para Murabbi pun dengan bahagia menuntut haknya karena telah melunasi kewajibannya.

Allahu a’lam…

Didedikasikan untuk seorang sahabat yang sedang mencari penguatan.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (102 votes, average: 8,95 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Deddy Sussantho
Mahasiswa Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Staf Ahli Kaderisasi Lembaga Dakwah Kampus Syahid UIN.
  • DHANI WU

    saya brharap punya mutarobbi spt antum …Aamin

  • Dewi Rohayati

    Saya selalu membaca tulisan-tulisan adik, padat makna…ringan & menarik. Moga pujian ini tidak melalaikan antum. Keep istiqomah…SEMANGAT! JazakumuLLAH khoir…

  • anggoro winindito

    Emang antum diapain aja akh ? Tidak ditanya kabar seperti apa ? Tidak dihargai karena telah memberikan hadiah seperti apa? Tidak didengarkan seperti apa? Tidak dikontrol seperti apa ? Tidak diarahkan seperti apa? Tidak mendapatkan teladan seperti apa ? Tidak diiqob seperti apa ? Tidak dievaluasi seperti apa? Tidak diapresiasi seperti apa ? Tidak suka melihat murobbi yang datang telat tanpa alasan yang jelas kenapa ?

    Kok antum curhat banyak banget seperti bukan datang dari satu orang penulis saja, namun datang dari banyak orang ?! Seperti anak hilang atau orang yang sangat dizalimi sekali ! Halaqah antum sepertinya hancur lebur disiplinnya dan hancur lebur pula Murabbinya !

    Antum kalau ingin complain yang fokus donk akh. Mana dulu yang antum inginkan ?
    Tapi sebelum kesana mohon di jawab dulu pertanyaan-pertanyaan di atas.

    • syukur dan sabar

       namanya juga menulis untuk bahan renungan, diambil hikmah dan nasehatnya saja akhi…bukan malah “dihakimi” . Mungkin gaya seperti ini yang bikin banyak orang jadi “jengah” dalam tarbiyah. Mau evaluasi jadi enggan. Nggak evaluasi jadi “beban”. tulisan ini kan cambuk dan cermin bagi kita semua… agar menjadi lebih baik…

      • anggoro winindito

        Mas…sing sabar jawabnya Mas ! Saya hanya berusaha mendeskripsikan masalah, satu persatu. Jangan di tumpahkan semua seolah-olah Murobbi itu pihak yang sangat bersalah ! Saya juga pernah mengalami hal seperti Mas. Tetapi saya masih bersyukur. Mungkin 1/2 atau 1/4 dari masalah antum. Alhamdulillah masalah itu bisa di atasi perlahan-lahan berkat kedewasaan kita-kita.

        Sebenarnya kita kembali lagi ke niat kita ketika berhalaqah. Antum ingin mendapat sesuatu atau antum ingin memberi sesuatu ? Mungkin ketika keduanya sudah pada porsinya maka antum akan merasakan keamanan dan kenyamanan.

        Dulu saya sempat merasakan “Wah ustadznya… kurang mantep niy materinya ! Kurang dalam, materinya terkesan acak. Tidak ada Materi Ushul Fiqhnya. Tetapi ujung-ujungnya, hehe, saya malah merasakan kenikmatan Teh dan Makanan yang di hidangkan oleh Ustadz dan teman2. Juga cerita2 dari Ustadz. Yah, walau emang telat mulu datangnya kita-kita, walau amalan yawmian tidak terevaluasi, walau yang lain-lain masih banyak kekurangan dari keidealan sebuah halaqah… Tapi ! Silaturahim itu indah akhi…

        Mungkin teman-teman antum belum cocok kali dengan antum…. antum sekali marah-marah langsung dahsyat ditumpahkan semuanya sejadi-jadinya, seperti di tulisan ini !
        Sing Sabar akh… sing sabar…

  • semoga bisa menjadi bahan utk muhasabah, sebagai murobbi ataupun mutarobbi..

  • Terus terang saya cukup kaget dengan artikel ini…begitu banyak pertanyaan-pertanyaan dan keluhan-keluhan….saya jadi teringat tentang satu artikel dan Insya Allah di Dakwatuna juga…Afwan, saya lupa judulnya tp intinya bahwa ketika kita merasa halaqah kita gersang, tdk semangat maka marilah kita intropeksi diri, mungkin saja yaumian kita sendiri yang tidak bagus, mungkin saja kita sendiri yang tidak melaksanakan agenda halaqoh, mungkin saja kita sendiri yang tidak mencapai target2 kita sendiri sehingga giroh itu hilang dalam halaqoh…
    Dan tentang tujuan Tarbiyah/ halaqoh???itukah tujuan kita halaqoh selama ini???
    ingin mendapatkan kenyamanan??? ingin diperhatikan??? Terus terang saya baru tahu itu, yang saya tahu adalah Halaqoh adalah salah satu sarana tarbiyah untuk lebih dekat kepada Allah, untuk mendapat ridho Allah sehingga ketenangan dan kenyamanan itu muncul dengan sendirinya, ketika kenyamanan dan giroh itu tidak ada maka sekali lagi mari kita bermuhasabah,  mari kita melihat lagi, apa sebenarnya NIAT kita ber HALAQOH??? Mungkin ada yang salah sehingga kenyamanan itu tdk muncul lagi…
    dan tentang Murabbi….Seperti hanya Mutarabbi, Murobbi pun adalah manusia biasa, mereka tidak luput dari salah dan khilaf dan tidak sesempurna dengan syarat2 murabbi yg ideal. Pernahakan kita sebagai mutarabbi berpikir bhw “Murabbiku memiliki begitu banyak masalah, baik itu masalah di kantor/kerjaan, masalah dakwah, dan dalam keluarganya, Pernahkah kita berpikir seperti itu???” Pernahkah kita berpikir bhw ketika mereka tidak seperti biasanya, mungkin mereka punya banyak masalah yang terpendam sehingga beliau seperti itu…Terkadang sebagai mutarabbi, kita hanya ingin tahu bahwa Seorang Murobbi yang bagus adalah seperti ini dan seperti itu, tp kita tidak pernah berpikir tentang kondisinya, tentang keadaannya…
    Dan tentang Halaqoh, saya teringat kata seorang ikhwah bahwa tidak sama perlakuan murobbi kepada mutarabbinya yang sifatnya pemula dan muda…ketika masih pemula maka mereka memang masih harus dituntun dan diajarkan tentang urgensi tarbiyah ini, karena mereka memang masih buta di tarbiyah ini tapi ketika sudah muda, maka diharapkan kader itu sudah produktif, dianggap mereka sudah tahu urgensi tarbiyah itu sendiri jadi tdk hrs diperlakukan sprt kader pemula…
    Afwan sebelumnya, saya tidak bermaksud untuk mengatakan bhw “org2 yg merasakan ini” adalah cengeng, sama sekali tidak. wajar hal itu terjadi karena kita memang adalah manusia biasa. Hanya saja, mari kita sama2 bermuhasabah dan kembali memperbaiki NIAT kita berada dalam jalan dakwah ini dan kenapa kita berHalaqoh…Ketika niat kita murni untuk mendapat RidhoNya, maka kita tidak akan pernah kecewa atau sakit hati dengan keadaan sekitar, baik itu dari sikap murabbi, teman halaqoh ataupun teman seperjuangan, maka itu tidak akan menyurutkan langkah kita di jalan ini karena niat kita memang hanya untuk mendapatkan Ridho Allah SWT…oleh karena itu, kita diharuskan menjaga tarbiyah dztiyah kita karena itu juga sangat penting…Wallahu’alam…
    Dan saran mungkin untuk yang merasa seperti ini, cobalah dikomunikasikan dengan murabbinya agar halaqohnya bisa diperbaiki dan bisa benar2 menjadi cash untuk kita, jadi tidak kering gersang …
    Afwan jika ada salah

  • persis cerita adek asrama semalem yg mengeluhkan tentag MRnya…
    nasihat saya, husnuzhan dengan murabbiyah mu de… 
    saya pernah merasakan demikian, tapi sya bertekad, ber’azzam, binaan, mutarabbi saya ndak boleh merasakan hal yg sama.. mungkin sya kuat dg MR yang cuek.. tapi binaan kita belum tentu… so, keep husnuzhan dan husnuzhan karena ia tingkatan ukhuwah terendah… ya muqallibal quluub, tsabbit quluubanaa ‘alaa da’watika…

  • ikhwah

    anggoro winindito>so jadi org paling sholeh aja lu,,,,biasa aja kali, org cuma curhat

  • ngomong langsung aja….. jantan dikit lah ,, antum itu ikhwah bukan?? begianian aja ampe curhat,.. malu atuh,.. ngomong langsung lebih enak, dan akan langsung di tanggapi MR antum,.. sekali lagi JANTAN DIKITLAH< ANTUM IKHWAH KAN?

    • anggoro winindito

      Serem amat gbr profilenya mba !
      Ga masalah curhat hal seperti ini. Ikhwah itu manusia kan ?

    • narin2211

      Saya berkhusnudzon bahwa yang bersangkutan sudah menyampaikan hal ini kepada murabbi nya. Tradisi menuliskan gagasan bukan sesuatu yang buruk. Saya justru mengintrospeksi diri setelah membaca tulisan ini. Menulis adalah berbagi/sharing. Dan saya bersyukur sudah membaca ini. Mari kita sama-sama berlomba dalam berbuat kebaikan, fastabiqul khoirot ^__^

    • hahahaha..
      kok malah dipertanyakan?? justru harus diperhatikan, jangan malah dikucilkan, dakwah kok saling mengucilkan????
      Manusia memang banyak yang MERASA BISA, tapi amat sedikit manusia yang BISA MERASA !!!!!!

  • catur edi gunawan

    ini yang buat tulisan udah punya binaan belum ya? atau hanya mencari kenyamanan dalam liqo-liqo pekanan. padahal kan generasi rabbani itu yang mereka yang mengajarkan dan mempelajari Al-qur’an.

    • dakwah itu butuh teladan. dakwah tanpa teladan, omong kosong!!
      ciri khas orang sombong adalah meremehkan segala sesuatu yang dianggap kecil, padahal hal kecil itu adalah penting dalam dakwah, adalah perasaan. semua diawali dari hati/ panggilan, bukan sebuah aktifitas / rutinitas semata.
      seorang murabbi disarankan untuk mengelola 1 kelompok kecil orang untuk belajar dakwah dan fokus didalamnya, daripada banyak mengelola  beberapa kelompok tapi tidak ada yang fokus.

  • syafina kharisma

    memang Allah punya banyak cara untuk menguji hamba-Nya. dan syetan punya banyak strategi untuk menjauhkan manusia dri cahaya Illahi… jdi ingat hadist tirmidzi yang membuat Murabi ikhlas pada mutarobi dan mutarobi yang tidak bergantung pada murabi “…jika suatu umat bersatu padu untuk memberikan kebaikan kepdamu niscaya mereka tidak bisa kecuali apa yang telah Allah tuliskan bagi mu” walaupun murobi qta pakai cara se”subhanallah” apapun untuk menyentuh hati qta tapi kalau Allah memang menahan sentuhan itu Insyaallah Halaqoh akan tetap kering bagi qta… sedangan ketika memang Allah mengkaruniakan hidayah bagi qta insyaalah bahwa senyum sang  murabi akan merasuk di hati… jadi sudah ya jangan menyalahkan murrobi lagi…lebih baik berdoa pada Allah untu memberikan ketenangan pada hati qta. wallahualam

  • Hati2 bikin artikel bertema beginian. Alih2 malah dijudge kader manja, kader futur, kader lemah, dll, dsb, etc. Saya faham banget orang2 (pembina) yg berkarakter men-Judge- menyalahkan dan memojokan bahkan mengusir secara halus binaan dari halaqohnya. Ga nyangka, seorang pembina bisa berprilaku dan bertutur kata bak orang tak beradab.

  • muktigigit

    Kalau ana ingin berpendapat. Ane juga pernah mengalami hal serupa yang al akh di atas tulis. Tetapi, halaqah atau tarbiyah ini mengantarkan kita kepada pribadi yang sholeh. Sehingga siap menyolehkan pribadi-pribadi yang lain. Bagaimanapun kondisi halaqah kita. Pribadi yang sholeh tidak tergantung banyak kepada manusia. Terlebih murobbi. Satu-satunya termpat bergantung hanyalah Allah dan murobbi tempat kita ‘mencuri’ ilmu yang ia miliki. Setiap rangkaian halaqah yang antum jalani, semua memiliki hikmah. Tidak ada satupun (menurut ana) yang sia-sia dalam halaqah yang kita jalani. Sekali lagi, bahwa halaqah kita atau tarbiyah kita ingin mengantarkan kita pada pribadi yang sholeh dan menyolehkan. Kalau merasa gersang dengan kondisi halaqah antum. Maka bicarakan baik2 dengan murobbi antum. Siapa tau beliau berkenan dan akan melakukan penyegaran. Semoga kita tetap istiqomah dalam menimba ilmu2 Allah dan istiqomah di jalan dakwah ini.

  • untuk bahan intropeksi para murabbi dan mutarabbi….
    sangat berharap, artikel ini tidak membuat para mutarabbi merasa ini sangat benar, dan lantas menyalahkan murabbinya. dan bukan berarti pula, murabbi tidak perlu memperhatikan hal2 ini….
    Terima kasih kpd penulis…
    salam ukhuwah!

    •  sepakat sekali dengan komentar ini.
      salam ukhuwah. tawazun itu indah.

  • jazakallah khair atas artikelnya, membuat saya introspeksi… memang hal-hal kecil kadang diremehkan…

  • Kita Tarbiyah Bukan karena Murobi, Tapi kita tarbiyah Karena Allah…tidak akan pernah kita menemukan Murobi yang sempurna kalau kita tarbiyah hanya mencari Murobi…mari luruskan niat kita kalau tarbiyah hanya untuk Allah, InsyaAllah hal seperti ini tidak akan terjadi

  •  Antum mungkin merasakan kegundahan dalam hati tentang murabbi dan semangat dalam berdakwah afwan ane sangat memahami sebagai kader dakwah semua memerlukan perjuangan dan pengorbanan karena kalau kita tak diuji tidak akan bertambah iman kita ane pernah membaca tulisan seorang yang gundah dengan jamaah yang intinya ingin keluar dari beban dakwah kira-kira begini ceritanya ibarat sebuah kapal dilaut lepas yang tak tau dimana ujung pantainya ,kondisi kapal yang berlobang dan bocor serta layarnya bolong-bolong dan dihempas ombak bertubi-tubi didalamnya orang merasa cemas dan khawatir dengan kondisi kapal yang khawatir tenggelam dan berusaha bahu membahu memperbaiki dan menempel kapal yang bocor supaya tidak tenggelam apa antum tidak mengambil bagian untuk membantu memperbaiki kapal atau dengan jalan pintas terbebas dari beban semua dengan mencebur kelaut memang antum akan terbebas,tapi antum apa akan selamat mengarungi laut lepas dengan sendirian dengan keganasan ombak dan laut yang tak bertepi semoga menjadi renungan kita bahwa kita berjamaah ini kita tidak bisa menuntut untuk sempurna karena kesempurnaan milik allah dan kita saling menguatkan dan meluruskan niat kita yang kita lakukan dan kerjakan semua karena niat kita ingin beribadah kepada allah semoga kita saling menguatkan dan ISTIQOMAH di jalan allah.

  • Agung Nugraha

    sama seperti yang saya rasakan….

  • yang seharusnya adalah halaqah itu ada take and give yg seimbang. mutarabbi juga jgn terlalu byk menuntut. 

  • Saudaraku, senang sekali membaca komentar-komentar atas tulisan ini. Semoga kita dapat tetap berhusnudzon terhadap apa-apa yang kita rasakan, sehingga hati kita tidak tertutup dari hikmah yang ada. Terkadang kita perlu membuat jarak antara bacaan yang kita baca, sehingga peran kita sebagai pembaca menjadi proporsional adanya.

    Saudaraku, tulisan ini sengaja dibuat sebagai muhasabah penulis pada khususnya, dan para pembina pada umumnya. Karena ini bukanlah qodoyah penulis secara utuh, tapi hasil akumulasi dari ‘qodoyah-qodoyah’ yang pernah penulis temukan secara langsung. Itu sebabnya penulis menyebut dirinya dengan kata, “kami”, bukan saya atau aku. Mari kita renungkan paragraf terakhirnya. Karena di situlah poin utamanya. :)

    Saudaraku, penulis lebih mengharapkan komentar-komentar yang optimis-konstruktif, yang mana
    dapat menjadi pelipur gejolak atas emosi di tulisan ini. Karena sengaja penulis tidak
    menyantumkan solusi dan lebih
    memperbanyak qodoyah di tulisan ini agar tidak membuat rancu sudut
    pandang kepenulisan. Ini adalah teknis menulis. Dan kalaupun ada di antara pembaca yang terpancing, sepertinya tulisan ini agak ‘berhasil’. :)Maaf Saudaraku, jika ada yang kurang mengenakkan pada tulisan ini. Semoga komentar-komentar yang ada dapat menjadi pelengkap, sekaligus penguat kita, siapa pun pembacanya. Karena itulah nikmatnya jama’ah, dapat saling mengingatkan ketika lupa, menguatkan ketika lemah, dan mendoakan untuk selalu dalam kebaikan. :)
    Allahu a’lam…

    – Salam ukhuwah, tawazun itu indah. :)

  • Dewi Rohayati

    Waktu AWAL_AWAL saya sedang semangat-semangatnya di thullaby, membina 3 halaqoh tamhidi dll…saya diuji ALLAH dengan halaqoh yang seperti itu selama DUA TAHUN (amal yaumi kurang terevaluasi, Mr & Mtr ngaret,sebulan cuma 2x LQ, Mr  menyampaikan materi tanpa persiapan, tanpa ilustrasi, hanya dibaca dari buku, jarkom & ta’limat macet, halaqoh tidak sehat, kedekatan dengan MR kurang, padahal biasanya saya dekat dengan Mr & Mtr) karena waktu itu keluarga MR sedang mendapat ujian berat…kami tafahum..kami empati. Kami juga tidak yakin apa reaksi kami/daya tahan kami jika diberi ujian seperti ujian hidup beliau. Apalagi beliau dulu adalah sosok ADS/ADK yang militan, murobbi yang muntijah, yang melahirkan binaan-binaan yang militan & kontributif.

    Saya sempat betanya2 sendiri, kenapa di saat saya banyak mengemban amanah dakwah & butuh untuk lebih dibimbing, MR saya justru sedang dalam kondisi down, yang tentu saja berpengaruh pd binaannya. TAPI, kemudian saya sadar, ALLAH ingin menguji saya/kami, mampukah saya istiqomah, sungguh-sungguh & berkontribusi di jalan dakwah ini??? Mampukah saya mengoptimalkan TARBIYAH DZATIYYAH???
    Memang beda-beda reaksi teman-teman hadapi kondisi ini. Pada akhirnya, saya memang dimutasi ke halaqoh lain yang semuanya orang thullaby. Tapi, tetap saja saya merasa…halaqoh yang kurang sehatlah yang telah MENEMPA saya.

    Inilah hikmah yang saya dapt selama diuji berada di halaqoh yang tidak sehat;
    1. Amal yaumi lebih ikhlas & mantap cz qt lebih mandiri dalam hal niat. Ga ada yang mengingatkan & menasihati pun tetep tilawah 1,5 juz/hari, tahajjud setiap hari dll coz qt sndiri sebagi murobbi ingin kuat secara ruhiyah, ingin kata-kata kita membekas di hati Mtr kita, jadi apa pun yang terjadi dengan Mr qt, halaqoh qt…show must go on.
    2. Silaturahim lebih luas. Sering kali ketika ada acara jamai kami tidak tahu, bukan karena tidak diundang, tapi karena Mr lupa menyampaikan taklimat tsb/Mr sendiri jarang LQ Akhirnya qt jd sering kontak2 dengan yang lain, “Sabtu/Ahad ini ada acara jamai ga??”
    3.Tsaqofi lebih luas. Kan materi dari Mr kurang, akhirnya kita berusaha memperdalam sendiri, baca ini-itu (misal buku2 Sayyid Quthd, Musthafa Mashrur, Syafiurrahman Mubarofury, Qardhowy, Madah Tarbiyah  dll) yang belum tentu kita baca dalam situasi ketika halaqoh sehat, hehe…
    4. Jaga hati dari suudzon, dari berkeluh kesah, dari tidak sabar hadapi kekurangan orang lain & budaya instant (dari keinginan pindah ke halaqoh lain secarara illegal,hehe), walau awalnya berkeluh-kesah dll, tp cuma sebentar, …malu sama ALLAH & jamaah.
    5. Lebih “menatap ke depan & bervisi”. Melihat MR yang dulu seorang ADK militan & muntijah, setelah berumah tangga & beranak ternyata dakwahnya mulai kendor, saya jadi berfikir, “Nanti saya ga boleh sperti itu”…”Apa yang harus saya siapkan/mantapkan di masa lajang ini agar desperate’nya dunia RT tidak melalaikan saya dari dakwah?”
    ALLAHU a’lam
    DIAMBIL HIKMAHnya aja…Kata-kata klise memang

  • uthlubul ilma madal hayah…

  • tulisan antum bermanfaat,,, baik buat murobbi dan mutarobbi,,
    dan langkah selanjutnya adalah terus berproses memperbaiki diri, banyak belajar dan memberi, dan jgn banyak menuntut sama murobbi,,, “jgn kau tanyakn pd dakwah/jmah/mrbbi ap2 yg telh diberikn kepdamu, tpi tanyakn pd dirimu apa yg telh engkau berikn untuk dakwh/jmaah/mrbbi???” jazakallah…

  • to: admin dakwatuna
    saya minta tolong tulisan2 qodhoya semacam ini tidak diposting, tulisan itu lebih tajam daripada pisau belati bahkan peluru tajam sekalipun. sanjata hanya melukai jasad, tapi tulisan bisa mencederai fikrah dan ruh. saya berharap kepada para penulis dan pembaca untuk mendiskusikan qodhoya2 hati dalam saluran yang semestinya, tentu kawan2 paham dengan apa yang saya maksud, kecuali jiak memang ketsiqohan antara jundi dan qiyadah sudah hilang.
    syukran katsiraa

  • Brinsani Hasan

    memang terkadang keadaan membuat seperti itu, dengan berbagai latar belakang masalah yang ada. terkadang juga kita menempatkan diri kita diposisi yang benar (walaupun belum tentu benar), makanya kita akan menganggap yang lain adalah salah.
    murabbi itu manusia, mutarabbi juga manusia, itu memang benar. tapi perlu kita ingat juga,  Rasulullah itu juga manusia,  para sahabat juga manusia, para ustadz,  para da’i juga manusia.
    apakah cuma kita yang punya masalah???
    tidak akhi…
    semuanya punya masalah, bahkan orang yang paling berat masalahnya yaitu Rasulullah.
    dan sahabat sahabat Rasulullah pun juga merasakan beratnya beban yang di emban.
    mulai dari awal awal dakwah yang sembunyi, sampai hijrah, bahkan sampai peperangan, semuanya itu berat. tapi apakah Rasulullah putus asa dengan hal ini?? Tidak akhi… bahkan rasulullah mengobarkan semangat para sahbat untuk berdakwah, untuk beramal lebih baik, karena disaat keadaan susah, insyaallah ganjaran dari Allah akan lebih besar.

    baiknya begini akhi, kalau kita ingin halaqah kita ideal memang agak sulit, karena setiap kita punya persepsi yang berbeda.
    tapi saran saya, kita jalani saja semua sarana sarana tarbiyah.
    dan jangan lupa untuk selalu mengingat, mendengar, membaca,  tentang saudara saudara kita di belahan bumi lain, mereka benar benar terzalimi akhi, bahkan untuk ibadah kepada Allah saja mereka di halang halangi, apakah kondisi kita lebih buruk dari pada kondisi mereka ??
    tidak akhi !

    ya akhi, coba kita perhatikan orang orang yang bergelimang maksiat !
    apakah mereka tidak perlu kita perhatikan, jangan kita selalu berprasangka buruk, banyak dari mereka yang ingin menjadi seperti kita, mereka ingin shalat,  pandai baca al qur’an, mengerti dengan ilmu ilmu agama, dan ingin mempunyai keturunan yang baik baik.

    coba bandingkan dengan keadaan kita,
    ternyata kita jauh lebih baik, syukurilah ya akhi, insyaallah allah akan memberikan lebih banyak rezki pada kita, dan mudah mudahan kita termasuk orang yang dilindungi dan dimasukkan ke dalam Jannah yang telah dijanjikan oleh Allah.

    semoga bermanfaat.

  • Berlinang air mata saya membaca ini, semoga kita semua sadar, benar2 sadar….

  • bagus sekali…. jujur ,lugas,apa adanya…

    kayanya sekali-kali harus bikin tulisan curhat sang murrobi
    biar 1:1
    Jadi murrobi kadang juga ada futurnya..
    Murobbi futur, mutarrobi futur..
    tinggal nunggu liqonya bubar.. :)
    tapi kalo saya sendiri apappun tulisannya pasti ada pelajarannya
    #selalu menanti tulisan akh.Deddy berikutnya…
    ganbattekudassai…..!

  • teruslah belajar, tuntutlah ‘ilmu hingga kalian tidak dapat lagi merasakan manisnya gula di dunia ini.. ambillah ‘ilmu kpda orang orang yang ‘alim yang mereka senantiasa berbicara dengan lebih mengutamakan dalil dalil yang syar’i dari al qur’an dan assunnah serta di terangkan oleh penjelasan para ‘ulama yang tegak di atas assunnah.. dan janganlah kalian mengambil ‘ilmu dari orang orang pengikut hawa nafsu, berbicara dengan pendapat sendiri serta tidak menyandarkan sepenuhnya permasalahan kepada alqur’an dan assunnah.
    taqlid buta kepada seseorang dalam urusan agama ini tanpa mengedepankan dalil adalah kesesatan

  • dalam halaqoh jangan berharap minta diperhatikan kalau kita sendiri belum memperhatikan saudara/i kita satu halaqoh. jangan berharap hanya menerima kalau belum pernah memberi. jangan minta dipahami kalau belum pernah memahami.introspeksi diri jangan-jangan kita sendiri yang justru berkontribusi kenapa halaqoh kita menjadi seperti itu.

  • sepakat dengan komentar2 di atas
    jd bahan evaluasi
    saat jadi murabi : sesiap mungkn menjalankan tugas, persiapan ruhiyah terbaik. Modal utama adlh ruhiyah= amalan harian
    saat jadi mutarabi: Alhmdulillah kita dberikan kesempatan u banyak melatih diri, berdisiplin dgn tarbiyah dzatiyah :)

    tidak hnya 1-2 kali, sy mendpt hal spt di atas, tetapi itu mjdkan sy lbh kuat, dan harus tangguh dmnpun sy dtempatkan, shg betul mmg tarbiyah kita tarbiyah Allah, amal kita bukan krn MR, motivasinya adalah Allah. Tidak terpengaruh teman, halaqah, murabi dsb

    hidup indah mmg setelah mengenal tarbiyah, bgmnpun kondisnya, baik MR, rekan halaaqah dsb
    ujian di atas hny sebagian ujian dari keterikatan kita dengan Allah dan jalan dakwah ini

  • Semoga ridho Allah Swt. selalu menyertai kita semua,, amin,,,
    ilmu, iman , islam dan ikhsan…..

  • Hal di atas memang sepantasny dirasakan.karna? di dunia ini ada 2 sisi. baik-buruk, siang-malam.. semangat-down, iman kuat–iman lemah,dst…. oleh karena itu, jadilah insan mandiri yang tidak selalu menuntut tetapi ikhlas memberi. Jamaah itu sudah memang ada dari zaman Rasulullah, tetapi eksistensi ny berbeda sesuai pemahaman masing-masing.
    bagi ana pribadi, halaqoh itu sarana untuk evaluasi dan share di kelompok terkecil (kita seringkali menganggap keluarga yang terdiri kakak dan adik). di saat ortu kita tak mampu meng-evaluasi dan membina kita (mungkin, karna kesibukan masing2), nah… tentunya ungkapan terimakasih itu muncul dari penuturan kita.. krna apa? krn, sesibuk-sibukny beliau(murobi), ada waktu untuk meluangkan waktu berkumpul (walaupun di tulisan di atas, mengatakan liqo nya cuma 2x sebulan).

    tak ada salahny jika MR tak menghubungi kita.. tetapi kita yang awwalun menghubungi beliau. tak ada salahnya juga, jika MR tak lagi memperhatikan kita (mungkinperasaan aja kali, perasaan kita… MR kita cuek), kita justru yang memberi perhatian kepadanya…..
    “semakin sering kita MEMBERI, .. suatu saat orang yg kita beri akan membalas apa yg kita perbuat” …
    gitu menurut saya.
    jangan berlarut-larut sikap menjadi ikhwah manja.okeeeeee

  • zulkhaery

    Kritik yg sangat bagus buat para murobbi sekarang. Saya juga merasakan hal yg sama, tp tak ada masalah, karena lingkungan saya rata2 ikhwah semua. Bagaimana jika ada mutarobbi yg lingkungannya SANGAT bercampur baur, mudah sekali mundur teratur dari liqo.

    Ini bukan menuntut, tetapi dalam rangka mengoreksi supaya dakwah ini tetap jalan dan tidak ditinggal jamaah secara perlahan karena alasan sepele.

    Buat para ikhwah/at yg menyatakan bahwa jangan terlalu menuntut dgn murobbi, saya ingin sampaikan bahwa, ini bukan masalah tuntut menuntut, tapi lebih kepada menyelamatkan dakwah ini ! Kenyamanan itu naluri manusiawi. Mungkin bagi antum yg udah ‘matang’ tidak ada masalah dgn kondisi liqo yg gersang, tp bagi yg blm matang dan sedang berpproses ini sangat diperlukan. Bahkan dalam pandangan sayapun ada kader-kader matang yg mundur teratur dari liqo, apapun-lah alasannya. Coba saja antum data semua ikhwah yg antum kenal 3-5 tahun lalu, apakah semuanya masih bertahan menghadiri liqo atau ada beberapa yg sudah mundur perlahan-lahan ?

Lihat Juga

Sebuah liqa akhwat (hudzaifah.org)

Liqa Hari Ini