Home / Pemuda / Cerpen / Jangan Tutup Pintu (Hatimu)

Jangan Tutup Pintu (Hatimu)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Bunda sedang mencuci piring di dapur ketika terdengar suara pintu ditutup dengan keras. Belum sempat Bunda memeriksa ke depan, muncul Faiz dengan nafas tersengal.

“Kamu yang tadi menutup pintu, Sayang?”

Faiz hanya menjawab dengan anggukan. Raut wajahnya seperti orang ketakutan, membuat Bunda jadi penasaran.

“Ada apa, Sayang? Kok kamu seperti sedang ketakutan?” Bunda menghentikan kesibukannya, mendekat ke arah Faiz yang bersandar di bingkai pintu.

“Ada… orang… yang… mau minta-minta, Bunda” patah-patah Faiz menjelaskan.

“Ada orang yang mau minta-minta?” Bunda mengulang perkataan Faiz. “Kok malah kamu tutup pintunya?” Bunda jadi bingung.

Setelah menghabiskan segelas air putih yang diberikan Bunda, pelan Faiz menjelaskan bahwa saat bermain di rumah salah satu teman sekolahnya, ibu sang teman berpesan pada anaknya agar segera menutup pintu bila ada pengamen, peminta-minta atau pencari sumbangan datang. Menciptakan kesan seolah tidak ada orang di rumah hingga mereka berlalu, mendatangi rumah yang lain.

Tanpa bertanya mengapa ibu sang teman berpesan demikian, Faiz pun mengingat dan mempraktekkannya di rumah.

“Sayang, dengarkan Bunda ya. Kita memang harus hati-hati menerima tamu, terutama orang yang tidak kita kenal, belum pernah ketemu. Tapi bila yang datang adalah orang yang hendak menjemput sedekah, jangan lantas menutup pintu hanya karena kau tak mau berbagi rezeki dengan mereka. Justru tindakan seperti itu akan menyakiti hati mereka bila melihatnya. Sambutlah kehadiran mereka dengan ramah. Jika kau punya, berbagilah dengan mereka. Tidak harus selalu banyak, yang penting kamu ikhlas memberinya. Tapi bila tak ada yang bisa kau berikan, sampaikanlah dengan sopan. Katakan maaf karena kau tak bisa membantunya. Ini jauh lebih baik, dan insya Allah tak akan menyakiti siapapun.”

Faiz mengangguk. “Faiz minta maaf, Bunda”

“Ya sudah, sekarang kamu buka saja pintunya lagi. Bukankah kau masih ingin bermain di teras?” kata Bunda sambil tersenyum, mengacak lembut rambut Faiz.

Tanpa disuruh dua kali, Faiz segera berlari ke depan. Tapi semenit berikutnya ia kembali muncul di dapur, mengejutkan Bunda yang sedang meneruskan kesibukannya, mencuci piring.

“Orang yang tadi mau minta-minta sudah tidak kelihatan, Bunda.” Faiz melapor.

Bunda menarik nafas. “Ya sudah, mudah-mudahan di tempat lain ada orang yang memberi sedekah padanya. Tapi ingat ya, lain kali jangan langsung menutup pintu jika ada orang yang datang untuk menjemput sedekah. Kecuali kalau kamu mau bermain ke tempat temanmu, jangan lupa untuk menutup pintu. Kita memang harus waspada, jangan sampai menciptakan kesempatan untuk orang berbuat jahat, tapi jangan pula kewaspadaan kita menghalangi, menghilangkan kesempatan untuk berbuat kebajikan. Tutup dan kunci rumah rapat-rapat dari orang yang hendak berbuat jahat, tapi jangan tutup pintu rumah, juga hatimu dari kedatangan mereka, para penjemput sedekah.”

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (14 votes, average: 9,57 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Abi Sabila
Seorang pembaca yang sedang belajar menulis.

Lihat Juga

Ilustrasi. (plus.google.com)

Surat dari Seseorang yang Salah Meletakkan Cinta pada Sebuah Hati