Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Lentera Rinduku

Lentera Rinduku

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (nanaharmanto.wordpress.com)

dakwatuna.com – Penyesalan semakin besar ketika bulan itu datang dan mungkin itu adalah akhir atau juga mungkin itu awal dari perpisahan yang panjang.

Aku terhenyak. Dia ternyata sudah pergi dari hadapanku, namun senyumannya selalu ku ingat. Rasanya baru sekejapan mata aku mengenal dia tapi ternyata sekejap pula dia hilang dari hadapanku.

Tak ada yang sempurna di bawah kolong langit biru yang fana ini. Pagi itu disambut dengan kabut dingin. Dalam hangatan pelukan cintaNya diri ini menjadi hangat. Dari balik gunung Merapi matahari mengintip kemesraanku. Kicauan burung mulai mengiringi datangnya kilap cahayanya yang menari-nari di atasnya. Dan itu seakan setetes cinta Ilahi yang dititipkan kepada ku begitu juga dengan dia.

Ada pujangga yang mengatakan bahwa, “cinta bukanlah mencari pasangan yang sempurna, tapi menerima pasangan kita dengan sempurna”. Indah bukan? Tertarik? Milikilah cinta dengan sempurna.

Seperti hari-hari yang lain. Hari ini pun terasa biasa, namun ada sedikit yang kurang. Aku mulai tidak bisa melihat “sesosok” yang selama ini membuatku semangat. Lagi, esoknya pun terasa sepi di kampus itu. Dan akhirnya aku pun tersadar bahwa dia tidak mungkin “nongol” lagi di hadapanku.

Mulailah aktivitas baru dengan kesibukan yang baru pula dengan harapan tidak akan ada ruang sedikit pun untuk mengingat-ingat dia lagi. Terus… dan terus kesibukan tiada henti, namun pada akhirnya pula ketika ada sedikit waktu saja yang luang, tiba-tiba memori tentang dia kembali dan terbuka dengan lebar tanpa aku bisa menutupinya. Ada sebuah tempat yang indah di sana  tidak semua orang tahu -, mungkin hanya kami saja- dan tempat itu selalu mengingatkanku kepadanya. Angin dari utara tiba-tiba datang dan membawaku untuk segera pergi dari tempat itu dan menuju sumber angin itu.

Bagai malam …
Matamu bersinar terang seperti bintang-bintang
Tatapanmu menyimpan sejuta misteri
Langkahmu semakin menuju ke mimpi
Dan diam-diam matamu menyeretku dari ketenangan

Namun, sebuah keyakinan yang tinggi mulai tumbuh dan berkembang dan akhirnya aku pun yakin bahwa janji Allah pasti akan ditepati. Lalu kenapa kita harus ragu denganNya? Apakah ada yang salah keimanan kita? Jangan-jangan hanya “nafsu” belaka saja yang mengitari cinta kita kepadanya.

Siapapun nanti yang akan menjadi teman untuk melewati kehidupan ini serahkan saja semuanya kepada Allah. Karena Dia lah yang berkehendak.

Berdo’alah semoga penantianmu berujung ketika engkau masih di dunia, sehingga engkau bisa merasakan kebahagiaan dan kelezatan dunia-akhirat. Berdo’alah agar engkau menjadi seorang yang bermanfaat. Dan jikalau engkau ditakdirkan untuk “sendiri” di dunia ini, maka jadikanlah kesendirianmu itu bisa bermanfaat, setidaknya untuk dirimu sendiri, keluarga dan agama.

Hari esok pun tetap akan bersinar bersama tarian-tarian burung. Mereka akan mengiringi penantian kita. Berbahagialah karena kita masih diberi kesempatan untuk menikmati semua kenikmatan yang belum tentu bisa dirasakan oleh orang-orang sebelum kita.

Aku rindu akan surgaNya. Aku rindu… aku rindu untuk bisa bertemu denganNya. Tak ada tempat yang lebih baik selain menuju surgaNya. Dan akankah kita juga bisa bertemu dengan orang-orang  yang kita cintai di surgaNya… Wallahualam.

Semoga Allah mengabulkan semua do’a-do’a kita. Aamin

Untuk keluargaku dan seseorang yang tak tahu siapa namanya. I miss you all.

About these ads

Redaktur: Rizmoon Zulkarnaen

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Rizmoon Zulkarnaen
Mahasiswa UGM

Lihat Juga

Rindu Bergurau Berdua