Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Rintangan Dakwah (bagian ke-1)

Rintangan Dakwah (bagian ke-1)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Jalan dakwah adalah jalan yang mulia dan berharga, dan dakwah adalah jalan ke surga yang diridhai Allah. Namun, bersama dengan segala keistimewaannya jalan dakwah dipenuhi dengan segala hal yang dibenci dan dimusuhi oleh hawa nafsu. Ia bukanlah sekedar jalan biasa yang indah dan ditaburi bunga-bunga yang wangi. Karena dilihat dari sisi manapun jalan dakwah akan selalu menemui banyak rintangan yang akan menghalanginya dan menjauhkan orang yang berjalan di atasnya dari jalan mulia tersebut.

Oleh karena itu, sebagai seorang muslim yang telah melekat keimanannya di dalam diri dan hatinya, maka kita seharusnya sadar dan bertanggung jawab terhadap Islam dan mencari jalan dakwah yang hendak dilaluinya dengan mengetahui manhaj dan beriltizam dengannya. Sehingga kita tidak akan tergelincir dan tersesat serta terjatuh dalam sebuah rintangan-rintangan yang menghalanginya.

1. Manusia berpaling dari dakwah

Rintangan pertama di jalan dakwah yang selalu dihadapi oleh para da’i ialah berpalingnya manusia dari mereka dan tidak mempedulikan apa yang didakwahkan kepadanya. Dalam bahasa yang lain disebutkan bahwa objek dakwah kita lari karena keberadaan kita, kenapa itu terjadi dan apa yang seharusnya kita lakukan? Sebelum menjawab pertanyaan itu yang harus kita lakukan sebagai da’i adalah mempersiapkan diri di atas jalan dakwah dengan segala bekal yang ada dan teruslah sabar dan bersabar, karena mungkin saja inilah ujian bagi kita. Ambillah teladan dan qudwah hasanah pada diri Rasulullah saw dalam urusan dakwah ini, karena Ia adalah manusia yang sangat tinggi derajatnya, ideal dan mulia. Dari sirah, ternyata Rasulullah saw terus melancarkan dakwahnya kepada qabilah-qabilah dan suku-suku bangsa Arab walaupun pada akhirnya banyak dari mereka yang menolaknya dan malahan mereka memperolok-olokkannya. Bahkan ketika Rasulullah saw dilempari batu oleh kaum Thaif dan sampai berdarah, malaikat Jibril menawarkan dirinya untuknya untuk menghukum mereka. Namun, Rasulullah saw tidak menyetujuinya, kemudian malaikat Jibril bertanya, “kenapa ya Rasulullah?”, karena saya masih berharap dan berdoa semoga saja akan ada seseorang yang keluar dari tulang sulbi mereka yang menyembah Allah.

Juga dapat diambil teladan yang baik dari kisah-kisah yang dihidangkan oleh Al-Qur’an tentang bagaimana unggulnya kesabaran nabi Nuh as dalam menyeru kaumnya kepada agama Allah. Dia sanggup bertahan selama 950 tahun, walaupun mereka akhirnya banyak yang menolak dan mengganggunya, bahkan istri dan anaknya pun menolaknya.

Firman Allah SWT:

“Nuh berkata: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang. Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni   mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat. Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan. Kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam.” (QS. Nuh: 5-9).

Demikianlah kesabaran nabi Nuh as tatkala menyeru kaumnya kepada Allah siang dan malam, secara rahasia dan terang-terangan tanpa jemu dan putus asa.

Allah telah mewajibkan kepada para da’i untuk senantiasa menyampaikan dakwah Islam kepada manusia dan mereka (para da’i) tidak berkewajiban akan keberhasilannya dan hanya Allah swt saja yang berkuasa memberi hidayah.

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. Al Baqarah 256).

— bersambung…

 

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 8,75 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Rizmoon Zulkarnaen
Mahasiswa UGM

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Lembaga Dakwah Membina Hubungan dengan Pers

Organization