Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Pilihan Sendiri atau Murabbi?

Pilihan Sendiri atau Murabbi?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Bismillahirrahmanirrahim…

Ada banyak cerita yang aku dapatkan tentang proses ta’aruf selama ini. Dari sekian banyak cerita, ternyata ada yang sungguh dramatis dan tragis. Seperti apakah ceritanya?

Seperti judul di atas, cerita ta’aruf yang akan diangkat di sini tentang pilihan sendiri atau pilihan murabbi. Ada yang pernah bilang: “Salah ga sih kalo ada ikhwan yang sudah punya pilihan sendiri kemudian mengajukan sebuah nama kepada murabbinya?”

Tentu hal ini tak salah dan tak melanggar syar’i. Ketika memang sudah ada kecenderungan dengan seorang akhwat dan memang sudah siap nikah, maka keberanian mengajukan sebuah nama kepada seorang murabbi bukanlah hal yang tak syar’i. Banyak yang bilang bahwa ketika sudah menunjuk sebuah nama, apalagi misalnya satu organisasi, sering berinteraksi selama ini, khawatir bahwa sudah terkotori dengan hal-hal yang tak suci. Itu semua hanya kekhawatiran yang seharusnya diikhtiarkan dengan menjaga prosesnya.

Apakah proses ta’aruf itu hanya dengan orang yang belum dikenal sama sekali? Ingatkah kita kisah Fatimah dan Ali? Mereka berdua adalah sepupu, sudah saling kenal. Ali mencintai Fatimah karena akhlaq Fatimah yang begitu mulia ketika ia lihat dalam kesehariannya. Begitu pun Fatimah yang ternyata telah mencintai Ali sebelum menikah dengan Ali. Ingatkah pula kita kisah Salman Al Farisi yang berkehendak meminang seorang wanita dengan bantuan Abu Darda? Bukankah Salman memang telah ada kecenderungan terlebih dahulu pada wanita itu hingga akhirnya meminta Abu Darda meminangkan wanita itu untuk Salman? Namun memang pada akhirnya, Salman tak berjodoh dengan wanita itu karena wanita itu menginginkan Abu Darda sebagai suaminya.

Jadi, memang tak salah jika seorang ikhwan sudah memiliki kecenderungan terlebih dulu terhadap seorang akhwat dan berani mengajukan nama kepada murabbinya. Nah kadang yang jadi masalah itu adalah bagaimana mengkomunikasikan hal ini kepada murabbi.

Yuk, simak dua kisah berikut ini.

Ada seorang ikhwan yang sudah memiliki kecenderungan dengan seorang akhwat satu organisasi. Ia pun siap menikah. Namun, dalam prosesnya, ia tak meminta sang murabbi sebagai fasilitatornya, melainkan meminta sang kawan yang menjadi fasilitatornya. Hal ini ia lakukan karena sang murabbi sudah punya proyeksi akhwat untuk ikhwan ini, yang tak lain tak bukan adalah adik sang murabbi sendiri, ada rasa tak enak mungkin. Sebenarnya tak masalah jika murabbi bukan sebagai fasilitator proses ta’aruf, asal dikomunikasikan dari awal. Entah mungkin merasa tak enak dengan sang murabbi, akhirnya ikhwan itu berproses dengan akhwat tersebut lewat jalur ‘swasta’, yang ternyata akhwat ini pun punya kecenderungan yang sama, yang lagi-lagi juga sama, tak mengkomunikasikan dengan murabbinya. Hingga akhirnya menjelang menikah, barulah mereka berdua bilang ke murabbinya.

Lantas bagaimana tanggapan sang murabbi? Murabbi sang ikhwan bilang: “Antum cari aja murabbi lain…”.Jleb. Dalem euy, hingga akhirnya sang ikhwan ‘kabur’ dari lingkaran. Begitu pun dengan sang akhwat, ternyata keluar juga dari lingkarannya. Dan mereka menikah. Namun amat disayangkan karena ternyata pernikahan mereka tak sesuai yang diharapkan. Ikhwan yang di mata sang akhwat begitu dewasa ketika dalam organisasi, ternyata begitu kekanakan dalam rumah tangga. Dan sang akhwat ingin segera bercerai walaupun sudah dikaruniai seorang anak. Huuffh… apakah ini sebuah pernikahan yang tak diridhoi murabbi?

Kisah kedua lain lagi ceritanya. Jika cerita pertama terkesan tak menghargai murabbinya, maka cerita kedua kebalikannya. Ada seorang ikhwan yang sudah siap menikah dan sudah punya kecenderungan dengan akhwat yang sudah dikenalnya. Namun kemudian sang murabbi menawarkan akhwat lain untuk berproses dengannya. Karena sang ikhwan begitu tsiqah dengan murabbinya terkait masalah jodohnya ini, maka ia pun menerima tawaran sang murabbi untuk berta’aruf dengan akhwat pilihan murabbi yang belum ia kenal sebelumnya.

Proses pun lancar hingga akhirnya diputuskan tanggal pernikahan. Namun apa yang dilakukan sang ikhwan sepekan menjelang pernikahannya? Ia mengirim email kepada akhwat yang dicenderunginya itu, mengatakan bahwa ia siap membatalkan pernikahannya jika sang akhwat meminta untuk membatalkannya. Lantas apa reaksi sang akhwat? Akhwat itu hanya bilang: “jangan bodoh Antum, seminggu lagi Antum udah mau nikah, undangan udah disebar, apa ga malu nanti keluarga besar Antum?”

Dan akhirnya ikhwan itu tetap menikah dengan akhwat pilihan murabbinya. Qadarullah, setelah beberapa minggu menikah, sang istri rupanya melihat email yang dikirim sang ikhwan ke seorang akhwat yang dicenderungi sang ikhwan. Kaget luar biasa tentunya dan akhirnya sang istri menemui akhwat tersebut dan bilang: “kenapa mba ga bilang kalo ikhwan itu udah ada kecenderungan dengan mba dan begitu pun dengan mba udah ada kecenderungan dengan dia. Kalo saya tahu, saya akan membatalkan pernikahan saya, mba…”. Dan entahlah bagaimana kisah selanjutnya.

Ya. Itu dua kisah yang amat dramatis dan tragis tentang sebuah proses ta’aruf menuju jenjang pernikahan. Yang satu punya pilihan sendiri dan mengikuti pilihannya sendiri tanpa mengkomunikasikannya dengan sang murabbi sedangkan yang satunya lagi memilih pilihan murabbi walaupun sudah punya pilihan sendiri, dan lagi-lagi tak mengkomunikasikan tentang pilihan sendirinya ini kepada sang murabbi.

Jika dilihat dua kasus di atas, apa sebenarnya yang menjadi kunci dari masalah ini? K-O-M-U-N-I-K-A-S-I. Ya, komunikasi antara sang ikhwan dan murabbi yang bermasalah. Padahal jika saja hal-hal dalam penjemputan jodoh dikomunikasikan dengan baik kepada sang murabbi, maka tak akan terjadi kisah tragis dan dramatis seperti di atas. Namun karena kisah ini sudah terjadi, maka semoga menjadi pelajaran bagi kita yang mungkin sedang berikhtiar kearah sana.

Hilangkan rasa sungkan untuk mengkomunikasikan kepada murabbi jika memang sudah punya pilihan sendiri. Begitu pun dengan seorang Murabbi, alangkah lebih baik menanyakan terlebih dulu kepada binaannya apakah sang binaan sudah mempunyai pilihan atau belum, karena mungkin ada yang sungkan untuk mengatakannya pada Murabbi. Bagaimanapun seorang murabbi adalah orangtua kita, yang tau banyak tentang kita, sudah selayaknya kita pun menghargainya, setidaknya berdiskusi dengan murabbi untuk setiap pilihan kita, tentunya berdiskusi pula dengan orangtua kandung kita. Intinya, sama-sama dikomunikasikan kepada orangtua maupun murabbi. Entah jika memang sudah punya pilihan sendiri atau pilihan murabbi. Semoga kedua kisah di atas tak menimpa kita. Aamiin.

Tulisan ini dibuat hanya untuk mengingatkan kita tentang proses ta’aruf yang menjadi gerbang awal sebuah pernikahan, sudah selayaknya proses ta’aruf itu terjaga dari segala bentuk ketidaksucian niat, ikhtiar dan tawakal. Hati-hati juga jika kemudian timbul bisikan-bisikan setan akibat berlama-lama dalam menyegerakan jika memang sudah siap menikah dan sudah punya pilihan sendiri ataupun murabbi.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (87 votes, average: 8,86 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
seorang perempuan yang suka menulis dengan kepribadian phlegmatis-melankolis dan dreamy idealist
  • Memilih, dipilih, memilihkan, dipilihkan, hmmm….
    Dasarnya haruslah keikhlasan, jangan sampai ada paksa memaksa. 
    Semuanya memerlukan komunikasi yang baik.
    Semoga dengan demikian keberkahan bisa didapatkan.

  • intinya jangan ada paksaan dalam menikah,,,:)

  • saya melihat dari tulisan ini seperti menyepelekan restu orang tua kandung,,,restu murabbi ga akan ada gunanya klo orang tua kandung tidak merestuinya,,,

  • tulisan yg cukup ANEH. Mana peran orang tua ?? mereka yang paling berhak atas anaknya… ingat lho.. Murabbi juga manusia..

  • Amin Sahbandi

    komunikasikan kepada kedua orang tua dan murabbi, istikharah.

    Tidak akan merugi orang yang beristikharah dan tidak akan menyesal orang yang bermusyawarah
    (HR. Thabrani)

    dan jangan lupakan peran kitab LAU-MAHFUZ. sudah dituliskan 40 ribu tahun sebelum bumi dan makhluk hidup di ciptakan ALLAH….

  • maaf kalo terkesan aneh,, apakah dosa jika kita mencintai seseorang kemudian melamarnya untuk menghilangkan fitnah di kemudian hari dan hati yang kotor,,
    apakah murabbi yang menentukan segalanya,,,
    mana restu dna peran orangtua,,
    bukankah baik jika seorang pria melamar seorang wanita yang dicintainya…
    maaf tapi tulisan yang disampaikan menganggap bahwa murabbi adalah segalanya… baik dalam jodoh dan kehidupan kita,,,
    menurut saya kita semua berhak menentukan jalan hidup kita..
    karena murobbi pada dasarnya adalah pembimbing,, maka peranya adalah hanya memberikan saran dan masukkan, tidak dalam tahap menentukan jodoh,, bukankah jodoh ada di tangan sang RAbb pemilik hati??

    • Ade Kurniawan Syam

      Bismillah,..

       “bukankah baik jika seorang pria melamar seorang wanita yang dicintainya..”

      Pernyataan antum harus jelas dulu, dicintai karena kualitas agamanya atau dicintai karena kecantikan wajahnya, dll,.?

      Kembali kepada bagaimana kita melandaskan pernikahan dan melabuhkan
      cinta kita (ibadah ataukah hanya sekedar pemuas syahwat), jika pandangan
      kita hanya sebatas kehidupan dunia, yaaa cukuplah kecantikan, harta,
      tahta, keturunan, yang menjadi prioritas utama,..namun jika kita
      berpandangan jauh kedepan,..bagaimana kehidupan/kondisi kita di akhirat
      kelak,..maka kualitas agama seorang akhwat yang akan menjadi pendamping
      hidup kita, sudah pasti menjadi syarat mutlak.

      Jika dicintai karena agamanya, tentu sebelumnya kita mengetahui kualitas agama akhwat tersebut, Tolong jelaskan pada ana, adakah cara yang lebih syar’i untuk menilai kualitas agama seorang akhwat dengan data-data yang valid dan terukur selain melalui jalur murobbi?? Jika orangtua akhwat ato keluarganya dari kalangan tarbiyah tidak jadi masalah, tapi bagaimana jika orang tuanya adalah orang ‘ammah,.adakah orangtua akhwat tersebut mengevaluasi tilawahnya, qiyamul lail, puasa, dsb,..sekarang pertanyaannya siapakah yang sering melakukan evaluasi terhadap amalan kita???
      (tau sendiri khan jawabannya, dan seberapa penting posisi beliau)

      -CMIIW-

  • dimas putranto

    saya orang tua yang sedang mencarikan jodoh untuk anak saya merasa dihina dengan artikel ini, sepertinya murabi adalah segalanya dan bahkan kalau disimak sukses atau tidaknya perjodohan tergantung murabi. saya pembaca setia dakwatuna, namun saya kecewa berat dengan artikel ini. semoga tidak terulang lagi

    • anggoro winindito

      sebenarnya murobbi ini ialah penyelia dalam urusan agama sang anak. Biasanya ia lulusan S1 atau S2 Ilmu Agama, tapi ga harus. Yang pasti pengalaman dan kapasitasnya beberapa tahun lebih maju dari murid binaannya. Murobbi ini nantinya akan melapor kepada orang tua. Ketika perjodohan pun begitu, biasanya anak akan mengikutkan murobbi. Setelah murobbi setuju maka selanjutnya ialah anak akan mengajak ortunya melihat pilihan sang anak. Jadi sebenarnya murobbi tidak melangkahi peran orang tua, justru malah membantu peran orang tua dengan menyeleksi calon pasangan sang anak.

    •  justru orang tua harus bertrimaskih kepada murabbi, karena murabbi tu kan mencari jodoh yang sebaik2 nya untuk binaan atau anak anda. jika nanti saat diajukan ke orang tua tidak setuju, ya tidak apa2, nanti dicarikan terus sampai ditemukan calon yang disetujui orang tua nya. begitu pak. hehe

  • Alhamdullilah sedikitnya fahim atas tulisan ini, Jazakhoir mengingatkan… kalaupun ada yg tanya restu org tua dimn? sebaiknya ikut pelatihan membina keluarga islami ntar mudah nyambung deh…

    cerita ini hnya menyerhanakan dari cerita yg kompleknys

  • Saya masih heran dan kadang tak habis pikir kalau ada murabbi yang “ngambek” ketika ada anggota dalam jama’ahnya yang melakukan ta’aruf tanpa sepengetahuannya (atau kalau dalam tulisan ini disebut lewat jalur “swasta”) . Kenapa gitu loh? Jodoh kan Allah yang mengatur dan manusia bebas menentukan jalannya selama tidak meninggalkan kaidah-kaidah syar’i.

    Jadi teringat seorang teman yang tiba-tiba “dikeluarkan” dari kelompok liqo’ setelah teman tersebut memberitahukan bahwa dia telah menjalani ta’aruf dengan seseorang di luar sana. Mending kalau langsung dipindah, ini masih “digantung” dulu beberapa lama sebelum akhirnya mendapat kelompok liqo’ yang baru. (Normalnya tidak akan lama kalau memang waktunya dipindahkan). MasyaAllah.

    • anggoro winindito

      Ini memang tipe murobbi, kepada sang Jenderal hormaaat Grak ! Dulu memang pernah ada seperti ini. Murobbi atau MR saklek dalam menentukan jodoh binaan murid nya. Selain karena umurnya yang jauh melampaui anak muridnya, ia berhak mengatur di ladang dakwah mana seorang murid di tempatkan. Pilihan di ladang mana inilah yang nantinya akan berhubungan dengan tipe akhwat yang akan ia nikahi nantinya.

      Toh di zaman Rasul dulu tidak ada contoh Murobbi-murobbian kan ! Peran Murobbi sekarang ini lebih tepat sebagai pengarah saja bukan sebagai orang tua yang berhak menelikung dan mendikte jodoh dari sang anak ! Bukan seperti atas nama Sang Rasul yang berhak menempatkan seseorang di tempatkan dimana… Sebenarnya kalau yang ini saya masih setuju tapi mengenai urusan jodoh saya tidak setuju, kecuali diarahkan karena masih banyak stok akhwat yang belum menikah.

      • Fa Fa

        Sy juga belum pernah ta’aruf, tapi dalam penempatan juga memang dari murobbi ada “perintah”nya. Saya gak tau apakah ini tipe murobbi atau bagaimana, tapi sebelum menempatkan pun murobbi juga pernah menanyakan saya, mau ditempatkan di mana. Murobbi saya juga pernah bilang, kalau arahan dari beliau ada, tapi kalau saya gak sreg (dengan alasan syar’i tentunya) juga jadi pertimbangan…

        Mungkin murobbi merasa “harus ditaati” karena beban beliau yang berat sebagai penanggungjawab ruhiyah kita. Murobbi kan fungsinya sebagai pengontrol juga, kalau ada apa-apa dengan binaannya, tentu murobbi juga bertanggungjawab…

        Di atas, saya sempat membaca, toh murobbi baru dikenal beberapa tahun dibanding orangtua… Seperti juga suami yang baru dikenal daripada orangtua, tapi ketaatan wanita pun mutlak pada suami daripada orang tua. Bukan karena apa-apa, tapi karena tanggungjawab yang besar dari suami atau murobbi… Tentu tidak dengan mengatakan murobbi sama derajat ketaatannya dengan ortu atau suami…

  • artikel bagus…karena berhasil memunculkan komentar-komentar yang menunjukkan ketidak dewasaan para komentator. Kelihatan bahwa banyak aktifis da’wah (khususnya komentator diatas) yang belum matang tarbiyahnya.

    Peran Murabbi dan Orang tua dalam proses pernikahan seorang kader da’wah adalah setara dan mutualistis. Sebagai kader da’wah maka seluruh hidupnya harus selaras dengan tujuan da’wah.

    Pernikahan aktifis da’wah yang hanya dilandasi rasa suka tanpa dilandasi pertimbangan da’awi dan tarbawi, dimasa depan memiliki resiko melemahkan kualitas dan produktifitas da’wah mereka. Inilah yang diminamilis dengan peran murabbi/murabbiyah.

    Dalam kasus pertama di dalam artikel ini, keduanya menikah tanpa orientasi da’wah, dengan kematangan psikologis yang sangat rendah…dijamin orang tua akan mangkel dan kecewa dengan pernikahan putra-putrinya yang semacam itu.

    Dalam kasus kedua, sang ikhwan sudah menyimpan hasrat yang manusiawi, namun tidak dimanage secara syar’i, akibatnya menghancurkan biduk rumah tangga yang sudah di-ikhtiarkan secara da’awi.

    Pada dasarnya orang tua ditempatkan pada posisi yang sangat luar biasa. Permasalahan besarnya adalah, adakah komunikasi da’awi yang intens antara mutarabbi dengan orang tua masing-masing?

    Orang Tua adalah Biological Parent sedangkan Murabbi/Murabbiyah adalah Ideological Parent. Keduanya menempati posisi yang sangat penting dalam perkembangan da’wah putra-putri mereka. Kedewasaan sikap dari semua pihak sangatlah dibutuhkan. Secara jujur saya berpendapat, kader da’wah di era sekarang cenderung melankolik dan tidak memiliki visi-misi da’wah yang tajam dan bernas.

    • pertanyaanya adalah,, apakah ada diatur dalam syariah bahwa kita harus mematuhi murabbi kita dan disejajarkan dengan orang tua,, ? =)

      • Saya rasa, komentar bapak Abu Mubarak Full cukup bagus untuk direnungi…

        • yang saya garis bawahi adalah pernyataan bapak abu mubarak full yang mensejajarkan kedudukan murabbi dengan orangtua kandung,, kok ya saya gak setuju ya,,, lah kita baru kenal sang murabbi paling hitungan tahun,,

          nah orangtua kita sudah kita kenal semenjak kita lahir,,kok ya bisa disamakan dan disejajarkan gitu lho…
          dan melihat cerita yang disharekan oleh teman2 yang lain juga ternyata ada cerita dimana murabbi menggunakan kekuasaanya untuk memaksakan apa yang diinginkan dan dianggap ideal menurut beliau…
          itu menunjukkan bahwa sang murabbi tidak terlepas dr sisi kemanusiaan bukan??? mungkin tidak semuanya seperti itu juga sih

          yah mungkin saya belum mengenal proses ta’aruf yang benar itu seperti apa.. makanya ada baik di sahrekan sehingga kita semua mengerti dan gak salah paham lagi…

          • oh begitu, sebenarnya ana cukup bingung untuk menjelaskannya, mungkin karena keterbatasan ilmu dan tidak bisa mengungkapkannya scr gamblang. Tapi Insya Allah ana mengerti maksud Pak Abu Mubarak dan ana juga mengerti maksud antum. Hanya salah persepsi sebenarnya…
            Begini saja, antum tanya sendiri sama Murabbi antum. saya rasa antum bisa mendapatkan penjelasan yang lebih lengkap dibanding share di dunia maya seperti ini. atau antum bisa bertanya langsung sma pak Abu Mubarak di atas karena komentar beliau kan yang antum pertanyakan. Insya Allah tidak bermaksud berdebat tapi memang ingin mencari tahu ke beliau jadi Insya Allah beliau akan bersedia untuk menjelaskannya pada antum. Setelah itu, antum bisa share lagi ke teman-teman lain jika itu perlu menurut antum…
            Jazakallah.

      • syafina kharisma

        Apakah dalam syariah bahwa kita harus mematuhi murabi kita
        disejajarkan dg orang tua?

        Klo qta taaruf bahkan hati tidak sreg pun boleh menolak. Klo
        calon yang diajukan murobi tidak disetuji orang tua maka taarufnya selesei…
        taaruf bisa saja tidak dilakukan sekali tapi berkali-kali smapai kita bertemu
        yang memang keluarga dan diri sendiri cocok. Kuncinya emang komunikasi…

        Intinya murobi kan
        membantu qta menjemput jodoh dengan cara yang baik, jadi mengapa tidak
        dimanfaatan

         

        Salah satu penyebab perceraian selain ekonomi adalah
        perbedaan prinsip hidup yang akan semakin memperparah ketidak dewasaan
        individu. Perbedaan prinsip ini selain mempengaruhi gaya hidup juga mempengaruhi pola asuh yang
        nanti berpengaruh pada pertumbuhan anak. Jadi penting bagi orang tua atau
        pasangan untuk segera menyamakan “visi misi” hidupnya jika tidak konflik akan
        sering muncul.

        Klo sudah sama konsep tentang keluarga maka dalam hubungan
        suami istri pemenuhan hak dan kewajiban akan otomatis dilakukan oleh masing
        pihak tanpa perlu munculnya kecemburuan peran.

         

        Coba dilihat lagi pasangan di luar sana itu lebih dekat.. karena pada kehidupan pernikahan itu punya fase
        krisis. Kalau yang di luar sana dikatakan masih yang bertahan dan benar2
        bahagia mungkin kasus kdrt, perceraian, perselingkuhan seharusnya tidak
        semerbak seperti yang sekarang.

        Jadi kita tidak
        hanya melihat permasalahan hanya dari permukaan tapi harus mendalam agar
        mendapatkan sebah pemhaman yang mendekati kbenaran.

         

        Semoga kita
        bertemu jodoh kita dalam situasi yang baik, kondisi kita yang baik dan dalam
        cara yang baik. wallahualam

         

    •  Subhanallah dengan pendapat bapak, saya sangat setuju. Ternyata banyak yang masih salah faham dengan proses ta’aruf itu sendiri….Semoga dengan komentar bapak bisa membuka hati atau dapat diterima oleh saudara2 kita yang belum faham….
      Jodoh memang sudah ditentukan tapi kita juga harus ikhtiar untuk itu dan proses ikhtiarpun harus dijaga agar tetap syar’i…yang paling penting adalah, proses itu diRidhoi oleh Allah SWT…
      Bukankah hidup kita hanay untuk beribadah dan mendapat Ridho Allah SWT???
      Komunikasi, begitu banyak masalah yang muncul karena tidak bagusnya komunikasi jadi komunikasi memang harus dijaga….

    • anggoro winindito

      Tanggapan yang menyegarkan akh !
      Hanya… saya sudah sering (lebih dari sekali) menggantungkan keputusan pada murobbi, dan ujung-ujungnya malah murobbi tersebut yang bingung ?!?! 

      Memang menikah karena dakwah itu pahit ! Tapi tentu saja tidak boleh mengorbankan faktor-faktor alami orang yang akan dinikahkan seperti kecantikan wajah sang pasangan. Kebanyakan sekarang ini banyak akhwat yang menganggur belum dinikahi. Apakah antum berani menikah dengan akhwat-akhwat tersebut ? Sebelum mengarahkan anak didik antum ? (dilema menikah karena dakwah, menyuruh padahal ia sendiri tidak berani melakukannya !)

  • Hm….Seharusnya murabbi tdk boleh seperti itu…
    tapi tidak semua murabbi seperti itu, contohnya murabbiyahku beliau baik bgt :-)
    semoga kita semua mendapatkan jodoh yang bisa membawa kita ke surga-Nya aamiin :-)

  • catur edi gunawan

    komennya banyak… tapi ga tahu ni yang komen siapa-siapa aja yang udah nikah dan siapa-siapa yang masih bujang. klo bujang ya tentu belum punya pengalaman lamar melamar untuk nikah. 
    coba deh dipahami komen pak abu mubarak… apapun cara atau metode untuk mendapatkan pasangan hidup,tolong itu karena memiliki sebuah visi yang sama, visi dakwah, membangun keluarga dakwah.
    tarbiyah itu mendewasakan kita, termasuk dalam berkeluarga, menjadikan keluarga tarbiyah itu berbeda dari keluarga biasa.

    • dakwah itu bagian dari Islam,dengan kata lain aturan2 dakwah diatur oleh aturan2 syariat Islam.yang dipersoalkan komentar-komentar sebelumnya adalah bagaimana kedudukan seorang murabbi di banding orangtua,jika kedudukan orang tua diatur secara jelas dan kokoh dalam syariah di banyak nash dan hadits shahih,lantas bagaimana kedudukan murabbi?

  • ridho orang tua adalah ridho Allah.. 

    • Yup, 
      Apalagi dalam pernikahan, Restu orang tua menjadi bagian dalam rukun nikah (ijab qobul) dan tidak bisa diganti Murobi (kecuali kalo memang keluarga yang berhak jadi wali).
      Kalo orang tua ndak setuju, walau Murobi bilang ‘harus’ pernikahan tsb tetep tidak bisa berlangsung.
      Tapi, bukan berarti pilihan ortu dan murobbi itu mesti beda. Justru banyak ortu yang berterima kasih atau malah meminta bantuan dari seorang murobi terkait pernikahan anaknya. ini tergantung pada pemahaman dan komunikasi yang dilaksanakan.
      ini pengalaman ana pribadi loh…

  • Pertanyaan : 
    1. Kisah tersebut di atas berdasarkan kisah nyata atau karangan?? 
    2. Kalau ternyata karangan, saya ga perlu komentar terkait 2 peristiwa tersebut

    setahu saya ada hadis yang menyebutkan bahwa rido Alloh itu terletak pada rido kedua orang tua, jadi tidak ada istilah ” perceraian akibat penikahan yang tidak diridoi murabbi”. Meskipun dalm bentuk pertanyaan. statement di atas terlalu spekulatif

    • dimas putranto

      ya itulah yang saya pahami dari artikel diatas
      kasus pertama seorang ikhwan yang meninggalkan murabbi akibatnya berujung keinginan istri untuk bercerai.kasus kedua seorang ikhwan yang memilih pilihan murabbi ternyata istrinya menyesalkalau digabungkan 
      saya pilih dia dan menolak pilihan murabbi ternyata gagal (dia V, murabbi X = false)
      saya tolak dia dan memilih pilihan murabbi ternyata gagal ( dia X , murabbi V = false)pilih yang kita suka salah, pilih pilihan murabbi salah berarti kalau yang kita suka beda dengan pilihan murabbi berarti gagalberarti jika ingin pernikahan sukses, kita tidak boleh memiliki pilihan karena murabbi lah yang menentukan pasangan kita

  • saya liat ,tulisan diatas belumlah lengkap krn hanya memberikan contoh yg kontroversi dan kalimatnya banyak yg dipotong2 sehingga terkesan sebuah cerita fiktif.harusnya penulis mengungkapkan semua kondisi antara ketiga pihak(orang tua,binaan,murabbi). tulisan diatas menimbulkan persepsi yg berbeda dan kesalah pahaman.Pada tulisan tdk disebutkan alasan binaan memilih jodoh sendiri dan,ada apa antara murabbi dan binaannya? 
    mnurut saya,jika fungsi / kewajiban seorang murabbi itu berjalan dgn baik,maka tdk akan terjadi kasus2 aneh sperti diatas.
    dan sang binaan juga tetap mengkondisikan orang tua jika kefahaman tentang mencari jodoh yg sesuai dgn syariat belum bagus.
    tapi,bagaimana jika keinginan menikah sang binaan tidak di gubris oleh murabbi,maka sangatlah mungkin terjadi kasus2 aneh seperti diatas,padahal dari kemampuan dan umur sang binaan sudah cukup layak utk menikah.

    siapapun yg mencarikan jodoh tidak masalah,dengan syarat tentunya baik mnurut orang tua,binaan,juga murabbi/ah

  • Dalam Islam ada 2 jalan ketika akan mengambil suatu keputusan besar. Seperti halnya ketika menentukan calon pasangan hidup. Dua jalan itu adalah:

    1. ISTIKHARAH
    “Jika salah seorang di antara kalian berniat dalam suatu urusan, maka lakukanlah shalat dua raka’at yang bukan shalat wajib, kemudian berdoalah…”. (HR. Al-Bukhari)

    2. SYURO’
    Dalam Sunnah mendorong para wali wanita untuk bermusyawarah dengan ibu
    anak wanita tersebut dalam masalah pernikahannya, yakni seorang suami
    bermusyawarah dengan istrinya ketika ingin menikahkan anak gadisnya.
    “Bermusyawarahlah dengan kaum wanita (isteri-isterimu) dalam urusan anak-anaknya.” (HR. Ahmad)

    Demikian
    itu karena ibu lebih tahu terhadap anak perempuannya daripada ayahnya,
    karena seorang ibu dan anaknya itu adalah sama-sama wanita sehingga
    lebih faham keinginan dan perasaannya, sementara anak wanita itu sering
    berterus terang kepada ibunya untuk mengungkapkan rahasianya, yang itu
    tidak diperoleh dari ayahnya.

    Menurut saya peran murobbi itu seperti ‘korek’ dan orang tua itu seperti ‘api’. Keduanya punya peranan penting yang bisa membuat mutarobbi atau ‘lilin kecil’ yang masih belajar bersinar itu bisa menerangi alam sekitar…….

  • Kalo gak salah pernah ada artikel serupa yang menceritakan tentang ta’aruf juga. Di artikel itu justru kebalikannya. Ada akhwat yang karena menuruti murrobi, dan tidak meminta pendapat ke orang tua menolak lamaran ikhwan yg dia ada kecenderungan. Akhirnya malah gak menikah sampai umur 30-an. dan tentu saja murrobinya gak “tanggung jawab”. Sebagai penyeimbang saja:

    http://www.dakwatuna.com/2011/12/17231/mana-ikhwan-untukku/ Saya sepakat tentang orang tua lebih penting daripada murrobi. Lucu aja orang tua disejajarkan dengan orang yang melahirkan dan membesarkan kita. label Biological & ideological parent ? maaf, lucu sekali mengklasifikasikan orang tua cuma sekedar “biological”. Seakan-akan tidak apa-apa menentang orang tua berbasis pendapat ini. Apakah orang tua tidak mengajarkan akhlak ? itukan ideological juga. Emang murrobi sudah muncul sejak kita kecil mengajari ideologi ? kan jelas gakKalo ada yg menikah dengan jalur “swasta” ya mbok didukung, wong katanya solusi antara dua orang yang mencintai adalah menikah. Ini kok malah murrobinya ngambek. Alasannya tidak mengikuti sistem. Terus berdosa gitu ya tidak mengikuti sistem ? pernikahannya haram ? tidak sah ? gak suci ? anaknya haram ? kan gak.Dan masalah cerai karena ekonomi itu udah masalah lain, tidak ada hubungannya dengan ridho murrobi menurut saya. Itu sudah tergantung pasangan yang menikah. dan kalo soal sikap pasangan yang tidak sesuai itu juga masalah rumah tangga, bukan disebabkan ridho murrobi juga. Lebih ke komunikasi pasangan itu sendiri.Sekali lagi : Ridho orang tua = ridho Allah.Btw, memang intinya sih setuju dengan masalah komunikasi. Seperti murrobinya sebaiknya menanyakan apakah sudah ada calon. Praktik ini sudah dialami beberapa orang yg kukenal. Tapi kalo menempatkan ridho murrobi di atas orang tua atau sejajar. Maaf, saya gak setuju. Seakan-akan murrobi bisa menentukan takdir seseorang dan bernilai sama dengan orang tua. Masalah tanggung jawab suami dan murrobi, tetap bukan alasan untuk membenarkan “ngambek”nya murrobi. Kenapa ? itu sudah tanggung jawab masing-masing dan urusan masing-masing. Kalo tidak berjalan sesuai keinginan, ya evaluasi dan ambil langkah positif lah. Bukannya ngambek.

    ~cuma pendapat dari “eksternal”

  • perintahnya jelas : nikahilah wanita yang KAMU SUKAI, dua, tiga atau empat…

    jadi, kalau sudah terlanjur “suka” ya usahakan sama dia. mungkin yang demikian itu bisa dikatakan menjalankan perintah Alloh :D

  • Jodoh bukan di tangan murabbi :)

  •  murobbi hanya manusia . . . Egois dan sombong sekali kalau hanya
    “dilangkahi” oleh binaannya kok ngambek? apalagi harus sampai membenci?
    Terus menyuruh binaannya nyari Murabbi lain? Lha wong yg mau nikah itu
    binaannya je, bukan si Murabbi itu sendiri….
     
    Kisahnya,
    jangan hanya dua versi yang diangkat. seharusnya banyak kisah2 lain yang
    tak kalah untuk dianalisis. Lagipula penjabaran dua kisah diatas kurang
    menarik, aspek persinggungan kontradiksi kedua kisah tidak pas.
    Subyektifitasnya masih terlalu kuat. Masih perlu kasus-kasus kisah lain
    yang harus dimunculkan sebagai pembanding.
     
    Contoh
    Kisah-kisah yg lain:1. Pasangan adalah Pilihan Murabbi, karena saking
    tsiqah nya kepada Murabbi, ia akhirnya menyetujuinya. Tapi ketika sudah
    menikah, ternyata pernikahan berjalan tidak seperti yang diharapkan.
    Apakah semua pernikahan yang “diridhoi” oleh murabbi itu pasti berjalan
    lancar?
     
    2. Pasangan bukan pilihan Murabbi, dan Murabbi
    tidak meridhoinya, tapi ternyata pernikahannya berjalan sesuai dengan
    yang diinginkan. Apakah semua pernikahan yang tidak “diridhoi” oleh
    murabbi itu tidak akan berjalan lancar? 3.Dsb.
     
    Orang Tua
    sendiri terbagi 2 macam:1.Orang tua yang baik, pemahaman agamanya bagus
    yang mampu membimbing anaknya2.Orang tua yang tidak baik, kurang dalam
    pemahaman agama atau awam, atau orang tua yang beda agama dengan
    anaknya. Pada kondisi seperti ini Murabbi memiliki posisi yang vital.
     
    Murabbi
    juga demikian, ada 2 macam:1.Murabbi yang baik, ia adil, tidak
    bertindak berdasarkan egonya, syariat lebih ia kedepankan daripada
    pendapat pribadinya. Ia memberi masukan yang tidak bersifat
    paksaan.2.Murabbi yg tidak baik, tidak adil, ego dan pendapat pribadinya
    lebih ia kedepankan daripada syariat, walaupun sebenarnya ia yakin
    bahwa apa yg ia lakukan sudah sesuai dengan syariat.
     
    Jadi, baiknya jangan sampai ada slogan “Right or Wrong, is my Murabbi”.  
    Murabbi itu hanya wasilah, bukan pemberi keputusan yang mutlak kebenarannya . . . Bukankah manusia itu tempat salah dan lupa?
     
    و الله أعلم بالصواب

  • Afwan, ana termasuk yang kurang pas dengan sifat absolut murrabbi, Rasulullah saw saja dalam hadits2nya banyak ditemukan membebaskan pilihan hidupnya dengan siapa saja yang penting masih satu iman. Kalu hanya dimintai saran ana setuju, tapi kalu dijadikan keputusan baku yang wajib dijalankan maka saya belum menemukannya dalam literatur Islam. Mohon kepada para ikhwan, tuliskan literaturnya. Syukran.

  • semuanya hanya tinggal KOMUNIKASI,
    saya rasa murabbi juga akan menyikapi lebih matang jika diKOMUNIKASIKAN…
    saya rasa orang tua juga akan menyikapi lebih matang jika diKOMUNIKASIKAN…
    saya rasa semua proses tersebut akan salah jika tidak kita KOMUNIKASIKAN,…
    saya tidak menyalahkan siapapun,…
    semua punya jawabannya sendiri,…
    yang penting KOMUNIKASIKAN dengan baik,..
    bicaranya Rasullullah tidak menyakiti pihak mana pun,..
    lantas siapa yang kita tiru?
    semua tinggak diKOMUNIKASIKAN dengan baik

  • muhammad zain

    tapi bukankah jodoh di tangan allah bukan murabbi
    berhak tidak murabbi memeutuskan ta’ruf saya kepada binaannya dengan alasan dia sudah mau menjodohkan binaanya tersebut sementara saya sudah serius kepada akhwat tersebut……
    mohon jawabanya

  • aSYEEEkkk,. Asssyeeekk,,.

  • Bukankah Ridho Tuhan ada pada ridho orangtua? Saya tetap sepakat dengan murobbi sebagai fasilitator, tapi tidak sepakat bahwa ketidakberkahan dikarenakan tidak mengomunikasikan dengan murobbinya. Murobbi sebagai guru spiritual kita, saya akui kedekatannya seperti orangtua kedua saya..mereka tahu seluk beluk kita, masalah pengomunikasian untuk kejenjang pernikahan lewat murobbi atas dasar ketsiqahan kita pada jamaah ini, apa yang dipilihkan murobbi insya allah juga berfikir untuk kemajuan dakwah ini…Masalah kecenderungan itu fitrah, tapi tak layaknya mengotori hati. Semoga pernikahan Barakah menaungi kita yang sedang berproses kesana…. Aamiin Ya Rabb

Lihat Juga

Jodoh yang Aku Pinjam