Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Cintalah Rahasianya

Cintalah Rahasianya

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – “Akan kami perangi mereka dengan cintaitulah kalimat yang pernah disampaikan oleh Hasan Al-Banna. Kalimat itu memberikan gambaran bahwa langkah kita dalam menyebarkan kebaikan diikuti dengan penuh kecintaan karena Allah SWT. Hal itu pun menggambarkan bahwa Islam itu lahir dengan kasih agung, cinta dari sang Khaliq untuk umat manusia. Mengayomi dan menghangatkan jiwa-jiwa yang kedinginan.

Seandainya kita melirik sejarah perjalanan Rasulullah saat beliau datang ke Thaif, kemudian masyarakat menyambutnya dengan batu, air ludah dan kotoran. Hal itu menjadi sambutan hangat yang membuat Rasulullah semakin bergairah untuk terus melangkah. Hingga Kemudian Rasulullah pun beristirahat di bawah pohon kurma hingga datanglah malaikat Jibril menawarkan bantuan untuk memberikan pelajaran kepada masyarakat Thaif. Rasulullah pun mengatakan “jangan, sungguh mereka melakukan hal itu karena mereka belum mengetahui”.

Sebetulnya bisa saja Rasulullah menerima tawaran dari malaikat Jibril, akan tetapi kecintaan beliau kepada mereka lebih besar dari apa yang mereka lakukan kepada Rasulullah itu sendiri. Bagaimana seandainya itu terjadi kepada kita? Saat kita menyebarkan kebaikan pada manusia, kemudian kita mendapatkan sambutan yang hangat seperti yang dialami Rasulullah, kemudian ada yang menawarkan bantuan untuk memberikan pelajaran dengan sukarela. Mungkin tidak sedikit yang menerima tawaran itu.

Kisah di atas hanyalah sepenggal kisah dari banyak kisah perjalanan Rasulullah saat memperjuangkan Islam, kisah yang menjelaskan bahwa Islam lahir bersama Rahman RahimNya untuk menyelamatkan umat manusia dari kegelapan menuju cahaya. Bahkan Hingga akhir hayatnya pun Rasulullah tetap mengkhawatirkan umat manusia, “ummati…ummati…ummati…”

Cintalah rahasianya. Saat hamparan pasir itu menjadi mercusuar peradaban, saat Islam meluas dari jazirah Arab ke kawasan Asia Tengah, Selatan, Tenggara dan Cina, atau kawasan Afrika Selatan dan Utara hingga ke Eropa Barat dan Timur, bukan hanya sekedar catatan-catatan perang, hunusan pedang dan lautan darah. Akan tetapi Itu adalah catatan-catatan para generasi juang yang penuh cinta karena Allah yang datang membebaskan jiwa-jiwa manusia dari belenggu yang membatasi hidupnya dan dari kejahilan yang dilakukannya. Maka teranglah mereka dalam cinta yang melapangkan dunia. Cinta karena Allah di dalam bingkai Islam.

Wallahu’alam.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (19 votes, average: 9,47 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Nada Ash-Shubhi
Lahir di Bandung 21 September. Anak ke empat dari enam bersaudara; Amal, Maruf, Hodam wijaya, Gigin Ginanjar, Wiguna Syukur Ilahi. Inilah keenam lelaki yang selalu disebut-sebut dalam doa orang tua itu. Doa kesuksesan untuk masa depan. Mereka adalah anak sejarah yang akan menggoreskan tinta di lembaran sejarah peradaban sebari penguak dinding sejarah. Semoga menjadi pemimpin di negeri sarat nestapa ini. Lahir dari pasangan Solihat dan Adeng. Setelah menyelesaikan studi S1 program studi perbankan syariah, STEI SEBI, Depok. Kini aktivitas melanjutkan studi di STIS Nurul Fikri, Lembang jurusan siyasah syariah. Mulai mencoba menulis setelah lulus dari SMA, meskipun saya tidak tahu apa yang saya tulis. Beberapa karyanya diantaranya adalah Buku Belajar merawat indonesia, serial kepemimpinan alternatif (Bersama beastudi etos DD), Buku Talk Less Do More (SEBI Publishing), Paper Model agricultural Banking, Paper Peran LPZ dalam pengembangan ekonomi umat di Indonesia, Buku Catatan sang surya (Bersama Komunitas MOZAIK Sastra)

Lihat Juga

Ilustrasi (flickr.com/Nelo Esteves)

Hanya Karena Cinta