Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Antara Awal dan Akhir

Antara Awal dan Akhir

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (ist)

dakwatuna.com – cdnoult blveiee taht I cloud aulaclty uesdnatrnrd waht I was rdaenieg. The phaeonmneal pweor of the hmuan mnid, aoccdrnig to a rscheearch at Cmaabrigde Uinervtisy, it doeosn’t mttaer in waht oredr the ltteers in a wrod are, the olny iprmoatnt tihng is taht the frist and lsat ltteer be in the rghit pclae. The rset can be a taotl mses and you can still raed it wouthit a porbelm.

Tihs is bcuseae the huamn mnid deos not raed the ervey lteter by itslef, but the wrod as a wlohe. Amzanig huh? Yaeh and I awlays tghuhot slpeling was ipmorantt! If you can raed tihs psas it on!!

Akhirnya, selesai juga ngetik kata-kata di atas, bayangkan untuk menulis kata-kata tersebut paling tidak bisa 3 kali lebih lambat dibanding tulisan normal pada awalnya.

Sebuah rangkaian kata yang diotak-atik sedemikian rupa sehingga keseluruhan kalimat tersebut itu bisa dibaca sempurna meski huruf-hurufnya berurutan secara tidak lazim.

Namun, ada yang menarik dalam rangkaian kata-kata di atas. Betapapun hurufnya dibolak-balik, akan tetapi huruf awal dan akhirnya selalu diusahakan tetap seperti kata normalnya. Mengapa? Karena awal dan akhir akan sangat menentukan bagaimana kita mengeja secara keseluruhan kata tersebut. Artinya, sepanjang kita mengetahui awal dan akhir katanya, hal tersebut akan relatif lebih mudah untuk dibaca meski huruf pertengahannya berubah secara dinamis.

Dalam kehidupan ini, ada manusia yang tidak memikirkan akan ke mana akhir yang akan ia tuju. Manusia terkadang lupa, bahwa keberadaannya di muka bumi ini pasti ada awal dan akhirnya. Ada awal bagaimana ia diambil janji setia kepada Sang Pencipta, sehingga ketika ruh itu ditanya “alastu bi rabbikum?”, lalu ruh itu menjawab ”qaaluu balaa syahidnaa”.

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)””. (QS. Al-A’raf: 172)

Ketika kita menyadari kembali awal mula penciptaan kita sebagai manusia, maka rasa syukur itulah yang harus senantiasa terucap atas segala limpahan rahmat dan karuniaNya. Bahwa keberadaan kita di dunia ini mempunyai misi untuk menjalankan amanah sebagai khalifah dan abdullah. Sehingga, fondasi dasar kepahaman akan amanah yang Allah berikan kepada manusia adalah untuk senantiasa meningkatkan kedekatan diri kita kepadaNya.

Selanjutnya, kita pun harus menyadari bahwa ada batas waktu yang telah Allah tetapkan untuk keberlangsungan hidup kita di dunia ini. Ada limit hingga yang menjadi titik akhir berakhirnya amanah manusia di muka bumi.

‘Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Ali-Imran: 185)

Saat kita mampu memahami awal dan akhir hidup di dunia ini, insya Allah segala dinamisasi kehidupan akan dapat tetap terbaca sesulit apapun. Liku kehidupan adalah sesuatu yang harus dihadapi, karena hal tersebut adalah untuk menguji kita apakah kita mampu tetap bisa membaca esensi kehidupan ini.

Wallahu A’lam.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 9,13 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Jupri Supriadi
Lahir pada tanggal 14 Februari 1990 disebuah desa di Kabupaten Bogor, tepatnya di kawasan Parung.Saat ini sedang merantau untuk melanjutkan studinya di Universitas Gadjah Mada dan berdomisili di asrama Lembaga Pendidikan Insani (LPI), Kompleks Gedung Gema Insani Press Yogyakarta. Sebelumnya menetap selama 3 tahun di Asrama MAN Insan Cendekia Serpong dan menjadi salah satu santri di sekolah tersebut.Salam hangat :) ....

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Perjuangan Tak Berakhir Sampai Senja