Home / Pemuda / Cerpen / Pesan Tersirat Seorang Sahabat (Based on True Story)

Pesan Tersirat Seorang Sahabat (Based on True Story)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (ist)

dakwatuna.comSeorang sahabat memang begitu berarti. Terlebih jika Ia juga seorang yang selalu mengingatkan di kala kita salah, meneguhkan di kala kita goyah dan ikut menangis jika kita saat itu menangis sedih. Sahabat yang membersamai kita dalam mencari ridha Allah. Ia jauh lebih berarti dari sekadar setumpuk materi berharga sekalipun di dunia ini. Dan, akan sangat terasa kehilangan jika suatu saat ia pergi tanpa kabar berita. Walaupun meninggalkan kenangan manis yang sulit dilupa.

Sahabatku, seberapa banyak hari yang sudah kita lewat bersama. Berapa banyak canda tawa dan tangis kita tercatat dalam perjalanan hidup yang telah kita lalui. Aku dan kau adalah hamba-hamba Allah yang Insya Allah ridha pada TakdirNya. Dan Allah menakdirkan engkau untuk menghadap-Nya lebih awal. Dan walau kau tak pernah menyebutnya secara tersurat pada kami, aku tahu kau telah ridha pada keputusan itu. Kami di sini pun begitu. Demi Allah kami telah ridha atas kepergianmu. Allah Maha Mengetahui dan Allah tak akan pernah menzhalimi hambanya.

Sahabat, aku teringat kala kita pertama bertemu. Suatu acara (Musabaqah Tilawatil Qur’an) MTQ tingkat kabupaten saat itu tahun 2005. Pertama kali kita bertemu. Ternyata Allah kembali mempertemukan kita di MTQ selanjutnya di tingkat Propinsi. Itulah perkenalan singkat kita. Sampai suatu saat. Kita pun diizinkan bertemu kembali di bandar udara HAS Hananjoedin, Buluh Tumbang untuk berangkat menuju suatu kampus di Bogor. Aku dan kau bersama kembali dalam satu program beasiswa sarjana untuk melanjutkan studi di Perguruan Tinggi Negeri di Bogor. Bagiku dan mungkin juga bagimu ini adalah karunia Allah yang besar. Dua orang remaja lulusan SMA yang hampir memutuskan tidak melanjutkan kuliah tahun itu ternyata diizinkan untuk merasakan bangku kuliah. Rasa syukur itu kemudian bertambah dan berkali-kali lipat saat masuk ke kampus dan menemukan teman-teman baru dan banyak pengalaman baru.

Sahabatku, masihkah ingat? Ketika di asrama kampus aku harus menginap di kamar Asramamu No. 56 karena aku belum dapat kunci kamar asramaku. Masih ingatkan obrolan dua orang anak kampung dari Belitong terkesima dengan dunia baru: Kampus. Aku salut kawan, stereotip kita sebagai anak kampung ternyata tidak pernah menyurutkan kita untuk semakin belajar. Yang aku tahu kemudian engkau menjadi salah satu GDA (Gugus Disiplin Asrama). Dan aku pun belajar untuk berorganisasi di Badan Eksekutif Mahasiswa. Kuliah memang tidak mudah ya sahabatku, namun tidak ada kata menyerah. Aku lihat engkau adalah orang yang gigih. Semangatmu, Motivasimu jelas sehingga tenagamu selalu berlipat-lipat.

Akhir masa tahun pertama di asrama kampus, kita sepakat untuk pindah ke asrama mahasiswa daerah Belitung di daerah lingkar kampus. Aku dan kami semua semakin mengenal karaktermu. Seorang yang mempunyai cita-cita luhur dan berbakti pada orang tua. Semangatmu sudah tidak terbantahkan lagi. Ketika suatu saat kau diamanahi menjadi ketua kontingen Gebyar Nusantara IKPB (Ikatan Keluarga Pelajar Belitung) kita berhasil menyabet juara ke-2 untuk kategori Stand Terbaik. Sahabatku, kau sungguh hebat. Aku kembali berdecak kagum. Lainnya, aku paham jurusanmu memang cukup sulit dan standar IPK kita juga bukan main-main, tapi itu semakin memotivasimu. Berkali-kali aku dengar engkau ingin menyekolahkan adikmu yang sebentar lagi akan lulus dari SMA. Cita-cita yang luhur saat engkau memang ada pada posisi pengganti kedua orang tuamu.

Suatu saat, engkau meminta tolong untuk merumuskan visi misi. “Apa ini?” aku kaget. Ternyata engkau berniat mencalonkan diri menjadi ketua himpunan profesi jurusan. “Ini karena dukungan dari teman jurusan aja”. Engkau masih menyempatkan diri untuk berkecimpung di organisasi. Malam itu kita merumuskannya. Entah apa yang kita dapatkan hasilnya, aku juga sudah lupa. Tak ada peristiwa berarti setelah masa itu. Dalam lingkungan asrama engkau adalah orang yang punya kebiasaan aneh. Engkau selalu menanyakan “Bang/Kak, aku nak ke kampus. Nak nitip ape?” dalam bahasa Melayu. “Mau nitip apa?” sering engkau tanyakan pada penghuni asrama yang lain. Tak pernah merasa beban jika dititipi untuk beli makanan, minuman. Engkau malah senang. Luar Biasa.

Pemilihan raya ketua himpunanmu usai, dan engkau belum berhasil menjadi ketua, namun engkau diminta menjadi wakil ketua himpunan profesi jurusanmu. Tak lama kemudian di IKPB pun ada pemilihan raya ketua yang baru. Hanya kau dan aku yang berkemungkinan mencalonkan, namun aku lebih memilih menjadi ketua asrama dan engkau kemudian terpilih menjadi ketua IKPB Bogor kabinet “Sang Pemimpi”. Nama kabinet yang tak asing bagi mahasiswa Belitong. Dan semua berjalan mengalir sebagaimana mestinya. Kesibukan kuliah itu, tugas-tugas itu, ujian-ujian itu terlewati dengan sendirinya. Kadang waktu ini memang berlalu kian cepat.

 …..

            Mengingat semakin sedikit lulusan SMA dari Belitong yang melanjutkan kuliah ke kampus ini tiap tahunnya maka acara Sosialisasi Kampus Kita pun direncanakan. Motivasi kita hanya ingin memperkenakan kampus ini, dengan segala kenyamanan lingkungannya dan fasilitasnya. Semua sudah dipersiapkan. Presentasi itu, souvenir-souvenir kecil dari dana swadaya, kata-kata persuasif itu, sudah kita paket bersama dan akan dibawa ketika pulang kampung nanti. Dan ternyata kami harus pulang lebih dulu liburan itu. Engkau masih harus menyelesaikan ujian yang agak terlambat waktunya. “Setelah selesai ujiannya aku langsung pulang” katamu. Sosialisasi Kampus itu kita lakukan bersama-sama dengan anak-anak Belitong yang lain. Kita juga tak menyia-nyiakan momen ini untuk bersilaturahim sesama keluarga kita (karena kami berasal dari SMA yang berbeda juga dan rumahnya berjauhan, dan pastinya jalan-jalan khas pulau, jalan-jalan ke pantai. Berfoto-foto ria. Menulis tulisan di pasir. Dan banyak hal yang menyenangkan.

Beberapa SMA sudah dikunjungi dan misi kita selesai. Sisa waktu yang ada digunakan untuk melepas gaok (baca: rindu) dengan sanak keluarga di kampung halaman. Anak rantau yang hanya 6 bulan sekali pulang atau kadang setahun sekali. Waktu liburan selesai dan kampus kembali ramai. Banyak wajah yang terlihat jelas belum rela untuk kembali menjalani hiruk pikuk kuliah. Namun, rasa itu akan pudar tak lama setelah tugas-tugas dan kesibukan kampus lainnya menghampiri.

 ….

Teringat ketika akan masuk UAS Semester IV, kesehatanmu terlihat menurun. Beberapa kali engkau sampai harus tidak masuk ujian. Setelah kami desak, engkau katakan bahwa “aku kena tifus kata dokter klinik”. Penyakit yang populer di mahasiswa memang, tapi lantas tidak boleh disepelekan. Setelah beberapa kali berobat ke Dokter kondisimu tetap saja dan tidak membaik. Kami mulai khawatir. Suatu saat aku masuk ke kamarmu sambil berkata dengan nada bercanda “lho sakit kok jadi tambah gemuk sih, hehe”. Ada alasannya memang aku berkata demikian. Jika dilihat sepintas wajahnya nampak semakin gemuk. Tidak ada dugaan lain saat itu. Namun secara logika itu masih kurang wajar, gemuk di saat sakit.

Sampai suatu tengah malam, semua penghuni asrama kaget. Engkau muntah-muntah dan ada darah. Semua langsung berangkat ke Rumah Sakit terdekat. Pukul 2 dini hari baru kami agak lega. Rumah sakit yang ketiga ini berkenan menerima pasien karena ruangannya masih kosong. Dua rumah sakit sebelumnya menolak karena tidak ada ruangan lagi. Sekitar beberapa minggu engkau harus di rawat inap intensif di ICU. Dan tanpa perlu banyak diskusi, setiap kami memang sudah yakin penyakit yang kau alami hanya tifus biasa. Dosen, teman-temanmu berdatangan. Dukungan simpati dari terus kampus mengalir.

Suatu malam, aku duduk di sampingmu. Sudah sekitar 3-4 hari engkau tidak bisa istirahat dalam posisi tidur, harus dalam posisi duduk. “Kalo posisi tidur nafas susah, sering batuk juga” jelasmu. Engkau memintaku membacakan Al-Quran. “Sudah lama aku tak mendengar lantunan ayat-ayat Al-Quran” katamu. Aku masih ingat ayat yang kubacakan malam itu surah Al-Ankabut. “Dan apakah manusia itu dibiarkan mengatakan dirinya beriman padahal belum datang ujian baginya?” salah satu terjemahan ayatnya berbunyi demikian. Dalam hati, aku berharap ujian-ujian yang kau hadapi saat ini adalah karena Allah ingin menguji iman yang ada pada dirimu. Semoga engkau dikuatkan. Semoga engkau lulus ujian pada Allah ini.

Aku tahu dokter berusaha keras mencari apa sebenarnya penyakit yang engkau derita karena ini jadi bahan pertanyaan kami dan setiap temanmu yang berkunjung. Sampai suatu saat dokter meminta wali atau keluargamu menghadap, namun belum ada salah seorang dari mereka yang sampai saat itu. Akulah akhirnya yang memenuhi panggilan dokter tersebut walaupun setelah tahu dokter agak kecewa karena bukan keluarga inti yang datang. Ginjalmu sudah tidak berfungsi normal dan berarti engkau harus cuci darah segera. Tidak ada yang menyangka dokter akan berkesimpulan demikian.

Cuci darah harus dilakukan di Rumah Sakit terpisah karena keadaan rumah sakit itu tidak mendukung fasilitas itu. Setelah cuci darah pertama, engkau nampak lebih segar. Kami harus memutuskan untuk memindahkanmu ke rumah sakit yang lain setelah keadaanmu membaik karena akan tergantung dengan alat hemodialisa. Ternyata masalahnya banyak pada ginjal yang tidak berfungsi, terbukti setelah cuci darah rutin seminggu 2-3 kali, kondisimu semakin membaik. “Akankah seperti ini terus?” pertanyaan baru yang bersarang di benak kami dan keluargamu. Banyak bantuan yang berarti dari pihak Pemerintah Daerah dan Alumni sehingga akan dipasang alat CAPD, alat untuk cuci darah mandiri, begitu penjelasan  mudahnya.

Kondisi yang semakin membaik dan akhirnya engkau memutuskan untuk pulang ke Belitung tanggal 2 Syawal atau 1 September 2011. Hari ‘Idul fitri di rumah. Momen yang sakral untuk dilewatkan setiap tahunnya oleh anak-anak rantau. Kita kembali berjumpa dalam situasi yang tak biasa. Suasana yang lebih santai, di rumahmu. Tak lama memang, setelah bercengkerama, berbagi cerita, canda dan tawa. Kami pamit untuk pulang. Kondisimu sudah tidak mengkhawatirkan. Kami optimis akan kembali seperti biasa.

 …..

            Berselang beberapa waktu, kami masih menghubungimu via SMS atau telepon. “Everything is all right”. Engkau pun sudah bisa membalas sapaan teman-temanmu lewat jejaring sosial Facebook. Banyak yang menanyakan, kapan balik ke Bogor? “Insya Allah semester V kembali ke kampus”. Suatu siang 26 Oktober 2011 ada kabar bahwa engkau telah wafat. Serasa tidak percaya dan tidak nyata. Berkali-kali dikonfirmasi ulang dan hasilnya sama. Semua masih tercenung tidak percaya dengan raut muka yang menahan duka mendalam. Dan sore itu, asrama dilanda isak tangis yang membahana. Tak lama setelah berita itu menyebar di kampus. “Dan kau pun ternyata tidak bisa menepati janjimu” demikian komentar salah seorang temanmu di halaman facebookmu. Di atas komentar itu masih ada pernyataanmu yang akan kembali di awal semester V nanti. “Muajahah” (bertemu langsung/ bertatap muka) kita tidak akan pernah terjadi lagi di dunia fana ini. Meski berat untuk mengatakan namun kuucapkan, selamat jalan sahabat. Semoga bertemu kembali nanti dan kembali mengurai bercerita kisah-kisah kita.

Sudah hampir setahun setelah engkau wafat. Masih sering teringat kenangan dan segala kecerianmu di asrama ini. Hanya doa yang bisa menjadi sarana satu arah bagi kami untuk berinteraksi denganmu. Tepat tanggal 6 April 2012 di tengah malam saat masa Ujian Tengah Semester, aku tengah asyik mendengarkan sebuah nasyid UNIC – Sahabat Sejati. Sengaja menjadi backsound saat ingin membangkitkan memori tentang dirimu. “Pertemuan dan perpisahan adalah ketentuan ilahi, semoga kita selalu di bawah naungan rahmat-Nya”. Sembari itu aku membuka foto-foto terakhir bersamamu yang terdokumentasi. Sudah berkali-kali memang folder itu kubuka. Namun saat itu, air mata tanpa sadar mengalir, saat membuka satu foto dirimu. Entah kenapa sepertinya foto itu tak pernah ada saking tak biasanya aku melihatnya. Di foto itu kau duduk di samping pasir putih yang kau tulis sendiri dengan ranting. Goresan pasir itu membentuk tulisan “IF LIFE IS SO SHORT!”. Entah itu sebuah lirik lagu, aku memang jadi sebuah pesan tersirat yang ingin kau sampaikan kepada kami saat ini. “JIKA HIDUP (INI) BEGITU SINGKAT”. Semoga engkau dikumpulkan bersama orang-orang saleh di sisi Allah SWT. Sampai bertemu.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (25 votes, average: 9,76 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mohammad Fadhillah
Penulis adalah seorang Mahasiswa S1 Biologi 2009, Institut Pertanian Bogor. Asal daerah dari Kabupaten Belitung Timur, Propinsi Kep. Bangka Belitung. Saat ini aktif di Lembaga Dakwah Kampus FMIPA IPB yaitu, Serambi Ruhiyah Mahasiswa FMIPA (Serum G) 2012 dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Komisariat IPB 2012.

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Merenungkan Distorsi “Pesan Berantai”