Statis

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (ist)

dakwatuna.com – Segala puji hanya milik Allah, Robb seluruh alam… Mahasuci Allah, yang seluruh jagat raya beserta perhiasannya, bertasbih memuji Allah…. Mahasuci Allah, yang seluruh gunung dan hamparan rerumputan bertasbih kepada Nya, seluruh makhluk.

Shalawat beserta salam semoga selalu tercurah kepada baginda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam.

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih Maha Penyayang.

Statis, lambang kenyamanankah?

Statis, berada di posisi seperti ini amatlah memberi ketenangan. Tidak terbebani visi misi kehidupan yang semakin tak jelas muaranya. Lantas, adakah yang tidak menyukai statis? Allah Maha Mengetahui bahwa manusia menyukai hal-hal yang selalu menghadirkan kenyamanan, karena manusia adalah makhluk yang diciptakan Allah dengan sosoknya yang gemar berkesah keluh. Allah berfirman, “Sesungguhnya, manusia itu diciptakan dalam keadaan berkeluh kesah lagi kikir” (Qs. Ma’arij:19).

Inilah statis yang sesungguhnya…

Sahabat, suatu sore saat perjalanan menjenguk teman di sebuah Rumah Sakit, pandangan mata berkeliling sebebas bebasnya. Banyak pemandangan tak biasa di sini. Dari mulai kamar bersuarakan gaduh rekan-rekan yang menjenguk salah seorang pasien, kamar yang hening hanya bersuarakan lirih pasien menahan sakit tau pasrah (entahlah), hingga kamar yang sudah amat sepi ditinggalkan penghuninya (yang semoga saja sudah pulih).

Pandangan mata ini berhenti pada satu sudut ruangan berwarna hijau teduh. Kaki melangkah masuk pelan membelakangi langkah temanku. Banyak rasa aneh menyergap. Ruang ICCU kah ini? Astaghfirullah, temannya teman ku setia di tempat tidur itu tidak sebentar, kini sudah hitungan satu bulan. Badannya semakin melemah, sudah tak jelas lagi aura wajahnya.

Lagi, mata ini berhenti memandangi layar detak jantung bergaris hijau. Garisnya tak beraturan justru rendah semakin rendah. Berganti garis lurus datar statis. Tanda apakah garis itu? Is dead sahabat… the sign of rest in peace.

Sebuah perumpamaan tentang statis. Garis stabil datar yang seperti itukah yang diidam-idamkan? Bila iya, maka sahabat sedang menikmati apa? Sedang menikmati kematian….. menikmati kematian potensi, kematian akal, kematian hati bahkan.

Di alur kehidupan, bagi yang tak suka tantangan, maka hidupnya statis…tak bergerak. Tsumma na’udzubillah.

Bergeraklah sahabat, buatlah grafik terindah kehidupan kita yang ketika menjulang maka menjulang perlahan, bukan terjungkal manakala segala “atribut” kesuksesan di raih dengan cara yang nista. Lejitkan grafiknya dengan indah, karena Allah menilai proses menuju perubahan tidak sekedar pencapaian.

Pergerakan yang kita upayakan, bukanlah hasrat memenuhi hajat duniawi semata. Pergerakan ini harus berkaryakan menuju kebahagiaan hakiki. Dakwah sahabatku, inilah pergerakan sejati kita semua. Allah mengingatkan kita dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 196- 197 yang artinya:

“Jangan sekali kali kamu terpedaya oleh kegiatan orangorang kafir (yang bergerak) di seluruh negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat kembali mereka adalah neraka jahannam. Itu adalah seburuk- buruk tempat kembali.”

Benarlah yang di ungkapkan… Sebesar kadar kesedihanmu untuk urusan dunia, maka sebesar itu pulalah akan terusir obsesi akhiratmu. Sama dengan, sebesar kadar kegelisahanmu untuk urusan akhirat, maka sebesar itulah akan terbuang obsesi duniamu.

Maka, Statis atau tidak, itu merupakan hak individu. Setiap manusia akan membawa amalnya masing-masing. Yang jelas waktu tidak akan terulang mundur. Kesempatan yang ada harus segera di ambil. Menyesal tidak pernah di awal waktu, banyaknya waktu luang sering di lalaikan. Itulah wabah epidemic statis.

Jangan sampai kita termasuk umat yang berdoa memohon pertolongan di kala susah namun lalai di kala senang. Allah juga berjanji tidak akan pernah membiarkan hamba Nya sendirian menyelesaikan kepingan hidup, merana atau bahagianya Allah selalu membersamai. Lantas, mengapa takut beranjak dari posisi statis?

Semoga bermanfaat.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 9,60 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Lihat Juga

Gerakan Menutup Aurat (GEMAR) 2016. (ist)

Gerakan Menutup Aurat, Jilbab Bukan Pilihan Melainkan Kewajiban

Organization