Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Keterkesanan Sosial

Keterkesanan Sosial

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Kadang dalam interaksi, sesuatu yang berkesan bermula dari kebaikan sederhana…

Kadang dalam interaksi, kala yang lain bersikap seadanya lalu kita mendekat dalam ketulusan hati yang berbeda…

Kadang dalam interaksi, menyisakan memori yang tiada pernah lekang dalam hidup…

Kadang dalam interaksi, semakin hari semakin dekat, karena sikap yang dulu mungkin berkesan…

Ilustrasi (thenotesonmyblog.blogspot.com)

dakwatuna.com – Sahabat, pernahkah engkau bayangkan kala dalam hidup kita dikucilkan hingga puluhan hari? Kala menyapa tiada yang membalas? Kala meng-klarifikasi tiada yang mendukung? Kala shalat dan berkumpul bersama dalam majelis tiada yang menatap atau sekadar menyapa? Bayangkan sahabat betapa sempitnya dunia tanpa interaksi kan?

Begitulah Ka’ab bin Malik kala iqob (hukuman) menderanya kala tak ikut bersama pasukan muslimin dalam peperangan, iqob yang turun langsung dari Rabb semesta alam melalui Rasul-Nya, kalau sudah begini, jangankan manusia lainnya, Rasul pun tiada hak untuk melepas deraan sosial yang menyesakkan dada. Hingga ketabahan berujung keceriaan, kala Rabb mengampuni Ka’ab, kala baju tak punya ia terpaksa meminjam demi bertemu Rasul dan para sahabat yang ia rindukan. Namun sahabatku yang baik, kadang dari segala kebaikan muncul sebuah kesan yang unik, mari kita simak seperti apa Abbas As-Sisi menceritakan tentang seorang sahabat yang membuat Ka’ab tiada pernah melupakannya,

Di tengah jalan banyak orang yang menyambut saya dengan mengucapkan selamat atas penerimaan taubat kami, sehingga sampailah saya di masjid tempat Rasulullah sedang duduk dikerumuni oleh para sahabat. Pada saat itu seorang sahabat yang bernama Thalhah bin Ubaidillah RA bangkit dari duduknya lalu menyambut saya dan mengucapkan selamat. Demi Allah swt., tiada seorang pun dari kaum Muhajirin yang bangkit dari tempat duduknya selain Thalhah, sehingga saya tidak dapat melupakan sikap Thalhah itu.”Begitulah, dengan sikap itu Thalhah RA menjadi orang yang menempati sudut hati Ka’ab bin Malik RA.

Sudahkah kita berbuat baik untuk sesama hingga menciptakan kesan yang mendalam karena ALLAH? Jangan-jangan kita mulai tak santun dan tak peka lagi dengan kesulitan sesama?

Dalam merubah tatanan yang bermuara pada cinta dan ridha Ilahi, ternyata bukan dimulai dari hal yang super besar, namun bagaimana tatanan sosial yang tenteram dan saling mengisi.

Wallahua’lam.

K-Serial Muamalah

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 6,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sekretaris Jenderal FORMMIT (Forum Mahasiswa Muslim Indonesia di Taiwan) 2011/12. NSYSU, Taiwan

Lihat Juga

Ilustrasi. (dakwatuna.com / hdn)

Mencontoh Nabi dalam Berpolitik