Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Tak Ragu Pada-Mu

Tak Ragu Pada-Mu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Kini aku tak lagi ragu pada jelaga kelabu yang kerap meremuk-remuk rindu atas salju yang hangat. Semenjak kalimat-demi kalimat ku teguk bagai anggur di musim hujan, tak lagi rasanya kujumpai ocehan menantang yang selalu berhambur bagai demonstrasi massa ketika penguasa tak lagi punya jiwa yang bijaksana. Sedih itu memang sesekali hadir, tapi catatan-Nya telah abadi menghibur kegelapan malam saat para insom tertawa mencatat tanda-tanda waktu yang kian menua.

Lelah pun selalu beriring debu di bawah hamparan biru bak panggung seni dimana burung-burung kecil meliuk-liuk bebas tanpa dosa. Lalu lalang itu merumitkan detik yang tak kan bertahan lama, tapi selalu acuh dan keluh menghiasi putaran lapisan tanah bumi.

Mengapa rasanya semakin janggal bila celoteh itu menggema dan terus menggema dimana-mana, tidakkah mereka merasa damai dengan tangisan embun pagi yang bertasbih penuh cinta? Saat matahari kembali dirangkul senja, lalu malam segera siap menjelang membawa bintang-bintang penghias kesenyapan? Atau saat altar maut diperdengarkan dan mayat-mayat dibariskan ketika tanah suci dihanguskan?

Tidakkah merasa malu pada gemericik air yang ketenangannya mampu menghanyutkan berjuta-juta jiwa hingga mereka melayang menuju nirvana entah di entah sana? Mampukah kita bicara keteraturan, saat rimbun pegunungan berubah gersang, memerah membara merekah menghanguskan wilayah dengan genangan dalam kesedihan?

Terkadang, tanya dalam hati membuat tawaku menangis di belukar hiruk pikuk hari-hari. Adakah amarah-Mu tidak menyisakan cinta pada untaian doa malam atau di ribuan sujud di perempat hari saat matahari belum sampai pada ubun-ubunku? Tidak mungkin semua sia-sia belaka.

Karena jingga pelangi tidak seberapa indah menceritakan sebetapa megah kasih sayang-Mu, dan semut-semut yang berarak-arakan pada pepohonan, dan kupu-kupu berwarna mewah sekalipun. Tak mampu mengisahkan berapa lembar lagi yang tersisa dari lauh mahfudz-Mu. Dan negeri yang dimana sungai-sungai mengalir di dalamnya adalah nafas mimpi dalam aliran pada nadi urat syaraf manusia. Keindahannya begitu dekat dan bersahabat dengan nurani apabila dia ada di hati.

Jika begitu seharusnya tak ragu pada-Mu setiap yang hidup memenuhi kehidupan pekat ini dan tak perlu menutup buku sijjin itu, karena dalam illiyyin sudah cukup menyejarah sebagai bukti kemahadahsyatan cinta-Mu.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 8,86 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhammad Khalabi
Seorang hamba Allah yg selalu ingin memperbaharui diri menjadi lebih baik serta lebih berarti bagi hidup dan kehidupan.

Lihat Juga

Ilustrasi. (7-themes.com)

Futur, Maafkan Kami yang Sekarang Yaa Allah