Home / Narasi Islam / Resensi Buku / Islam Liberal 101

Islam Liberal 101

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Judul Buku: Islam Liberal 101
Penulis: Akmal Sjafril
Tebal: xxii + 226 halaman
ISBN: 978-602-98259-0-9
Penerbit: Indie Publishing

Cover Buku "Islam Liberal 101". (ist)

dakwatuna.com – “Islam liberal adalah sebuah kontradiksi.” Inilah poin pertama yang digarisbawahi oleh Adian Husaini dan Nuim Hidayat dalam menjelaskan fenomena Islam Liberal, merujuk pada sebuah buku karya Charles Kurzman.

Entah mengapa Charles Kurzman dalam bukunya Wacana Islam Liberal, memulai pengantarnya dengan membantah istilah “Islam Liberal” yang merupakan judul bukunya sendiri. Menurut Kurzman, ungkapan “Islam Liberal” (liberal Islam) mungkin terdengar seperti sebuah kontradiksi dalam peristilahan (contradiction in terms). Mungkin ia bingung dengan istilahnya sendiri: Islam kok liberal? Meski ia menjawab di akhir tulisannya bahwa istilah Islam Liberal itu tidak kontradiktif, tapi ketidakjelasan uraiannya masih tampak di sana-sini” Nuim Hidayat & Adian Husaini, Islam Liberal, hlm. 1-2.

Paragraf di atas adalah sebagian penjelasan dari buku Islam Liberal 101 karya Akmal Sjafril. Mengapa kata Islam Liberal terdengar kontradiktif? Tentu saja terdengar begitu janggal dan terdapat kontradiksi yang sangat kuat di antara kedua kata yang saling berdampingan tersebut. Bagi siapapun yang mempelajari Islam secara sungguh-sungguh, maka pasti akan menyadari bahwa Islam tidaklah liberal. Di dalam Islam terdapat sistem dan nilai-nilai keindahan yang harus dipatuhi oleh pemeluknya. Islam memerdekakan manusia dari segala keterikatannya kepada sesama makhluk dan kepada sistem di luar Islam. Islam adalah sebuah agama yang merdeka, namun bukan agama yang bebas. Terlebih lagi bebas dalam menafsirkan ajaran sesuai dengan keinginannya sendiri. Sedangkan menurut arti secara bahasa, liberal berarti bebas. Islam bukanlah agama yang mengekang para penganutnya. Islam pun mengenal istilah kebebasan, yaitu kebebasan yang bertanggung jawab dan berlandaskan pada ajaran-ajaran Islam itu sendiri, berlandaskan pada Al-Qur’an dan Hadits. Sedangkan Islam Liberal? Dari namanya saja kita pasti sudah memiliki jawabannya.

Tidak hanya dari segi nama “Islam Liberal” saja yang mengundang banyak tanda tanya dan pertentangan. Cara berpikir, gerak-gerik, dan kata-kata para penganut Islam Liberal pun memang terdapat banyak kontradiksi dan ketidaksesuaian dengan Islam itu sendiri. Islam Liberal selalu mengedepankan modernitas sebagai landasan berpikir mereka. Ajaran-ajaran Islam dirasa sudah tidak sesuai dan “ketinggalan zaman”, sehingga para penganut Islam Liberal dengan ketidakpahamannya berusaha menafsirkan ajaran Islam sesuai dengan seleranya sendiri. Ijtihad, itulah sanggahan mereka ketika banyak yang mendebat bahwa tafsiran mereka salah.

Para penganut Islam Liberal menganggap bahwa semua agama adalah sama, karena semua agama pada dasarnya sama-sama menyembah Tuhan, hanya dengan cara dan ajaran yang berbeda. Maka, agama bukan lagi menjadi hal yang sakral dan suci. Mereka juga menganggap bahwa Islam adalah suatu hal yang relatif, dan setiap orang mempunyai hak untuk menafsirkan Islam sesuai dengan keinginan mereka. Mereka menganggap setiap orang memiliki hak dan wewenang untuk menafsirkan dan beribadah dalam Islam sesuai dengan cara dan keinginannya sendiri. Padahal, kita tahu bahwa Islam memiliki aturan dan cara-cara tersendiri dalam beribadah.

Ketika para muslim merasa berang karena ada pihak yang berani-berani menggambar karikatur Nabi Muhammad SAW, para penganut Islam Liberal dengan santainya menjawab “Nabi akan tetap mulia walau dihina!” Terasa janggal dan membuat emosi? Itu baru sebagian, para penganut Islam Liberal pun mempunyai penyakit fatal selanjutnya, yaitu ”Tuhan tidak perlu dibela!” Itu adalah penyakit fatal lainnya yang diidap oleh para penganut Islam Liberal.

Keterangan-keterangan di atas adalah sebagian kecil dari Islam Liberal. Buku Islam Liberal 101 karya Akmal Sjafril mengupas tuntas soal Islam Liberal. Mulai dari sejarah Islam Liberal, paham-paham Islam Liberal yang nyeleneh, tokoh-tokoh Islam Liberal, dan strategi-strategi para penganut Islam Liberal untuk melancarkan dan menyebarkan pemahamannya. Ghazwul Fikriy, atau perang pemikiran adalah salah satu jurus andalan para penganut Islam Liberal.

Buku ini sangat direkomendasikan bagi para muslim. Setelah membaca buku ini kita akan lebih mengetahui dan mengenal lebih jauh apa itu Islam Liberal. Buku ini juga sangat cocok bagi para siswa dan mahasiswa agar lebih waspada di tengah ghazwul fikriy yang semakin menggila ini. Kritis, namun tidak kebablasan dan memiliki landasan yang kuat sebelum mengkritisi sesuatu. Itulah yang harus kita lakukan, agar tidak terseret ke dalam pemahaman Islam Liberal yang telah nyata nyeleneh dan melenceng dari ajaran Islam sesungguhnya.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (23 votes, average: 9,22 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mahasiswa Universitas Sampoerna School of Education.
  • Muhamad Farhan

    Islam liberal produk Amerika

  • BramSonata

    Adanya umat Islam yg warna warni, salah satunya umat yg liberal dalam menganut Islam (bukannya Islam yg liberal), disebabkan oleh satu hal(saja), Ulama, ustadz,syeikh, kiyai, guru ngaji, mursid, dalam dakwah Islamnya, tidak mengedepankan / mengutamakan pembentukan akidah Islam, yg bertauhid murni, (persis) apa yg dilakukanoleh para utusan Tuhan ( Nabi dan Rasul). kepada umat manusia.

Lihat Juga

Ekonomi Syariah (Ilustrasi) - (skalanews.com)

Indonesia Menjadi Pusat Keuangan Perbankan Islam Dunia, Mungkinkah?

Figure