Home / Berita / Silaturahim / The Power of Sedekah Bersama Ustadz Yusuf Mansur dengan PPI UTM

The Power of Sedekah Bersama Ustadz Yusuf Mansur dengan PPI UTM

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ustadz Yusuf Mansur bersama keluarga besar Persatuan Pelajar Indonesia Universiti Teknologi Malaysia. (Choiriyah)

dakwatuna.com – Acara pengajian dwi bulanan yang diselenggarakan PPI-UTM (Persatuan Pelajar Indonesia – Universiti Teknologi Malaysia) pada Ahad malam (22/04/2012) sangat special karena dihadiri oleh ustadz Yusuf Mansur (YM). Kegiatan ini yang digelar setelah penutupan acara olahraga PPIM (Persatuan Pelajar Indonesia se-Malaysia), setelah 3 hari berturut-turut diadakan Perlombaan Olahraga Persatuan Pelajar Indonesia se-Malaysia (POPPIM) yang dimulai tanggal 20 sampai 22 April 2012 bertempat di kampus UTM (Universiti Teknologi Malaysia). Di ikuti oleh pelajar Indonesia yang ada di Malaysia, dalam berbagai perguruan tinggi. Antara lain: UKM (Universiti Kuala Lumpur), UIA (Universiti Islam Antarabangsa), UTP (Universiti Teknologi Petronas), UTeM (Universiti Teknikal Malaysia), Sunway University, MMU (Multimedia University).

Dalam kunjungan Ustadz Yusuf Mansur ke UTM Johor ini, mengambil tema “The power of sedekah & Silaturahim dengan keluarga besar PPI”. Dalam ceramahnya banyak sekali dijelaskan keutamaan bersedekah. Beliau menyampaikan bahwa gelar ‘pelajar’ yang berarti orang yang sedang sibuk untuk menimba ilmu, adalah memiliki posisi yang baik karena sedang melakukan suatu kebaikan. Dan setiap amal kebaikan merupakan sedekah kita, jangan sia-siakan setiap amalan sedekah atau kebaikan tanpa do’a untuk meminta sesuatu kepada Allah SWT.

Menurut ustadz yang telah menulis lebih dari 40 judul buku ini, amalan yang baik dan disertai do’a sangat banyak efeknya untuk kehidupan kita dunia-akhirat. Apalagi menimba ilmu memiliki derajat yang tinggi, karena itu kita diperintahkan oleh Allah untuk terus mencarinya. Karena dengan berpadunya akal kita, hati dan ilmu yang baik akan menjadikan cara pikir juga kehidupan kita menjadi lebih baik.

Dan ilmu tidak memandang umur, kepada siapapun yang dianggap memiliki ilmu yang tinggi serta baik manfaatnya untuk kehidupan dunia akhirat, maka kita layak untuk berguru kepadanya, jangan pernah memandang remeh yang muda dan bahkan terlihat masih kecil. Seperti yang di ceritakan tentang para imam besar yang berguru kepada Imam Syafi’i, padahal saat itu Imam Syafi’i masih berumur 9 tahun.

Ustadz asal Betawi ini juga menjelaskan bagaimana cara kita beramal, dengan tidak pernah enggan untuk meminta kepada Allah. Menunjukkan kepada Allah bahwa kita adalah hamba-Nya yang lemah, tidak mampu melakukan apapun tanpa kehendak dari Allah. “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah: sesungguhnya Aku sangat dekat, Aku perkenankan setiap doa seseorang yang berdoa apabila dia meminta kepada-Ku.” (QS. Al Baqarah: 186).

Acara ini dihadiri oleh lebih dari 100 orang mahasiswa dan para dosen dari Indonesia beserta keluarga sehingga cukup ramai dan sangat hangat. Salah seorang dari  undangan, Ibu Meti Herawati, ibu rumah tangga, istri dosen Indonesia di UTM menanyakan tentang  klasifikasi atau ukuran keikhlasan seseorang, karena banyak yang terjadi salah menyimpulkan suatu keadaan seseorang dalam beramal.

Maka dijelaskan oleh Ustadz YM, contoh-contoh peristiwa dan sikap keikhlasan itu sendiri. Ada yang disebut dengan istilah roti kosong, yaitu suatu tindakan yang benar-benar disembunyikan dalam melakukan amalan kebaikan/sedekah. Yang kedua disebut dengan roti isi, yaitu tindakan yang tujuannya baik disertai dengan kebaikan yang lain. Contohnya dengan memberitahukan kepada yang lain bahwa ada saudara kita yang tengah memerlukan dan disertai dengan sikap yang santun, menjaga etika agar tidak terjadi buruk sangka. Karena saat kita mampu memotivasi yang lain dalam bersedekah atau berbuat kebaikan maka nilai pahala itu juga kita dapat merasakan tanpa kita ikut melakukannya.

Beliau juga memotivasi untuk menjaga shalat malam agar seorang pelajar yang ingin berhasil dan juga dzikir yang tidak pernah putus dalam keadaan apapun sehingga kita selalu dekat dengan Allah SWT. Saat kita merasa cita-cita dan doa tak terkabul, mungkin ada 10 dosa besar yang pernah kita lakukan di masa lalu sehingga menjadi tabir hingga do’a dan cita-cita tidak terkabulkan. Oleh sebab itu kita perlu bertaubat dengan banyak berdzikir terutama istighfar sebanyak-banyaknya, insya Allah dosa-dosa itu dapat diampuni. Akhirnya Allah SWT akan mudahkan segala urusan kita, mengabulkan setiap do’a dan harap kita.

Saat terakhir beliau menghimbau semua yang hadir dalam pengajian, untuk bisa kembali ke Indonesia dan mampu berkontribusi untuk memperbaiki tanah air dan berpartisipasi dalam pembinaan rumah tahfizh yang beliau miliki saat ini.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 8,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Choiriyah
Nama lengkap Choiriyah, lahir dan besar di kota Malang-Jawa Timur, domisili di Batam. Mulai ikut dunia tulis-menulis sejak duduk di bangku SMA, dan menang juara II Karya Ilmiah Remaja di Malang. Saat bekerja di perindustrian Batam, ikut aktif dalam pembuatan buletin dan berita perusahaan se-Asia. Mulai tahun 2011-2014 aktif di FLP Johor. Sekarang Aktif dalam FLP Batam. Semoga dapat lebih banyak berkarya untuk dakwah bil Qolam.

Lihat Juga

Kegiatan Tarhib Ramadhan yang diselenggarakan oleh Forum Komunikasi Muslimah Indonesia di Malaysia (FOKMA) daerah Perak, Malaysia, Sabtu (28/5/2016). (YY Farikha)

Tarhib Ramadhan FOKMA Perak Malaysia