Home / Pemuda / Kisah / Kisah Keluhuran

Kisah Keluhuran

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (aishagrace.wordpress.com)

dakwatuna.com – Ia sebaik-baik manusia yang tercipta, berasal dari bani terbaik dan kabilah terbaik di semenanjung Arabia. Baninya adalah Hasyim, bani terbaik dari kabilah terbaik bernama Quraisy. Luhur budinya dan jika ditarik nasabnya, tiada dari nenek moyangnya yang melakukan ikatan ilegal, zina dan sebagainya, ia lahir dari leluhur, nasab yang bersih, kesemuanya dalam aturan pernikahan yang sepatutnya. Belum juga lahir, Ayahanda sudah tiada, kala ia masih di janin selama 2 bulan. Selepasnya, 6 tahun ditinggal selamanya oleh bunda tercintanya serta 8 tahun ditinggal oleh kakek yang sangat mencintainya. Ia, sebaik-baik insan yang tercipta, belum juga dewasa, telah merasakan sedihnya ditinggal mati semua yang dicinta.

Ia yang mana sebaik-baik insan yang dicipta, selepasnya ia hidup menggembala kambing dan diasuh dengan kasih oleh pamannya, yang nantinya setelah bi’tsah (diutus sebagai Nabiyullah) menjadi border terdepan, kisah kasih, senang sedih, duka lara, menang kalah dan penerimaan serta penolakan dalam dakwah. Ia, insan yang mana sebaik-baik insan yang diciptakan, Rasul tercinta, Muhammad saw.

Ia hadir kala manusia masih tenggelam dalam paganis akut bermodal Latta, Uzza dan Manat, selepasnya ia habiskan banyak waktu untuk bertahannuts di gua Hira dan terus menyendiri serta tiada sekalipun ia menyembah patung-patung tiada guna, yang tak bisa merawat dirinya apalagi merawat manusia. Ya berhala hanyalah patung yang dalam al-Quran digambarkan sebagai benda yang tiada biasa memberikan mudharat dan manfaat bagi dirinya, namun kejahiliyahan telah membutakan mata dan semenanjung Arabia terus saja menyembah tunduk padanya. Kala Muhammad bin Abdullah SAW telah ditugaskan menjadi utusan dan menjelaskan risalah, setahap demi setahap, jiwa yang dulu gelap menjadi terang, jahili menjadi berilmu dan jiwa diajak lagi tuk peka dan bersujud sembah pada yang satu, Rabb pemilik alam yang semua isi alam semesta bertasbih pada-Nya,

سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ [٦١:١

Telah bertasbih kepada Allah apa saja yang ada di langit dan apa saja yang ada di bumi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Akhlaq yang terpancar, kepercayaan yang tiada pernah ternodai, sosok pemuda yang bersih sedari dulu lalu dengan lindungan Ilahi, terus merangsek dengan ketabahan dan keakuratan dakwah. 23 hingga 25 tahun Ia dan para sahabat yang sungguh taat menjadi sebuah basis kekuatan bermodal iman yang disegani serta selanjutnya membuat Kisra Persia dan Kaisar Romawi waspada. Ya, waspada pada mereka yang dulunya lusuh dan mudah diadu domba, yang lemah dan pengikut setia paganis, kini menjadi kekuatan iman, jumlahnya kecil memang namun setahap demi setahap kekuatan imannya melebihi kekuatan jumlah yang terlihat secara kasat.

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُم بُنْيَانٌ مَّرْصُوصٌ [٦١:٤

Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.

Tak lama berselang, selepas Insan terbaik itu telah menanamkan benih iman yang menghujam di dada para sahabatnya, kala ALLAH SWT memanggilnya, namun iman itu telah tersebar dan mengalir ke jiwa-jiwa yang bersih dan kemenangan demi kemenangan iman terus diraih. Dari masa transisi terberat di masa Abu Bakar kala Musailamah, Aswad bin al-ansi serta thulaihah mengaku Nabi, hingga ekspansi terhebat sepanjang masa di masa Umar al-farouq, kala ghanimah tak tau lagi mau dibagikan ke mana.

Keluhuran akhlaq bukanlah keluhuran semu, ia menghujam jauh ke dalam dada, lalu cinta yang hakiki terpancar dalam gerak-gerik yang serasi, kala Rasul ALLAH itu memancarkan keteladanan abadi.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَىٰ تِجَارَةٍ تُنجِيكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ [٦١:١٠

Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?

تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ [٦١:١١

(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.

Setelahnya, lagi dan lagi, hanyalah tinggal masalah konsistensi, ya sebuah iltizam kan? Konsistensi iman dan terus berupaya memberikan yang terbaik untuk agama ini,

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ [٦١:٩

Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci.

Wallahua’lam

K-Serial Ma’rifaturrasul

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (9 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sekretaris Jenderal FORMMIT (Forum Mahasiswa Muslim Indonesia di Taiwan) 2011/12. NSYSU, Taiwan

Lihat Juga

(konsultasisyariah.com)

Kisah Nabi Muhammad Menghimpun Umat