Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Apakah Anda telah Memikirkan Nasib Bangsa dan Umat Ini?

Apakah Anda telah Memikirkan Nasib Bangsa dan Umat Ini?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (templates.com)

dakwatuna.com – Sering kali kosa kata Al-Qur’an datang dengan bentuk jamak (plural noun), tapi yang diinginkan makna tunggal (singular noun). Al-Qur’an dijumpai memilih gaya pengungkapan seperti ini dalam memberikan penekanan makna terhadap sifat-sifat kemanusiaan yang sepatutnya diteladani atau dijauhi.

Di sini Anda diajak oleh beberapa ayat berikut ini untuk menangkap pesan-pesan akhlaq yang lahir dari model pengungkapan di atas:

Ayat pertama:

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِّلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ ﴿١٢٠﴾

(QS. An-Nahl [16]: 120)

Di ayat ini Nabi Ibrahim AS (singular noun) diposisikan sebagai umat (plural noun). Yang menjadi pertanyaan, sebab apa yang melatarbelakangi Nabi Ibrahim AS diposisikan sebagai umat?

Jarullah Az-Zamakhsyari berkata:

 “Di sini ada dua sisi penafsiran. Pertama: dia umat karena mengoleksi seluruh sifat-sifat kebaikan, seperti perkataan seseorang: “Bukanlah hal yang patut dipungkiri jika Allah meletakkan dunia dan isinya di tangan seseorang.” Kedua: dia umat karena panutan atau imam umat dalam kebaikan.”[[1]]

Sisi kedua dari penafsiran tersebut dipertegas oleh Syekh Ahmad bin al-Munayyir al-Iskandari, beliau berkata:

“Makna kedua ini diperkuat oleh firman Allah SWT:

ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۖ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ ﴿١٢٣﴾ 

(Q.S. An-Nahl [16]: 123).

Artinya: dia umat yang diteladani manusia dalam menapaki jejak kebaikannya yang penuh berkah. Olehnya itu, Anda wahai Muhammad Saw dengan kemuliaan yang ada pada dirimu, kami mewahyukan kepadamu untuk mengikuti agama dan jalan hidupnya.”[[2]]

Ayat kedua:

أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَىٰ مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ ۖ فَقَدْ آتَيْنَا آلَ إِبْرَاهِيمَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَآتَيْنَاهُم مُّلْكًا عَظِيمًا ﴿٥٤﴾

(QS. An-Nisa’ [4]: 54)

Di ayat ini Nabi Muhammad Saw (singular noun) disifati dengan manusia (plural noun). Yang menjadi pertanyaan, kenapa Rasulullah Saw disifati dengan sifat seluruh manusia?

Syekh al-Alusi berkata:

 “Yang dimaksud manusia  (الناس)di sini adalah tuan mereka, bahkan tuan seluruh entitas kehidupan secara mutlak, yaitu Nabi Muhammad SAW. Ini pendapat Ikrimah, Mujâhid, ad-Dahhâk, Abu Mâlik, dan Atiyyah. Di lain sisi, Qatadah, Hasan al-Bashri, dan Ibn Jurair melihat bahwa manusia (الناس) di sini adalah orang-orang Arab. Di antara mereka ada juga yang melihat bahwa manusia (الناس) adalah umat Nabi Muhammad Saw secara menyeluruh. Olehnya itu, kata dengki (الحَسَدُ) di sini diartikan majaz. Yang demikian itu karena tatkala orang-orang Yahudi dengki kepada kenabian Rasulullah Saw yang senantiasa memberi tuntunan hidup ke jalan yang benar, mereka seperti dengki kepada seluruh umat ini.”[[3]]

Dan Ustadz Muhammad Rasyid Ridha berkata:

“Di buku-buku tafsir yang bercorak periwayatan (التفسير المأثور) kata (الناس) di sini maksudnya Nabi Muhammad SAW. Tentunya, orang-orang Yahudi dengki terhadap diri Nabi Saw dan kaumnya. Yang demikian itu karena ia datang dari mereka (kaum Arab) dan mereka pun lebih awal menyambut dan mengamalkan nilai-nilai kebaikan yang diembannya.

Di antara sebab turunnya ayat ini diriwayatkan bahwa sebagian orang Yahudi, seperti Kaab bin al-Asyraf, tidak mendapatkan celah untuk mencela Nabi Saw, kecuali istri-istrinya yang banyak. Olehnya itu, di antara mereka ada yang melihat bahwa kedengkian mereka terhadapnya lebih dipicu oleh sebab ini. Sementara itu, ayat ini menolak wacana distorsif tersebut karena sebagian nabi-nabi mereka, seperti: Daud AS dan Sulaiman As, punya banyak istri. Di lain sisi, ayat ini pun menolak pernyataan negatif orang-orang Yahudi bahwa kekuasaan tidak boleh keluar dari keturunan Israel (Ya’qub As) dan keturunan Ibrahim AS dari Ishaq AS dan Ismail AS tidak berhak mendapatkan kemuliaan apa pun, seperti: kitab suci, hikmah, dan kenabian. Hematnya, dakwa ini batil karena anugerah ini telah ada jauh hari sebelum dakwa itu sendiri. Di samping itu, kemuliaan yang Allah anugerahkan ke sebagian hamba, apakah karena itu pilihan murni dari-Nya yang sepenuhnya kembali ke kehendak Allah sendiri, atau karena kemuliaan dan keistimewaan orang-orang yang menerima anugerah itu, sehingga setiap orang yang punya kemuliaan dan keistimewaan tersebut punya potensi untuk meraih anugerah yang sama. Namun, kenabian tetap pemberian murni dari-Nya kepada manusia pilihan.”[[4]]

Penafsiran serupa juga dijumpai di tafsir Syekh Sya’rawi yang melihat bahwa penyifatan seseorang dengan sifat plural lebih ditentukan oleh sejauh mana sifat-sifat baik orang tersebut yang mendapatkan penekanan makna dari Al-Qur’an, sehingga dengan sendirinya ia menjadi contoh baik kepada siapa saja yang ingin meneladaninya. Jika Anda telah menyadari ini, berikut pernyataan beliau:

“Sebagian penafsir berkata: firmanNya:

ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ ﴿١٩٩﴾ 

(QS. Al-Baqarah [2]: 199),

artinya: bertolaklah kalian semua dari Arafah ke Mina untuk melempar jumrah seperti yang telah dilakukan Nabi Ibrahim AS di manasik haji. Kata manusia (الناس) di sini, meskipun datang dalam bentuk plural, tapi yang dimaksud adalah Nabi Ibrahim AS. Makna seperti ini bukan lagi sesuatu yang asing, yang demikian itu karena Allah menyifatinya di tempat lain sebagai umat. Olehnya itu, kata manusia (الناس) di sini diartikan sebagai orang yang mengoleksi banyak keistimewaan. Bahasa seperti ini juga dijumpai di Al-Qur’an yang menyifati Nabi Saw dengan ayat ini: ﭩ   ﭪ     ﭬ  ﭭ  ﭮ  ﭯ  ﭰ  ﭱ. Di ayat ini Allah menyifati Rasulullah Saw dengan sosok yang mengoleksi seluruh sifat-sifat baik yang ditemukan di seluruh manusia.

Hal serupa ditemukan di saat Al-Qur’an menyifati seseorang [[5]] yang mendatangi orang-orang beriman untuk memberitahu mereka bahwa orang-orang musyrik di bawah pimpinan Abu Sufyan telah siap menyerang mereka dengan kata (الناس). Yang demikian itu karena ia telah memperingatkan orang-orang beriman terhadap bahaya yang mengancam stabilitas mereka sehingga ia pun disifati dengan sifat plural seperti ini.[[6]]

Hemat penulis, berangkat dari teks-teks di atas terlihat dengan jelas bahwa mereka disifati Al-Qur’an dengan sifat plural, umat dan manusia, karena mereka mengoleksi sifat-sifat baik yang dapat menjadi cerminan hidup terhadap siapa saja yang ingin mengikutinya. Mereka adalah nabi-nabi dan sahabat Rasulullah Saw. Yang menjadi pertanyaan, apakah salah satu di antara kita punya kesempatan serupa dan potensi untuk mengikuti jejak mereka sehingga kita pun terhitung sebagai umat dengan sendirinya?

Yah, semua punya potensi yang sama dalam hal ini. Yang umat dari mereka adalah mereka yang menjadi cerminan hidup terhadap keindahan nilai-nilai Islam yang tidak pernah redup memberikan terang ke jalan yang baik, menyibukkan diri memberi petuah-petuah syariat siang dan malam untuk kebaikan dan kejayaan umat ini, merasa risih dengan kerusakan moral yang menimpa politisi bangsa ini dan generasi umat, terdorong bangkit menyikapi ketidakadilan penguasa dalam memerankan tugas-tugas negara yang diembankan kepadanya oleh seluruh masyarakat, tergerak menyuarakan tuntutan-tuntutan masyarakat yang manusiawi dengan penuh adab dan sopan santun. Mereka melakukan ini dengan ikhlas karena merasa dipanggil oleh gema ayat ini:

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ ﴿١٠٤﴾

 “Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.” (Q.S. Ali Imran [3]: 104)

Yang umat dari mereka adalah mereka yang memikirkan siang malam nasib umat ini, batinnya terpukul berat melihat masalah-masalah umat menumpuk dari hari ke hari menunggu uluran tangan dan buah pikir, mereka sakit karena umat ini sakit digerogoti oleh paham liberalisme, sekularisme, atheisme, positivisme, komunisme, dan ajaran sekte-sekte yang berlabel Islam, tapi pada dasarnya jauh dari syariat, mereka berdiri kokoh menepis setiap paham dan ajaran sesat dengan lidah dan pena hingga ajal datang menjemput. Mereka melakukan ini semua dengan ikhlas karena sadar oleh pesan moral hadits ini:

(وَاللَّهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيْهِ).

“Dan Allah akan menolong seorang hamba, jika ia mengulurkan tangan membantu saudaranya.”[[7]]

Yang umat dari mereka adalah mereka yang mengeyampingkan popularitas semu yang menipu, tidak tamak pangkat dan jabatan yang kadang menjerumuskan ke lembah kesombongan dan sifat puji diri yang menyengsarakan, mengedepankan kepentingan umum dari kepentingan pribadi dan kelompok, menanamkan rasa kebersamaan dan persaudaraan, yang jika disadari ia adalah benteng kokoh umat ini yang dapat menepis segala efek buruk paham dan ajaran negatif, mematrikan ruh kerjasama, tanggungjawab, kedisiplinan dan etos kerja, dan kepekaan sosial terhadap masalah-masalah umat, yang jika disadari ia adalah obat mujarab terhadap ketertinggalan umat dalam menapaki rel kemajuan dari umat lain. Mereka menjalani kehidupan seperti ini karena ingin menjadi yang terbaik dari umat di segala bentuk kebaikan, mereka yang memahami isyarat-isyarat maknawi hadits berikut:

(تَجِدُونَ النَّاسَ مَعَادِنَ، َخِيَارُهُمْ فِى الْجَاهِلِيَّةِ خِيَارُهُمْ فِى الإِسْلاَمِ إِذَا فَقِهُوا، وَتَجِدُونَ خَيْرِ النَّاسِ فِى هَذَا الأَمْرِ أَكْرَهُهُمْ لَهُ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ فِيهِ، وَتَجِدُونَ شَرَّ النَّاسِ ذَا الْوَجْهَيْنِ الَّذِى يَأْتِى هَؤُلاَءِ بِوَجْهٍ، وَ يَأْتِى وَهَؤُلاَءِ بِوَجْهٍ)

“Anda sekalian akan mendapatkan tabiat manusia yang berbeda-beda seperti tabiat barang tambang yang beraneka ragam (di antara barang tambang itu ada yang bernilai tinggi dan ada juga yang rendah), yang terbaik dari mereka adalah yang mulia di zaman jahiliyah dan bertambah mulia dengan keislaman. Yang demikian itu karena mereka memahami dasar-dasar dan hukum-hukum agama ini, Anda pun akan mendapatkan orang yang paling baik di perihal ini (kekuasaan dan kepemimpinan) orang yang membenci dan tidak tamak terhadapnya, dan jika ia terpilih untuk itu, meskipun ia tidak menginginkannya, maka Allah akan menuntun langkahnya ke jalan yang benar, dan Anda sekalian akan mendapatkan orang yang paling jelek di antara mereka, yaitu orang yang bermuka dua (munafik), ia mendatangi mereka dengan salah satu wajah, dan mereka dengan wajah lain.”[[8]]

Yang dari umat bukan mereka yang mengatasnamakan diri sebagai penanggung jawab umat hanya untuk memenuhi hasratnya yang haus kekuasaan dan popularitas semu, mereka menari-nari di atas penderitaan umat melahap jerih payah buruh kerja, petani, nelayan, dan kelompok masyarakat awam lain yang memeras keringat untuk menyantuni diri dan keluarga mereka. Yang dari umat bukanlah seperti mereka.

Jika Anda bertanya: “Apa tanda orang yang berpotensikan umat?”

Jawabnya: di sana banyak tanda, tetapi yang paling nampak adalah rasa kehilangan masyarakat sekitar, masyarakat suatu bangsa dan negara, masyarakat umat Islam secara menyeluruh jika ia telah dipanggil kembali menghadap ke rahmat Allah SWT. Di masa hidupnya ia seperti pelita yang menerangi langit-langit tempat ia berada, memenuhi sudut-sudut kejiwaan yang kalut dengan siraman-siraman rohani, memerangi kebodohan umat terhadap keindahan nilai-nilai Islam yang sempurna, menjadi guru dan pribadi maknawi di setiap jiwa generasi Islam, pelanjut perjuangan umat, yang ditempa dengan sentuhan-sentuhan hikmah, menghabiskan harinya untuk kepentingan umat, berdakwah dengan lidah dan tulisan menepis setiap bakteri dan bibit penyakit ajaran dan paham sesat yang sewaktu-waktu dapat mengancam aqidah umat, dan peka dengan masalah-masalah mereka yang butuh uluran tangan dan pemecahan.

Yang seperti ini adalah mereka yang meneladani Rasulullah Saw dalam memperjuangkan nasib umat, mereka yang tahu arti dan nilai Rasulullah Saw yang tidak terkira, mereka seperti sahabat yang merasa kehilangan cahaya spiritual dan maknawi yang terpancar darinya, sehingga di antara mereka ada yang tidak mempercayai kepergiannya. Kota Madinah yang terasa hidup, seperti kota yang kehilangan sorotan cahaya kehidupan yang terlihat di akhlak-akhlak mulia Rasulullah Saw.

Olehnya itu, mereka yang meneladani Rasul Saw dalam hal ini mendapatkan luapan cahaya maknawi darinya dengan rahasia hadits ini:

(إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ، وإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُ دِيْنَارً وَلاَ دِرْهَماً، وَرّثُوا العِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍ وَافِرٍ).َ

“Sesungguhnya ulama itu pewaris para nabi. Dan sesungguhnya mereka tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka mewariskan ilmu. Barang siapa yang diberi taufik mengambilnya, maka ia mengambilnya dengan penuh keberuntungan.”[[9]]

Mereka setelah kembali menghadap ke Allah SWT, masyarakat sekitar merasakan kekosongan jiwa, sudut-sudut kota terasa hening, dan semangat spiritual terasa redup. Yang demikian itu karena cahaya maknawi terangkat dengan perginya sosok pribadi umat.

Di sini yang umat dari mereka punya derajat dan cahaya maknawi yang berbeda-beda di hati umat sesuai dengan tingkat perhatian dan peran mereka terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar. Tentunya, yang punya peran terhadap masyarakat dunia Islam lebih tinggi derajat maknawinya dari mereka yang peran dan perhatiannya terbatas pada lingkungan masyarakat tertentu. Meskipun demikian, merekalah umat sebenar-benarnya umat yang wajib diteladani.

Apakah Anda telah memikirkan nasib masyarakat, bangsa, dan umat ini, menyibukkan diri dengan masalah-masalah mereka yang butuh buah pikir dan uluran tangan?



Catatan Kaki:

[1] Lihat: al-Kassyâf, vol. 3, hlm. 482

[2] Lihat: Ahmad bin Muhammad bin Manshur (w 683 H/1284 M), al-Intishâf, (buku ini mengomentari aqidah-aqidah Mu’tazilah yang sering kali disisipkan Az-Zamakhsyari dalam tafsirnya. Buku ini diikutsertakan di cetakan tafsir al-Kassyâf), vol. 3, hlm. 482

[3] Lihat: Rûhul Maâni, vol. 5, hlm. 57

[4] Lihat: Tafsir al-Manar, vol. 5, hlm. 162

[5] Orang ini adalah Naîm bin Masûd al-Asyjai. Ia disifati ayat ini ﭽ ﯶ  ﯷ  ﯸ  ﯹ  ﯺ  ﯻ  ﯼ  ﯽ  ﯾ  ﯿﭼ

(Q.S. Ali Imran [3]: 173) dengan kata plural, manusia (الناس), karena ia seperti orang banyak yang menakut-nakuti orang-orang beriman untuk tidak menemui Abu Sufyan di medan laga. [Lihat: Jalaluddin as-Suyuti, al-Itqân,  vol. 2, hlm. 320]

[6] Tafsir Syekh as-Sya’râwi, vol. 2, hlm. 855-856

[7] Hadits riwayat Abu Huraira RA di Shahîh Imam Muslim, kitab ad-Dzikr wa ad-Duâ’ wa at-Taubah, bab Fadhl al-Ijtimâ’ ala Tilâwatil Qur’an wa ala ad-Dzikr, hadits. no: 7028, hlm. 1389

[8] Hadits riwayat Abu Huraira RA di Shahîh Imam Bukhâri, kitab al-Manâqib, bab (قول الله تعالى: يأيها الذين آمنوا إنا خلقناكم من ذكر وأنثى، وجعلناكم شعوبا وقبائل لتعارفوا، إن أكرمكم عند الله أتقاكم) , hadits. no: 3493, hlm. 967

[9] Hadits riwayat Abu ad-Dardâ’ RA di Sunan Abu Daud, Kitab al-Ilmi, bab fi Fadhl al-Ilmi, hadits. no: 3641, hlm. 655

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Dr. Muhammad Widus Sempo, MA.
Pensyarah antar-bangsa (Dosen) Fakulti Pengajian Alqur'an dan Sunnah, universiti Sains Islam Malaysia (USIM).Degree, Master, Phd: Universiti Al-Azhar, Cairo. Egypt

Lihat Juga

Ilustrasi. (collegeaffairs.in)

Membentuk Karakter Pemimpin yang Islami Sejak Dini

Organization