Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Menapaki Jalan Setapak

Menapaki Jalan Setapak

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (cedmedia.ntu.edu.sg)

dakwatuna.com – Nanti kita akan dihadapkan pada satu masa untuk mengingat kembali,

Ohh si Paijo yang dulu ketua kelas itu? Udah jadi ajudan menteri?

Ohh si Budi yang dulu ketua geng kelas IPS itu? Udah jadi pedagang sukses?

Ohh si Fatimah yang dulu ketua ekskul marching band itu? Udah jadi ibu walikota?

Ohh si Aminah yang dulu kutu buku itu? Udah jadi peneliti dia rupanya.

Kadang kita dihadapkan untuk mengingat masa lalu dan merangkainya ke masa depan. Masa yang mungkin tiada bekas yang tertanam, namun ketika menghubungkan lagi ke node-node sejarah, ia kembali muncul menjadi kenangan. Mungkin dalam menapaki jalan-jalan usia yang tak lama, kita dihadapkan pada fase senang, sedih, kalut atau bahkan sumringah, namun sudah sesering apa kita libatkan Rabb dalam masalah kita?

Dulu, mungkin kita masih terngiang-ngiang kala PR dari guru Fisika yang jangankan halaman buku paket itu, pulpen pun rasanya berat tuk diangkat. Namun aku teringat si Kodir, kalau ia lagi sakit kepala karena transistor, gaya, gesekan, kinetik hingga hukum Newton, ia langsung bergegas ke mushalla RT. 13, terkadang aku bertemu dengannya.. Hey PR udah selesai? Dia berujar singkat,

Ini mau munajat dulu, agar diberi kemudahan ^^

Kadang kita lupa menyertakan Rabb dalam aktivitas kita, kadang kita tidak menyertakan Rabb dalam sederet prestasi kita atau kala kita sedang menahan amarah, lidah yang ber-istighfar, langkah yang ber-wudhu sirna sudah. Aku teringat sebuah ucapan dari seorang rekan,

Kalaulah mereka Islam, peran mereka mungkin sudah menjadi amal yang tidak putus-putus.

Pernahkah kita sadari, bagaimana kalau Abdul Fattah merawat Steve Jobs dengan benar? pernahkah kita sadari bagaimana kalau scientist-scientist itu berislam, mungkin amal-amal dan berkah untuk mereka telah menumpuk kan?. Begitu pula kehidupan di negeri Formosa ini, terdapat satu mushalla yang disediakan oleh pemilik toko Indonesia, walaupun ia bukan Islam namun mushalla itu terbuka untuk siapa saja, kini kita berpikir lagi, apa kiranya balasan Rabb kalau ia berislam?, mungkin amal-amal kita yang sedikit ini telah ia lewati dengan mudah kan?

Lalu aku berpikir sejenak, kala air wudhu sudah hampir mengering di mushalla itu,

Sudah sesering apa kita bersyukur dengan nikmat iman dan Islam ini?

Sudah sepeka apa kita akan kenikmatan yang pagi membuka dan matahari mulai malu-malu mengintip dari langit, kita masih sehat tiada kurang satu apapun? Atau jangan-jangan kita telah lupa, bagaimana syukur itu dihadirkan dalam keselarasan hidup, fase-fase yang bertumbuh dalam hidup, fase-fase menuntut ilmu lalu terus menapaki jalan-jalan di depan sana?

Atau kita lupa bahwa nikmat ber-Islam itu melebihi kenikmatan harta si Qarun, menara Fir’aun kreasi Haman yang tak kunjung sampai ke langit, Namrudz dan kuasa, Kisra dan keindahan kota Mada’in serta prestise kabilah milik Abu Jahal?

Menapaki jalan setapak, mungkin itu sebuah ilustrasi langkah demi langkah kecil, disertai dengan syukur dan konsistensi kesyukuran yang tertanam.

Wallahua’lam.

K-Serial Mahabbatullah

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 9,71 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sekretaris Jenderal FORMMIT (Forum Mahasiswa Muslim Indonesia di Taiwan) 2011/12. NSYSU, Taiwan

Lihat Juga

Ilustrasi. (Shalipp S Geolfano)

Perjalanan ke Tapal Batas Indonesia-Malaysia