Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Warna Cinta

Warna Cinta

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (flickr.com / Cmajor)

dakwatuna.com – Apa yang terbayang saat melihat kedua orang tua ‘berantem’ mempertahankan pendapatnya masing-masing? Kesal, takut, atau ogah ikut campur. Itu pula yang terkadang saya alami saat melihat mereka beradu pendapat. Ibu bersikukuh dengan pendapatnya, dan bapak bersikeras dengan pemikirannya. Sebagaimana pasangan lainnya, dalam beberapa hal mereka punya kesamaan-kesamaan, dan dalam beberapa hal lainnya mereka pun punya perbedaan. Cara mendidik anak, cara membuat keputusan, dan lain-lain.

Saat saya masih SD, ibu pernah mengatakan “Kamu harus selalu siap apabila sewaktu-waktu guru di sekolah tiba-tiba mengadakan ulangan!” Namun seketika itu pula bapak menimpal, “Nggak bisa begitu! Nggak baik kalau mendadak begitu. Harus ada pemberitahuan lebih dulu sebelumnya.” Saya yang bengong melihat mereka berdua adu pendapat, akhirnya hanya bisa pasrah. Tanpa mengerti mengapa mereka bisa sampai demikian.

Beberapa tahun kemudian, barulah saya memahami kira-kira apa yang mereka maksudkan dari pendapatnya itu. Ibu bilang bahwa saya harus siap apabila sewaktu-waktu ibu guru memberikan ulangan dadakan, itu karena beliau menginginkan agar saya selalu siap menghadapi berbagai kemungkinan yang bisa saja terjadi. Sedangkan bapak yang bilang bahwa tidak bisa serba mendadak, itu dikarenakan pengalamannya dalam berorganisasi. Bapak menginginkan anaknya pandai-pandai membuat rencana sebelum bertindak, terlebih lagi bagi seorang anak laki-laki yang kelak akan memimpin. Itulah yang hendak diajarkan oleh ibu, dan itulah yang hendak diajarkan oleh bapak.

Saat anak sedang sakit, tentunya yang paling diharapkan oleh anak adalah keberadaan kedua orang tua di dekatnya. Itu pula yang dulu saya rasakan saat pertama kali masuk dan dirawat di rumah sakit. Namun yang ada justru tidak demikian adanya. Terkadang hanya ada bapak, atau hanya ibu yang menemani. Namun demikianlah adanya, dan bahkan mungkin selalu demikian.

Selama ini saya hanya mengetahui bahwa biasanya hanya salah satu saja dari mereka yang ada untuk menemani. Sebatas itu, tanpa mengetahui apa yang dilakukan oleh ibu atau bapak saat mereka pergi tanpa ada untuk menemani. Saat bapak ada untuk menemani, ibu pergi. Beberapa saat kemudian, ibu datang membawakan makanan kesukaan anaknya. Lain halnya saat ibu yang ada untuk menemani, dan bapak yang pergi. Saat bapak datang, beliau tidak membawa apa-apa. Bahkan sampai saatnya untuk pulang pun, bapak tidak membawakan oleh-oleh. Sekedar tahu bahwa saya sudah bisa dibawa ke rumah, dan bapak datang untuk menjemput lalu mengantarkan saya pulang.

Hanya itu. Kalaupun ada kabar baik, mungkin selama ini saya yang memang tak pernah menyadarinya. Memang tak ada oleh-oleh yang bapak bawa, beliau hanya memastikan bahwa saya akan diantar hingga ke rumah. “Yang penting, sekarang Kamu udah bisa pulang. Itu aja!” Begitulah kata beliau, tanpa bercerita tentang apa yang terjadi di luar ruangan. Saya hanya tahu bahwa biaya berobat inap sudah lunas. Begitulah bapak, beliau tak bercerita tentang berapa biaya berobat, dan apa yang dia lakukan untuk bisa melunasi biaya rumah sakit. Mungkin selama ini beliau jarang menemani anaknya karena sedang berusaha mengumpulkan uang untuk biaya pengobatan. Yah, entah apapun itu, tampaknya itu adalah rahasia seorang bapak.

Beranjak SMP, bapak jadi lebih pendiam, sedangkan ibu tetap cerewet banyak aturan. Ibu semakin banyak memberikan tuntutan dan keharusan, sedangkan bapak semakin memberikan kebebasan. Bahkan kadang bapak memberikan uang jajan lebih. Begitu pula saat SMA, bapak tak pernah ikut campur saat saya hendak memilih jurusan IPA atau IPS. Beliau hanya bertanya “Mau masuk apa? IPA atau IPS?” tanpa berkomentar apapun saat saya menjawabnya “Mau ke IPA.” Berbeda dengan ibu yang banyak bicara soal pemilihan jurusan. Buat ibu, yang paling penting adalah nantinya kuliah di jurusan Akuntansi, karena itu akan memudahkan untuk mencari kerja. Maklum, ibu bekerja di sebuah kantor akuntan, jadi sejelek-jeleknya kuliah saya (kalau saya kuliah di jurusan Akuntansi), ibu setidaknya ibu bisa membantu untuk membawa saya bekerja di kantornya.

Tibalah saat pemilihan jurusan di SPMB (2004). Ibu bersikukuh agar saya mau mengambil kuliah jurusan Akuntansi. Mungkin beliau takut nanti anaknya ini akan kesulitan mencari pekerjaan. Berbanding terbalik dengan bapak yang diam-diam saja tanpa banyak berkomentar. Hampir tiap hari ibu membahas pemilihan jurusan, sedangkan bapak hanya sekali mendatangi untuk membicarakan tentang pemilihan jurusan. Beliau duduk di kursi belajar yang ada di kamar sembari menatap saya yang terduduk di kasur.

“Jadinya pilih jurusan apa?”

“Yang pilihan pertamanya Farmasi ITB, keduanya Psikologi UPI, Pak…”

“Beneran?”

“Iya, Pak. Insya Allah.”

“Ya udah. Bapak mah nggak akan maksa buat milih jurusan apa-apa. Yang penting mah Kamu serius, bener-bener, ama komitmen ama pilihan. Bertanggung jawab ama keputusan…”

Bapak pun beranjak dari kamar, dan tak ada lagi obrolan tentang itu dengan beliau. Begitulah bapak. Bila ibu ketakutan saya akan susah dapat pekerjaan bila setelah lulus kuliah nanti, bapak lebih menginginkan saya untuk bisa membuat keputusan sendiri, berani menentukan, berkomitmen, bertanggung jawab, bersungguh-sungguh dalam memperjuangkan hidup, dan mau menanggung resiko. Itulah kenapa bapak lebih memilih untuk tak banyak berkomentar dan memberikan kebebasan pada anaknya. Bagi bapak, yang penting adalah mau bertanggung jawab dan menerima resiko.

Begitulah ibu dan bapak. Ibu punya pendapat sendiri untuk anaknya, bapak pun punya pandangan sendiri tentang anaknya. Ibu punya cara tersendiri dalam mencintai anaknya, begitu pula bapak yang punya cara tersendiri dalam mencintai anaknya. Ada ‘warna’ yang berbeda dalam mencintai anak-anaknya.

Selama puluhan tahun ini, begitulah ibu dan bapak. Ibu mencintai dengan caranya sendiri, bapak pun mencintai dengan caranya sendiri. Kakak punya cara tersendiri dalam mencintai, adik pun punya cara tersendiri dalam mencintai. Teman dan sahabat punya cara tersendiri dalam mencintai, orang lain pun punya cara tersendiri. Cinta punya banyak warna, sebagaimana kita punya cara tersendiri dalam mencintai.

From this note with love.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (23 votes, average: 8,65 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Adit Purana
Seorang warga dari pinggir Kota Bandung yang gemar jalan-jalan menelusuri hiruk-pikuk kehidupan di negeri ini, terutama sisi lain kehidupan pinggiran yang jauh dari popularitas. Selalu tertarik dengan tema Kesederhanaan dan Kebersahajaan. Penikmat Bus DAMRI yang suka naik angkot. Setelah merampungkan sekolah Psikologi jenjang S-1, melanjutkan studi untuk bidang yang lebih spesifik: Magister Psikologi Sosial. Menjalani keseharian dengan beraktivitas di bidang sosial melalui forum-forum, komunitas, dan tim kecil.

Lihat Juga

Mohammad Natsir

Jas Bertambal; Mohammad Natsir, Mencintai Indonesia, Dicintai Negeri Asing

Organization