Home / Pemuda / Puisi dan Syair / Jakarta yang Kami Ingin

Jakarta yang Kami Ingin

(aspacpalestine.com)

dakwatuna.com

Untuk Bang Hidayat dan Bang Didik

Kami ingin Jakarta menjelma kota
tanpa lambaian duka-duka
sepanjang jalan raya
tanpa nestapa yang selalu berdesakan
di antara lampu-lampu merah,
rumah-rumah kardus atau triplek
dan genangan airmata bercampur tangis
Ciliwung yang tak pernah berhenti

Kami ingin Jakarta menjelma kota
yang pohon-pohonnya tak lagi meranggas digunduli
kota yang tak lagi setia dalam gigil
menampung banjir setiap tahun

Kami ingin Jakarta menjelma kota teratur
angkutan apik dan nyaman,
lalulintas kendaraan yang berbaris
tak lagi membuat darah tinggi
tapi hiasan artistik bagi ibukota

Kami ingin Jakarta menjelma kota
tanpa penggusuran dan penyerobotan
tanpa pengangguran dan gelandangan
tanpa wajah-wajah koruptor dan preman

Kami ingin Jakarta menjelma kota cermin
tempat semua yang bening berdenyut dan berpantulan
melebihi kerlap kerlip lampunya
yang meliuk riuh di jalan-jalan

Kami ingin Jakarta menjelma ibukota negeri
yang kegemilangannya dicemburui dunia

Kami ingin Jakarta menjelma kota cinta
tempat semua orang berjabat tangan dan hati,
peduli serta berani menyatakan nurani

:: Ayo beresin Jakarta!

(Jakarta, 22 April 2012, Helvy Tiana Rosa)

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (11 votes, average: 9,64 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Helvy Tiana Rosa
Helvy Tiana Rosa lahir di Medan 2 April. Ia menyelesaikan S1 dan S2 di Fakultas Sastra/ Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia dan kandidat doktor di bidang Pendidikan Bahasa, di Universitas Negeri Jakarta. Selain dikenal sebagai sastrawan, ia adalah Dosen Fakultas Bahasa dan Seni, UNJ. Helvy menulis lebih dari 50 buku, antara lain Ketika Mas Gagah Pergi (1997), Bukavu (2008) dan Tanah Perempuan (2009). Cerpen-cerpennya telah diterjemahkan dalam belasan bahasa asing. Ia sering diundang berbicara serta membacakan karya-karyanya di dalam dan luar negeri, seperti Malaysia, Brunei, Singapura, Thailand, Hong Kong, Jepang, Mesir, hingga Amerika Serikat.Tahun 1990 Helvy mendirikan Teater Bening dan terlibat sebagai sutradara dan penulis naskah dalam berbagai pementasannya. Pernah menjadi redaktur dan Pemimpin Redaksi Majalah Annida, serta menjadi Juri lebih dari 100 Sayembara Penulisan Sastra Tingkat Nasional, Helvy kemudian banyak terlibat dalam membidani kelahiran para penulis muda usia di berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara, melalui Forum Lingkar Pena (FLP) yang ia dirikan, 1997 yang menggurita ke berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara. Tahun 2003, Koran Tempo menjulukinya sebagai Lokomotif Penulis Muda Indonesia dan The Straits Times menjulukinya pionir bagi sastra Islam Indonesia kontemporer. Dan New York Times (2007) mengatakan karya-karya Helvy fokus mengangkat persoalan hak-hak asasi manusia, terutama bagi wanita dan anak-anak di wilayah konflik.Helvy pernah mendapat 30 penghargaan tingkat nasional di bidang penulisan dan pemberdayaan masyarakat, antara lain sebagai Tokoh Perbukuan IBF Award dari IKAPI (2006), Tokoh Sastra Eramuslim Award (2006), Ummi Award (2004), Nova Award (2004), Kartini Award sebagai salah satu The Most Inspiring Women in Indonesia (2009), SheCAN! Award, dan Danamon Award untuk FLP yang ia dirikan (2008). Puisinya "Fi Sabilillah" menjadi Juara Lomba Cipta Puisi Iqra Tingkat Nasional 1992 dengan juri HB Jassin, Sutardji Calzoum Bachri dan Hamid Jabbar. Cerpennya "Jaring-Jaring Merah" menjadi salah satu cerpen terbaik Majalah Sastra Horison dalam satu dekade (1990-2000). Bukavu menjadi salah satu dari 10 Buku Fiksi Terbaik Khatulistiwa Literary Award 2008. Helvy merupakan satu dari 10 Perempuan Penulis Paling Terkenal di Indonesia hasil survey Metro TV (2009).Anggota Dewan Kesenian Jakarta (2003-2006) ini tahun 2006 terpilih sebagai Anggota Majelis Sastra Asia Tenggara. Tahun 2009 ia dipercaya sebagai Wakil Ketua Liga Sastra Islam Dunia untuk Wilayah Indonesia. Tahun 2011 ia terpilih sebagai Anggota Komisi Pengembangan Seni Budaya Islam, Majelis Ulama Indonesia. Istri Tomi Satryatomo dan bunda Abdurahman Faiz serta Nadya Paramitha ini merupakan satu dari 500 Tokoh Muslim Paling Berpengaruh di Dunia hasil riset Royal Islamic Studies Centre, Jordan (2009, 2010, 2011).
  • Puisinya sdh 1 tahun yg lalu , 22 April 2011 , apa salah ketik ya ?

Lihat Juga

Kemacetan di Jakarta.  (infonitas.com)

Sistem Ganjil-Genap Mulai Diuji Coba 20 Juli

Organization