Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Mari Bersyukur

Mari Bersyukur

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl: 18)

Maha Suci Allah yang menciptakan hamparan langit indah membentang, yang padanya burung-burung terbang bebas mengelilingi wujud Kemahabesaran-Nya. Yang padanya menggantung awan-awan yang berbaris menurut kisaran angin, yang ketika telah mencapai waktunya turunlah hujan dari celah-celahnya membasahi bumi yang kering kerontang. Kemudian air hujan itu menyuburkan bumi dengan buah dan sayur mayur.

“Allah yang mencipta langit-langit dan bumi, dan menurunkan air hujan dari langit lalu mengeluarkan dengan air itu buah-buahan sebagai rezeki bagimu. Dan Dia menundukkan bagimu perahu sehingga berjalan di atas lautan dengan perintah-Nya, dan Dia menundukkan sungai-sungai bagimu. Dan Dia menundukkan bagimu matahari dan bulan yang tidak henti-hentinya (beredar), dan Dia menundukkan bagimu malam dan siang. Dan Dia memberikan kepadamu semua yang kamu minta. Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu adalah makhluk yang banyak berbuat zhalim dan banyak mengkufuri (nikmat).” (QS. Ibrahim: 32-34)

Segala Puji bagi-Nya yang membuat kita masih mampu bernafas, masih bisa melihat, masih lapang ketika sempit, masih mampu bersabar, masih….dan masih…..

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman: 13)

Semua itu karena Allah amat mencintai hamba-hamba-Nya. Karena kasih sayang-Nya lah kita masih diberi amanah untuk tetap menatap dunia. Kita masih dipercaya untuk memperbaiki segala kerusakan yang kita lakukan. Kita masih diberi tenggang waktu untuk bisa terus maju menegakkan yang hak dan menjauhi yang batil.

“Sesungguhnya, diri kitalah kesaksian utama bagi-Nya. Tetapi seperti halnya kelelawar hanya bisa melihat pada malam hari dan tidak di siang hari karena kelemahan penglihatannya, yang dibutakan oleh benderangnya sinar matahari. Begitu pula pikiran manusia terlalu lemah untuk melihat keagungan penuh Kebesaran Ilahi.” (Imam Al-Ghazzali)

Karena kita manusia yang selalu khilaf, selalu lupa bersyukur ketika sedang makmur. Maka marilah kita meneladani Nabi Sulaiman yang selalu berdoa agar bisa mensyukuri nikmat Allah. Yang terabadikan dalam Al-Qur’an;

“Wahai Rabb-ku, tunjukkanlah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku. Dan (tunjukkanlah aku) untuk melakukan amal shalih yang Engkau ridhai, dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shalih.” (QS. An-Naml: 19)

Hal itu pula senada dengan apa yang pernah di wasiatkan Nabi Muhammad SAW kepada Mu’adz agar memohon pertolongan kepada Allah untuk mensyukuri nikmat-Nya;

“Wahai Mu’adz, demi Allah aku mencintaimu. Kemudian aku wasiatkan kepadamu wahai Mu’adz, janganlah kamu tinggalkan di akhir setiap shalat, kamu ucapkan (doa yang artinya) wahai Allah, tolonglah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu dan memperbagus ibadah kepada-Mu.” (Riwayat Abu Daud dan an-Nasa’i dengan sanad yang Shahih)

Oleh karenanya, marilah kita biasakan diri untuk mensyukuri segala apa yang telah kita capai. Karena semua itu merupakan salah satu tanda orang beriman.

Wallahu a’lam.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhammad Khalabi
Seorang hamba Allah yg selalu ingin memperbaharui diri menjadi lebih baik serta lebih berarti bagi hidup dan kehidupan.

Lihat Juga

bersyukur-1

Bersyukur atas Mata, Telinga dan Hati

Organization