Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Memaknai Kesuksesan

Memaknai Kesuksesan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

Arsitek Negeri

dakwatuna.com “Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan merubah suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada perlindungan bagi mereka selain Dia.” (QS. Ar Ra’du: 11)

Seandainya saat kita masih Sekolah dasar kelas VI, kita diajarkan tentang tata surya, diajarkan tentang teori revolusi dan rotasi. Sebuah kaidah yang menjelaskan tentang perputaran bumi dan bulan. Baik bumi mengelilingi matahari, bumi pada porosnya, bulan pada bumi ataupun bulan pada porosnya. Artinya ada kondisi dimana saling mengganti/bergilir, adanya revolusi membuat perubahan musim, akibat rotasi itu pergantian siang dan malam.

Bukan hanya pada hal yang zhahir pergantian itu dirasakan, bahkan hal yang tak terlihat sekali pun terjadi pergiliran. Seandainya iman itu ada naik dan turun, “Al Imanu Yazid wayankus” maka kondisi seorang manusia pun akan mengalami fase perputaran yang sama dalam menjalani kehidupan. Allah menyampaikan bahwa setelah kesusahan ada kemudahan dan setelah kemudahan pun sebaliknya. Ada banyak pelajaran besar dari setiap kejadian dan kebesaran Allah SWT bagi seorang muslim dalam segala hal.

Hidup itu seperti roda yang mengalami perputaran. Ada saat-saatnya mengalami kondisi di atas dan ada saatnya mengalami kondisi di bawah. Yang saya garis bawahi bukan masalah perputarannya, akan tetapi mengapa demikian. Dalam hal ini, naik turunnya atau jatuh bangunnya seorang anak manusia dan jatuh bangunnya sebuah peradaban negeri. Allah tegaskan dalam Al Qur’an bahwa sesungguhnya akibat ulah tangan manusia kerusakan yang ada di muka bumi ini. Artinya kita harus menyadari benar bahwa yang menjadikan jatuh bangunnya seseorang adalah orang itu sendiri. Yang menjadikan jatuh bangunnya sebuah negeri ialah pengelola/ manusia itu sendiri.

“Dan apabila mereka ditimpa suatu musibah (bahaya) disebabkan kesalahan yang telah dikerjakan oleh tangan mereka sendiri, tiba-tiba mereka itu berputus asa.” (QS. Ar ruum 36)

“Dan jika mereka ditimpa kesusahan disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri (niscaya mereka ingkar) karena sesungguhnya manusia itu amat ingkar (kepada nikmat).” (QS. Asy syuura 48)

Masa depan Indonesia berada di genggaman para arsitektur negeri. Kita lah arsitek negeri itu. Semoga Allah tidak menurunkan hal buruk pada negeri ini dikarenakan ulah manusia yang tidak bertanggung jawab.

Setiap orang memiliki jalannya masing-masing. Bagaimana dia memilih jalan yang akan dia tempuh. Apakah dia akan memilih jalan yang akan membangunnya ataukah memilih jalan yang kemudian akan merusakkannya/menjatuhkannya. Kita berjalan menuju titik akhir dari ikhtiar yang kita usahakan, yaitu menuju takdirNya. Takdir itu lahir saat adanya kesatuan dan pertemuan antara keinginan kita dengan kehendak Allah SWT. Artinya deretan-deretan waktu menuju takdir itu adalah deretan-deretan pilihan menuju kehendak illahi Rabbi. Pun demikian dengan peradaban sebuah negeri, yang menentukan jatuh dan bangunnya adalah pengelola negeri itu sendiri. Seyogianya manusia itulah yang menjadi arsitektur dalam menentukan kondisi masa depan diri dan negeri. Allah pun menegaskan kembali bahwa nasib seseorang tidak akan berubah, melainkan orang itulah yang merubahnya.

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar ra’du 11)

Sebagai arsitek negeri, maka sudah seharusnya kita membangun dengan kesadaran penuh yang bermuara dari aqidah kita. Sehingga negeri ini akan memperlihatkan pesonanya yang tertata rapih dan indah. Mari kita berikan persembahan terbaik untuk Allah SWT yang telah memberikan kesempatan kita untuk terlahir, yang telah mempertahankan kita untuk menjadi khalifah di muka bumi.

Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat “aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “apakah engkau hendak menjadikan orang yang akan merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji Mu dan menyucikan nama Mu?” Dia berfirman, “sungguh aku mengetahui apa yang kamu tidak ketahui” QS. Al Baqarah 30.

Kita tahu bahwa apa yang dikatakan para malaikat bisa kita lihat saat ini. Hampir seluruh bagian muka bumi ini; Kerusakan, tumpah darah, penjajahan, dan lainnya hadir di tengah-tengah kita (Palestina). Akan tetapi saat percakapan Allah dengan malaikat, Allah tetap memperjuangkan kita untuk tetap menciptakan manusia ke muka bumi. Sebuah pertanyaan “sudah sejauh mana kita memperjuangkan Allah SWT?”

Negeri Ini ada di tangan anak zamannya, mengurus, menjaga dan Memperbaiki negeri ini, adalah tugas kita semua. Mari kita bercermin kepada sejarah perjalanan Rasulullah, para sahabat dan orang-orang shalih sebelumnya. Karena Sejarah manusialah yang akan menjadi referensi utama dari awal perubahan jiwa dan peradaban negeri. Maka dari itu “jas merah, jangan melupakan sejarah”. Karena dari sejarah lah yang akan membantu kita untuk menemukan pelajaran-pelajaran berharga yang akan membantu dalam pembenahan negeri. Islam yang memimpin dunia, di tangan orang-orang shalih lah negeri ini akan mendapatkan kejayaan. Tidak ada dalam catatan sejarah mengatakan saat Islam yang mengelola suatu negeri, banyak elemen elemen yang terzhalimi.

Depok, Menyelami Makna Perjalanan

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 6,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Nada Ash-Shubhi
Lahir di Bandung 21 September. Anak ke empat dari enam bersaudara; Amal, Maruf, Hodam wijaya, Gigin Ginanjar, Wiguna Syukur Ilahi. Inilah keenam lelaki yang selalu disebut-sebut dalam doa orang tua itu. Doa kesuksesan untuk masa depan. Mereka adalah anak sejarah yang akan menggoreskan tinta di lembaran sejarah peradaban sebari penguak dinding sejarah. Semoga menjadi pemimpin di negeri sarat nestapa ini. Lahir dari pasangan Solihat dan Adeng. Setelah menyelesaikan studi S1 program studi perbankan syariah, STEI SEBI, Depok. Kini aktivitas melanjutkan studi di STIS Nurul Fikri, Lembang jurusan siyasah syariah. Mulai mencoba menulis setelah lulus dari SMA, meskipun saya tidak tahu apa yang saya tulis. Beberapa karyanya diantaranya adalah Buku Belajar merawat indonesia, serial kepemimpinan alternatif (Bersama beastudi etos DD), Buku Talk Less Do More (SEBI Publishing), Paper Model agricultural Banking, Paper Peran LPZ dalam pengembangan ekonomi umat di Indonesia, Buku Catatan sang surya (Bersama Komunitas MOZAIK Sastra)

Lihat Juga

Ilustrasi-bendera Indonesia (inet)

Narasi Negeriku II