Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Idola Buntut

Idola Buntut

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (shutterstock.com)

dakwatuna.com – Semakin marak seseorang mudah menjadi idola (baca: selebritas). Idola yang selalu di elu-elukan. Bak bintang, meskipun tidak selalu membawa cahaya terang. Gerak-geriknya seperti magnet yang menyihir orang-orang yang menyukainya. Mungkin jika tidak ada Tuhan, idolanya itu bisa juga di sembah. Bukan terlalu ekstrem mengatakan seperti itu, memang terlihat dari fakta yang terjadi. Idola di agungkan bak Tuhan. Menangis, histeris hingga “lupa diri” tatkala memendam rasa ingin bertemu idolanya.

Tapi yang menjadi pertanyaan serta yang selalu saya amati sekarang adalah apa benar mereka itu sungguh-sungguh mengidolakan??

Karena yang banyak yang saya lihat, ketika seseorang mengidolakan selebriti, terkadang bukan karena memang ia mengenal sungguh-sungguh siapa yang ia idolakan, bagaimana karyanya, siapa latar belakangnya, apakah berdampak positif bagi dirinya. Tetapi kebanyakan mereka adalah karena ikut-ikutan atau mengekor atau membuntuti, tidak keren jika tidak ikut mengidolakan. Seperti takut jika tidak update dengan berita artis X jika tidak ikut menongkrongi bagaimana kabar terbarunya, lagu baru yang dinyanyikannya, sedang syuting film apa, sedang pergi ke mana dia dan aktivitas-aktivitas lainnya. Istilah kerennya “trending topic”, yang menjadikan sesuatu menjadi di kenal luas.

Misalnya satu lagu akan menjadi sukses, itu berawal dari entah siapa yang memulainya yang kemudian menjadi mata rantai hingga hampir seluruh orang mengetahui lagu tersebut dan cenderung menyukai karena orang lain pun suka.

Setelah urusan mata rantai selesai, maka peran heboh media yang bisa di bilang sangat hebat, membuat sesuatu menjadi seketika terkenal. Terus menerus menampilkan pemberitaan sesuatu yang sedang booming di masyarakat, dari hanya sekelompok orang yang tahu maka semua menjadi tahu.

Parahnya, tidak semua berita yang di sajikan media itu benar adanya atau tokoh yang di sajikannya itu benar-benar seseorang yang pantas di idolakan, terlebih media yang memiliki suatu kepentingan khusus untuk membuat pemikiran kaum muda hanya berkutat pada persoalan duniawi atau terkesan hanya mengekor dan mengabaikan sesuatu yang paling penting yaitu mengenai akhirat. Di segala usia, fenomena itu merajalela. Bahkan ada beberapa kasus tewasnya para fans akibat berdesak-desakan untuk melihat aksi para idola. Atau mereka yang rela mengantri jauh-jauh hari untuk mendapatkan tiket konser sang idola yang merasa belum tenang jika belum mendapat tiket (heeyy… kenapa jadi tiket yang membuat hati tenang, di kemanakan posisi Allah?). Atau para fans yang rela sampai bunuh diri, karena begitu “setianya” pada sang idola yang sebelumnya meninggal dengan cara bunuh diri. Ckckck…..

Tidak bisa di terima secara logika juga jika seseorang yang secara terang-terangan terlihat di media suka melakukan perbuatan yang tidak senonoh atau berbuat kriminal menjadi seorang idola. Okelah, mereka memiliki suatu karya yang baik di luar bagaimana pribadi mereka. Tapi jika di lihat sekarang, jika seseorang sudah cenderung mengidolakan, maka semua yang di lakukan idolanya bisa menjadi sesuatu yang baik meskipun sebenarnya tidak.

Mungkin tidak semua orang berfikir untuk mengikuti bahkan hingga tindak tanduk sang idola, tapi itu hanya minoritas di banding lainnya.

Tidak patut menyalahkan, karena mungkin bagi kaum muda masih tersisa kegalauan pencarian jati diri melalui idola yang patut di tiru. Di sisi lain, keterdesakan masyarakat akan sesuatu hal yang akan menganggap aneh jika lain persepsi.

Pada masa pra remaja, saya pun pernah merasakan seperti yang saat ini terjadi. Menangis karena tidak berhasil mendapatkan majalah yang di dalamnya ada berita terbaru mengenai idola saya atau rela hingga larut malam hanya untuk melihat aksi idola di televisi. Alhamdulillah itu tidak berlanjut hingga sekarang, saya pun memaklumi keadaan saya dahulu sebagai seorang anak yang sedang dalam masa pencarian. Dan benar, saya pun merasa saya menyukai idola tersebut karena mengekor kawan-kawan saya yang tiap hari selalu membicarakan selebritas idola yang sedang tren.

Perlahan, memberikan input-an yang kepada siapa saja, adik, sahabat, saudara yang saat ini masih “salah” idola untuk membantu menelaah baik atau buruknya seseorang yang akan atau telah di jadikan idola, jadi bukan sekedar idola buntut. Siapa pun dia, bukanlah berdasarkan fisik atau ketenaran semata tetapi akhlaq yang bisa di teladani dan kepatuhan kepada Rabbnya, Allah Ta’ala.

Semoga tulisan berguna menjadi jembatan pengetahuan dari Allah sebagai pengingat bagi diri pribadi khususnya dan kaum muda yang saat ini sedang “lupa”.

“Kamu akan mengikuti perilaku orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga kalau mereka masuk ke lubang biawak pun kamu akan memasukinya.”Para sahabat lantas bertanya, “Apakah yang Anda maksud orang-orang Yahudi dan Nasrani, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Siapa lagi (kalau bukan mereka)?” (HR. Bukhari)

“Sesungguhnya pada diri Rasulullah ada teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak berdzikir kepada Allah.” (QS. Al Ahzab: 21)

Allahua’lam.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (12 votes, average: 9,17 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ya ALLAH, hidupkanlah aku sebagai orang yang tawadhu', wafatkanlah aku sebagai orang yang tawadhu' dan kumpulkan aku dalam kelompok orang-orang yang tawadhu'

Lihat Juga

Ilustrasi (shutterstock.com)

Ketika Sebagian Remaja Islam Menuhankan Selain Allah