Home / Pemuda / Cerpen / Alarm Surgawi

Alarm Surgawi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (shintarizal.blog.com)

dakwatuna.com Alarm surgawi. Demikian sebutan yang kuberikan kepada Pak Didi. Mungkin terkesan sedikit berlebihan, tapi sebenarnya tidak juga. Setiap hari, aku dan sebagian besar warga kampung terbangun setelah mendengar lantunan shalawat Pak Didi melalui pengeras suara mushalla Baiturrohiim. Alhamdulillah, meski tidak semua warga akhirnya shalat berjamaah di mushalla, tapi lantunan shalawat Pak Didi menjadi awal yang indah untuk memulai hari.

Siapakah Pak Didi? Jika Anda pernah membaca tulisan berjudul 90 Langkah Menuju Mushalla, Hafalan Pak Didi, Tasbih Pak Didi serta satu tulisan berjudul Rumah Kedua yang sekarang sudah dibukukan, pasti tahu Pak Didi mana yang kumaksudkan.

Pak Didi adalah salah satu jamaah mushalla Baiturrohiim yang istimewa di mataku. Meski kedua indera penglihatannya tak lagi berfungsi, tapi semangat ibadahnya tetap tinggi. Beliau yang menggunakan rumus 90 langkah untuk datang ke mushalla setiap dini hari menjelang Subuh karena tak mau merepotkan istri, anak dan cucunya. Beliau yang tetap semangat menghafal ayat-ayat suci Al Quran. Beliau yang tak pernah menyerah dengan keterbatasannya. Tasbih ‘aneh’ yang terbuat dari kepingan pipa paralon adalah salah satu buktinya. Beliau pula yang pertama hadir di mushalla, melantunkan shalawat hingga masuk waktu Subuh.

Tapi kemarin, hampir saja aku ketinggalan shalat berjamaah. Aku terbangun pada saat adzan Subuh berkumandang. Alhamdulillah, astaghfirullah! Aku mengucap syukur dan istighfar bergantian. Bersyukur karena Allah masih memberiku kesempatan bertemu pagi. Beristighfar karena hampir saja aku ketinggalan shalat Subuh berjamaah di mushalla. Barangkali aku tidur terlalu lelap sehingga tak mendengar Pak Didi bershalawat. Tapi ternyata bukan aku tak mendengar, aku tak melihat Pak Didi di tempat favoritnya, ujung kiri shaft pertama. Kabar yang kudengar Pak Didi sakit. Sejak malam sebelumnya beliau sudah tak hadir di jamaah shalat Isya. Aku kira tak hadirnya Pak Didi bukan karena sakit tapi karena ada kepentingan lainnya.

Innalillahi wa inna Ilaihi rojiuun….

Ya Allah, di antara sekian banyak doa dan pintaku, izinkan aku menambah satu permintaan lagi, sembuhkanlah Pak Didi. Apapun sakit yang kini diderita, angkatlah segera darinya, pulihkanlah kesehatannya.

Bukan semata karena beliau satu-satunya jamaah yang paling dekat denganku di mushalla. Bukan semata karena beliau satu-satunya orang yang pernah meminta izin padaku untuk membacakan surah Yaasin, mendoakan almarhumah istriku beberapa hari menjelang setahun meninggalnya dulu. Bukan, bukan hanya karena itu.

Bukan pula semata karena beliau selalu peduli denganku, beberapa kali menyatakan bersedia membantu mencarikan pengganti almarhumah untukku. Lebih, lebih dari itu. Dengan lantunan shalawatnya, beliau adalah ‘alarm’ bagiku, yang membangunkanku sehingga aku bisa shalat Subuh berjamaah, tepat waktu.

Terlepas dari pendapat orang dengan masa lalu Pak Didi, bagiku beliau tetaplah istimewa. Banyak cerita pernah kudengar, tapi satu yang kukagumi adalah semangat beliau dalam memperbaiki diri, mendekatkan diri kepada Illahi.

Puluhan orang datang ke mushalla untuk shalat Maghrib berjamaah, tapi bisa dihitung dengan jari sebelah tangan jamaah yang tetap tinggal, menunggu datangnya waktu Isya sambil membaca Al Quran. Pak Didi salah satunya. Meski faktor usia mempengaruhi daya tangkap dan juga daya ingatnya, namun tak menyurutkan semangat Pak Didi untuk menghafal ayat-ayat suci Al Quran.

Dan hal lain yang aku kagumi, belum pernah sekalipun aku mendengar beliau berkeluh kesah terkait dengan penglihatannya. Justru beliau bersyukur karena dengan diambilnya kembali nikmat penglihatan darinya, setidaknya satu pintu maksiat telah tertutup untuknya. Dan meski beliau tak bisa melihat, langkah kakinya selalu mantap mendekat ke rangkulan Illahi. Tidak sepertiku yang seringkali masih tengok kanan dan kiri, terpesona gemerlap duniawi.

Ya Allah, hamba mohon dengan sangat, sembuhkanlah Pak Didi. Kembalikanlah ia di tengah-tengah kami untuk bersama-sama mendekat kepada Mu. Meski matanya tak mampu lagi melihat indahnya dunia, tapi hatinya mampu melihat indahnya surga. Ya Allah, sembuhkanlah Pak Didi, sembuhkanlah. Amin ya Allah ya Rabbal ‘Alamin.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Abi Sabila
Seorang pembaca yang sedang belajar menulis.

Lihat Juga

Kaulah Surga Dunia Akhiratku, Bu