Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Munajat Penguat Tsabat

Munajat Penguat Tsabat

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Yaa Rabbi…  Andai bukan karena rahmat dan hidayahMu, sungguh kaki ini telah berhenti melangkah… Jika bukan karena kuasaMu, mungkin kaki ini tak kuasa lagi mengayun, tapaki jalan panjang yang kami cintai…

Terkadang, futur menghampiri tanpa permisi, disusul oleh rasa bosan yang membuat kami hampa tak karuan. Terkadang, lelah juga datang, membuat kami ingin berhenti berjuang. Terkadang, rasa sakit terasa begitu menghimpit, sampai membuat kami ingin menjerit. Bahkan, tatkala sakit hati menyelimuti, kami ingin pergi dari jalan ini…!

Tapi kami ingat nasihat seorang ustadz, bahwa ternyata “Dakwah bukannya tidak melelahkan… Bukannya tidak membosankan… Bukannya tidak menyakitkan. Bahkan, para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan. Tidak! Justru kelelahan dan rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya. Setiap hari. Akhirnya menjadi adaptasi. Dan rasa lelah itu sendiri yang akhirnya lelah untuk mencekik iman. Begitu pula rasa sakit, hingga luka tak kau rasa lagi sebagai luka…” begitulah nasihat ustadz Rahmat. Rahimahullah…

Ya Allah… semoga ke depan kami semakin tangguh. Tangguh dalam mendaki puncak keihsanan hati dan jiwa. Semakin enerjik menerjang batu granit dalam dakwah. Semakin bijak memecah misteri mimpi. Menyelami labirin lika-liku hidup, yang ujungnya berharap husnul khatimah, berlabuh dalam jannah… Oleh karena itu, kami ingin membangun kembali mimpi-mimpi, mencari ridha dan cinta, mengukir asa baru untuk membangun peradaban baru. Biarkan angin kencang hampiri diri ini. Sebagai pertanda badai akan berlalu. Biarlah gelombang bergantian menyapa. Sebagai pertanda Engkau sedang menguji cinta… Di bumi pertiwi ini, kami tanamkan obsesi kibarkan bendera kemenangan. Semoga Engkau mengizinkan…

Masa lalu adalah waktu yang tak akan berulang, dan masa depan datang menanti amal dan kebajikan. Maka, Teguhkanlah tekad kami yaa Rabb… agar senantiasa bisa berkarya untuk agama, bangsa, dan Negara, demi membangun sebuah peradaban. Jangan biarkan jiwa kami lemah. Jangan biarkan ghirah kami menurun. Jadikanlah kami yang terdepan dalam bekerja dan bergerak. Aamiin…

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (9 votes, average: 9,56 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Oktarizal Rais
Alumni Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam, Solo. Mahasiswa Mahad Aly An-Nuaimy, Jakarta.

Lihat Juga

Pengangguran Haraki