Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Tertawa = Bahagia?

Tertawa = Bahagia?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.comApakah kebahagiaan jiwa berbanding lurus terhadap intensitas tertawa? Apakah semakin sering tertawa, seseorang akan merasakan kebahagiaan jiwa?

Bagi saya, tidak. Kebahagiaan jiwa tidak selalu berbanding lurus terhadap intensitas tertawa. Kekosongan jiwa tetap saja saya rasakan ketika setiap hari, setiap saat saya tertawa. Iya, memang senang, tapi setelah itu, ya sudah, senangnya hilang berganti kekeringan.

Saya tidak tahu kenapa seperti ini. Mungkin inilah yang membuat sebagian orang-orang kaya, tenar, serta punya kekuasaan terjerumus menggunakan obat-obat terlarang dengan dalih mencari ketenangan. Jika kita lihat, mereka mempunyai apa yang diinginkan setiap orang, harta, popularitas, dan kekuasaan. Mereka juga tampak sering tertawa, dan sepertinya hidupnya diisi kesenangan semata. Tapi kenapa mereka masih saja mencari sesuatu yang bisa dianggap menenangkan dan menentramkan hati.

Jadi, apa sebenarnya kebahagiaan itu? Penasaran, saya sedikit googling tentang kebahagiaan.

Bahagia itu ialah tetap taat kepada Allah sepanjang hidup. 

Kebahagiaan adalah kondisi hati yang dipenuhi dengan keyakinan (iman) dan berperilaku sesuai dengan keyakinannya itu.

Oh, jadi pantas saja saya sering tertawa tapi tetap merasa hampa. Lha wong saya tertawa, tapi dengan itu saya jadi melewatkan waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk membaca. Saya tertawa, di saat jatah waktu untuk berdzikir. Saya tertawa, tanpa terasa membuang waktu begitu saja. Dan sampai akhirnya tertawa membuat saya lupa merenung, mengabaikan tafakur.

Dan di satu sisi, saya melewati hari tanpa membaca Al-Qur’an setiap hari. Terbukti bahwa Al-Qur’an memang melembutkan hati. Dalam hari-hari tanpa membaca Al-Qur’an tersebut, sempat saya berfikir, “Ah, tidak apa-apa hari ini saja tidak membaca Al-Qur’an. Besok kan juga bisa baca.”

Tapi, besoknya saya mengulangi pernyataan di atas, tidak apa-apa, untuk hari ini saja tidak membaca Al-Qur’an. Dan begitu seterusnya sampai saya menyadari ada yang keliru. Pelajaran yang didapat, meskipun tidak tahu arti yang dibaca, membaca Al-Qur’an tetap bisa menentramkan jiwa, bisa membantu meredam emosi, serta menguatkan kesabaran, yang berujung pada kebahagiaan. Setidaknya itu yang saya rasakan. :)

Ya, banyak tertawa bukan berarti jiwa bahagia. Karena sejatinya bahagia itu ketika hidup dalam ketaatan pada Sang Pencipta.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (13 votes, average: 9,62 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Aktivis Lembaga Dakwah Kampus selama kuliah.

Lihat Juga

Cover buku "Segarkan Imanmu".

Segarkan Imanmu