Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Rindu dari Negeri Perantauan

Rindu dari Negeri Perantauan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

Kepada yang tersayang

Ibundaku tercinta

Semoga sehat selalu

dakwatuna.com Ibu, bagaimana keadaan ibu sekarang, aku harap ALLAH senantiasa memberikan kesehatan dan yang terbaik buat ibu. Ibu, hari ini tepat tanggal 22 Desember, di mana banyak orang mengumandangkan “Hari Ibu”. Sebenarnya bagi aku, tidak hanya tanggal 22 Desember yang pantas untuk ibu. Tapi setiap hari, jam, menit dan detik adalah waktu yang sepatutnya aku persembahkan untuk ibu.

Ibu, maafkan anakmu yang jarang pulang. Maafkan anakmu yang jarang menanyakan kabar ibu. Maafkan anakmu yang bisanya hanya meminta. Ibu, aku berada di perantauan demi engkau. Aku berdiri di sini untuk esok melihat senyum di wajahmu sambil berkata “itulah anakku yang telah sukses dengan segala usahanya”.

Memang aku terlalu egois kalau hanya mengejar mimpi tanpa peduli bagaimana kondisi ibu. Tapi percayalah bu, ini semua tak lepas dari doa- doamu untukku. Aku tahu, di setiap sujudmu, engkau pasti mengucap namaku. Maafkan aku ibu, yang sering kali membantah akan perintahmu. Yang tidak mempercayai segala ucapanmu, yang selalu meremehkan petuahmu tentang kehidupan.

Aku sadar, aku tidak mungkin seperti ini tanpa ibu. Aku sadar tanpa kasih saying ibu, aku tak mampu menjadi apapun. Dengan sabar ibu merawatku, dengan sabar ibu membimbingku dan dengan sabar ibu menemaniku menjalani binar-binar kehidupan. Terkadang aku merasa terlalu dianggap anak kecil, terkadang aku merasa ibu terlalu mengekang aku, terkadang aku merasa ibu jahat. Padahal aku tahu, ibu melakukan itu untuk kebaikanku.

Betapa teganya anakmu ini, jarang pulang untuk bersua denganmu, jarang pulang karena terlalu menyibukkan diri, jarang pulang karena berbagai alasan yang sebenarnya hanya alasan. Tapi percayalah ibu, semua itu aku lakukan demi ibu, satu permintaanku, aku ingin melihat senyum di wajah ibu. Walaupun senyum ibu terkadang tersembunyi di guratan wajah yang semakin lama semakin sayu. Aku selalu menangis jika membaca atau mendengar kisah seorang ibu, banyak motivator yang memotivasi orang lain adalah dengan cara berkisah tentang ibu. Aku ingin bercerita bu, saat di kampus ada acara ESQ seperti motivasi tentang spiritual, mereka mampu bercerita sampai aku menangis tersedu- sedu. Tak lain adalah bercerita tentang IBU. Aku ga’ mau ibu pergi terlalu cepat. Aku ga’ mau cepat kehilangan senyum di wajah ibu. Aku masih ingin membahagiakan ibu.

Marahi aku bu, pukul aku kalau aku nakal. Asal jangan biarkan aku sendiri menjalani kehidupan ini. Aku rindu tangan lembut ibu membelai rambutku. Aku rindu tangan ibu menyuapiku, aku rindu wejangan-wejangan ibu saat aku berbuat salah. Aku rindu didongeng’i kisah pangeran dan putri salju. Aku kangen masakan ibu, aku kangen ibu mengajariku mengerjakan PR, aku kangen ibu menyisir dan mengikat rambutku. Andai, ibu selalu di sampingku, menemaniku setiap tidur. Mendengar keluh kesahku. Mendengar bagaimana aku menuntut ilmu, bagaimana aku bentrok dengan para sahabatku sampai bagaimana sakitnya aku ketika harus mengakhiri hubungan dengan orang yang begitu dekat denganku.

Ibu, sekarang aku belum bekerja. Aku belum mampu menghasilkan uang yang banyak. Aku hanya punya beberapa usaha sambilan sambil kuliah. Itupun untuk modal masa depanku. Maafkan aku ibu, kalau aku belum bisa member ibu baju yang bagus, membangunkan rumah ataupun membelikan perhiasan. Aku tahu, ibu tak akan meminta hal seperti itu. Tapi aku ingin membahagiakan ibu dengan memenuhi kebutuhan itu.

Ibu, aku ingin sedikit berkeluh kesah. Maafkan anakmu yang terlalu menyalahgunakan kebebasan yang ibu berikan. Aku ikut organisasi mahasiswa dimana hal itu sangat menguras waktuku, maafkan aku, yang semester ini nilaiku harus jatuh. Maaf ibu, Maaf….

Aku janji, semester ke depan aku akan memperbaikinya. Doakan anakmu ini bu, agar selalu diberi kemudahan dalam menjalani kehidupan dan diberikan yang terbaik. Maafkan anakmu, karena ikut organisasi ini- itu, malah jadi jarang pulang, jarang melihat kondisi ibu, jarang tahu ibu sudah makan apa belum. Bu, aku memang belum bisa memberikan apa- apa. Aku hanya bisa membuat ibu susah. Pulang- pulang bawa tagihan SPP (uang pembayaran semester). Pulang- pulang malah minta uang untuk inilah- itulah. Padahal, untuk mencari uang, ibu harus kerja mati- matian. Aku janji bu, aku tidak akan menghambur- hamburkan semua pemberian ibu. Semua amanat ibu akan aku laksanakan sebaik- baiknya. Satu kata dari ibu yang selalu aku ingin dan sampai saat ini selalu aku terapkan adalah

“Berbuat baik dan sopan di negeri orang, kalau kamu hidup sebagai orang perantauan dan senantiasa berbuat baik pada sesame, niscaya hidup kamu di sana juga akan mudah”, jangan takut mencoba kalau kamu ingin sukses, raih impianmu sampai engkau lelah untuk merengkuhnya.

Ibu, maafkan anakmu. Di hari ulang tahunmu, aku malah sibuk dengan tugas- tugas kuliah. Moment hari ibu pun, aku lewatkan tanpa ucapan kepadamu. Dengan surat ini, aku ingin menyampaikan “SELAMAT ULANG TAHUN BU, SEMOGA ALLAH Senantiasa memberikan yang terbaik untuk ibu”

 

Satu kata yang mampu aku ucapkan…

AKU SAYANG IBU

AKU CINTA IBU walaupun tak pernah terucap langsung dari bibirku.

AKU ingin ibu menemaniku sampai aku benar- benar bisa hidup sendiri.

CEPAT SEMBUH BU…

AKU RINDU BERCANDA GURAU DENGAN IBU…

Terima kasih untuk kemutannya datang ke kosanku tanpa mengatakan sebelumnya.

I LOVE MOM :)

AKU AKAN SEGERA PULANG

 

Malang, 22 Desember 2011

Rindu terdalam untuk keluarga di Jombang

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (27 votes, average: 9,26 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Chizza Rasudahtul Ilmi
Nama saya Ika Heri Kustanti. Saya sekarang kuliah di politeknik kesehatan KEMENKES Malang jurusan Gizi. Saya sekarang tinggal di asrama kampus karena rumah saya jauh dari kampus. Alamat rumah di kota Jombang, Jawa Timur. Saya 2 bersaudara. Adik saya laki- laki kelas 2 SMP. Saya senang menulis dari SMP namun baru masuk kuliah berani mengirimkan hasil karya. Cita- cita ingin menjadi penulis terkenal ya berawal dari freelance.

Lihat Juga

Gay

Kaum Gay Mulai Menyasar Anak-Anak, Ini Buktinya